25
Jun 14

Sanajan Nyadran

Jogja akhir-akhir ini sedang sumuk luar biasa. Sore hari ba’da Ashar yang biasanya bisa jadi waktu yang sudah nyaman untuk nglaras rasa, kini pun masih tetap panas ngenthang-ngenthang.

Tak ayal kalau kemudian sore ini Yu Winah  mampir ke teras depan rumah dengan tergopoh-gopoh. Mister Wasis yang sedang sibuk menyiram rambutan menatap dengan penuh kebingungan.

“Kang.. nyuwun banyu nggo ngombe ya. Ngelak banget ini saya. Panasnya Jogja sedang ra umum.” Yu Winah langsung ndlosor saja di jobin teras depan sambil kipas-kipas dan menyeka keningnya yang penuh keringat. Tenongannya diturunkan dan diletakkan sekenanya.

Mister Wasis langsung masuk ke dalam rumah dan berteriak kepada istrinya. Buneee.. Ono wong arep semaputt.. Njaluk banyu ademnya yaaa..

Mendengar suaminya yang berteriak stereo seperti ini, dengan tergopoh-gopoh Nyai Wasis segera lari dengan wajah panik mencari suaminya yang masih di teras.

“Siapa sek meh semaput Pakne ?” Tangannya membawa sebotol air dingin dari kulkas.

“Hush.. Kang Wasis ini waton tenan. Saya yang kehausan Yu. Bukan mau semaput. Cuma ngelak banget soale Jogja sedang ndak umum panasnya.” Yu Winah jadi jengah sendiri.

Saya yang sedang leyeh-leyeh di dalam juga dengan tergopoh-gopoh keluar. Menengok ada keributan apa di depan. Yu Winah makin tak enak hati

“Duh.. ngapunten ya Pak Besar. Saya numpang ngeyup sebentar. Kepanasen banget ini. Dus nyuwun pangunten karena nyuwun air dinginnya.” Yu Winah mringis sampai terlihat gigi emas dipojokan senyumnya.

“Ealah.. tak kira ada apa. Wasis ini kok senengane gawe gede perkoro. Wong Yu Winah cuma mau leren saja kok ya dibilang mau semaput.” Mister Wasis hanya cengengesan saja mendengar saya protes.

“Ya silakan saja Yu nek mau leren dulu di sini. Ha mumpung sampeyan disini toh Yu, mbok dibuka saja tenongannya. Masih ada apa saja?” Saya yang kebetulan sedang butuh penganan pengganjal perut sebelum makan malam njuk ya kepingin inguk-inguk.

“Wah.. Ngalkamdulillah malah dipayoni Pak Besar. Padahal tadinya saya cuma mau numpang leren, la kok malah dipayoni. Bejane saya.. Silakan Pak Besar. Masih ada beberapa menu sengseman Pak Besar. Selad Solo dan Serabi Solo masih ada. Loenpianya juga masih ada. Ini malah masih ada nasi kuning nek ngersakne.”

Mata saya menginspeksi komoditas tenongan Yu Winah yang sepertinya sangat menggiurkan. Tapi mata saya justru tertuju pada bungkusan daun pisang di pojokan tenongan.

“Sek dibungkus godhong pisang itu apa Yu ? Kok sepertinya mirip Ayam Panggang ala Klaten ? Menu baru nopo ?”

“Wah.. Pak Besar kok teliti sekali. Betul sekali ini Ayam Panggang ala Klaten yang tersohor niku. Mlekoh loh niki arehnya Pak Besar. Monggo dipirsani dulu.” Yu Winah dengan sigap membuka bungkusan daun pisang yang menutupi ayam panggangnya.

Dan memang betul. Areh dari santan yang mlekoh yang merupakan ciri khas Ayam Panggang ala Klaten nampak mencuat dari balik daging dan kulit ayam panggangnya. Bau ayam panggang menyemburatkan aroma bawang putih dan kemiri yang bertemu kecap dan berpadu indah lalu terkaramelisasi sempurna karena proses memanggang kelas profesional. Saya duga ayam panggang ini dibakar dengan sabut kelapa. Sehingga tidak menyisakan ruang untuk gosong pada kulit ayamnya. Golden Brown kalau coro Enggres bilang.

Saya langsung memberi instruksi kepada Nyai Wasis untuk mengambil piring di dalam rumah. Dan memberi kode kepada Yu Winah untuk menyisihkan 4 potong ayam panggang Klaten yang superb ini.

Jan-jane ini ayam panggang karena turah Pak Besar. Turah karena juragan saya kebanyakan mbuat ayam panggan buat Nyadran.” Yu Winah ngomong sambil tangannya cak-cek memindahkan ayam panggang pesanan saya ke piring yang sudah disorongkan Nyai Wasis.

“Loh kok bisa turah Yu ?” Mister Wasis tak kalah gesit dengan menyambar sate usus dan serabi kocor.

