01
Nov 14

Satetika

Secara estetika, sate yang merupakan makanan khas dari Jawa, mungkin diilhami oleh kebab dari Timur Tengah. Namun kok ya tidak seperti di Arab-arab sana yang dagingnya sak hohah yang kemudian diiris-iris, sehingga setiap orang mendapatkan beberapa iris daging, sate ala Jawa tak cuma sekedar daging. Tapi sak sunduknya sekalian. Jadi ada kedemokrasian dalam sate ala Jawa. Bahwa semua orang akan mendapatkan sebentuk yang sama. Tak cuma dagingnya, tapi juga sunduknya. Termasuk juga yang mbakar sate, jika berkenan. Sama rata.. sama rasa..

Dan membicarakan satetika ini rasanya kok kurang mantep kalau hanya cuma nglempus tok tanpa menikmati hidangannya di depan mata. Maka sore ini saya sudah meniati untuk ke angkringan Pak Ngadiyo. Bukan karena Pak Ngadiyo sekarang jualan sate sekaligus angkringan. Namun konon kabarnya, Pak Ngadiyo sudah menyiapkan sate khusus yang sudah saya pesan tempo hari.

“Loh Ndoro.. Mau kemana kok sudah mau tindakan ?” Mister Wasis tiba-tiba nyegat pas saya mau berangkat ke Angkringan Pak Ngadiyo. Tangan kanannya masih belepotan tanah bekas membersihkan pot tanaman di halaman.

“Mau ke angkringan Pak Ngadiyo dulu. Pengen minum es tehnya. Katanya bikin kemepyar. Pas ini.. pas lagi panas-panasnya Jogja. Sepertinya enak nek minum es teh.” Saya sudah siap-siap kabur saja. Nek Mister Wasis ikutan ke angkringan Pak Ngadiyo, bisa berkurang jatah sate saya.

“Wah saya nunut Ndoro.. Saya ya pengen Es Teh…” Mister Wasis malah lari-lari mencuci tangan kemudian mengambil sendal jepitnya dan kemudian membukakan pintu. Cilaka ini.. saya ndak bisa ngeles lagi kalau begini ceritanya…

“Ha wis.. ayo mangkat..” Saya rada lesu membayangkan jumlah sate yang bakal menjadi jatah saya berkurang..

Sampai di angkringan Pak Ngadiyo, sang empunya sudah cemepak dengan segala ubo rampe ngangkringnya. Dingklik kayu sudah tertata rapi, beberapa lembar tikar juga sudah tergelar di bawah. Gerobak angkringannya sudah full set dengan segala macam jenis gorengan, sate-satean, nasi kucing, tiga ceret yang terjerang di atas anglo dan segala macam kelengkapan angkringan lainnya.

“Halo Pak Besar. Niki satenya sudah saya bawakan loh. Pripun ? Mau dibakarkan sekalian pakai areng pohon nangkanya njenengan kemarin nopo ? Langkung wangi mesti..” Pak Ngadiyo menyambut kami berdua.

“Ha boleh wis Kang.. langsung saja dibakarkan.. La terus nanti uborampenya nopo ?”

“Satenya bisa dinikmati tanpa nopo-nopo Pak Besar. Begitulah konon kabarnya jika ingin menikmati kualitas sate kelas wahid. Jika ngersani kelengkapannya ya nanti sisanya bisa dibawa pulang. Didahar pakai nasi anget.” Pak Ngadiyo langsung mengeluarkan sebentuk kotak plastik yang ternyata di dalamnya terdapat sate spesialnya.

“Heloh Ndoro.. katanya mau minum es teh.. kok malah dapat sate ?” Mister Wasis terkaget-kaget.

“Wis.. rasah crigis.. Nek pengen sate ya melu wae. Nek kakehan crigis, ora tak bagehi loh. Sate spesial ini. Limited Edition.”

“Wah.. ampun ndoro.. saya mingkem saja.. Demi sate limitet edisyen.”

“Hahahah.. Ini ndak limited edition kok Kang Wasis. Cuma sate pesenan Pak Besar saja. Ndilalah kemarin saya cerita tentang sate. Dan Pak Besar ngaturi pesan sate buatan saya. Memang rada ndak biasa. Niki sate ala buntel. Tapi sunduknya pakai ruji sepeda. Ya kombinasi sate ala klatak dan sate buntel lah.” Pak Ngadiyo mengipas-ngipas anglo besi yang sudah penuh arang yang diduga ya dari pohon nangka tempo hari itu.

“Loh kenapa ndadak disunduki ruji sepeda toh Kang” Mister Wasis celingak-celinguk melihat proses pembakaran sate Pak Ngadiyo dengan seksama.

“Secara Satestika, banyak yang bilang bahwa mbakar pakai sunduk dari ruji sepeda itu cuma apus-apus. Cuma sekedar ben wangun. Tapi setahu saya ya Kang, ruji sepeda yang dari besi ini lak penghantar panas toh ? Nek saya mbikin sate yang gede-gede ala sate buntel seperti ini, nek pakai sunduk dari bambu sering ndak bisa matengnya yang dibagian dalamnya. Nek nunggu bagian dalamnya mateng, bagian luarnya sudah keburu gosong. Nek pakai ruji sepeda ini, panasnya ruji bisa ikut mematangkan sate bagian dalam. Itu katanya anak saya yang kuliah di Teknik UGM loh ya ? Saya sih ya mung manut saja. La wong saya cuma lulusan SMP.” Pak Ngadiyo tetap sibuk mengipasi anglo untuk menjaga apinya tidak membesar. Karena untuk mematangkan sate justru membutuhkan panas dari bara arangnya saja. Bukan api. Teneh gosong.

“Wuih.. mbois tenan noh sampeyan Kang. Lulusan SMP tapi anaknya bisa kuliah di UGM. Seperti bu Mentri Susi.”

“Ha ya memang mirip Kang. Saya sama bu Susi juga sama. Cuma beda nasib saja.”

“Sama-sama lulusan SMP ya Kang ?”

“Bukan.. Sama-sama ndak jilbaban.” Pak Ngadiyo nggleges bahagia. Bahagia bisa nggarapi Mister Wasis.

Dan tak lama kemudian sate buntel ala Pak Ngadiyo sudah terhidang di atas piring kaleng. Aroma daging kualitas wahidnya menguar menantang. Es teh sebagai sandingan sudah tersedia juga. Dari aroma satenya, saya menduga dagingnya sudah dibumbui dengan sedikit cengkeh dan kayumanis.

“Ditambahi bumbu cengkeh dan kayumanis nopo Pak ?” Saya menebak-nebak.

“Leres Pak Besar. Tapi juga saya tambahi sedikit cengkeh, kayumanis, cabe andaliman sithik, sama kembang lawang. Nek coro Cino katanya sih bumbu Ngoyong.”

“Wuihhhh… Ngo Hiong ? Bumbu lima rempah ? Wah.. njenengan jebule paham tenan tentang sate toh Kang ? Ampuh tenan.. Ndak nyangka saya. Luar biasa. Kudunya njenengan jadi chef saja Kang.”

“Wah.. chef niku nopo je Pak Besar ? Wong saya cuma lulusan SMP loh ya. Pripun satenya Pak Besar ? Sae mboten ?” Pak Ngadiyo kukur-kukur kepala. Tapi tak bisa menutupi rasa bangganya. Lubang hidungnya kembang kempis…

“Henaakkkk..” Saya menyahut sambil kepongah-pongah kepanasan.

Pak Ngadiyo tertawa bahagia..

Dan sore ini jadi sore yang sangat nikmat. Angkringan dengan sate buntel ala Pak Ngadiyo. Dan ditemani es teh. C’est La Vie..


