17
Nov 14

Guru, Yen Wagu Ojo Ditiru

Berita pagi tadi membuat lemas hati saya. Kolega saya semasa kuliah, Prof. Musakkir, ditangkap polisi untuk kasus yang tidak main-main. Karena narkotika. Duh…

Mister Wasis, sepertinya tahu betul kondisi mood saya, sehingga tidak banyak bertanya kenapa pagi ini saya tidak menghabiskan sarapan dan kopi saya. Mister Wasis memang sudah cukup paham bagaimana ngopeni saya.

Dengan langkah lunglai, saya masuk ke kamar untuk bersiap-siap sebelum ke kampus. Rasanya berat sekali mau ke kampus dengan kondisi hati yang seperti sumsum yang dilolosi dari tulang seperti ini.

—————————————————————————————-

Sore ini agak mendung, agaknya menyesuaikan dengan kondisi batiniah saya yang juga belum cerah.

Yu Winah sedang mampir dan sudah menggelar jajan pasar seperti biasa. Tapi saya kadung tidak mood. Jadi rasanya aras-arasen sekalipun jajan pasar ini biasanya membuat saya khilaf.

Yu Winah yang melihat saya kurang bergairah, njuk bertanya “Tumben Pak Besar kurang gusto melihat jajan pasar. Njothaki saya nopo Pak?”

“Wah.. bukan Yu.. Saya cuma sedang bersedih hati. Kolega saya ada yang ditangkap polisi. Ndilalahnya ditangkap karena sesuatu yang tidak terbayangkan akan beliau lakukan.”

“Koleganya Pak Besar niku sek profesor saking Unhas niku nopo ?” Yu Winah ikut terenyuh.

“Ha njih Yu. Ha niku konco dolan pas dulu di kampus. Ubyang-ubyung bareng. Njuk dia kembali ke kampungnya. Lama ndak kedengeran beritanya. La kok ujug-ujug beritanya malah muncul di koran dan tipi. Sedih saya Yu.”

“Nggih yang namanya jalan hidup niku lak kita ndak ada yang tahu ya Pak Besar.”

“Ya iya sih Yu. Tapi beliau niku lak guru nggih. Guru niku lak ya digugu dan ditiru. Nek sampai murid-muridnya ngikuti gurunya nopo ndak cotho negoro ini ?”

“Ya yang namanya guru niku lak tetep manusia toh Pak Besar ? Ya nek pas sek apik ya silakan digugu dan ditiru. Tapi kan ya guru niku ada kepanjangan yang lainnya.”

“Kepanjangan yang lain pripun Yu ?”

“Guru niku sebagai manusia lak ya tetep bisa salah. Jadi kepanjangan guru yang lain itu ya Nek Wagu Ojo Ditiru. Wong kita manusia kan dibekali nurani untuk bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Ya nek sek elek ya ampun ditiru. Lak begitu toh Pak Besar ?”

“Wah.. Nek Wagu Ojo Ditiru ya ? Bener juga kowe Yu. Tapi hati saya kadung sedih je Yu.”

“Nggih ya wajar toh Pak Besar. Wong namanya juga ketiwasan. Kolega sisan yang ketiwasan. Tapi lak tugas besar njenengan tetep ada. Biar bisa digugu dan ditiru.” Yu Winah membesarkan hati saya.

“Memang menjadi guru niku berat kok Pak Besar. Nopo malih yang sekaliber njenengan. La tuntutannya lak luar biasa besar. Tapi balesan e alias amplopan e ndak seimbang.”

“Loh kok njuk jadi mbahas amplop toh Yu ?”

“Hehehehe.. Saya cuma nggumun saja kok Pak Besar. La njenengen sebagai gurune guru. Dibayar e ndak sepiro toh ?” Saya mau berkomentar, tapi urung. La wong memang demikian adanya je.

“Padahal njenengan diharapkan bisa memperbaiki kualitas manusia Indonesia. La niku artis sek ngga nggenah itu. Sek mung golek sensasi terus. Bayaran e akeh temen. Omah e magrong-magrong. Mobil e pirang-pirang. Padahal kelakuan mereka malah ngelek-elek kualitas manusia Indonesia. Lak kuwalik toh Pak Besar ?”

“Nek dihitung dari amplop, nggih manusia seperti saya ini bakalan muntir dari dulu Yu. Tapi lak yang namanya rejeki dan barokah itu ndak cuma di amplop toh ?”

“Nah itulah Pak Besar. Maksud saya ya begitu. Ampun gelo. Tugas besar masih menanti toh ? Berkahnya Gusti Pangeran masih menanti untuk dipetik.”

Saya manggut-manggut mengamini. Hujan pun turun rintik-rintik. Seperti berkah Gusti Pangeran yang senantiasa turun. Hujan pun diturunkan di bumi setelah beberapa waktu panas menghajar bumi.

Gusti..nyuwun pinaringan berkah nggih..


01
Sep 14

Budaya Klepon dan Donat

Sore-sore ba’da Ashar itu sebenarnya lebih nikmat jika dirasakan sambil lesehan di teras, ngedep teh Tambi ditambah gulo batu buatan Mister Wasis sambil comot-comot jajan pasar yang dibawa oleh Yu Winah dan menikmati semilir angin sore dengan tenang.

Dan sebenarnya sore ini pun kejadiannya serupa. Ada teh Tambi gulo batu buatan Mister Wasis, ada pula jejeran jajan pasar yang sudah ditebar Yu Winah dengan gelar pasukan sapit urang yang dikomandani Selat Solo di sisi utara, dan arem-arem di sisi selatan. Dan di tengah ada nasi kuning yang menjadi pemecah belah konsentrasi. Sebuah sore yang sebenarnya akan jadi periode yang pas untuk nglaras rasa. Tapi kok ya bahasan tripartit sore ini malah berat betul rasanya. Masalah keJogjaan dan perubahan kultur masyarakatnya.

“Ndoro, ini kasusnya mbak sek di sosial media itu pripun toh jan-jane ? Mosok ya cuma karena muntap njuk sampai dijebloske ke penjara ?” Mister Wasis gedek-gedek.

“Iya niku Pak Besar. Kok cuma masalah sepele seperti itu saja kok ya sampai di kunjoro ? Opo ndak berlebihan nopo niku ?” Yu Winah nambah-nambahi.

“Gini loh.. perkara muntapnya itu memang mungkin tidak perlu disikapi sampai masuk kunjoro. Tapi nek ndak salah, si mbak e itu berniat menghilangkan barang bukti. Jadi itu yang membuat pak Polisi kemudian terpaksa menahannya.”

“Ning ya Ndoro. Nek saya diceritani Thole, kok sepertinya tiyang Jogja bolehnya nguyo-uyo si mbak e itu kok sampai medeni ya ? Mosok ada yang ngancam sampai mau mengusir dari Jogja loh ? Hopo tumon niku ?”

“Ho oh Pak Besar. Mosok ya cuma karena perkoro sepele begitu njuk kudu dihukumi berat betul. Sampai diusir loh ? Nopo nek sudah dihukumi dikuyo-kuyo saja ndak cukup ?” Yu Winah masih saja tetep nambah-nambahi.

“Wah nek bab itu saya ya bingung je. Kok sepertinya tiyang Jogja rada berubah yo? Apa akibat makin sumpeknya Jogja ya saya juga masih belum trep masalahnya. Orang-orang Jogja itu lak dikenalnya sebagai orang-orang yang kalem, tenang, mendem jero dan mondol mburi. Ndak pernah ada kasus sek orang Jogja sampai nguyo-nguyo orang lain.”

“Betul itu Pak Besar. Wong Jogja itu lak jane-jane sifatnya ya seperti klepon niki. Luarnya gurih karena ada klopo parutnya, di dalamnya manis karena ada gulo Jowonya. Pokok e semua serba menyenangkan wong Jogja itu…. Ya toh Pak besar ? Ini kleponnya kerso Pak Besar ?” Yu Winah mengangsurkan klepon dan saya menerimanya.