“Ya begitulah Kang. Nek dulu kan orang-orang yang Nyadran masih banyak. Dulu yang bawa besek banyak. Sego bucunya banyak, lawuhnya sedikit. Jadi semua komanan lawuh. Biasanya ya njuk tidak ada sek sisa dibawa pulang. La nek sekarang. Sek bawa nasi sedikit, lawuhnya sek turah-turah. Salah satu yang turah ini ya Ayam Panggang ini.”

“Wah.. nek turahan kudune kita dapet diskon toh Yu ?” Mister Wasis nyengir. Bisa saja dia nyahut saja nek perkara yang beginian. Sat-set trengginas nek perkara diskon-diskonan.

“Beres Kang.. untuk yang ini kasusnya spesial. Jadi harganya pasti spesial. Rego pok e wis.” Yu Winah mengacungkan jempolnya.

“Wah.. mantep ini nanti malem untuk dhaharannya Bune. Dapet lawuh enak. Tinggal tambahi lalapan karo sambel wis nyamleng.” Mister Wasis mengkode istrinya.

“Suip Pakne.. Beres pokok e.” Nyai Wasis juga ikut-ikutan mengacungkan jempol.

“La memang sek nyadran di tempatmu masih banyak po Kang ?” Tanya Yu Winah kepada Mister Wasis.

“Wah.. ketoknya ya memang makin sedikit Yu. Kemarin pas aku sama Bune ini pulang ke desa buat Nyadran sekalian ngeterne Thole pulang, ya memang ndak banyak lagi yang pulang kampung. Biasanya sekarang pada pulangnya pas Lebaran saja. Nek Nyadran gini paling ya cuma kirim doa saja masing-masing. Ndak sempet pulang.”

“Wah memang sekarang sanajan nyadran, tapi kok ya susah bisa ngumpul bareng ya Kang ?”

“Ha ya pripun malih Yu ? La sikonnya kan berubah. Sanajan Nyadran, nek ndak bisa diselakan, arep piye meneh ?”

Kami semua menghela napas… memandang langit yang mulai menguning pertanda petang segera datang. Ya sama seperti petang yang datang setelah siang yang ngenthan-ngenthan. Semua berubah.. Sanajan tetep Nyadran tapi tidak seperti dulu lagi. Dunia makin berubah dengan cepat ternyata.


13
Jun 14

Dobel Kobol-Kobolnya

Genderang tetabuhan tari Samba di Brazil sudah sampai di Bulaksumur. Mister Wasis sudah mulai persiapan joged-joged tari Samba sejak seminggu yang lalu. Dan sebagai seorang connoisseur bal-balan kelas Tarkam sejati, tentu Mister Wasis tidak akan melewatkan satupun pertandingan wahid dari ajang Piala Dunia. Ajang bal-balan seantero jagad raya yang cuma muncul setengah windu sekali ini.

Wis jangan tanya lagi persiapan yang sudah dilakukan Mister Wasis. Mulai dari memberikan instruksi khusus kepada Nyai Wasis untuk menambah stok kopi dan gula, sampai menambah alokasi dana khusus non-budgeter untuk cemilan kacang kulit, kacang bawang, kacang godog dan kacang-kacangan lainnya. Wis pokoknya semua cemepak rapi sebelum gelaran Piala Dunianya dimulai.

Dus.. mendadak sontak, sore beberapa hari yang lalu, televisi kesayangan kami sekeluarga mulai berulah. Mulai dari memudarnya warna, sehingga semua tampilannya jadi tampak semu-semu biru esem. La nek nonton Mahabharata jadi lucu ini. Semua tampak seperti Kresna yang jika mengacu pada literatur aslinya adalah manusia yang berkulit kebiru-biruan. Gejala tidak mengenakkan ini mulai menggerus hati Mister Wasis yang sudah mendambakan pesta lek-lekan yang makin menjelang. La cilakanya tadi malam kok si televisi ini makin parah saja, dan akhirnya pagi ini, sepertinya si televisi ini memutuskan untuk mangkat dan moksa dengan samaptanya setelah mengabdi selama 11 tahun.

Pucetlah Mister Wasis. Maka dengan tergopoh-gopoh, menghadaplah Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini di pagi hari ketika saya sedang sarapan.

“Ndoro.. Nyuwun sak agenging pangapunten. Tapi ini ada sesuatu yang krusial dan urgent. Jadi …sesuai yang kita ketahui bersama, bahwa Piala Dunia sudah menjelang nanti subuh.”

“La terus ?” Saya masih sibuk mengunyah roti gandum panggang yang belepotan selai stroberi buatan Nyai Wasis.

“Ha televisinya sudah moksa Ndoro. Njuk acara nanti subuh ya terancam gagal. Masak iya saya kudu kemulan di pos ronda ? Ha padahal sudah cemepak semua.”

“Ha njuk kepriye maksudnya?”

“La kan televisinya sudah mangkat toh Ndoro. Gimana nek segera diagendakan saja tumbas televisi baru. Sek tipis-tipis itu loh Ndoro. Sek suara jegler-jegler biar nonton Piala Dunianya makin mantep.”

“Welah.. permintaanmu kok subversif toh Sis ? Kok njuk merongrong kondisi moneter kamu Sis.”