08
Sep 14

Kemedol yang tidak Didol

Saya sedang leyeh-leyeh di kursi malas ketika Monsieur Lantip bertamu. Mister Wasis yang sudah hafal dengan kelakuan Monsieur Lantip segera saja mempersilakannya masuk ke ruang tengah dan jumeneng di amben kayu jati yang biasa saya pakai untuk ritual mbenakne boyok. Dipojokan amben jati ini masih tersisa minyak urut yang dipakai Mister Wasis untuk mijeti kempol saya kemarin malam.

“Halo Kangmas Besar. Sibuk benar bolehnya siesta sore. Nikmat bin mat toch ?” tegur Monsieur Lantip tanpa kesan menyindir. Tangannya mengangsurkan minyak urut kepada Mister Wasis yang menerimanya dengan malu-malu. Ketiwasan…

“Sugeng sonten Kangmas Lantip. Pripun..pripun ? Sore-sore kok berkunjung ke gubug saya. Ada keperluan nopo Kangmas ? Maaf loh dapat suguhan pemandangan tidak senonoh. Ya anggap saja seperti di rumah sendiri nggih ?” Saya yang cuma sarungan dan kaos lethek ya jadi ndak enak hati sendiri.

“Hahahah.. Ndak papa Kangmas Besar. Saya yang harusnya minta maaf. Sudah nenamu tapi ndak bawa sesuatu. Maafkan kelancangan saya ya Kangmas.”

Mister Wasis keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir kopi Kalosi Toraja buat kami berdua. Aroma kopi Kalosi yang tonjo membuat suasana santai sore ini jadi makin berwarna saja nampaknya. Ditambahi pisang goreng kepok kuning buatan Nyai Wasis, makin lengkaplah segala ubo rampe siesta sore ini.

“Gini loh Kangmas. Saya memerlukan datang kesini dengan harapan bisa mohon bantuan njenengan.”

Heladalah Kangmas.. Kok sajaknya berat betul. Pertolongan macam apa yang bisa saya berikan buat njenengan. Oh iya, ini sudah dibuatkan kopi dan nyamikan seadanya. Monggo diseruput dulu sebelum dingin.”

“Wah maturnuwun Kangmas. Maturnuwun ya Kang Wasis. Kopinya nampak menggoda sekali. Saya seruput nggih ?”

“Monggo Pak Lantip.” Mister Wasis mengangsurkan cangkir kopi ke Monsieur Lantip.

“Jadi begini Kangmas. Kita berdua lak sama-sama tahu, bahwa Jogja sekarang sedang carut marut di beberapa kondisinya. Jadi saya dan teman-teman menggagas gerakan Jogja Ora Didol. Semacam gerakan self introspection buat pemerintah. Toh dalam waktu dekat, Jogjakarta mau ulang tahun. Jadi ini semacam hadiah ulang tahun untuk pemerintah kota Jogjakarta. Bahwa ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki dan bahwa sangat urgent untuk diantisipasi agar Jogjakarta yang kita cintai ini tidak kebanjur rusak.” Monsieur Lantip mengeluarkan urek-urekan konsep yang sudah disiapkan.

Saya mendengarkan dengan seksama. Mister Wasis manggut-manggut.

“Gamblangnya begini Kangmas. Saya mau minta bantuan njenengan supaya menceritakan kepada mahasiswa Kangmas. Jika mereka menemukan suatu hal yang tidak sreg tentang kota Jogjakarta, mbok tolong dibantu difoto, terus di uploadkan ke facebook yang sudah saya siapkan ini. Sekaligus ditambahi beberapa datanya seperti kapan ditemukannya, dan pendapat mereka tentang hal itu. Kumpulan dari uneg-uneg yang sahih ini akan kami sampaikan kepada pemerintah kota Jogjakarta mbesok pas ulang tahun Kota Jogjakarta.”

“Wah.. seperti biasa, ide Kangmas Lantip ini selalu saja loh jos gandos dan mlethik. Mengajak partisipasi masyarakat untuk memberikan auto critic adalah suatu yang jamak dilakukan di negara-negara dan kota-kota yang sudah misuwur. Nggih Mas. InsyaAllah akan saya sampaikan ide njenengan. Dan InsyaAllah mahasiswa saya akan dengan senang hati membantu memberikan hadiah kepada pemerintah kota Jogjakarta.”

“Maturnuwun sekali atas perkenan Kangmas. Mudah-mudahan ini bisa menjadi self introspection buat kita sebagai warga Jogjakarta dan sebagai kado ulang tahun kota Jogjakarta yang pantas.”

“Sami-sami Kangmas Lantip. Memang dengan adanya pembangunan yang luar biasa pesat di Jogjakarta ini sok nrabas-nrabas paugeran dan budaya kita sendiri. Ya memang kita sok kudu bisa ngerem dan bijaksana. Pinilih-pinilih mana yang bisa kita bangun. Tapi juga pinilih-pinilih yang mana yang justru perlu kita hindari. Demi menjaga trap dan keJawaan Jogjakarta toh nggih ?”

Leres Kangmas. Bukankah dunia ini berputar karena dua hal tersebut. Yang satu pihak melaju kencang atas nama modernitas, yang satu pihak nggondeli dengan rem tradisi, budaya, kebijaksanaan atau apapun namanya. Kombinasi yang pas dari kedua hal ini yang bikin roda dunia berputar tanpa kebablasen. Jogja kalau diibaratkan sebagai komoditi memang sedang sangat elok untuk dijual. Tapi tidak semua hal bisa dijual toh ya ? Sekalipun ditawar sangat mahal, tentu ada trap-trapan yang tidak boleh kemedol. Lak begitu toh Kangmas ?” Mister Lantip mulai menikmati pisang goreng kepok kuning yang mengepul hangat.

“Sekali lagi njenengan memang selalu pas dan trapsila Kangmas.” Saya mengamini dan ikutan menikmati pisang goreng buatan Nyai Wasis.

Dan sore ini berlalu dengan limpahan cintaNya yang mawujud dalam bentuk semilir sore yang menyenangkan, kopi yang nikmat, pisang goreng kepok kuning yang legit plus obrolan dengan sahabat yang mumpuni lan migunani. Hokyakarta!


29
Aug 14

Jogja Arep Stroke

Beberapa hari ini Jogja sedang rame-ramenya pada ngantri BBM premium. Ya mobil ya montor. Ya karena ternyata kuota BBM yang disubsidi APBN ternyata sudah habis pada bulan Agustus. Padahal tahun masih berjalan sampai bulan Desember. Antrian yang mengular sampai ngalah-ngalahi antrian nonton bioskop filemnya Suzanna jaman saya masih kuliah dulu.

Dan Mister Wasis pun termasuk salah satu yang terkena imbas untuk ikutan ngantri bensin itu. Dan sore ini dengan tampang kuyu dan tampang lemes, Mister Wasis ndeprok di teras setelah seharian ngantri di pom bensin.

Yu Winah yang pas ndilalahnya sedang berada di depan pagar rumah, sudah siap-siap mbengok menawarkan dagangan seperti sore-sore biasanya jadi mak klakep dan ikutan ndlosor saja di teras.

“Kesel yo kang ?” Yu Winah bertanya tanpa rasa bersalah.

“Walah Yu.. kok ya masih ditanya kesel apa ndak toh ? Wis meh semaput iki rasane.” Mister Wasis kipas-kipas koran bekas sambil meminum air es yang dibawakan Nyai Wasis. Nyai Wasis cuma tersenyum melihat suaminya yang nggresulo.

Yu Winah cuma cengengesan di pliriki Mister Wasis yang sedang semengit. Ya maklum pula adanya. Kesel hatinya Mister Wasis karena perkara yang biasanya tidak menjadi masalah, kini jadi masalah pelik.

Saya kemudian ikutan deprok juga di lantai teras. Dinginnya lantai karena sudah beranjak sore memang bisa ikut andil menenangkan hati.

“Tapi ya Kang… ada baiknya juga loh kasus beginian.” Yu Winah mencairkan suasana.

“Baik pripun je Yu ?” Dari nadanya, Mister Wasis sudah mulai turun kadar semengitnya. Tangannya pun mulai rajin bergerilya di antara lemper dan sate usus. Sajaknya memang ngantri bensin ini memakan banyak energinya.