“Mungkin ya karena ada banyak yang hal terjadi beberapa waktu terakhir ini njuk membuat wong Jogja sedang rodo kurang Jogjanya ya ? Sumpek dan macetnya Jogja karena banyak gedung baru sek marakne rodo luntur. Tur ndilalahnya pas kejadian itu ya pas lagi rame-ramene ngantri bensin toh ? Mungkin ya itu sek marakne wong Jogja jadi sumuntak atine.” Klepon dari Yu Winah saya kunyah pelan-pelan. Semprotan gula Jawa yang mlekoh di mulut memang menyenangkan. Seperti melihat kembang api pas tahun baru. Serba menyenangkan..

“Ini cuma bedek-bedekan saya ya Ndoro. Mbok menowo orang Jogja sekarang sedang kagol dengan budaya Jawanya sendiri. Saking banyaknya serbuan budaya dari luar. Njuk beberapa tiyang Jogja njuk rodo lali dengan budayanya sendiri. Lak sekarang budaya luar itu luar biasa derasnya nyerbu Jogja toh Ndoro ? Ha ya seperti donat ini, budaya dari luar. Tepungnya dari gandum impor. Budaya donatnya juga dari impor. Donat itu memang manis memang di luarnya, tapi lak kopong di tengahnya.” Mister Wasis mencomot sate donat.

“Mungkin ya memang benar omonganmu Sis. Gegar budaya itu memang sok bikin munyer-munyer. Lali jiwo. Lupa jati diri sendiri, njuk lali kudu ngopo nek keno perkoro. Lali nek budayane dewe itu adem andhap asor. Budaya itu lak jan-jane dadi pager ketika terjadi hal-hal yang kurang trep di tataran hati.”

Semilir sore ini berhembus pelan. Rodo adem memang di mongso mbediding ini. Mudah-mudahan Mbak e yang sedang bermasalah ini segera adem juga hatinya. Dan semoga juga demikian dengan tiyang-tiyang Jogja semoga makin adem hatinya. Dan semuanya jadi adem lagi. Tentrem lagi. Kalem lagi. Adem..adem..adem…

PS : tulisan ini dibuat terinspirasi oleh tulisan seorang teman di facebook yang membandingkan donat dan klepon pula.


29
Aug 14

Jogja Arep Stroke

Beberapa hari ini Jogja sedang rame-ramenya pada ngantri BBM premium. Ya mobil ya montor. Ya karena ternyata kuota BBM yang disubsidi APBN ternyata sudah habis pada bulan Agustus. Padahal tahun masih berjalan sampai bulan Desember. Antrian yang mengular sampai ngalah-ngalahi antrian nonton bioskop filemnya Suzanna jaman saya masih kuliah dulu.

Dan Mister Wasis pun termasuk salah satu yang terkena imbas untuk ikutan ngantri bensin itu. Dan sore ini dengan tampang kuyu dan tampang lemes, Mister Wasis ndeprok di teras setelah seharian ngantri di pom bensin.

Yu Winah yang pas ndilalahnya sedang berada di depan pagar rumah, sudah siap-siap mbengok menawarkan dagangan seperti sore-sore biasanya jadi mak klakep dan ikutan ndlosor saja di teras.

“Kesel yo kang ?” Yu Winah bertanya tanpa rasa bersalah.

“Walah Yu.. kok ya masih ditanya kesel apa ndak toh ? Wis meh semaput iki rasane.” Mister Wasis kipas-kipas koran bekas sambil meminum air es yang dibawakan Nyai Wasis. Nyai Wasis cuma tersenyum melihat suaminya yang nggresulo.

Yu Winah cuma cengengesan di pliriki Mister Wasis yang sedang semengit. Ya maklum pula adanya. Kesel hatinya Mister Wasis karena perkara yang biasanya tidak menjadi masalah, kini jadi masalah pelik.

Saya kemudian ikutan deprok juga di lantai teras. Dinginnya lantai karena sudah beranjak sore memang bisa ikut andil menenangkan hati.

“Tapi ya Kang… ada baiknya juga loh kasus beginian.” Yu Winah mencairkan suasana.

“Baik pripun je Yu ?” Dari nadanya, Mister Wasis sudah mulai turun kadar semengitnya. Tangannya pun mulai rajin bergerilya di antara lemper dan sate usus. Sajaknya memang ngantri bensin ini memakan banyak energinya.

“Ha gara-gara pada ngantri bensin ini, kan njuk pada sadar. Sadar nek bensin itu barang yang mahal tur susah didapatkan. Jadi ndak pada nyepelekne bensin lagi. Sekarang pada lebih ngati-ati kalau naik kendaraan. Ndak lagi pada mbleyer-mbleyer di jalan. Pada alon-alon bolehnya mbejek gas niku. Orang-orang seperti saya sek cuma bisa naik becak dan jalan kaki lak jadi kepenak. Mau nyabrang jalan di Malioboro sekarang jadi lebih gampang. Hak yo beneran jadi apik toh itu Kang ?”

“Ho oh Yu.. Bener nek bab itu. Memang nek perkara jadi kembali pada alon-alon bolehnya nyepeda montor itu benar adanya. Jogja memang jadi lebih kepenak kalau pada tidak terburu-buru toh ?” Saya ikutan mengamini gong dari Yu Winah.

“Padahal ya Ndoro, kapan kolo gitu lak kita pernah ngobrol nek Jogja terancam karena banyak pembangunan hotel sek ndak umum banyaknya. Eh sate donatnya mana Yu ?” Mister Wasis masih saja mencari-cari tambahan cemilan. Padahal baru saja satu arem-arem sudah tandas. Sepertinya memang ngelih betul.

“Ho oh Kang. Jogja lak terancam stroke nek terlalu banyak hotel dan fasilitas bangunan magrong-magrong dibangun. Soalnya jalanan di Jogja ini sudah tumumplak. Sudah tidak cukup lagi menampung kendaraan yang sumuntak di Jogja.” Yu Winah gantian mengamini Mister Wasis.

Kosek..kosek.. kalian ini ngomong opo je ? Kok ada Jogja terancam stroke kie gimana perkaranya ?”

“Ha gini loh Ndoro. Kapan waktu itu kita berdua pernah ngobrol. Nek Jogja dibangun banyak gedung dan hotel magrong-magrong itu lak nek ibarat badan menungso, banyak ditambahi jantung-jantung baru. Lak hotel-hotel dan mall-mall itu bakalan jadi pusat kegiatan baru. Tapi saluran darahnya itu ndak ditambah. Padahal jumlah darah yang kudu lewat makin banyak. Ha njuk bisa stroke toh Ndoro nek begitu itu ?”

“Ealah.. kalian berdua kie nek punya perumpamaan kok sok kepunjulen toh ? Bener ning marahi bingung nek ndak dirunut dulu masalahnya. Gumun tenan saya.. Bisa dapet perumpamaan koyo ngono itu darimana..”

“Heheheh.. ha ya gitu itu Ndoro. Omongannya wong cilik. Sok kemaki tur keminter. Ben rodo ketok nek nyambut gawe di tempat priyayi itu ya marakne pinter. Nunut mulyo sithik ya Ndoro.” Mister Wasis cengangas-cengenges. Yu Winah juga nggleges.

“Tapi ya bisa diterima juga loh obrolan kalian berdua. Jogja memang terancam stroke nek perkara montor mobil ini ndak dibenahi. Eh ndilalahnya Ngarso Dalem sudah paring pitutur. Nanti tahun 2017 di Jogja bakalan ada trem. Sudah pada mbaca di koran tadi pagi toh ? Jadi kemana-mana nanti bisa naik trem. Selain ada bis TransJogja. Solusinya apik toh itu?”

“Amin Ndoro.. Saestu Amin.. Nek beneran, kita jadi penak kalau bisa naek trem seperti jaman Londo dulu. Nek wong cilik macam saya ini lak luwih pas nek numpak sek umum-umum. Murah.. Ning nek bisa ya tetep nyaman.” Yu Winah tampak bungah.