“Wah.. ya ngapunten sekali Ndoro. Tapi ya mosok Ndoro ndak nonton Piala Dunia nanti malam po ? Pembukaan loh Ndoro. Di Brazil loh ini kedadennya Ndoro. Ayu-ayu tur bohay-bohay mesti penari sambane.”

Hasyaahhh.. Ndak usah ngompori nek sek bab bohay-bohay begitu. Tak wadulkan ke bojomu loh. Ben dicengkiwing kowe nanti.”

“Woh.. ampun saestu Ndoro. Mbok jangan wadulan begitu. Ha nek ndak kerso nonton sek bohay-bohay, ya mosok Ndoro bakalan melewatkan ramenya kampanye Pilpres ? Mosok ya seorang guru besar njuk kalah informasi ?”

Waduh.. Touche… Nekat tenan ini si Wasis menyerang saya dengan kelemahan paling fundamental. Kebutuhan saya akan informasi memang tidak bisa tidak kudu terpenuhi. Ah semprul tenan ini Wasis.

“Wah.. semprul tenan kowe Sis. Mosok nyerangnya langsung skat mat. “

“Hasekk.. jadi.. ditumbaskan televisi baru ya Ndoro ? Wah.. maturnuwun Ndoro. Haseekk.” Mister Wasis mendadak joged samba.

“Ya wis.. nanti siang diagendakan ke Takrib. Tumbas satu yang tipis. Ben penak bolehmu nonton. Tapi syaratnya cuma satu. Saya ndak mau ada alasan ngantuk besok paginya.”

“Siap Ndoro. Sendiko dawuh!”

Saya baru melahap beberapa suapan roti gandum bakar, lhadalah kok Nyai Wasis juga menghadap.

“Ndoro Besar.. Nyuwun pangapunten. Tapi kawulo mau mengajukan revisi anggaran rumah tangga.”

“Weits. Ada apa ini kok ada revisi anggaran rumah tangga di masa reses seperti ini?”

“Nganu Ndoro.. berhubung bulan puasa sudah menjelang. Maka harga sayur mayur dan lauk termasuk iwak dan tempe sudah mulai merangkak naik. Maka, dengan sangat terpaksa, demi menjaga stabilitas tempe garit, kawulo harus mengajukan penambahan anggaran.”

“Duh.. ini barusan saja suamimu minta dana non-budgeter buat beli televisi baru. La kok sekarang ada tambahan budget lagi. Wah.. suram ini kondisi keuangan. La ini kira-kira tambahan anggarannya perlu berapa banyak ?”

Nyai Wasis mengacungkan 2 jarinya..

“20 % ?” Saya agak lega karena ternyata kenaikannya tidak terlalu banyak.

“Mboten nDoro.. Dua kali lipat maksud kawulo Ndoro.”

Mendadak saya pilu… Dompet saya terasa amat sangat tipis. Dobel kobol-kobolnya. Duh…


22
Oct 13

Pawiwahan Ageng

Beberapa hari ini Yogyakarta sedang sibuk sekali sepertinya mempersiapkan kedatangan tamu Pawiwahan Ageng Kraton Ngayogyakarta. Ingkang Sinuhun Sri Sultan HB X sedang punya gawe untuk menikahkan anaknya yang nomer empat, GKR. Hayu. Banyak patroli polisi wira-wiri di seputaran Kraton. Voorijder banyak yang sudah siap sedia mengawal tamu-tamu negara yang konon informasinya bakalan datang beribu-ribu orang. Sebuah momen yang amat sangat khusus wal spesial sepertinya. La ndilalahnya kok ya saya juga mendapat berkah untuk bisa ikut dalam acara resepsi Pawiwahan Ageng besok siang. Ngalhamdulillah…

Maka, Bu Alit pun segera saya panggil pulang ke Yogyakarta untuk ikut menemani saya ke acara yang bakalan sangat magrong-magrong dan sakral ini.

—————————————————

Bu Alit sedang repot di kamar membongkar-bongkar koleksi kain dan kebaya yang pas untuk dipakai di acara resepsi Pawiwahan Ageng Sri Sultan HB X. Semua koleksi kain dan kebaya dikeluarkan. Disawang-sawang.. dipas-paskan. Mana yang paling pas untuk acara besok siang. Memang untuk bagian mengepas-paskan sandangan dalam acara-acara khusus seperti ini, saya cuma bisa bergantung pada seleranya Bu Alit supaya nampak selaras dan sarimbit.

“Bapak besok mau pakai baju yang mana ? Tenun Troso atau pakai batik Mas Iwan Tirta mawon ?” Bu Alit menanyakan dari ruang kamar.

“Sepertinya lebih pas nek pakai batiknya mas Iwan saja ya Bu ? ” Saya menyahut dari kursi malas kegemaran saya. Memang sore itu saya sedang leyeh-leyeh nglaras rasa setelah seharian digempur kerjaan di kampus. Sore hari adalah saatnya menyelaraskan antara nafas dan hati supaya tetap dalam kondisi mat dan selaras.