“Ha gara-gara pada ngantri bensin ini, kan njuk pada sadar. Sadar nek bensin itu barang yang mahal tur susah didapatkan. Jadi ndak pada nyepelekne bensin lagi. Sekarang pada lebih ngati-ati kalau naik kendaraan. Ndak lagi pada mbleyer-mbleyer di jalan. Pada alon-alon bolehnya mbejek gas niku. Orang-orang seperti saya sek cuma bisa naik becak dan jalan kaki lak jadi kepenak. Mau nyabrang jalan di Malioboro sekarang jadi lebih gampang. Hak yo beneran jadi apik toh itu Kang ?”

“Ho oh Yu.. Bener nek bab itu. Memang nek perkara jadi kembali pada alon-alon bolehnya nyepeda montor itu benar adanya. Jogja memang jadi lebih kepenak kalau pada tidak terburu-buru toh ?” Saya ikutan mengamini gong dari Yu Winah.

“Padahal ya Ndoro, kapan kolo gitu lak kita pernah ngobrol nek Jogja terancam karena banyak pembangunan hotel sek ndak umum banyaknya. Eh sate donatnya mana Yu ?” Mister Wasis masih saja mencari-cari tambahan cemilan. Padahal baru saja satu arem-arem sudah tandas. Sepertinya memang ngelih betul.

“Ho oh Kang. Jogja lak terancam stroke nek terlalu banyak hotel dan fasilitas bangunan magrong-magrong dibangun. Soalnya jalanan di Jogja ini sudah tumumplak. Sudah tidak cukup lagi menampung kendaraan yang sumuntak di Jogja.” Yu Winah gantian mengamini Mister Wasis.

Kosek..kosek.. kalian ini ngomong opo je ? Kok ada Jogja terancam stroke kie gimana perkaranya ?”

“Ha gini loh Ndoro. Kapan waktu itu kita berdua pernah ngobrol. Nek Jogja dibangun banyak gedung dan hotel magrong-magrong itu lak nek ibarat badan menungso, banyak ditambahi jantung-jantung baru. Lak hotel-hotel dan mall-mall itu bakalan jadi pusat kegiatan baru. Tapi saluran darahnya itu ndak ditambah. Padahal jumlah darah yang kudu lewat makin banyak. Ha njuk bisa stroke toh Ndoro nek begitu itu ?”

“Ealah.. kalian berdua kie nek punya perumpamaan kok sok kepunjulen toh ? Bener ning marahi bingung nek ndak dirunut dulu masalahnya. Gumun tenan saya.. Bisa dapet perumpamaan koyo ngono itu darimana..”

“Heheheh.. ha ya gitu itu Ndoro. Omongannya wong cilik. Sok kemaki tur keminter. Ben rodo ketok nek nyambut gawe di tempat priyayi itu ya marakne pinter. Nunut mulyo sithik ya Ndoro.” Mister Wasis cengangas-cengenges. Yu Winah juga nggleges.

“Tapi ya bisa diterima juga loh obrolan kalian berdua. Jogja memang terancam stroke nek perkara montor mobil ini ndak dibenahi. Eh ndilalahnya Ngarso Dalem sudah paring pitutur. Nanti tahun 2017 di Jogja bakalan ada trem. Sudah pada mbaca di koran tadi pagi toh ? Jadi kemana-mana nanti bisa naik trem. Selain ada bis TransJogja. Solusinya apik toh itu?”

“Amin Ndoro.. Saestu Amin.. Nek beneran, kita jadi penak kalau bisa naek trem seperti jaman Londo dulu. Nek wong cilik macam saya ini lak luwih pas nek numpak sek umum-umum. Murah.. Ning nek bisa ya tetep nyaman.” Yu Winah tampak bungah.

Angin sore semilir berhembus. Nyaman sekali menembus kaos oblong saya yang sudah bolong di sana sini. Bayangan saya kembali mundur beberapa puluh tahun. Seperti diceritakan Simbok dan Bapak saya. Dulu dari Bantul ke Jogja sangat menyenangkan karena bisa naik trem rame-rame. Tanpa macet, tanpa ngantri BBM, dan yang jelas tanpa tambahan gemes di jalanan yang semruntul kendaraan yang waton nyetirnya karena terburu waktu. Makin turunlah potensi stroke kita. Juga Jogja akan berkurang ancaman stroke alias macetnya. Mudahan-mudahan mawujud nggih….


21
Aug 14

Sama Macetnya, Beda Rasanya

Saya baru selesai mandi dan bersiap untuk ke kampus ketika melihat Mister Wasis terkekeh-kekeh sambil memegang handphonenya.

“Woh.. ada apa ini kok isuk-isuk wis ngekek.” Saya masih kalungan anduk.

“Ha ini temen saya si Slamet nggresulo di sms. Dia sambat karena kena pengalihan arus itu loh nDoro. Gara-gara ada yang demo di depan MK. Njuk dia kena macet.”

“Owalah.. demo protesnya calon presidenmu kuwi yo?” Saya ngekek kelingan ngototnya Mister Wasis beberapa waktu itu.

“Halahh.. calon presidennya nDoro juga toh ?” Mister Wasis ngeles saja.

“La terus, dimana lucunya ? Kok kamu ngekek koyo ngono ? Apa ndak mesakne sama Slamet toh ? Kok malah mbok geguyu kie gimana ?”

“La sama je nasibnya si Slamet sama saya itu, Ndoro. Kemarin lak saya ya senasib sama Slamet. Pas mau ke tumbas ban pit di ngarepan Purawisata itu loh nDoro. Ubeng-ubengan ra karu-karuan. Dalan dari jalan Kaliurang ndak boleh ngidul ke Terban. Mau lewat Panti Rapih ya ndak boleh mengidul. Lewat Tugu jebul ya ndak boleh mengidul. Ada panggung guede tenan di Tugu buat FKY itu. Njuk baru bisa mengidul di Kotabaru.”

“Ha njuk ?” Saya masih belum paham.

“Ha kami berdua ini lak korban macet semua Ndoro. Tapi bedo rosone. Si Slamet nggresulo karena macetnya nyebahi. Nek saya keno macet ya rapopo nDoro. Seneng-seneng saja. Wong kena macet buat bungah-bungahan. Keno macet tapi ikut sumringah lihat Kirab kemarin sore itu. Uapik tenan nDoro. Kroso tenan gustonya rakyat kecil seperti saya. Wis entuk tontonan apik, gratis meneh. Lak ya nyenengke toh Ndoro ?”

“Owalahh.. begitu toh. Ya Mesakne tenan yo Slamet kie. Ha yo kuwi calon Presidenmu sek marahi. Protesan sih.”

“Ha yo calon Presidennya nDoro juga toh ?” Mister Wasis ngekek tapi jawaban e kok ya nyengit tenan bolehnya.

Ya demikianlah. Jebul dua kondisi yang sama-sama menyebalkan sebetulnya. Tapi kalau alasannya berbeda, penerimaannya ya bisa berbeda. Sama macetnya, beda rasanya. Jogja memang hokya toh ?


21
Jan 14

Golmut.. Golongan Mutung

Sore-sore di teras yang sedang gerimis seperti cuaca akhir-akhir ini memang asyik masyuknya sambil menikmati kopi hangat ples kudapan ringan ala priyayi. Selat Solo yang kemrenyes kripik kentangnya makin endes ketika ketemu asemnya acar mentimun. Kuah mlekohnya tentu makin mak legender ketika telur pindangnya pas kena kuning telur. Aahh.. nikmat..

Saya masih sibuk menikmati selat Solo yang marem ini ketika Yu Winah dan Mister Wasis sibuk berpadu di teras. Berpadu maksudnya saling padu.. Memadu padankan pendapat tepatnya.