Angin sore semilir berhembus. Nyaman sekali menembus kaos oblong saya yang sudah bolong di sana sini. Bayangan saya kembali mundur beberapa puluh tahun. Seperti diceritakan Simbok dan Bapak saya. Dulu dari Bantul ke Jogja sangat menyenangkan karena bisa naik trem rame-rame. Tanpa macet, tanpa ngantri BBM, dan yang jelas tanpa tambahan gemes di jalanan yang semruntul kendaraan yang waton nyetirnya karena terburu waktu. Makin turunlah potensi stroke kita. Juga Jogja akan berkurang ancaman stroke alias macetnya. Mudahan-mudahan mawujud nggih….


25
Jun 14

Sanajan Nyadran

Jogja akhir-akhir ini sedang sumuk luar biasa. Sore hari ba’da Ashar yang biasanya bisa jadi waktu yang sudah nyaman untuk nglaras rasa, kini pun masih tetap panas ngenthang-ngenthang.

Tak ayal kalau kemudian sore ini Yu Winah  mampir ke teras depan rumah dengan tergopoh-gopoh. Mister Wasis yang sedang sibuk menyiram rambutan menatap dengan penuh kebingungan.

“Kang.. nyuwun banyu nggo ngombe ya. Ngelak banget ini saya. Panasnya Jogja sedang ra umum.” Yu Winah langsung ndlosor saja di jobin teras depan sambil kipas-kipas dan menyeka keningnya yang penuh keringat. Tenongannya diturunkan dan diletakkan sekenanya.

Mister Wasis langsung masuk ke dalam rumah dan berteriak kepada istrinya. Buneee.. Ono wong arep semaputt.. Njaluk banyu ademnya yaaa..

Mendengar suaminya yang berteriak stereo seperti ini, dengan tergopoh-gopoh Nyai Wasis segera lari dengan wajah panik mencari suaminya yang masih di teras.

“Siapa sek meh semaput Pakne ?” Tangannya membawa sebotol air dingin dari kulkas.

“Hush.. Kang Wasis ini waton tenan. Saya yang kehausan Yu. Bukan mau semaput. Cuma ngelak banget soale Jogja sedang ndak umum panasnya.” Yu Winah jadi jengah sendiri.

Saya yang sedang leyeh-leyeh di dalam juga dengan tergopoh-gopoh keluar. Menengok ada keributan apa di depan. Yu Winah makin tak enak hati

“Duh.. ngapunten ya Pak Besar. Saya numpang ngeyup sebentar. Kepanasen banget ini. Dus nyuwun pangunten karena nyuwun air dinginnya.” Yu Winah mringis sampai terlihat gigi emas dipojokan senyumnya.

“Ealah.. tak kira ada apa. Wasis ini kok senengane gawe gede perkoro. Wong Yu Winah cuma mau leren saja kok ya dibilang mau semaput.” Mister Wasis hanya cengengesan saja mendengar saya protes.

“Ya silakan saja Yu nek mau leren dulu di sini. Ha mumpung sampeyan disini toh Yu, mbok dibuka saja tenongannya. Masih ada apa saja?” Saya yang kebetulan sedang butuh penganan pengganjal perut sebelum makan malam njuk ya kepingin inguk-inguk.

“Wah.. Ngalkamdulillah malah dipayoni Pak Besar. Padahal tadinya saya cuma mau numpang leren, la kok malah dipayoni. Bejane saya.. Silakan Pak Besar. Masih ada beberapa menu sengseman Pak Besar. Selad Solo dan Serabi Solo masih ada. Loenpianya juga masih ada. Ini malah masih ada nasi kuning nek ngersakne.”

Mata saya menginspeksi komoditas tenongan Yu Winah yang sepertinya sangat menggiurkan. Tapi mata saya justru tertuju pada bungkusan daun pisang di pojokan tenongan.

“Sek dibungkus godhong pisang itu apa Yu ? Kok sepertinya mirip Ayam Panggang ala Klaten ? Menu baru nopo ?”

“Wah.. Pak Besar kok teliti sekali. Betul sekali ini Ayam Panggang ala Klaten yang tersohor niku. Mlekoh loh niki arehnya Pak Besar. Monggo dipirsani dulu.” Yu Winah dengan sigap membuka bungkusan daun pisang yang menutupi ayam panggangnya.

Dan memang betul. Areh dari santan yang mlekoh yang merupakan ciri khas Ayam Panggang ala Klaten nampak mencuat dari balik daging dan kulit ayam panggangnya. Bau ayam panggang menyemburatkan aroma bawang putih dan kemiri yang bertemu kecap dan berpadu indah lalu terkaramelisasi sempurna karena proses memanggang kelas profesional. Saya duga ayam panggang ini dibakar dengan sabut kelapa. Sehingga tidak menyisakan ruang untuk gosong pada kulit ayamnya. Golden Brown kalau coro Enggres bilang.

Saya langsung memberi instruksi kepada Nyai Wasis untuk mengambil piring di dalam rumah. Dan memberi kode kepada Yu Winah untuk menyisihkan 4 potong ayam panggang Klaten yang superb ini.

Jan-jane ini ayam panggang karena turah Pak Besar. Turah karena juragan saya kebanyakan mbuat ayam panggan buat Nyadran.” Yu Winah ngomong sambil tangannya cak-cek memindahkan ayam panggang pesanan saya ke piring yang sudah disorongkan Nyai Wasis.

“Loh kok bisa turah Yu ?” Mister Wasis tak kalah gesit dengan menyambar sate usus dan serabi kocor.

“Ya begitulah Kang. Nek dulu kan orang-orang yang Nyadran masih banyak. Dulu yang bawa besek banyak. Sego bucunya banyak, lawuhnya sedikit. Jadi semua komanan lawuh. Biasanya ya njuk tidak ada sek sisa dibawa pulang. La nek sekarang. Sek bawa nasi sedikit, lawuhnya sek turah-turah. Salah satu yang turah ini ya Ayam Panggang ini.”

“Wah.. nek turahan kudune kita dapet diskon toh Yu ?” Mister Wasis nyengir. Bisa saja dia nyahut saja nek perkara yang beginian. Sat-set trengginas nek perkara diskon-diskonan.

“Beres Kang.. untuk yang ini kasusnya spesial. Jadi harganya pasti spesial. Rego pok e wis.” Yu Winah mengacungkan jempolnya.

“Wah.. mantep ini nanti malem untuk dhaharannya Bune. Dapet lawuh enak. Tinggal tambahi lalapan karo sambel wis nyamleng.” Mister Wasis mengkode istrinya.

“Suip Pakne.. Beres pokok e.” Nyai Wasis juga ikut-ikutan mengacungkan jempol.

“La memang sek nyadran di tempatmu masih banyak po Kang ?” Tanya Yu Winah kepada Mister Wasis.

“Wah.. ketoknya ya memang makin sedikit Yu. Kemarin pas aku sama Bune ini pulang ke desa buat Nyadran sekalian ngeterne Thole pulang, ya memang ndak banyak lagi yang pulang kampung. Biasanya sekarang pada pulangnya pas Lebaran saja. Nek Nyadran gini paling ya cuma kirim doa saja masing-masing. Ndak sempet pulang.”

“Wah memang sekarang sanajan nyadran, tapi kok ya susah bisa ngumpul bareng ya Kang ?”

“Ha ya pripun malih Yu ? La sikonnya kan berubah. Sanajan Nyadran, nek ndak bisa diselakan, arep piye meneh ?”

Kami semua menghela napas… memandang langit yang mulai menguning pertanda petang segera datang. Ya sama seperti petang yang datang setelah siang yang ngenthan-ngenthan. Semua berubah.. Sanajan tetep Nyadran tapi tidak seperti dulu lagi. Dunia makin berubah dengan cepat ternyata.