“Oh baiklah..”

Bu Alit kemudian masih sibuk mencari asesoris yang pas buat menemani kebaya encimnya Anne Avantie, tentu saja supaya bisa menemani baju batiknya mas Iwan Tirta. Menyandingkan kain batik seorang maestro sekelas Almarhum Iwan Tirta dengan kebaya Anne Avantie plus asesorisnya tentu jadi PR sendiri. Ndak bisa sembarangan toh ? Kain ini saya peroleh sekitar 5 tahun yang lalu ketika bareng dengan Mas Iwan ke Eropa. Walaupun sudah 5 tahun, tapi batik ini jumlah keluarnya sepertinya jauh dibawah bilangan tahunnya alias jarang dipakai.

Sore itu kondisi teras rumah juga sedang ramai karena Yu Winah pun sedang saya panggil menyetori jajan pasar kesenengan saya, Loenpia dan selat Solo. Sudah lama bolehnya Yu Winah tidak mampir ke rumah. Ya ndilalahnya juga pas beberapa waktu yang lalu saya juga pas ndak dirumah. Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah pun lesehan di teras depan sambil jagongan.

“Eh Kang, iki mung andai-andai ya. Nek seandainya kowe diundang ke acara Pawiwahan Ageng arep ngopo ?” Yu Winah sambil dengan cekatan tangannya memasukkan pesanan saya dan Bu Alit ke dalam atas piring yang dibawa Nyai Wasis.

Ha ya nek saya sek bakalan paling tak titeni ya maemane toh Yu. La kapan lagi bakalan nemu maeman sek enak-enak khas Kraton Ngayogyakarta, nek ndak pas acara seperti ini. La denger-denger Kraton bakalan mengeluarkan menu khusus pas Pawiwahan Ageng. Ada Gudeg Manggar, Kambing Guling, Es Camcao sama Es Ronde. Gudeg Manggarnya mesti kualitasnya berbeda dengan yang seumumnya itu. Manggarnya mesti masih enom yang kalau digigit mak prul empuk tenan. Iwak ayame mesti maknyos mempurnya. Kuah arehnya juga mesti wangi tur gurih. Es Camcaonya mesti mak nyes… Es Rondenya mesti juga mak legender anget jahe tapi adem cekelane. Aah.. sedaapp..”

“Wah.. Pakne ini kok sek diurusi panganaaann wae. Nek saya melu di undang Sinuhun ya pengen melihat manten kakung dan putrinya sek mesti bagus dan ayu tenan. Tamu-tamune juga mesti dandangane kenes tur ayu. Wangi-wangi parfum larang seperti punya Ndoro Itu. Sandangannya juga mesti alus tur mak tralap-tralap banyak batu permatane. Aahh.. Ayu tenan…” Nyai Wasis ndak mau kalah dengan suaminya.

“Haahahaha.. ngono ya keno kok Nyai. Nek saya diundang di Pawiwahan Ageng ini ya saya pengen mirsani upacarane mawon. Mudah-mudahan banyak tamu-tamu sek top-topnya negara ini sek mirsani. Jadi kemudian pada nguri-uri budaya Jawa lagi. Termasuk jajanan pasarnya. Nah.. nek jajan pasar jadi ngetop lagi lak ya saya juga kebagian makin laris juga dagangannya. Aah.. Kelarisan..” Yu Winah tak mau kalah juga berandai-andai.

Njuk semua terdiam. Sepertinya sibuk dengan lamunannya masing-masing.

“Jebul Pawiwahan Ageng itu maknanya beda-beda ya ? Walaupun kita cuma kawulo biasa, jebul kekarepane juga sok luar biasa.” Mister Wasis memecah keheningan.

“Ya namanya juga beda kepala toh Kang. Mestine ya kekarepane beda-beda. Ning sek penting, kita sebagai kawulo alit ya turut mendoakan kepada kedua mempelai GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Nderek mangayubagyo Pawiwahan Ageng. Mugi-mugi Gusti Pangeran tansah pinaringan berkah sedaya lampah. Lak begitu toh ya Kang ?”

“He eh Yu. Sek penting kita urun donga saja kepada kedua mempelai. Semoga rukun terus sampai kaken ninen. Bisa jadi conto buat kawulo alit seperti kita ini.”

“He eh Pakne…” Nyai Wasis mengiyakan sambil manggut-manggut.

Hehehe.. saya mbatin saja mendengarkan celoteh dari Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah ini. Yah semoga Gusti Pangeran berkenan mengijabahi doa yang tulus dari kawulo alit seperti kami ini. Semoga Gusti Pangeran purun paring berkah kaliyan Pawiwahan Ageng ini. Semoga ini adalah pernikahan yang pertama dan sekaligus yang terakhir untuk GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Aaammiiieenn..

“Pak.. Pantesnya pakai yang mana ? Yang merah ini atau sek ijo ?” Istri saya, Bu Alit, keluar dari kamar dan menunjukkan asesoris yang ingin dipakainya untuk njagong besok siang.