Suara ribut mereka jadi menarik perhatian saya yang kebetulan sudah habis satu ronde selat Solo. Sambil membawa cangkir kopi Arabica Merapi, saya jadi pengen ikutan menimbrung perpaduan mereka berdua. Dengan berjingkat-jingkat saya ke teras depan. Supaya tidak mengagetkan keseruan perpaduan mereka.

“Lagi banjir seperti ini dimana-mana yo Kang.. La kok malah ada caleg sek ndak punya hati malah kampanye di bantuan buat pengungsi banjir.” Yu Winah tampak gemas sekali.

“Wedian tenan memang caleg-caleg sekarang ya Yu. Kok ya ndak punya etika yo ? Wong lagi pada susah kok ya dijejeli kampanye.” Mister Wasis dengan semangatnya mengompori.

“Ho oh Kang. Kampanye itu malah seperti pagebluk sekarang. Datang ramai-ramai, ribut sekali dengan atribut macem-macem tur warna warni, eh bukannya membawa kesejahteraan, malah mbawa sawan. Membawa mangkel saja di hati.” Yu Winah meracau.

“Betul sekali! Nek jaman dulu itu pagebluk marahi anak-anak jadi kena demam. Sek tua-tua jadi was-was. Ha sekarang nek pas kampanye itu ya sama saja. Semua kok sepertinya sudah demam panas dingin kalau lihat caleg mau kampanye. Pengennya gek ndang rampung saja acaranya. Nek perlu disawat sendal saja biar gelis rampungnya.”

“Hus.. kalian berdua ini loh. Wong orang sedang berusaha mencari simpati kok malah disawat sandal.” Saya ngekek dengan brutalisme Mister Wasis. Jika tidak distop imajinasinya sekarang, bisa-bisa beneran nyawat sandal ke calon legislatif yang akan kampanye dalam waktu dekat ini.

“La menyebalkan betul je Ndoro. Nyari simpati kok malah menyebabkan antipati. Apa ndak salah strategi atau memang waton saja strateginya ?”

“Betul itu Pak Besar. Nek caranya para caleg itu nyari simpatinya seperti sekarang, ha ya mesti ditinggal konstituennya betul. Wis jeleh je kami ini dijanjeni macem-macem tur mung nggedebus. Besok kalau sudah duduk di kursi dewan lak mung memperkaya diri. Wis males le niteni pokoknya Pak Besar.”

“Ha terus kalian maunya gimana ?”

“Ha ya kami berdua tadi sepakat. Pokoknya besok pas Pemilu mau Golput. Tidak mau nyoblos blas. Sudah males sama acara Pemilu-pemilunan?”

“Golput atau golmut ?”

“Golmut itu apa Ndoro ? Kok saya belum pernah dengar ?” Mister Wasis kukur-kukur kepala.

“Golmut itu Golongan Mutung. Ha ya seperti kalian berdua itu. Mutung ndak mau milih.”

“Ha ya gimana lagi Pak Besar ? La wong para caleg itu ya mung rajanya tega je. Sudah dipilih bener-bener la kok malah ngapusi rakyat kecil. Korupsi gede-gedean sisan. Tur sek dikorupsi itu duit negara, duitnya kami-kami sek kecil ini. ” Yu Winah tampak geram betul.

“Ha ya bener.. memang banyak caleg yang ndableg sekarang. Ha tapi bukan begitu caranya. Ha kok njuk Golmut.. Nek banyak seperti kalian yang Golmut, ya yang menang yang suka korup-korup itu lagi. Nek duit negara dikorup, ha yang susah lak kalian-kalian juga. Kita-kita juga. Coba bayangkan.. Nek duit buat mbangun jembatan itu dikorupsi. Terus jadinya jembatannya kurang pas. Malah membahayakan yang lewat di atasnya. Trus ambles. Nek sek pas lewat di jembatan itu anakmu atau keluargamu gimana ? Lak sek cilaka kita semua ?”

“Wah.. ya jangan si Thole yang kena toh Ndoro. Wong anak saya ndak ada salah apa-apa je. Kok malah melu kena amblesnya jembatan.” Mister Wasis pucat pasi..

“Ha itu contohnya. Nek tidak memilih pas pemilu besok, sudah bisa dipastikan sek menang ya mereka-mereka lagi. Yang suka korupsi-korupsi itu lagi.”

“La terus pripun bagusnya Pak Besar ?”

“Gini saja. Mulai sekarang, titenono saja. Itu berita-berita lak banyak yang beredar. Bacalah koran sebanyak-banyaknya. Titeni daftar caleg yang ada. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Sek jelas-jelas track recordnya jelek, langsung saja hapus dari daftar calegmu. Sebarkan beritanya kalau mereka itu punya track record jelek. Ngobrolah dengan banyak orang supaya banyak yang tahu kalau itu caleg yang jelek. Bagi-bagi informasi lah. Ha seperti sek di tivi kemarin itu. Ada caleg sek bintang film panas tapi sekarang krukupan. Dikiranya lak masyarakat tidak menyadari. Padahal ya sadar betul toh ? Ha sek seperti itu titenono.

“Ha tapi sekarang banyak yang sok suci je nek pas kampanye itu Ndoro ..”

“La kan modalmu ngobrol dengan banyak orang. Banyak orang itu berarti banyak informasi. Cari informasi yang benar dan utuh. Pilih caleg yang nggenah. Biar aman urip kita semua besok. Sudah cukup je menderita selama 10 tahun di pemerintahan yang kurang nggenah seperti sekarang. Iya toh ? Lak ya kamu semua pengen makmur juga toh ?”

“Ha ya jelas toh Pak Besar. Pengen bisa makmur juga lah. Minimal kayak jaman dulu itu. Pas jaman Mbah Harto. Semua-semuanya murah. Bisa dijangkau harganya. Ndak seperti sekarang.”

“Ha ya nek gitu, mulai cari informasi caleg-caleg bosok saja. Terus berbagi ceritalah. Ben kita bisa memasukkan caleg-caleg bagus ke DPR dan MPR besok pas Pemilu. Biar caleg-caleg bagus itu yang jadi tentara anti korupsi anti ngapusi kita. Ha rak begitu toh ?”

“Wah iya ya.. Tadinya saya pikir mending mutung saja je. Jebul nek mutung kie ya ndak pas juga ya?”

“Ha ya jelas. Nek kita mutung, sek remuk ya kita sendiri je.”

Saya masuk ke dalam lagi sambil kini membawa satu porsi selat Solo lagi. Orasi sebentar saja sudah membuat perut saya minta tanduk. Ealah.. mbul..gembul..

 

 

 


12
Dec 13

The Privilege of Selo

Ujug-ujug bulan Desember sudah tiba. La kok semua mendadak jadi terasa sangat cepat berjalan. Padahal baru saja sepertinya saya menikmati New Year Party di Hotel Ambarrukmo. Sambil beranjangsana-beranjangsini, wedang di tangan kiri, tangan kanan tak lupa mencomot canape-canape yang rasanya mak legender enaknya. Rumangsa saya, baru saja selesai acaranya, la kok ujug-ujug sudah mau perayaan Tahun Baru lagi ? Hedeleh.. kepiye iki.

“Ndoro, mau tahun barunan dimana kali ini ? Ke Hotel Ambarrukmo lagi nopo ?”

“Hmmm…” saya menghela napas panjang. “Aku kok rasane malah kurang penak ya arep pesta-pesta lagi. Pengen di rumah saja je Sis.”

“Loh kok tumben toh Ndoro ? Pripun je ? Mosok ya Ndoro cuma di rumah saja. Trimo nonton kembang api dari tipi sama nyebul terompet kertas tok ? Kok ketoknya ndak Ndoro sekali gitu ?” Mister Wasis terheran-heran melihat saya agak kurang gusto menyambut tahun baru kali ini.

“Gini loh sebabnya. Nek tak rasa-rasakan kok sepertinya waktu terlalu cepat berlalu ya. La wong rasanya baru kemarin je saya itu cipika-cipiki di Hotel Ambarrukmo sambil maem kuwih-kuwih enak itu. La kok sekarang sudah mau tahun barunan lagi. Saya kok jadi seperti ditlindes sama waktu saking cepetnya.”