19
Jun 14

Revolusi Mentol

Sudah lama saya tidak memanggil Yu Winah dan kini saya sedang kangen-kangennya dengan Selad Solo dan Sosis Solonya itu. Maka demi memenuhi klangenan saya itu, saya pun menitahkan Mister Wasis untuk segera mencegat Yu Winah sore itu juga. Ndilalahnya memang kepeneran, Yu Winah memang sudah punya feeling yang sama. Maka bersambutlah gayung dan sore itu pun menjadi makin gayeng.

“Wah.. saya kira saya di jothaki Pak Besar loh. La kok lama ndak dipanggil nek saya pas lewat. Sudah saya banter-banterkan loh saya teriaknya. Saya lama-lamakan pas lewat depan rumah. Kolo-kolo malah saya juga ndodok di depan pager. Mbok menowo njuk dipanggil masuk. La kok adanya cuma anteng saja di dalam rumah ini.”

“Wah.. maaf beribu maaf ya Yu. Nyuwun saestu pangapunten. Beberapa waktu ini saya terpaksa harus berada di Jakarta. Demi mengudar beberapa bolah bundet yang disusun oleh teman-teman di Jakarta. La kok saya yang kebagian ruwetnya. Jadi ya nyuwun ngapunten sekali kalau jadi tidak pernah menyahut dan memanggil njenengan masuk.”

“Sibuk urusan copras-capres nopo Pak Besar ?” Yu Winah langsung saja menskak mat dengan entengnya.

“Hahaha.. ya biasalah Yu.” Saya cuma bisa ngeles sekenanya.

“Hehehe.. ya saya dan teman-teman yang kawulo alit ini ya cuma bisa berharap saja toh Pak Besar. Mudah-mudahan Presiden yang terpilih besok ya anak bangsa yang terbaik. Yang bisa gusto kerjanya. Bisa melayani rakyat. Dan yang penting punya toto dan ati. Lak ya sewajarnya saja toh pengarepannya kami-kami ini Pak Besar ?”

Yu Winah menghela napas.. tangannya mengambil sesuatu di balik tenongannya. Sebungkus permen berwarna biru dongker.

“Aaammiin.. eh apa itu Yu ? Kok sepertinya saya slamur-slamur kelingan. Mirip panganan jaman baheula.”

“Owalah.. ini Pak ? Ini lak cuma permen Davos.. Permennya golongan kasepuhan seperti saya. Ben semriwing mulutnya.”

“Owalah.. kok ya masih ada ya permen ini. Tak kira sudah punah ditelan jaman je. ” Saya menimang-nimang permen biru ini. Saya jadi teringat jaman muda saya dulu.

“Hahaha… Ndoro kie kok ya sok ngece tenan. Permen Davos ini sih masih banyak nek di desa saya sana. Tapi ya cuma simbah-simbah sek doyan. Nek anak muda ya ndak doyan. Rasane jadul kalau anak saya bilang.”

“Lha iya Kang.. Permen mentol seperti ini ya memang cocoknya buat kasepuhan. Nek buat anak muda ya sudah ganti nama. Ganti bungkus. Padahal jan-jane ya isine lak ya sama toh ya ? Sama-sama mentol.” Yu Winah masih sibuk mengulum Davosnya.

“La ndak cuma permen Yu. Sekarang saja banyak rokok yang pake mentol kok. Ben makin semriwing nek diserot. Makin wangun. Katanya sih gitu.”

“Lucu ya Pak Besar. Padahal mentol-mentolan itu lak permen jaman dulu banget. Tapi kok ya masih bisa moncer sampai sekarang. Bahkan bisa makin banyak jenisnya. Makin kondang. Tidak seperti permen jaman dulu yang lain.”

“Oh iya.. bener Yu. Padahal dulu banyak permen yang rasanya ndak kalah enak yo. Kayak Sarsaparilla dan Frambozen. Sekarang sepertinya sudah ndak ada lagi rasa-rasanan seperti itu ya ? Sek masih awet itu ya mentol-mentolan seperti ini. Ya toh Yu ?”

“Ho oh Kang.. Mentolnya pinter. Mentolnya berevolusi. Supaya ndak ditlindes jaman. Kudu bisa beradaptasi dengan perubahan titimangsa.” Yu Winah tampak serius.

“Walah Yuuu.. bahasamu kok muluk tenan. Revolusi Mentol segala.” Mister Wasis tergelak.

“Tapi ya memang benar apa kata Yu Winah itu loh Sis. Yang namanya revolusi itu perlu. Nek ndak, ya bener-bener ketlindes jaman. Apalagi nek bisa nututi dengan makin banternya efek dari globalisasi. Bisa ilang betul itu.” Saya kok mendadak jadi seperti mendapat dejavu.

Nek Mentol saja harus berevolusi, lalu bagaimana dengan mental ?


28
Apr 14

Demokrasi Feodalism

“Jajan pasarnya Pak Besarrr… ” Seru Yu Winah di teras rumah.

Sore hari seperti saat ini, seperti biasanya, Yu Winah mampir ke rumah menawarkan jajan pasar spesialisasinya. Dan tentu saja dengan senang hati kami di rumah kecil ini menyambut beliau. Bukan saja karena beliau membawa makanan kecil bergizi camilan sekeluarga, tapi ya karena biasanya banyak informasi berharga yang dibawa. Ibarat dunia telik sandi, dari mulut beliau ini kita sering kali mendapatkan informasi A1 yang sangat berharga.

Dan setelah menjereng jajan pasarnya di atas tenongnya seperti biasa, Yu Winah pun mulai bercerita. Tangannya masih sibuk menata jajan pasar seperti menata gelar pasukan Mahabharata. Yang jajan pasar basah dipisahkan dengan yang kering. Yang berat dipisahkan dengan yang ringan. Yang perlu finalisasi khusus juga dipisahkan agar mudah.

“Pak Besar, nek menurut kaidah perbahasaan, jan-jane istilah Pemerintah itu benar ndak toh ?” Ujug-ujug Yu Winah sudah mulai masuk ke pembahasan yang sepertinya bakalan kritis dan analitis.

“Lah memang kenapa je Yu ? Kok istilah bahasa wae dipermasalahkan.” Mister Wasis sudah menyomot sate usus kegemarannya.

“Gini loh Kang. Istilah pemerintah itu lak dari kata dasarnya perintah. Dan perintah itu lak biasane satu garis. Dari yang berkuasa, ke bawahannya. Mirip seperti titah raja nek di negara kerajaan. Padahal kita ini lak bukan negara kerajaan. Negara Demokrasi je. Lah kok kemudian disebutnya Pemerintah. Nopo ndak salah kaprah niku ?”

Jidat saya jadi berkerut-kerut. Ini kok yang disebut sebagai akar rumput dan rakyat jelata, tapi pemikirannya bisa trengginas, analitis dan kritis seperti ini ya ? Ha kalau rakyatnya saja sedemikian kritis dan analitis, kudunya wakil rakyat di gedung kura-kura hijau itu lebih kritis dan analitis toh ya ? Tapi kok rasanya rada kebalik ya dengan kenyataannya.

“Wah Yu, njenengan memang luar biasa toh. Bisa jadi dirimu benar adanya. Dalam cara Inggris, disebutnya itu Goverment, dari katanya to govern alias mengurusi. Nek mengurusi itu tentu saja beda dengan memerintah. Karena nek mengurusi kan berarti melihat dulu apa kebutuhan yang diurusi, kemudian mengupayakan bagaimana caranya supaya sek diurusi itu bisa kajen. Ya mirip dengan pelayan masyarakat betul. La nek pemerintah itu, ya seperti katamu tadi, kerjanya hanya memberikan perintah. Mirip yang terjadi di sistem kerajaan yang rajanya lalim. Feodalism kalo istilah dari Prof. Lantip sang maestro bahasa. Dan seringkali perintahnya berasal dari kekarepannya pribadi. Tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang kudunya diurusi.”