Sek endi wae kowe tetep ayu kok Bune.” Saya pasang senyum paling lebar untuk istri saya tercinta ini.

Heyeh.. ditakoni tenanan kok malah nggombal amoh!” Bu Alit melengos dan masuk ke dalam kamar lagi. Saya nggleges..


03
Oct 13

Garuda Effect

Pagi-pagi berteman kopi tubruk Sapan Toraja, roti bakar buatan Nyai Wasis yang belepotan sele nanas, dan koran Kedaulatan Rakyat sebenarnya adalah kenikmatan yang tidak terhingga. Juos gandos.. Dimana lagi ada periode yang mat dan selaras selain pagi yang cerah dan tidak grusa-grusu selain periode sarapan pagi seperti ini ? Betapa nikmat yang Gusti anugerahkan memang tidak terhingga. Ngalkahmdulillah..

Mister Wasis sedang sibuk menyapu di teras. Dengan semangatnya bebersih rumah. “Sis, semalam Garuda Muda menang toh ya ? Skornya berapa ya ?” Saya setengah berteriak dari dalam. Saya kebetulan tidak nonton sampai selesai pertandingan AFF semalam. Keburu digondeli kingkong pelupuk matanya.

“Menang noh Ndoro. Skor terakhirnya 7-6 buat Indonesia. Akhirnya sepakbola kita menang setelah 22 tahun ya Ndoro.” Suara Mister Wasis dari teras depan terdengar sumringah. Ah.. memang melegakan sekali mendapat berita baik. Di antara sekian banyak berita yang kurang edi peni di negara ini, ada satu berita bagus tentu sangat menyenangkan.

“Tapi kok kowe sepertinya kurang gustonya ? Ndak seperti kapan hari itu pas Pasukan Garuda mau masuk final. Sek sampai kowe nganggo kaos Timnas seminggu ra ganti-ganti.”

Nganu Ndoro.. Ini hasil perjanjian dan ikhtiar kawulo alit.”

“Maksudmu piye ? Kok ndak gusto dengan kemenangan Garuda kok bisa dimasukkan ke bab perjanjian dan ikhtiar kawulo alit ?”

“Gini toh Ndoro.. Kan semalem saya nontonnya bareng sama temen-temen PBB di cakruk depan pos ronda itu. Ben gayeng jan-jane maksude. Biar ndak kalah sama sek nonbar di kafe-kafe itu. Tinggal modal tipi di pos ronda, bawa kacang rebus kalih pisang rebus wis ndak kalah gayeng.”

“Ho oh.. Gayeng.. Terus piye ?”

“Ha kan semalem itu seru banget Ndoro. Sampai akhir babak kedua aja masih kosong-kosong. Sampai kudu perpanjangan waktu. Itupun masih kosong-kosong. Njuk dilanjut penalti. Wah..deg-degan tenan pas nontonnya. Semuanya komat-kamit ndongakne gawange Vietnam njuk ujug-ujug gede gitu Ndoro.”

“Terus kepiye kuwi urusane ikhtiar karo perjanjiane kuwiii. Nek bab deg-degane aku wis mudeng. Sek ikhtiar e kuwi lohh.” Saya menyaut gemes.

“Heheheh.. nganu Ndoro. Setelah menang itu lak kami sorak-sorak. Seneng banget. Tapi njuk meneng mak klakep. Soale njuk kelingan nasib Garuda-Garuda sek kepungkur itu. Setelah menang njuk mesti buat rebutan. Njuk malah bubar dewe-dewe pasukane. Padahal sudah bagus-bagus bolehnya mbangun semangat dan kerjasamanya. Ho oh toh Ndoro ?

“Ho oh.. Bener..bener.. Njuk ?”

“Nah.. semuanya itu kan terjadi karena masyarakat kita terlalu senenge. Semua koran, berita dan gosip lak njuk nyerbu pasukan Garuda yang dulu itu. Njuk pada klenger. La wong terus sibuk ngurusi berita dan gosip daripada ngurusi latihan. Njuk wis bubar bar.. Nahh.. kemarin saya njuk mengusulkan ke semua sek nonton di cakruk, supaya ndak terlalu seneng dengan kabar baik ini. Nek orang Jawa bilang, ojo gumunan. Biasa wae. Ben koran dan gosip juga ndak keterlaluan le mberitakan Garuda Muda ini. Nek kita sebagai masyarakatnya menganggap berita ini sebagai berita biasa, lak yo media ya mending ngangkat berita sek lain ya Ndoro ? Bab caleg-caleg ndableg itu misale. Jadi Garuda Mudanya bisa terus latihan. Ben dadi sangsoyo apikKawentar-wentar. Jadi kami sebagai PBB sepakat untuk menyebarkan sikap biasa wae demi kemaslahatan Garuda Muda.”

“Ealah.. kok bisa-bisanya kowe sampe mikir begitu toh Sis ? Ampuh tenan strategi mediamu.”

“Lah.. saya cuma niteni saja kok Ndoro. Mesakne sama Garuda Muda itu. Lak ya bener toh Ndoro ?”