“Owalah Ndoro..ndoro. Kayak gitu kok malah getun toh ? Nek waktu terasa cepat berlalu itu lak brati Ndoro memang banyak kegiatan. Artinya sebagai menungso lak ya berguna gitu ? La wong Ndoro juga blabar-blebernya bukan dolan je. La wong ngajar toh ?”

“Coba nek koyo sek masih nganggur itu. Lak yo waktu itu seperti terlalu lama berputarnya. Karang ndak ada kerjaan je Ndoro. Kerjaan saja ndak ada, apalagi migunani sesama.”

“Ha ya Ngalhamdulillah nek masih bisa berguna sebagai manusia. Memang hidup itu lak wang sinawang ya ? Saya pengen rasanya sekali-kali merasakan hidup yang selo. Selo kie menjadi sebuah kemewahan je. Bisa leyeh-leyeh seharian ndak diganggu kerjaan. Ndak harus mikir apa-apa. Lak ya penak toh ?”

“Wahahahaha.. Ndoro kie aeng-aeng wae.”

Aeng-aeng gimana je. Lak ya leyeh-leyeh itu sesuatu yang wajar toh ?”

“La ya wajar nek buat orang seperti saya. La nek buat Ndoro ya ndak wajar.”

“Heleh. Kowe kok waton toh ? Mosok leyeh-leyeh ndak wajar buat saya ? Kepriye kuwi ukurane ? “

“La Ndoro kan memang tidak pernah diem. Jal nek sampai selo sebentar, mesti sudah grusak-grusuk nggarap opo gitu. Wong pas kapan itu saja Ndoro nginep di Panti Rapih, bisa-bisanya minta dibawakan kerjaan kampus ke rumah sakit kok. Padahal ya itu wis kon leren loh. Wis di kon selo tenan sampai diharuskan Gusti Pangeran supaya mondok di Panti Rapih. La kok tetep saja nekat nggarap kerjaan kampus. Mahasiswa yang mau bimbingan saja masih dilayani di rumah sakit. La kok sekarang malah minta leyeh-leyeh. Lak yo aeng-aeng wae toh namanya ?”

“Hahahaha.. kowe kok ya reti tenan toh Sis.” Dies.. tepat sekali omongan Mister Wasis kali ini.

“Ha emang dikiranya saya ngancani Ndoro baru sebulan dua bulan po ? Wis apal saya sama njenengan Ndoro. Wis kasep.”

“Hahahaha.. kowe cen luar biasa tenan kok Sis. Eh la nek kowe mau kemana tahun baru besok ?”

“Ha ya jan-jane tadinya mau ngajaki Ibune Thole ke alun-alun Ndoro. Nonton sekaten. Sisan nonton kembang api. Mesti sae tenan niku nek kembang api di Alun-alun. Tapi ya nek Ndoro mau di rumah saja, ya saya manut ngancani Ndoro saja di rumah.”

“Walah, ndak begitu kok. Saya mau ngomah di Jakarta saja. Tahun Barunan bareng Ibu dan anak-anak. Reriungan saja di rumah. Paling mentok-mentoke ya dolan ke Monas atau ke Ancol saja. Nonton kembang api. Kowe wis tenang saja. Nontonlah ke Alun-alun. Ndelok donya ya ? Ning jangan lupa dikancingi dulu semuanya sebelum pergi.”

“Wah… maturnuwun sanget Ndoro. Sendiko dawuh. Nanti saya kancingi dulu semuanya sebelum pergi. Tak titipkan juga ke Satpam depan supaya dipatrolikan.”

“Syep itu.”

“Oh ya Ndoro. Ini sudah sore. Kira-kira ngersani mau maem apa buat nanti malam ?”

“Oh.. jan-jane aku kok kelingan pengen maem Garang Asem ya Sis ?”

“Garang Asem Kotabaru pripun Ndoro ? Eco toh ?”

“Ya lumayan lah nggo tombo kepingin. Nek eco-econan ya gagrak Kotabaru itu masih 1 setrip dibawah Garang Asem Purwodadi je.”

“La ya ndak pas nek dibandingkan toh Ndoro.  Saya tak mancal sekarang ya Ndoro. Selak habis nanti swiwinya.”

Good…good… Ya wis sana. Ati-ati ya ?”

Sendiko dawuh Ndoro.”

Mister Wasis segera pergi ke belakang sebentar. Tak lama kemudian terdengar suaranya menyetarter motor Pitung yang kemudian meluncur ke bilangan Kotabaru.

Teringat akan rencana saya untuk tahun baruan di rumah Jakarta, saya jadi teringat pula kalau harus segera memesan tiket. Saya angkat telepon untuk menghubungi travel agent langganan.

“Halo Mas Jun. Tolong tiket Garuda ke Jakarta ya ? Tanggal 29 atau 30 Desember besok. Sek masih murah saja ya ? Jamnya saya manut. Sekalian di kirim ke email tiketnya ya ? Yes untuk satu orang. Saya sendiri saja. Maturnuwun…

Ngalhamdulillah masih dapat tiket.. semoga selo bisa menjadi privilege saya sebentar di akhir tahun ini. Jakarta here I come.. again.


30
Oct 13

Kelirumitologi

Pagi-pagi Mister Wasis sudah ndeprok di depan kursi malas. Saya yang baru membuka koran pagi ya njuk melipat dulu korannya dan menunda ritual sarapan pagi saya.

“Piye Sis ? Ada keperluan apa ?” Koran yang saya lipat saya keleki dulu.

Mister Wasis mengatupkan kedua tangan sambil sendiko. Lagaknya seperti abdi dalem Kraton yang mau matur. “Ndoro.. Nyuwun panganpunten.. Besok Minggu saya pamit keluar sebentar.. Mau kondangan di tetangga..”

“Hayah gayamu Sis. Sek biasa wae lah. Ha ya nek bab itu ya silakan. Nek tetangga kie brati bakalane ngidul adoh sana ? Mau naik apa ? Nek numpak pitungmu itu apa ndak malah protol di jalan ?”

“Untungnya cuma di Jalan Parangtritis situ mawon Ndoro. Ndak terlalu jauh. Pitungnya masih wutuh kalau cuma sampai Jalan Parangtritis sih.” Mister Wasis nyengir pasrah.

“Ha ya sudah nek gitu. Soale saya juga mau kondangan besok Minggu. Jadi Commandonya tak bawa dulu.”

“Woh jebul Ndoro juga jagongan toh ? Woh.. memang lagi musim kondangan kok ya ? Karang wis arep Suro sih ya Ndoro. Jadi ya banyak sek mantenan pas bulan ini.”

“La memang nek sasi Suro kenapa je ?” Saya etok-etoknya belum tahu.

“Heyeh.. Ndoro kie sok etok-etok ndak reti. Ngapusi tenan nek Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM sek magrong-magrong kondang kawentar-wentar kok ndak tahu nek sasi Suro itu dilarang bikin kawinan. Mengko tibo cidro nek kata simbah-simbah saya. Bisa ndak langgeng keluarga yang menikah pada sasi Suro itu. Heyeh.. Ndoro nggarapi saya ik.”

“Heheheh.. ya ndak yo. Saya cuma pengen tahu saja. Jan-jane kowe percoyo ndak toh sek bab begituan ?”

“Ha ya percaya ndak percaya Ndoro. Tapi ya saya manut saja sama kersane Kraton. La wong sek ngelarang itu lak asline dari Kraton toh ? Ha ya ini kan babakan ngabekti saya sama adat Ngayogyakarta Hadiningrat.”