“Nah itu lah Pak Besar, saya jadi curiga. Gek-gek istilah pemerintah itu sengaja dipergunakan karena sebenarnya kita ini berada di kerajaan. Yang jadi rajanya itu Presiden. Terus bawahan-bawahannya itu jadi mantri-mantri dan seterusnya. Njuk kita sebagai rakyat ini cuma dilihat sebagai obyek yang bisa diperas dan diperintah sak karepnya mereka.” Yu Winah tampak pilu.

“Ealah Yu.. urusan bahasa wae kok jadi ribet ya? ” Mister Wasis kali ini meraih arem-arem.

“Bukan perkara bahasanya saja loh Sis. Bahasa itu lak pengungkapan maksud. La nek bahasanya salah, sek diterima juga salah. Dan karena ini sudah terjadi selama sekian puluh tahun, tidak salah kalau kemudian terjadi penanaman pemahaman yang salah. Jadi wajar nek para PNS yang kerja di pemerintah itu jadi kurang pas bolehnya melayani masyarakat. La wong mereka dipihak pemerintah, alias yang memberikan perintah, la kok sekarang disuruh melayani masyarakat. Sejak kapan penggede itu bisa melayani ?”

Mister Wasis pun manggut-manggut dengan mulut yang masih mengunyah arem-arem dengan gustonya.

“Nah itulah Pak Besar. Kira-kira enaknya diganti istilah apa ya Pemerintah ini. Supaya pas gitu loh niatnya. Sebagai pelayan masyarakat. Bukan sebagai pemberi perintah ke rakyat saja.”

“Sek ya Yu. Nanti saya bawa diskusi ini ke tahap yang lebih pas. Biar pas nanti nek saya ketemu sama guru-guru besar tata bahasa biar dibahas lagi. Ben sisan pas dan trep bolehnya disolusikannya.” Saya kini meraih selad Solo kegemaran saya.

“Nah sudah.. silakan dihitung dulu Yu. Tadi Wasis ambilnya apa saja tambahannya. Saya ambil selad Solo sama Loenpianya tiga.”

“Semuanya Tiga Puluh Lima Ribu saja Pak Besar. Termasuk sama yang sudah dicekethem sama Kang Wasis itu.”

“Heheheh.. ini buat yang di belakang kok Ndoro. Bukan buat saya. Hehehe.” Mister Wasis cengengesan.

“Ya boleh saja. Sisan ditambahi lagi biar pas Empat Puluh Ribu.” Saya ngelungke uang bayaran ke Yu Winah.

“Maturnuwun Ndoro. Aseekk.. ” Mister Wasis mengambil beberapa tusuk sate usus dan sate telur puyuh lagi.

“Maturnuwun Pak Besar sudah dilarisi. Saya pamit nggih.” Yu Winah bergegas membereskan tenongannya untuk kembali beredar.

“Saya juga maturnuwun Yu. Nanti kita ngobrol lagi ya bab Pemerintah Feodal ini. Tak bahas dulu dengan sek lebih mumpuni di bab perbahasaan.”

“Injih Pak Besar. Pareng..” Yu Winah berpamitan dan meninggalkan teras dengan wajah sedikit kelegan. Sepertinya apa yang dipikirnya beberapa hari ini sudah bisa keluar.

Semoga cerita ini bisa saya bawa ke pertemuan dengan Prof. Lantip sang maestro Bahasa. Dan semoga kita bisa menemukan istilah yang lebih pas daripada istilah yang Feodal-Feodil sekali ini.


21
Jan 14

Golmut.. Golongan Mutung

Sore-sore di teras yang sedang gerimis seperti cuaca akhir-akhir ini memang asyik masyuknya sambil menikmati kopi hangat ples kudapan ringan ala priyayi. Selat Solo yang kemrenyes kripik kentangnya makin endes ketika ketemu asemnya acar mentimun. Kuah mlekohnya tentu makin mak legender ketika telur pindangnya pas kena kuning telur. Aahh.. nikmat..

Saya masih sibuk menikmati selat Solo yang marem ini ketika Yu Winah dan Mister Wasis sibuk berpadu di teras. Berpadu maksudnya saling padu.. Memadu padankan pendapat tepatnya.

Suara ribut mereka jadi menarik perhatian saya yang kebetulan sudah habis satu ronde selat Solo. Sambil membawa cangkir kopi Arabica Merapi, saya jadi pengen ikutan menimbrung perpaduan mereka berdua. Dengan berjingkat-jingkat saya ke teras depan. Supaya tidak mengagetkan keseruan perpaduan mereka.

“Lagi banjir seperti ini dimana-mana yo Kang.. La kok malah ada caleg sek ndak punya hati malah kampanye di bantuan buat pengungsi banjir.” Yu Winah tampak gemas sekali.

“Wedian tenan memang caleg-caleg sekarang ya Yu. Kok ya ndak punya etika yo ? Wong lagi pada susah kok ya dijejeli kampanye.” Mister Wasis dengan semangatnya mengompori.

“Ho oh Kang. Kampanye itu malah seperti pagebluk sekarang. Datang ramai-ramai, ribut sekali dengan atribut macem-macem tur warna warni, eh bukannya membawa kesejahteraan, malah mbawa sawan. Membawa mangkel saja di hati.” Yu Winah meracau.

“Betul sekali! Nek jaman dulu itu pagebluk marahi anak-anak jadi kena demam. Sek tua-tua jadi was-was. Ha sekarang nek pas kampanye itu ya sama saja. Semua kok sepertinya sudah demam panas dingin kalau lihat caleg mau kampanye. Pengennya gek ndang rampung saja acaranya. Nek perlu disawat sendal saja biar gelis rampungnya.”

“Hus.. kalian berdua ini loh. Wong orang sedang berusaha mencari simpati kok malah disawat sandal.” Saya ngekek dengan brutalisme Mister Wasis. Jika tidak distop imajinasinya sekarang, bisa-bisa beneran nyawat sandal ke calon legislatif yang akan kampanye dalam waktu dekat ini.

“La menyebalkan betul je Ndoro. Nyari simpati kok malah menyebabkan antipati. Apa ndak salah strategi atau memang waton saja strateginya ?”

“Betul itu Pak Besar. Nek caranya para caleg itu nyari simpatinya seperti sekarang, ha ya mesti ditinggal konstituennya betul. Wis jeleh je kami ini dijanjeni macem-macem tur mung nggedebus. Besok kalau sudah duduk di kursi dewan lak mung memperkaya diri. Wis males le niteni pokoknya Pak Besar.”

“Ha terus kalian maunya gimana ?”

“Ha ya kami berdua tadi sepakat. Pokoknya besok pas Pemilu mau Golput. Tidak mau nyoblos blas. Sudah males sama acara Pemilu-pemilunan?”

“Golput atau golmut ?”

“Golmut itu apa Ndoro ? Kok saya belum pernah dengar ?” Mister Wasis kukur-kukur kepala.

“Golmut itu Golongan Mutung. Ha ya seperti kalian berdua itu. Mutung ndak mau milih.”

“Ha ya gimana lagi Pak Besar ? La wong para caleg itu ya mung rajanya tega je. Sudah dipilih bener-bener la kok malah ngapusi rakyat kecil. Korupsi gede-gedean sisan. Tur sek dikorupsi itu duit negara, duitnya kami-kami sek kecil ini. ” Yu Winah tampak geram betul.

“Ha ya bener.. memang banyak caleg yang ndableg sekarang. Ha tapi bukan begitu caranya. Ha kok njuk Golmut.. Nek banyak seperti kalian yang Golmut, ya yang menang yang suka korup-korup itu lagi. Nek duit negara dikorup, ha yang susah lak kalian-kalian juga. Kita-kita juga. Coba bayangkan.. Nek duit buat mbangun jembatan itu dikorupsi. Terus jadinya jembatannya kurang pas. Malah membahayakan yang lewat di atasnya. Trus ambles. Nek sek pas lewat di jembatan itu anakmu atau keluargamu gimana ? Lak sek cilaka kita semua ?”