“Bener banget.. Ning ya jangan sampai njuk Garuda Muda ini sedih soale ndak didukung.”

“Garuda Muda ini mulai dari tanpa dukungan yang gede kok Ndoro. Nek didukung gede-gedean sekarang kok ya malah mesakne ati mereka. Bisa kagol nanti. Mikule kabotan.”

“Ckckckck.. kowe kok Wasis tenan toh ?”

“Heyeh Ndoro kie ngece...”

Saya spechless… Garuda Effect ini luar biasa.


03
Oct 13

Semprong Versus Spekoek

Lebaran memang masih 2 minggu lagi. Tapi sebagai seorang Ndoro di rumah ini, peningnya pengaturan keuangan sudah mulai muntup-muntup. Tentu saja karena pengeluaran bulan Poso yang meningkat karena rego-rego bahan makanan ya naik seenak udelnya. Belum lagi anggaran tambahan untuk dua orang anggota keluarga konco wingking alias kitchen cabinet. Anggaran mereka tentu saja harus meliputi gaji dua kali dan tambahan bonus klambi lengkap atas sampai bawah. Mumet wis pokoknya. Pos anggaran sudah terbentang di depan mata. Padahal gajian dari kampus masih seminggu lagi (yang jumlahnya juga tidak bertambah).

Belum lagi sebagai kanca wingking tentu saja mereka punya kewajiban untuk mudik. Bagai masa resesnya anggota Dewan yang terhormat, kembali ke dapilnya masing-masing, tilik para konstituennya, untuk kemudian nggedebus supaya bisa dipilih lagi periode pemilu berikutnya. Mudik bagi para kanca wingking ini tentu saja minus nggedebus. Masa reses bagi para kanca wingking ini untuk kembali di desa kecintaan mereka. Reriungan bareng keluarga besarnya. Srawung tetangga yang sehari-hari mengais rejeki entah dimana. Mengumpulkan kembali balung pisah. Menjadi satu bagian kosmis yang lengkap lagi, sebelum kemudian akan tercerai berai kembali begitu musim mudik selesai. Kembali ke ritme sehari-hari.

Sedang bagi saya, lebaran tentu saja kembali nglumpuk juga dengan keluarga kecil saya yang pada nJakarte sehari-hari. Kembali uyel-uyelan dengan anak-anak dan ketambahan cindil-cindilnya yang usrek terus tak pernah leren. Ah.. keluarga kecilku yang menyenangkan.

Maka malam ini, ba’da Traweh, saya panggil dua orang kepercayaan saya, Prime Minister Kitchen Cabinet beserta wakil perdana menterinya. Mister Wasis dan Nyai Wasis. Seraya leyeh-leyeh di kursi malas dan mereka berdua ndelosor di karpet, saya ajak mereka berdua rembugan.

“Wasis, lebaran memang masih dua minggu lagi. Saya cuma mau memastikan saja, kalian berdua mau cuti lebaran berapa lama ? Seminggu seperti biasanya ?” Saya buka rembugan malam ini dengan pertanyaan yang selalu terlontar setiap tahun. Klise tapi penting.

Mister Wasis dan istrinya malah saling berpandangan. “Nuwun sewu Ndoro. Nek boleh, tahun ini kami tidak mudik saja.”

“Heloh ? Kok bisa ? Kowe ndak kangen sama simbok dan sedulurmu po ? La Thole gimana ? Mosok ya ndak kangen Bapak Simbok e?” Saya njenggelek kaget mendengar request dari mereka. Tidak mudik bagi mereka lak ibarat aib yang tidak bisa diterima. La wong mudik itu salah satu ritual lebaran je.

Ngapunten Ndoro. Kebetulan Simbok malah ke Jakarta ke tempat adik saya. La trus adik saya juga ndak mudik wong lagi mau babaran. Jadi ya simbok memang ke Jakarta dalam rangka ngancani adik saya babaran itu. Thole juga mau ikut simbahnya ke Jakarta. Plesir katanya. Pengen sekali-kali merasakan Lebaran di Jakarta. Tur pas preinya juga agak panjang. Begitu Ndoro. Ngapunten…” Mister Wasis mengajukan alasannya dengan mlipis sekali. Sepertinya memang sudah dipersiapkan matang betul.

“Oh ya wis nek sudah ada kesepakatan seperti itu. Aku malah seneng. Ono sek ngancani di sini.” Saya kembali lendetan di kursi malas mendengar alasan dari Mister Wasis. Memang agak di luar kebiasaan, tapi menyenangkan juga sepertinya.

“Kami ya seneng kok Ndoro. Lebaran di sini. Lak Ibu dan Mbak Gendis mesti pulang toh ? Mesti disini njuk banyak maeman enak-enak. Banyak parsel dari relasi-reasi Ndoro. Banyak oleh-oleh. Ndak kayak di desa, paling ya semprit sama semprong lagi. Mentok-mentok ya ketambahan madu mongso. Nek disini lak bisa ngicipi kastengel, spekoek, nastar.. wis akeh pokok e.”