“Woh.. Kersane Kraton bagaimana ? “

“Heyeh.. Ndoro ngejak suloyo tenan nek ini. Mosok ndak tahu toh nek Suro itu bulannya Kraton sek kawinan ? Jadi karena Suro itu memang sasi yang bagus untuk kawinan, jadi Kraton pengen supaya bisa konsentrasi mbikin acara di sasi Suro itu. Supaya masyarakatnya bisa nyengkuyung acara Kraton, jadi kemudian diharapkan supaya masyarakat Ngayogyakarta ndak bikin acara kawinan pas sasi Suro. Lah kok sek malah diterimanya sama masyarakat kok seolah-olah nek sasi Suro itu pamali buat bikin kawinan.”

Woh.. kowe kok bisa dapat informasi sedetail itu ? Ampuh juga kowe Sis.”

“Ha ya saya dapetnya juga dari ngobrol-ngobrol dengan Pak Atmo sek lurahe Abdi Dalem itu loh Ndoro.”

“Owalah.. pantesan kowe kok bolehnya sangat wasis bab ini. Jebul dapet petuah dari orang dalam toh.” Saya manggut-manggut

“Hehehe.. Nek sek bab Candi Prambanan itu saya juga dapatnya dari temen saya sek jadi guide.”

“Ada apa je dengan Prambanan ?”

“Ha ya itu Ndoro. Mitos nek ndak boleh pacaran di Prambanan. Nek pacaran di Prambanan nanti malah pegatan.”

“Owalah.. mitos sek itu toh. Emang boleh po pacaran di Prambanan ?”

“Ha ya tetep ndak boleh Ndoro. Makanya kemudian ada mitos seperti itu. Prambanan itu lak tempat sembahyangnya saudara-saudara kita umat Hindu. Ndak ilok nek pacaran di tempat orang sembahyang. Makane dibuat mitos seperti itu. Ben ndak pacaran di Prambanan. Jan-jane ya mung ben ora do kurang ajar sih. Mosok yang-yangan nang nggon wong sembahyang. Ya toh Ndoro ?”

“Hehehe.. jebul wasismu boleh juga.”

“Nama saya kan memang wasis Ndoro ? Walaupun wasis bolehnya kulakan. Hehehehe..”

“Tapi memang banyak kok mitos-mitos di negara kita itu sek sengaja di buat. Semata-mata agar lebih pas dan mat bolehnya bermasyarakat.”

“Iya ya Ndoro .. Saya juga baru tahu beberapa. Ning sepertinya memang banyak kelirumitologi yang sengaja dibentuk.”

“Keliru opo ?”

“Kelirumitologi Ndoro. Mitos yang keliru tapi sudah dianggap umum di masyarakat kita.”

“Woh.. kosakata opo kuwi kok saya belum pernah denger ? Kelirumitologi ? ” Saya kukur-kukur kepala yang tidak gatel karena bingung dengan istilah barunya Mister Wasis ini.

“Hehehe.. saya ya mung ngarang kok Ndoro. Kulakan dari Kelirumologinya Pak Jaya Suprana sek kondang itu.”

“Ckckckc.. kowe kok sangsoyo kreatif saiki ?”

“La wong Ndoro saya Guru Besar UGM sek magrong-magrong kondang kawentar-wentar je. Gimana saya ndak nambah kreatif coba ?”

“Hush.. yo ora ngono.” Tapi hidung saya ndak bisa bohong. Tetap mengembang plendas-plendus..

“Hehehe.. ajeng sarapan nopo Ndoro ? Ibune sudah masak soto. Soalnya ini hari Rabo. Jadinya ya Rabo Soto. Kerso ?”

“Ha ya jelas. Wis mari sarapan dulu. Kopinya jangan lupa ya ?”

“Injih Ndoro. Toraja Kalosi pripun ? Eco toh ?”

Eco.. cocik pokoke.

Sendiko dawuh Ndoro… Monggo..”

Maka sayapun menuju meja makan. Dimana sotonya sudah kemepul di atas meja makan. Uborampenya boleh lengkap. Soun, cambah kecil, jeruk nipis, lenthok telo, suwiran ayam kampung dan kerupuk putih. Bersyukur betul saya pagi ini dikaruniai sarapan yang luar biasa sedapnya. Juga dikaruniai seorang Prime Minister Kitchen Cabinet yang luar biasa cerdas dan wasis seperti Mister Wasis. Sekalipun hanya lulusan SMA, tapi wasisnya boleh patoet dipoedjikan. Excelent. Ngalkamdulillah..

 

Notes : Tulisan ini terinspirasi dari obrolan ringan dengan @Tey_Saja & @Jay_Afrisando


24
Oct 13

Gusti Pangeran di Kamar Mandi

Pagi-pagi habis mandi memang menyegarkan. Nek badan sedang seger seperti ini ya tentu saja enaknya sambil ngopi. Kebetulan di meja sudah ada kopi dari Sindoro yang barusan diseduhkan Mister Wasis. Wangi kopi yang habis digerus lalu diseduh ala French Press itu memang bikin melayang-layang. Wuenak tenan…

Saya masih handukan mengeringkan rambut yang baru saja saya keramas sambil menyeruput kopi. La kok anak mata saya menemukan Mister Wasis baru ngalamun di teras belakang. Tangannya masih memegang sapu lidi. Saya lalu dekati dan jejeri Mister Wasis.

“Hayo.. ngopo kowe ? Kok malah ndak nyapu ? Mikir kemproh yo ? Isih isuk kok wis kemproh kie loh.”

“Halah Ndoro.. Ndak mikir kemproh loh ya. Ini baru mikir serius tenan.” Wajah Mister Wasis tampak berpikir betul.

Weleh…weleh.. ngopo je isuk-isuk kok wis mikir abot koyo mikir negoro wae. Isuk-isuk kie enake ngomong sek enteng-enteng wae.  Karo sarapan roti. Pemanasan sek. Mikir abote nanti pas jam kantor wae.”

“Hahaha.. Ndoro kie ono-ono wae. Mikir abot kok ya dibatesi jam kantor. Koyo pegawai kantoran mawon. Etapi saya baru mikir serius tenan loh Ndoro. Serius banget malah. Ning kok ya belum ketemu jawabannya. Makin dipikir malah sangsoyo mumet.

“Mikir opo toh kowe ?” Saya mengambil posisi penak di kursi malas sambil nyeruput kopi. Handuk yang masih basah saya sampirkan di leher.

“Nganu Ndoro.. Nek di kamar mandi itu ada Gusti Pangeran ndak ya ?”

“Horotoyoh!!” Saya terkaget-kaget mendengar pertanyaan Mister Wasis yang super ajaib kali ini. Saya sampai terbangun dari posisi leyeh-leyeh dan jadi menegakkan badan. Untung saja ndak keselek kopi.

“Ha piye toh ? Kok pitakonanmu kie ya ajaib tenan. Iki mesti ono opo-opo ? Ono opo hayo ?

Mboten onten nopo-nopo kok Ndoro. Saya cuma kepikiran saja. Soale.. nek pas nongkrong pagi-pagi itu, sok kadang kepikiran macem-macem. Ndak jarang pula njuk malah kelingan Gusti Pangeran. Tentang pangestuNya. Tentang alam semesta. Tentang berkahNya. Tentang Maha KuwosoNya. Ya macem-macem tentang Gusti Pangeran wis Ndoro. Padahal ya posisinya baru jongkok gitu. Ha nek seperti itu, itu ilhamnya dari mana ? Mosok ya dari setan ? La wong malah dadi insap je Ndoro…

“Heemmm… Bisa jadi bener juga kowe Sis. Heheheh… Wasismu lagi kumat yo ? Tapi pertanyaanmu memang berbobot bener. Pertanyaan apakah Gusti Pangeran ada ndak ya di kamar mandi itu pertanyaan yang mendasar. Tapi ya nek menurut saya, lak ya Gusti Pangeran itu Maha Besar. Ha wong alam semesta sek ciptaanNya saja gedene sak hohah loh. Guedenya alam semesta itu lak belum terukur. Bumi saja ndak ada apa-apane nek dibandingkan sama alam semesta. Ha nek cuma sebesar kamar mandimu yang ukurannya cuma segitu saja ya mestine tetep masuk ke dalam lingkup kekuasaanNya. Ndak ono sak upil kuwi sek jenenge wilayah kamar mandimu dibandingkan luasnya wilayah kekuasaanNya toh ?”