“Wah.. ya jangan si Thole yang kena toh Ndoro. Wong anak saya ndak ada salah apa-apa je. Kok malah melu kena amblesnya jembatan.” Mister Wasis pucat pasi..

“Ha itu contohnya. Nek tidak memilih pas pemilu besok, sudah bisa dipastikan sek menang ya mereka-mereka lagi. Yang suka korupsi-korupsi itu lagi.”

“La terus pripun bagusnya Pak Besar ?”

“Gini saja. Mulai sekarang, titenono saja. Itu berita-berita lak banyak yang beredar. Bacalah koran sebanyak-banyaknya. Titeni daftar caleg yang ada. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Sek jelas-jelas track recordnya jelek, langsung saja hapus dari daftar calegmu. Sebarkan beritanya kalau mereka itu punya track record jelek. Ngobrolah dengan banyak orang supaya banyak yang tahu kalau itu caleg yang jelek. Bagi-bagi informasi lah. Ha seperti sek di tivi kemarin itu. Ada caleg sek bintang film panas tapi sekarang krukupan. Dikiranya lak masyarakat tidak menyadari. Padahal ya sadar betul toh ? Ha sek seperti itu titenono.

“Ha tapi sekarang banyak yang sok suci je nek pas kampanye itu Ndoro ..”

“La kan modalmu ngobrol dengan banyak orang. Banyak orang itu berarti banyak informasi. Cari informasi yang benar dan utuh. Pilih caleg yang nggenah. Biar aman urip kita semua besok. Sudah cukup je menderita selama 10 tahun di pemerintahan yang kurang nggenah seperti sekarang. Iya toh ? Lak ya kamu semua pengen makmur juga toh ?”

“Ha ya jelas toh Pak Besar. Pengen bisa makmur juga lah. Minimal kayak jaman dulu itu. Pas jaman Mbah Harto. Semua-semuanya murah. Bisa dijangkau harganya. Ndak seperti sekarang.”

“Ha ya nek gitu, mulai cari informasi caleg-caleg bosok saja. Terus berbagi ceritalah. Ben kita bisa memasukkan caleg-caleg bagus ke DPR dan MPR besok pas Pemilu. Biar caleg-caleg bagus itu yang jadi tentara anti korupsi anti ngapusi kita. Ha rak begitu toh ?”

“Wah iya ya.. Tadinya saya pikir mending mutung saja je. Jebul nek mutung kie ya ndak pas juga ya?”

“Ha ya jelas. Nek kita mutung, sek remuk ya kita sendiri je.”

Saya masuk ke dalam lagi sambil kini membawa satu porsi selat Solo lagi. Orasi sebentar saja sudah membuat perut saya minta tanduk. Ealah.. mbul..gembul..

 

 

 


22
Oct 13

Pawiwahan Ageng

Beberapa hari ini Yogyakarta sedang sibuk sekali sepertinya mempersiapkan kedatangan tamu Pawiwahan Ageng Kraton Ngayogyakarta. Ingkang Sinuhun Sri Sultan HB X sedang punya gawe untuk menikahkan anaknya yang nomer empat, GKR. Hayu. Banyak patroli polisi wira-wiri di seputaran Kraton. Voorijder banyak yang sudah siap sedia mengawal tamu-tamu negara yang konon informasinya bakalan datang beribu-ribu orang. Sebuah momen yang amat sangat khusus wal spesial sepertinya. La ndilalahnya kok ya saya juga mendapat berkah untuk bisa ikut dalam acara resepsi Pawiwahan Ageng besok siang. Ngalhamdulillah…

Maka, Bu Alit pun segera saya panggil pulang ke Yogyakarta untuk ikut menemani saya ke acara yang bakalan sangat magrong-magrong dan sakral ini.

—————————————————

Bu Alit sedang repot di kamar membongkar-bongkar koleksi kain dan kebaya yang pas untuk dipakai di acara resepsi Pawiwahan Ageng Sri Sultan HB X. Semua koleksi kain dan kebaya dikeluarkan. Disawang-sawang.. dipas-paskan. Mana yang paling pas untuk acara besok siang. Memang untuk bagian mengepas-paskan sandangan dalam acara-acara khusus seperti ini, saya cuma bisa bergantung pada seleranya Bu Alit supaya nampak selaras dan sarimbit.

“Bapak besok mau pakai baju yang mana ? Tenun Troso atau pakai batik Mas Iwan Tirta mawon ?” Bu Alit menanyakan dari ruang kamar.

“Sepertinya lebih pas nek pakai batiknya mas Iwan saja ya Bu ? ” Saya menyahut dari kursi malas kegemaran saya. Memang sore itu saya sedang leyeh-leyeh nglaras rasa setelah seharian digempur kerjaan di kampus. Sore hari adalah saatnya menyelaraskan antara nafas dan hati supaya tetap dalam kondisi mat dan selaras.

“Oh baiklah..”

Bu Alit kemudian masih sibuk mencari asesoris yang pas buat menemani kebaya encimnya Anne Avantie, tentu saja supaya bisa menemani baju batiknya mas Iwan Tirta. Menyandingkan kain batik seorang maestro sekelas Almarhum Iwan Tirta dengan kebaya Anne Avantie plus asesorisnya tentu jadi PR sendiri. Ndak bisa sembarangan toh ? Kain ini saya peroleh sekitar 5 tahun yang lalu ketika bareng dengan Mas Iwan ke Eropa. Walaupun sudah 5 tahun, tapi batik ini jumlah keluarnya sepertinya jauh dibawah bilangan tahunnya alias jarang dipakai.

Sore itu kondisi teras rumah juga sedang ramai karena Yu Winah pun sedang saya panggil menyetori jajan pasar kesenengan saya, Loenpia dan selat Solo. Sudah lama bolehnya Yu Winah tidak mampir ke rumah. Ya ndilalahnya juga pas beberapa waktu yang lalu saya juga pas ndak dirumah. Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah pun lesehan di teras depan sambil jagongan.

“Eh Kang, iki mung andai-andai ya. Nek seandainya kowe diundang ke acara Pawiwahan Ageng arep ngopo ?” Yu Winah sambil dengan cekatan tangannya memasukkan pesanan saya dan Bu Alit ke dalam atas piring yang dibawa Nyai Wasis.

Ha ya nek saya sek bakalan paling tak titeni ya maemane toh Yu. La kapan lagi bakalan nemu maeman sek enak-enak khas Kraton Ngayogyakarta, nek ndak pas acara seperti ini. La denger-denger Kraton bakalan mengeluarkan menu khusus pas Pawiwahan Ageng. Ada Gudeg Manggar, Kambing Guling, Es Camcao sama Es Ronde. Gudeg Manggarnya mesti kualitasnya berbeda dengan yang seumumnya itu. Manggarnya mesti masih enom yang kalau digigit mak prul empuk tenan. Iwak ayame mesti maknyos mempurnya. Kuah arehnya juga mesti wangi tur gurih. Es Camcaonya mesti mak nyes… Es Rondenya mesti juga mak legender anget jahe tapi adem cekelane. Aah.. sedaapp..”

“Wah.. Pakne ini kok sek diurusi panganaaann wae. Nek saya melu di undang Sinuhun ya pengen melihat manten kakung dan putrinya sek mesti bagus dan ayu tenan. Tamu-tamune juga mesti dandangane kenes tur ayu. Wangi-wangi parfum larang seperti punya Ndoro Itu. Sandangannya juga mesti alus tur mak tralap-tralap banyak batu permatane. Aahh.. Ayu tenan…” Nyai Wasis ndak mau kalah dengan suaminya.

“Haahahaha.. ngono ya keno kok Nyai. Nek saya diundang di Pawiwahan Ageng ini ya saya pengen mirsani upacarane mawon. Mudah-mudahan banyak tamu-tamu sek top-topnya negara ini sek mirsani. Jadi kemudian pada nguri-uri budaya Jawa lagi. Termasuk jajanan pasarnya. Nah.. nek jajan pasar jadi ngetop lagi lak ya saya juga kebagian makin laris juga dagangannya. Aah.. Kelarisan..” Yu Winah tak mau kalah juga berandai-andai.

