Guru, Yen Wagu Ojo Ditiru

Berita pagi tadi membuat lemas hati saya. Kolega saya semasa kuliah, Prof. Musakkir, ditangkap polisi untuk kasus yang tidak main-main. Karena narkotika. Duh…

Mister Wasis, sepertinya tahu betul kondisi mood saya, sehingga tidak banyak bertanya kenapa pagi ini saya tidak menghabiskan sarapan dan kopi saya. Mister Wasis memang sudah cukup paham bagaimana ngopeni saya.

Dengan langkah lunglai, saya masuk ke kamar untuk bersiap-siap sebelum ke kampus. Rasanya berat sekali mau ke kampus dengan kondisi hati yang seperti sumsum yang dilolosi dari tulang seperti ini.

—————————————————————————————-

Sore ini agak mendung, agaknya menyesuaikan dengan kondisi batiniah saya yang juga belum cerah.

Yu Winah sedang mampir dan sudah menggelar jajan pasar seperti biasa. Tapi saya kadung tidak mood. Jadi rasanya aras-arasen sekalipun jajan pasar ini biasanya membuat saya khilaf.

Yu Winah yang melihat saya kurang bergairah, njuk bertanya “Tumben Pak Besar kurang gusto melihat jajan pasar. Njothaki saya nopo Pak?”

“Wah.. bukan Yu.. Saya cuma sedang bersedih hati. Kolega saya ada yang ditangkap polisi. Ndilalahnya ditangkap karena sesuatu yang tidak terbayangkan akan beliau lakukan.”

“Koleganya Pak Besar niku sek profesor saking Unhas niku nopo ?” Yu Winah ikut terenyuh.

“Ha njih Yu. Ha niku konco dolan pas dulu di kampus. Ubyang-ubyung bareng. Njuk dia kembali ke kampungnya. Lama ndak kedengeran beritanya. La kok ujug-ujug beritanya malah muncul di koran dan tipi. Sedih saya Yu.”

“Nggih yang namanya jalan hidup niku lak kita ndak ada yang tahu ya Pak Besar.”

“Ya iya sih Yu. Tapi beliau niku lak guru nggih. Guru niku lak ya digugu dan ditiru. Nek sampai murid-muridnya ngikuti gurunya nopo ndak cotho negoro ini ?”

“Ya yang namanya guru niku lak tetep manusia toh Pak Besar ? Ya nek pas sek apik ya silakan digugu dan ditiru. Tapi kan ya guru niku ada kepanjangan yang lainnya.”

“Kepanjangan yang lain pripun Yu ?”

“Guru niku sebagai manusia lak ya tetep bisa salah. Jadi kepanjangan guru yang lain itu ya Nek Wagu Ojo Ditiru. Wong kita manusia kan dibekali nurani untuk bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Ya nek sek elek ya ampun ditiru. Lak begitu toh Pak Besar ?”

“Wah.. Nek Wagu Ojo Ditiru ya ? Bener juga kowe Yu. Tapi hati saya kadung sedih je Yu.”

“Nggih ya wajar toh Pak Besar. Wong namanya juga ketiwasan. Kolega sisan yang ketiwasan. Tapi lak tugas besar njenengan tetep ada. Biar bisa digugu dan ditiru.” Yu Winah membesarkan hati saya.

“Memang menjadi guru niku berat kok Pak Besar. Nopo malih yang sekaliber njenengan. La tuntutannya lak luar biasa besar. Tapi balesan e alias amplopan e ndak seimbang.”

“Loh kok njuk jadi mbahas amplop toh Yu ?”

“Hehehehe.. Saya cuma nggumun saja kok Pak Besar. La njenengen sebagai gurune guru. Dibayar e ndak sepiro toh ?” Saya mau berkomentar, tapi urung. La wong memang demikian adanya je.

“Padahal njenengan diharapkan bisa memperbaiki kualitas manusia Indonesia. La niku artis sek ngga nggenah itu. Sek mung golek sensasi terus. Bayaran e akeh temen. Omah e magrong-magrong. Mobil e pirang-pirang. Padahal kelakuan mereka malah ngelek-elek kualitas manusia Indonesia. Lak kuwalik toh Pak Besar ?”

“Nek dihitung dari amplop, nggih manusia seperti saya ini bakalan muntir dari dulu Yu. Tapi lak yang namanya rejeki dan barokah itu ndak cuma di amplop toh ?”

“Nah itulah Pak Besar. Maksud saya ya begitu. Ampun gelo. Tugas besar masih menanti toh ? Berkahnya Gusti Pangeran masih menanti untuk dipetik.”

Saya manggut-manggut mengamini. Hujan pun turun rintik-rintik. Seperti berkah Gusti Pangeran yang senantiasa turun. Hujan pun diturunkan di bumi setelah beberapa waktu panas menghajar bumi.

Gusti..nyuwun pinaringan berkah nggih..

Tags: , , ,

2 comments

  1. Membuktikan lagi kalau narkoba sudah tidak pandang bulu.
    Ampun ditiru nggih mas 🙂

Silakan meninggalkan jejak