“Tapi la rak ya jan-jane saru ya Ndoro ? Kelingan Gusti Pangeran kok pas ndodok.”

La nek namane menungso itu kan memang pikirannya selalu muter. Selalu mikir. Nek ora mikir malah koyo wong mati. Ha nek kowe malah iso mikir tentang Kuwosonya Gusti Pangeran, ha ya itu lak malah apik banget. Ning cuma boleh sebatas mikir tok. Nek corone kyai-kyai ngendiko itu, ya cuma boleh dzikir qalbi. Dzikir dalam hati. Nek wis nyebut namanya Gusti Pangeran.. naa itu baru ndak boleh.”

Nek itu memang bab tata cara dan kesopanan ya Ndoro ?”

“Ho oh. Wis kono gek ndang dirampungke le nyapu. Wis rodo awan iki. Mengko selak panas loh.”

Sendiko dawuh Ndoro. Ndoro sudah mau berangkat ke kampus nopo ?”

Ha iyes. Pagi ini pas ono janjian sama Pak Rektor je.”

Ngaturaken sugeng nyambut damel lan makaryo nggih Ndoro.”

“Syep.. Wis kono gek ndang disapu latare.”

Mister Wasis pun mulai menyapu teras belakang pelan-pelan. Sepertinya pembicaraan tadi belum cukup buatnya. Ha ya gini ini nek punya Prime Minister Kitchen Cabinet yang terlalu pinter dan wasis. Hedehh…


22
Oct 13

Pawiwahan Ageng

Beberapa hari ini Yogyakarta sedang sibuk sekali sepertinya mempersiapkan kedatangan tamu Pawiwahan Ageng Kraton Ngayogyakarta. Ingkang Sinuhun Sri Sultan HB X sedang punya gawe untuk menikahkan anaknya yang nomer empat, GKR. Hayu. Banyak patroli polisi wira-wiri di seputaran Kraton. Voorijder banyak yang sudah siap sedia mengawal tamu-tamu negara yang konon informasinya bakalan datang beribu-ribu orang. Sebuah momen yang amat sangat khusus wal spesial sepertinya. La ndilalahnya kok ya saya juga mendapat berkah untuk bisa ikut dalam acara resepsi Pawiwahan Ageng besok siang. Ngalhamdulillah…

Maka, Bu Alit pun segera saya panggil pulang ke Yogyakarta untuk ikut menemani saya ke acara yang bakalan sangat magrong-magrong dan sakral ini.

—————————————————

Bu Alit sedang repot di kamar membongkar-bongkar koleksi kain dan kebaya yang pas untuk dipakai di acara resepsi Pawiwahan Ageng Sri Sultan HB X. Semua koleksi kain dan kebaya dikeluarkan. Disawang-sawang.. dipas-paskan. Mana yang paling pas untuk acara besok siang. Memang untuk bagian mengepas-paskan sandangan dalam acara-acara khusus seperti ini, saya cuma bisa bergantung pada seleranya Bu Alit supaya nampak selaras dan sarimbit.

“Bapak besok mau pakai baju yang mana ? Tenun Troso atau pakai batik Mas Iwan Tirta mawon ?” Bu Alit menanyakan dari ruang kamar.

“Sepertinya lebih pas nek pakai batiknya mas Iwan saja ya Bu ? ” Saya menyahut dari kursi malas kegemaran saya. Memang sore itu saya sedang leyeh-leyeh nglaras rasa setelah seharian digempur kerjaan di kampus. Sore hari adalah saatnya menyelaraskan antara nafas dan hati supaya tetap dalam kondisi mat dan selaras.

“Oh baiklah..”

Bu Alit kemudian masih sibuk mencari asesoris yang pas buat menemani kebaya encimnya Anne Avantie, tentu saja supaya bisa menemani baju batiknya mas Iwan Tirta. Menyandingkan kain batik seorang maestro sekelas Almarhum Iwan Tirta dengan kebaya Anne Avantie plus asesorisnya tentu jadi PR sendiri. Ndak bisa sembarangan toh ? Kain ini saya peroleh sekitar 5 tahun yang lalu ketika bareng dengan Mas Iwan ke Eropa. Walaupun sudah 5 tahun, tapi batik ini jumlah keluarnya sepertinya jauh dibawah bilangan tahunnya alias jarang dipakai.

Sore itu kondisi teras rumah juga sedang ramai karena Yu Winah pun sedang saya panggil menyetori jajan pasar kesenengan saya, Loenpia dan selat Solo. Sudah lama bolehnya Yu Winah tidak mampir ke rumah. Ya ndilalahnya juga pas beberapa waktu yang lalu saya juga pas ndak dirumah. Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah pun lesehan di teras depan sambil jagongan.

“Eh Kang, iki mung andai-andai ya. Nek seandainya kowe diundang ke acara Pawiwahan Ageng arep ngopo ?” Yu Winah sambil dengan cekatan tangannya memasukkan pesanan saya dan Bu Alit ke dalam atas piring yang dibawa Nyai Wasis.

Ha ya nek saya sek bakalan paling tak titeni ya maemane toh Yu. La kapan lagi bakalan nemu maeman sek enak-enak khas Kraton Ngayogyakarta, nek ndak pas acara seperti ini. La denger-denger Kraton bakalan mengeluarkan menu khusus pas Pawiwahan Ageng. Ada Gudeg Manggar, Kambing Guling, Es Camcao sama Es Ronde. Gudeg Manggarnya mesti kualitasnya berbeda dengan yang seumumnya itu. Manggarnya mesti masih enom yang kalau digigit mak prul empuk tenan. Iwak ayame mesti maknyos mempurnya. Kuah arehnya juga mesti wangi tur gurih. Es Camcaonya mesti mak nyes… Es Rondenya mesti juga mak legender anget jahe tapi adem cekelane. Aah.. sedaapp..”

“Wah.. Pakne ini kok sek diurusi panganaaann wae. Nek saya melu di undang Sinuhun ya pengen melihat manten kakung dan putrinya sek mesti bagus dan ayu tenan. Tamu-tamune juga mesti dandangane kenes tur ayu. Wangi-wangi parfum larang seperti punya Ndoro Itu. Sandangannya juga mesti alus tur mak tralap-tralap banyak batu permatane. Aahh.. Ayu tenan…” Nyai Wasis ndak mau kalah dengan suaminya.

“Haahahaha.. ngono ya keno kok Nyai. Nek saya diundang di Pawiwahan Ageng ini ya saya pengen mirsani upacarane mawon. Mudah-mudahan banyak tamu-tamu sek top-topnya negara ini sek mirsani. Jadi kemudian pada nguri-uri budaya Jawa lagi. Termasuk jajanan pasarnya. Nah.. nek jajan pasar jadi ngetop lagi lak ya saya juga kebagian makin laris juga dagangannya. Aah.. Kelarisan..” Yu Winah tak mau kalah juga berandai-andai.

Njuk semua terdiam. Sepertinya sibuk dengan lamunannya masing-masing.

“Jebul Pawiwahan Ageng itu maknanya beda-beda ya ? Walaupun kita cuma kawulo biasa, jebul kekarepane juga sok luar biasa.” Mister Wasis memecah keheningan.

“Ya namanya juga beda kepala toh Kang. Mestine ya kekarepane beda-beda. Ning sek penting, kita sebagai kawulo alit ya turut mendoakan kepada kedua mempelai GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Nderek mangayubagyo Pawiwahan Ageng. Mugi-mugi Gusti Pangeran tansah pinaringan berkah sedaya lampah. Lak begitu toh ya Kang ?”

“He eh Yu. Sek penting kita urun donga saja kepada kedua mempelai. Semoga rukun terus sampai kaken ninen. Bisa jadi conto buat kawulo alit seperti kita ini.”