Njuk semua terdiam. Sepertinya sibuk dengan lamunannya masing-masing.

“Jebul Pawiwahan Ageng itu maknanya beda-beda ya ? Walaupun kita cuma kawulo biasa, jebul kekarepane juga sok luar biasa.” Mister Wasis memecah keheningan.

“Ya namanya juga beda kepala toh Kang. Mestine ya kekarepane beda-beda. Ning sek penting, kita sebagai kawulo alit ya turut mendoakan kepada kedua mempelai GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Nderek mangayubagyo Pawiwahan Ageng. Mugi-mugi Gusti Pangeran tansah pinaringan berkah sedaya lampah. Lak begitu toh ya Kang ?”

“He eh Yu. Sek penting kita urun donga saja kepada kedua mempelai. Semoga rukun terus sampai kaken ninen. Bisa jadi conto buat kawulo alit seperti kita ini.”

“He eh Pakne…” Nyai Wasis mengiyakan sambil manggut-manggut.

Hehehe.. saya mbatin saja mendengarkan celoteh dari Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah ini. Yah semoga Gusti Pangeran berkenan mengijabahi doa yang tulus dari kawulo alit seperti kami ini. Semoga Gusti Pangeran purun paring berkah kaliyan Pawiwahan Ageng ini. Semoga ini adalah pernikahan yang pertama dan sekaligus yang terakhir untuk GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Aaammiiieenn..

“Pak.. Pantesnya pakai yang mana ? Yang merah ini atau sek ijo ?” Istri saya, Bu Alit, keluar dari kamar dan menunjukkan asesoris yang ingin dipakainya untuk njagong besok siang.

Sek endi wae kowe tetep ayu kok Bune.” Saya pasang senyum paling lebar untuk istri saya tercinta ini.

Heyeh.. ditakoni tenanan kok malah nggombal amoh!” Bu Alit melengos dan masuk ke dalam kamar lagi. Saya nggleges..


03
Oct 13

Cakra Manggiligan

Kehadiran Yu Winah di teras sore ini agak mengagetkan. La wong biasanya Yu Winah baru berkenan hadir jika saya yang mengundang, la sore ini kok ujug-ujug Yu Winah sudah ndeprok di teras depan tanpa saya panggil. Saya yang baru saja bangun dari siesta, tentu saja agak bingung.

“Nek ndak salah saya ndak manggil Yu Winah toh ya?” Saking bingungnya saya cuma bisa kukur-kukur kepala.

Mboten kok Pak Besar. Niki saya dipanggil sama Kang Wasis itu. Barusan masuk ke dalam mau ambil piring kataya.” Yu Winah agak melegakan saya. Maklum, saya sudah mulai agak lupa. Terkadang ya membawa perkara yang rada tidak mengenakkan kalau pas lupa. Ya takutnya kali ini saya yang lupa lagi kalau sudah memanggil Yu Winah mampir.

“Weh.. kok tumben ? Ndak biasa-biasanya Mister Wasis berani mengundang Yu Winah.” Batin saya..

Seolah bisa membaca kebingungan saya, Yu Winah bercerita. “Kang Wasis barusan dapat hadiah doorprice dari sabun colek katanya Pak. Jadi saya kecipratan rejeki dipayoni dagangan saya.”

“Ealaaahh… begitu toh ceritanya.. Pantesan…” Saya sumringah setelah bisa membaca jalan cerita kejadian ini.

“Ya namanya urip itu kan Cakra Manggilingan ya Pak Besar. Biasanya Pak Besar yang maringi rejeki buat saya, sekarang giliran Kang Wasis yang maringi. Ngalkahmdulillah ya Pak Besar.”

“Hehehehe.. iya Yu.. Ngalkamdulillah..”

Mister Wasis keluar sambil membawa piring 2 buah. Sepertinya serius betul mau memborong dagangan Yu Winah. Saya beranjak menjauh. Biar tidak mengganggu gustonya Mister Wasis memborong jajan pasarnya Yu Winah. Saya perhatikan saja dari dekat garasi.

“Yu, ini piringnya ya. Loenpianya lima, sate ndok gemaknya lima, nasi kuningnya dua bungkus, tahu isinya lima, selat Solonya tiga. Trus jangan lupa acar sama lomboknya ya.”

“Weh. Akeh tenan tukunanmu Kang ? Ngalkamdulillah.. Maturnuwun.” Yu Winah tampak agak tidak percaya juga dengan pesanan Mister Wasis yang cukup banyak kali ini.

“Hehehehe.. sekali-kali saya ya pengen maem enak ya Yu.”

Saya mendekat lagi ke arah Yu Winah dan Mister Wasis. “Eh.. sajaknya kowe sedang banyak duit toh Sis ?”

Agak kaget juga Mister Wasis melihat saya datang. Sambil agak kikuk Mister Wasis juga menawari saya. “Hehehehe.. cuma baru bejo sedikit kok Ndoro. Cuma dapet bonus dorprais dari sabun colek. Lumayan bisa buat jajan-jajan. Ndoro purun nopo ? Sekarang saya sek mbayari. Mau Loenpia ? Semar Mendem ? Selat Solo ? Pilih saja loh Ndoro.. “

“Hahahah.. kowe kok rodo kemaki toh ? Ya wis, tak tompo tawaranmu. Yu.. Semua sek ditawarkan si Wasis ini saya ambil ya. Masing-masing tiga ya.”

“Eh.. kok banyak gitu Ndoro..” Mendadak wajah Mister Wasis pucet.

“Hahahaha.. kowe digojeki Ndoromu kuwi Kang. Ya jelas ndak mungkin nek Pak Besar pesen sebanyak itu. La wong ini Selat Solonya saja sudah habis. Semar Mendem dan Loenpianya cuma tinggal satu. Hahahah.. elik tenan rupamu Kaanngg.” Yu Winah tertawa terkekeh-kekeh melihat Mister Wasis yang langsung pucat pasi.

“Duh.. Ndoro kok tegel toh nggarapi saya.. Sudah mau copot loh jantung saya nek harus mbayari semuanya tadi.”

“Ha salahmen kowe yo rodo kemaki. Hahaha.. Guyon wae ya Sis. Guyon wae…” Saya terkekeh-kekeh saja melihat Mister Wasis yang ndak enak hati.

“Yu.. saya ambil Loenpianya satu saja ya. Biar Mister Wasis ndak jadi semaput.” Yu Winah yang masih terkekeh dengan segera saja sigap memasukkan pesanan saya ke dalam plastik bening seperti biasanya.

“Eh membahas Cakra Manggilingan seperti katamu tadi. Kok sepertinya agak berat juga bahasane toh Yu ?” Saya sengaja memancing cerita dari Yu Winah yang terkadang juga penuh kebijakan lokal. Menyenangkan bahwa orang-orang seperti Yu Winah ini masih tetap berpegang pada kebijakan lokal dalam menjalani hidupnya.

“Ha ya ndak berat toh Pak Besar. Biasa saja. La wong Cakra Manggilingan itu lak ya sebiasa-biasanya kehidupan. Siapa saja pasti akan mengalami. Sekali-kali di bawah, sekali-kali ya di atas. Yang di bawah jangan patah semangat. Yang di atas ya jangan kemaki. Karena roda pasti berputar. Semua bisa terjadi. Tidak ada yang abadi. Ha rak cuma begitu toh Pak Besar.”

“Semuanya bisa terjadi ya Yu. Tapi njuk kapan ya Cakra Manggilinganku muternya ya?” Mister Wasis menyela.

“La rak sekarang ini sedang muter toh Kang ? Biasanya Pak Besar yang manggil saya kesini. Sekarang gantian kowe sek ngundang saya kesini. Lak itu Cakra Manggilingan toh?”

“Maksudku sek luwih gede Yu. Kapan saya bisa jadi Ndoro.. Gitu..”