“Woalaahhh.. jebul itu toh niatmu ndak mudik kie ? Pengen ngicipi kuwih-kuwih lebaran ? Ha mbok ngomong.”

Ajeng ditumbaske nopo Ndoro ?” Mister Wasis langsung sumringah.

“Ha yo ora. Mung ngomong wae. Mengko tak iming-imingi rasane.” Saya ngekek nggarapi Mister Wasis yang nampaknya sudah kemecer betul membayangkan dirinya ditebari kuwih-kuwih lebaran.

“Ealah Ndoro.. kok ya tegel tenan nggarapi saya sek wis pengen tenan.” Mister Wasis mengkeret lagi suaranya. Saya jadi merasa bersalah.

“Wis.. wis.. nanti tak pesenkan Ibu Alit numbaske pinginanmu itu. Spekoek, kastengel, putri salju, kurmo cokelat, nastar dan lain-lainnya. Akeh tur enak-enak. Pake rombooter dan wijsman yang banyak. Keju edamnya yang asli ben kedanan. Piye ? Seneng toh kowe ?” Saya angkat lagi hati Mister Wasis. Biar mutungnya segera berhenti. Nek mutung trus saya ndak disiapke sahur lak saya sendiri yang cilaka.

“Heheheh.. maturnuwun ndorooo..” Kompaknya suara suami istri ini nek lagi sumringah. Blas ndak ada bleronya. Mongkok hati saya nek melihat mereka berdua bahagia.

“Selamat tinggal semprong, selamat datang spekoek.” Bisik Mister Wasis pelan.


02
Oct 13

Alun-Alune Koyo Pasar Maleman

Masa surup sehabis Maghrib biasanya adalah waktu untuk mengupgrade, menambah khazanah informasi (dan juga gosip) dengan membaca koran sore. Lalu dilanjutkan menonton berita malam. Jika sedang beruntung, ritual sore surup ini akan ditemani segelas teh nasgitel beserta finger food jajan pasar dari tenongan Yu Winah. Dan untuk uborampe pelengkapnya, biasanya Mister Wasis saya paksa ikut menemani ritual surup itu sambil saya perintahkan untuk mijeti kempol tombo kemeng yang kadang kumat itu. Namun sepertinya acara sore surup ini akan agak berbeda. Sejak sebelum Maghrib saya sudah mencuri dengar Nyai Wasis berbisik-bisik kepada kakandanya tercinta itu.

“Pakne, jangan lupa nanti nyuwun pamit sama Ndoro Besar nanti.”

Wis beres.. semua sudah tak cepake buat maemnya Ndoro Besar kok. Tenang wae Bune..”

Dan pada sore surup itu Mister dan Nyai Wasis sudah ngglesot di dekat kursi malas kesayangan saya tapi berdandan rada parlente. Mister Wasis menggunakan setelan hem lengan panjang dan celana baggy, dan Nyai Wasis menggunakan blus kembang-kembang lengkap dengan rok panjang plipit warna sogan.

“Welah.. ada apa ini kok wis pada ngganteng dan ayu. Mau kondangan po ? Ato mau yang-yangan ? Tapi lak ini belum malem minggu toh ?”

Mboten kok Ndoro, nek boleh kami berdua mau minta ijin sebentar. Mbokne ini minta diajak klinong-klinong sebentar ke Alun-alun utara. Mau lihat pasar malam.”

“Oo.. ya boleh… Tapi.. heloh.. sejak kapan di alun-alun ada pasar malem ? Kok saya malah ndak tau ?”

Saya bener-bener ndak tahu. Tak kira si Mister Wasis ini sedang salah lihat kalender. La wong belum waktunya Pasar Malem Sekaten kok bilang mau ke Alun-Alun lihat pasar malem.

“Ah.. mosok toh Ndoro ? Tumben Ndoro ada yang ndak tau. Sekarang kan sudah musim liburan sekolah anak-anak. Lak sudah musimnya ada pasar malem toh ? Tur kemarin sore pas saya mampir tumbas gudeg di Wijilan itu saya lihat alun-alun sedang ramai bener Ndoro. Banyak sek nggelar dodolan sampai ke deket Kantor Pos Besar itu loh Ndoro.”

“Ealaaaahhhh.. Itu loh jebule yang kamu kira pasar malem ? Itu rame parkiran Bus saja duhai Wasis. Sekarang itu memang musim liburan anak sekolah. Tapi Alun-alun itu bukan ramai karena sedang ada pasar malam. Tapi Alun-alun sekarang jadi tempat parkir bus dadakan untuk tamu-tamu dari luar Jogjakarta itu. Sek pada dodolan di Alun-alun itu juga pedagang dadakan yang ngepasi wektu untuk dodolan di situ karena ramenya anak-anak sekolah yang sedang pada piknik itu loh.”