“He eh Pakne…” Nyai Wasis mengiyakan sambil manggut-manggut.

Hehehe.. saya mbatin saja mendengarkan celoteh dari Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah ini. Yah semoga Gusti Pangeran berkenan mengijabahi doa yang tulus dari kawulo alit seperti kami ini. Semoga Gusti Pangeran purun paring berkah kaliyan Pawiwahan Ageng ini. Semoga ini adalah pernikahan yang pertama dan sekaligus yang terakhir untuk GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Aaammiiieenn..

“Pak.. Pantesnya pakai yang mana ? Yang merah ini atau sek ijo ?” Istri saya, Bu Alit, keluar dari kamar dan menunjukkan asesoris yang ingin dipakainya untuk njagong besok siang.

Sek endi wae kowe tetep ayu kok Bune.” Saya pasang senyum paling lebar untuk istri saya tercinta ini.

Heyeh.. ditakoni tenanan kok malah nggombal amoh!” Bu Alit melengos dan masuk ke dalam kamar lagi. Saya nggleges..


20
Oct 13

Negeri Sayur Lodeh ~ Negeri Para Dewa

Kuliner itu sebenarnya tidak pernah lepas dari budaya manusia. Bahkan budaya kuliner itu sejauh umur manusia itu sendiri. Sejak manusia hadir di dunia, maka proses mencari makanan adalah proses kuliner. Namun kok ya sayang sekali nek budaya kuliner negara kita ini ternyata masih belum terdokumentasikan dengan baik. Di tengah keprihatinan saya tersebut, eh la kok ndilalahnya saya malah ketemu di Profesor Doktor F.G Winarno, bapak Teknologi Pangan se-Indonesia Raya. Kami bertemu tidak sengaja di Bandara Soekarno-Hatta yang mulai berbenah mempercantik diri. Ha ya wajar toh, sudah lama betul umurnya bandara Soekarno-Hatta. Selama ini cuma bisa pupuran dan bengesan sana-sini tambal sulam sana-sini, untuk mempercantik diri, maka kini rasanya sudah perlu kalau bertransformasi total untuk mengubah diri menjadi lebih mumpuni.

Beliau sedang pulang kampung setelah melawat dari Tokyo Jepang. Beliau baru saja mempertahankan fakta bahwa Indonesia adalah asal darimana Melinjo. Hal ini harus beliau lakukan karena adanya klaim dari negara Jiran kita, bahwa Melinjo adalah tanaman asli mereka.

“Tidak bisa Pak Besar. Saya tidak terima kalau negara tetangga kita itu mengklaim bahwa melinjo adalah tanaman asli mereka.” Kata Prof. Win

“Lah pripun toh Prof ? Memangnya sedang ada ontran-ontran apa je kok Melinjo sampai diperebutkan dengan Malaysia ?”

“Kita ini negara besar toh Pak Besar ? Namun sering sekali di kadali oleh negara lain karena pemimpin kita kurang tanggap untuk menjaga amanah kekayaan alam dan buadya yang Tuhan diberikan ke kita. Melinjo itu salah satunya. Kita cuma tahu bahwa melinjo itu cocoknya ya dibuat emping. Padahal penelitian terakhir, melinjo itu sangat-sangat hebat khasiatnya.”

Kosik Prof. Eh nanti dulu maksud saya. Hebat khasiatnya buat apa ? Lak ya memang cuma itu saja kegunaan melinjo ? Buat bikin emping atau mentok-mentok daunnya dibuat jangan godong so atau lodeh. Lak ya begitu toh ?

“Nah itulah Pak Besar. Itulah fungsi dari penelitian. Lodeh itu sejarahnya panjang toh ? Boleh dicek di cerita sejarah di museum Belanda sana. Saya sudah teliti literatur aslinya dalam bahasa Belanda. Lodeh itu sudah muncul sejak jaman penjajahan Belanda. Lodeh itu sayur asli Jogjakarta dan Jawa Tengah. Dan setiap membuat sayur lodeh, maka daun So dan melinjo baik dalam bentuk bijinya maupun kulit bijinya, harus diikutkan. Itu ternyata adalah makanan surga Pak Besar. Makanan panjang umur. “

“Hah ? Tenannya Prof ? Mosok sayur lodeh saja memperpanjang umur ? La wong banyak orang bilang sayur lodeh itu justru berbahaya karena santannya mlekoh dan ada daun melinjo yang menyebabkan asam urat je.”

“Hahahaha.. Nonsense Pak Besar. Melinjo itu tidak pernah terbukt secara kedokteran sebagai penyebab asam urat. Bahkan di melinjo itu terdapat senyawa Resveratrol yang membuatmu dan saya panjang umur. Mau tahu buktinya ? Umur orang Jogja dan Jawa Tengah itu panjang-panjang. Terbukti secara survei nasional. Itu salah satunya karena gemar makan sayur lodeh toh ?”

“Weleh.. saya malah kok ndak sadar kalau lodeh itu sedemikian hebatnya.”

“Hahahaha.. itu hal biasa Pak Besar. Banyak potensi kita yang belum kita sadari. Dan bagi kita yang dikaruniai kelebihan ini ya memang punya kewajiban untuk menggali dan mempertahankan sebelum diambil negara lain. Betul kan ?

“Iyes..iyes.. betul sekali Prof. Saya setuju..” Saya cuma bisa manggut-manggut.

Teng..teng..teng..teng… Panggilan untuk penumpang penerbangan jurusan Jakarta-Solo. Silakan masuk melalui gate A.

“Nah itu dia pesawat saya. Saya harus ke Solo dulu ya Pak Besar. Mau ketemu mahasiswa di UNS besok pagi. Saatnya menceriakan mereka dengan berita bagus bahwa Cokelat adalah makanan dewa. Yang banyak tumbuh di Indonesia.”

“Waduh.. saya perlu ngobrol lagi tentang itu Prof. Kapan-kapan yes ?”

“Silakan saja Pak Besar. Kapan saja hubungi saya. Saya berangkat dulu ya ?”

Prof Winarno bergegas menuju gate yang sudah diumumkan mbak-mbak announcer sek suarane kenes banget itu. Ah.. tambah ilmu lagi. Lodeh oh lodeh.. ternyata engkau makanan dewa. Saya masih mau umur panjang dan sehat. Sepertinya saya jadi pengen maem jangan lodeh untuk dinner kali ini. Semoga saja masih bisa. Saya harus segera telepon ke rumah. Semoga Mister Wasis masih sempat ke swalayan untuk beli uborampenya sayur lodeh.

“Wasis, segerakan ke swalayan ya ? Saya pengen maem jangan lodeh buat nanti malam.”

Jieh.. tumben-tumbenan Ndoro pengen maem lodeh. Bar dapet apa hayooo ?” Mister Wasis malah nggodani koyo nggodani cah abege sek konangan arep pacaran.

“Wis toh.. ini penting. Jangan lodeh itu panganan dewa. Wis kono gek ndang ke swalayan tuku godong sonya. Jangan lupa kulit melinjonya juga. Sek banyak ya. Coba cek di persediaan tempe semangitnya. Nek masih ada ya sisan dicemplungkan juga.”

“Siap Ndoro.. Ini mesti barusan dapet wangsit mesti. Nanti saya diceritani ya Ndoro.”

“Beres.”

Alhamdulillah.. mudah-mudahan masih bisa menikmati sayur lodeh yang cukupan saja santannya. Tapi banyak melinjo dan godong sonya. Dengan tempe semangit pasti makin mantep. Sambel terasinya bolehlah agak pedes sedikit. Tambah tempe garit pasti makin legit. Ah.. saya lapar..

 

PS : Cerita ini memang karangan semata. Tapi tentang khasiat melinjonya serius. Demikian yang saya peroleh ketika ngobrol dengan Prof. DR. F.G Winarno kemarin tanggal 19 Oktober 2013. Jadi jangan takut makan melinjo ya ?