“Njuk terus kapan saya jadi bawahanmu gitu ? Ha nek itu sih kudu ngenteni Cakra Manggilingannya sendal ini dulu pindah ke batukmu dulu. Sontoloyo..” Saya pura-pura sudah siap nyawat sendal ke arah Mister Wasis yang kini terpucat-pucat lagi.

“Ha ya ndak yang sampai segitunya Ndoro. Mana berani saya.. Ampun Ndorooo..” Mister Wasis langsung kabur ke dalam.

Saya dan Yu Winah terkekeh-kekeh lagi. Rasanya menyenangkan ketika kita diingatkan lagi, menyadari bahwa Dia tidak tidur. Dia masih dengan kuasaNya terus menggulirkan roda kehidupan. Cakra Manggilingan kalau orang Jawa bilang.


03
Oct 13

Klakson Dan Kemajuan Bangsa

Euforia peringatan hari Proklamasi Republik ini masih menyisakan beberapa senut-senut di kempol dan pinggang. Sudah tahu namanya termasuk golongan kasepuhan kok ya tetap memaksakan diri ikutan lomba tujuh belasan walaupun cuma lomba masak, tetep saja akhirnya butuh bantuan Mister Wasis untuk mengembalikan kondisi kempol dan pinggang ini jadi seperti semua.

Maka sore ba’da Ashar itupun saya sudah cemepak nggelar tiker di ruang tengah. Dan bak tukang pijet profesional, Mister Wasis pun sudah siap mijeti. Dengan segala ubo rampe termasuk minyak pijit dari Lombok. Maka, saya pun menyerahkan nasib kempol dan pinggang saya pada pijetan Mister Wasis.

Baru mau mulai dipijeti kok ada suara dari depan. “Kulonuwunnnn. Jajan pasarnya Pak Besarrr..” Eh la kok ujug-ujug ada suara Yu Winah dari balik pagar.

“Sis, itu Yu Winah diajak masuk saja. Sisan beli Loenpia sama Selad Solonya.” Kebetulan perut juga agak keroncongan. When opportunity meet requirement betul ini namanya. Mister Wasis pun tergopoh-gopoh membukakan pintu depan dan mempersilakan Yu Winah masuk ke ruang tengah. Agak spesial dibandingkan hari biasanya yang ndeprok di teras depan.

“Wah.. baru pijet toh Pak Besar. Kenapa ? Habis yak-yakan ikut pitulasan nopo ?” Yu Winah dengan anggunnya kemudian menurunkan tenongan. Tangannya dengan lincah mulai menata jajan pasar.

“Hahahaha.. ya ndak sampe yak-yakan. Tapi cukupan buat bikin kempol saya rada slenco. Eh tolong disisihan seperti biasa ya Yu. Tambahi tahu baksonya tiga ya.”

“Ha ya ini yang namanya tua-tua keladi ya Yu. Wis KTP seumur hidup, tapi gayane ndak mbejaji. Hehehehe.” Mister Wasis meledek saya sambil tangannya mulai beraksi. Pijatannya memang boleh dipoedjikan. Pijetan Mister Wasis ini bukan pijetan ala tukang pijet kesehatan itu. Sek sok terlalu sakit dan ndak bisa dinikmati. Nek Mister Wasis ini untungnya pijetannya yang tipikal mat dan selaras. Heavenly pleasure. Nyet-nyetannya pas betul intensitas kerasnya.

“Ndak ikut lomba-lombaan pitulasan napa Yu ? Kok malah dodolan ?” Mister Wasis gatel juga ternyata ndak ngecipris sembari tangannya mulai mijeti tungkak saya.

“Halah.. nek seperti kita ya wis ndak pantes ikut lomba-lombaan toh ya Kang. Kita itu pantesnya cukup di malam tirakatan saja. Sambil merenungi nasib. Sek lomba-lombaan itu biar priyayi-priyadi seperti Pak Besar.” Yu Winah masih sempat-sempatnya loh nyindir saya walaupun tangannya cak-cek memasukkan pesanan ke dalam plastik.

“Welah.. kok jadi saya sek kena je Yu. Saya juga ikut tirakatan loh. Nek lomba-lomba begini ya cuma mergo ben rame dan guyub saja. Lak ya mesakne panitiane nek ndak ada sek ikut lombanya.”

“Hehehehe.. guyon mawon kok Pak Besar. Ampun dipenggalih ya. Eh tapi ya Pak Besar, kok kayaknya makin sedikit niku priyayi-priyayi sek ikutan lomba pitulasanWong tadi di jalanan malah ramenya ndak umum. Malah akeh sek plesiran niku. Tur banyak sek plat nomer mobilnya bukan plat mobil priyayi Jogja loh. Lak itu brati mereka ndak ikutan pitusalan di asalnya sana toh ya Pak Besar ?”

“Ha ya mungkin mereka itu sek masih piknik di Jogja toh Yu ? Sekalian bolehnya liburan. Wong liburan sekolah ya masih sampai Sabtu ini loh ya. Mungkin maksudnya ya sisan liburannya dirapel saja sejak lebaran kemarin toh ?”

Ning saya sek gumun itu kok ya tetep pada doyan ngelakson di jalan itu loh Pak Besar. Wong cetho-cetho macet, la kok isih ngelakson. Lak yo mung muspro ya ? Sia-sia ngaten loh.”

“Ha nek menurut saya, ketoke sifat demen ngelaksone priyayi Indonesia itu sek marakne Indonesia ndak maju-maju loh Yu.” Mister Wasis tiba-tiba memberikan premis yang seperti biasanya pula, suka out of the box. Ora umum. Dan yang begini ini kadang bikin mongkok hati juga. Ndak sia-sia bolehnya saya menyediakan bahan bacaan berbobot setiap hari. Logikanya boleh diacungi jempol. Tapi ya terkadang saja sih.

“Heloh.. kok iso toh Kang ? Apa hubungane kebiasaan ngelakson dengan kemajuan bangsa je ? Ora ngarang loh kowe Kang ?”

“Loh.. ora ngarang iki Yu. Coba dipikir ya. Wong ya sama-sama tahu nek macet, tapi nek priyayi Indonesia kae lak tetep ngelaksonKuwi lak podo wae nek ibarat priyayi duwe masalah, tapi mung udur wae. Ribet dewe gitu loh Yu. Ndak malah mencari solusi, tapi ribut bab masalahe wae. Lak luwih pas, nek memang macet, ya wis sareh dan sabar mawon ngenteni giliran. Nek pengen sek luwih solutif meneh, ya cari jalur alternatif. Ora malah ngelaksoni liyanBanter-banteran le ngelakson sisan. Mung marahi mangkel wae. Lak begitu toh ya ?”

“Woh gitu ya Kang ? Nopo betul niku Pak Besar ? Mosok iya begitu hubungan antara kebiasaan ngelakson priyayi Indonesia itu marakne Indonesia ndak maju-maju ?”

“Ha ya mungkin ada benarnya juga Yu.” Saya ya cuma mengiyakan saja. Ben gayeng juga.

La rak tenan. Ndoro saja sek Guru Besar UGM ngakoni pendapat saya loh Yu. Brati lak logika saya bener kuwi Yu.”

“Heyehh… aku kie lagi memungkinkan loh. Durung membenarkan analisamu. Hayo balik meneh ke tugasmu. Mijetine sek penak. Iki kempole isih kenceng-kenceng loh.” Mister Wasis kembali nyet-nyetan ke bagian kempol saya.

Terkadang saya terkagum-kagum dengan orang-orang kecil ini. Analisanya sering out of the boxOtak-atik mathuknya seringkali bijaksana. Mungkin ini yang sering kita sebut the local wisdom. Ngalkamdulillah Indonesia masih berisi orang-orang yang seperti mereka. Yang bijaksana dalam berbagai kondisi bangsa. Semoga para Pahlawan yang sudah gugur, bisa tenang meninggalkan Indonesia di tangan mereka-mereka ini. Merdekaa!!