Hwrakadah!! Tenan e Ndoro ? Ndoro ndak ngapusi saya toh ? Duh.. Ciloko tenan nek ini ndoro. Kok pada kewanen gitu ? Heloh.. Alun-alun utara kok dipake untuk parkiran Bus. Lak mesti jadi kemproh gitu. Lak mesti anak-anak itu ada yang nguyuh sembarangan. Trus mesti ada yang buang sampah, ngidu, bahkan mungkin ada yang amit-amit disitu. Laah.. wibawanya Kraton lak jadi tatu nek gitu ndoro. Kok bisa toh Ndoro ? Kok diijinkan oleh Ngarso Dalem ? ” Mister Wasis melongo, matanya mendelik, bibirnya mencucu. Ekspresi tidak percayanya Mister Wasis ini mungkin ada kesamaan dengan penari Jathilan yang kesurupan..

La kon piye jal ? Bus yang datang ke Jogja pada musim liburan ini kan banyak buanget loh Sis. Padahal semua pengen bisa ke Malioboro. Semua pengen bisa lihat Kraton. Semua pengen bisa tumplek blek di situ. Tempat parkirnya sudah habis. Cuma alun-alun yang platarannya masih jembar tersisa untuk parkir.”

“Ha ya tapi Alun-alun utara itu lak halaman depannya Kraton toh Ndoro? Ndak ilok nek halaman depannya Kraton njuk jadi pating kruyuk, semrawut dan kemproh. Tempat  tinggalnya Sultan je Ndoro… Kok sebagai kawulo alitnya Mataram saya jadi teriris-iris hatinya ya Ndoro ?”

“Wis… Wis.. Coba itu cara pikirnya dibenerin dulu. Coba dibayangkan nek kamu jadi Ngarso Dalem. “

“Heyeh.. ha ya saya ndak brani Ndoro.. Bisa kuwalat nanti..”

“Ha etok-etoknya saja loh ya Sis. Nek kamu jadi Ngarso Dalem, trus kamu lihat banyak yang datang ke kotamu pengen melihat-melihat kotamu. Sokor-sokor pada belanja dagangannya rakyatmu. Tapi mereka ndak bisa parkir. Piye jal ?

“Ha gimana ya Ndoro ? Saya malah mumet nek ditanya abot-abot gitu. Mbok sek gampang-gampang saja toh Ndoro. Nek Ndoro nanya harga Indomie rasa ayam bawang saya bisa jawab. Tapi nek gini ya abot Ndoro..” Mister Wasis tiba-tiba njuk bergaya ala pose Le Penseur yang terkenal di Paris itu.

“Maksud saya itu, saya pengen menunjukkan ha ya itulah kebesaran hati dan tepo selironya Ngarso Dalem kita, Raja Jogja itu. Rela untuk memberikan halaman depan Kratonnya untuk kepentingan orang banyak. Coba.. sekarang mana ada orang yang masih mau berkorban sampai seperti itu.”

“Ha tapi lak jadi kemproh Ndoro.. melu isin je saya Ndoro.” Mister Wasis masih tetep ngotot tidak terima.

“Nek itu kan bisa di atur. Bisa dikandani. Bisa dikasih peringatan supaya tetap bersikap sopan karena berada di wilayah Kraton. Kalo ada satu-dua yang melanggar ya wajar. Manusiawi. Tapi kan ndak banyak dan terkendali. Gitu toh ? Semua senang, rakyatnya makmur. Lak itu tugas sebagai Ngarso Dalem yang sebenarnya toh ?”

Mister Wasis kali ini manggut-manggut. Entah manggut-manggut karena mengerti atau malah bingung. Nyai Wasis yang duduk ndeprok di sebelah suaminya juga ikut manggut-manggut. Saya juga jadi melu manggut-manggut.. Malah jadi seperti boneka yang kepalanya ada pernya itu..

“Ha njuk gimana Pakne ? Tiwas wis dandan ayu ngene jeMosok balik kamar maneh ?” Kini Nyai Wasis nyenggol suaminya.

“Ho oh ya Bune.. Ha ngopo ya njukan.. ?”

“Wis.. sana kalian berdua keluar saja. Jalan-jalan kemana gitu. Yang-yangan di kebon sebelah yo keno. Yang penting dinner saya sudah disiapkan toh ?” Saya langsung cut saja basa-basi mereka. Wong mereka berdua sudah cengar-cengir.

“Sampun Ndoro… Oseng-oseng tempe pedesnya sudah saya siapkan.. Nasinya juga saya nget di Mejik jer.” Mister Wasis yang mukanya sumringah karena mendapat ijin keluar ya dengan sigap melaporkan kondisi Kitchen.

“Heleh.. tempe lagi ?” Pendelik saya

“Ha ya kan Ndoro ngendikan sekarang masih dalam rangka nyirik iwak. Jadi ya yang ada tempe lagi..”

“Ha ya sudahlah.. wis sana pada keluar. Jangan malam-malam pulangnya. Tak kancingi nek bengi-bengi.”

“Njih ndorooooo..” koor sepasang suami istri ini kompak sekali.

Sambil bergandengan tangan mereka keluar. Tak lama kemudian terdengar suara khas Honda Supercup Mister Wasis.. Wer..wer..wer… ~ Din..din..