08
Sep 14

Kemedol yang tidak Didol

Saya sedang leyeh-leyeh di kursi malas ketika Monsieur Lantip bertamu. Mister Wasis yang sudah hafal dengan kelakuan Monsieur Lantip segera saja mempersilakannya masuk ke ruang tengah dan jumeneng di amben kayu jati yang biasa saya pakai untuk ritual mbenakne boyok. Dipojokan amben jati ini masih tersisa minyak urut yang dipakai Mister Wasis untuk mijeti kempol saya kemarin malam.

“Halo Kangmas Besar. Sibuk benar bolehnya siesta sore. Nikmat bin mat toch ?” tegur Monsieur Lantip tanpa kesan menyindir. Tangannya mengangsurkan minyak urut kepada Mister Wasis yang menerimanya dengan malu-malu. Ketiwasan…

“Sugeng sonten Kangmas Lantip. Pripun..pripun ? Sore-sore kok berkunjung ke gubug saya. Ada keperluan nopo Kangmas ? Maaf loh dapat suguhan pemandangan tidak senonoh. Ya anggap saja seperti di rumah sendiri nggih ?” Saya yang cuma sarungan dan kaos lethek ya jadi ndak enak hati sendiri.

“Hahahah.. Ndak papa Kangmas Besar. Saya yang harusnya minta maaf. Sudah nenamu tapi ndak bawa sesuatu. Maafkan kelancangan saya ya Kangmas.”

Mister Wasis keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir kopi Kalosi Toraja buat kami berdua. Aroma kopi Kalosi yang tonjo membuat suasana santai sore ini jadi makin berwarna saja nampaknya. Ditambahi pisang goreng kepok kuning buatan Nyai Wasis, makin lengkaplah segala ubo rampe siesta sore ini.

“Gini loh Kangmas. Saya memerlukan datang kesini dengan harapan bisa mohon bantuan njenengan.”

Heladalah Kangmas.. Kok sajaknya berat betul. Pertolongan macam apa yang bisa saya berikan buat njenengan. Oh iya, ini sudah dibuatkan kopi dan nyamikan seadanya. Monggo diseruput dulu sebelum dingin.”

“Wah maturnuwun Kangmas. Maturnuwun ya Kang Wasis. Kopinya nampak menggoda sekali. Saya seruput nggih ?”

“Monggo Pak Lantip.” Mister Wasis mengangsurkan cangkir kopi ke Monsieur Lantip.

“Jadi begini Kangmas. Kita berdua lak sama-sama tahu, bahwa Jogja sekarang sedang carut marut di beberapa kondisinya. Jadi saya dan teman-teman menggagas gerakan Jogja Ora Didol. Semacam gerakan self introspection buat pemerintah. Toh dalam waktu dekat, Jogjakarta mau ulang tahun. Jadi ini semacam hadiah ulang tahun untuk pemerintah kota Jogjakarta. Bahwa ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki dan bahwa sangat urgent untuk diantisipasi agar Jogjakarta yang kita cintai ini tidak kebanjur rusak.” Monsieur Lantip mengeluarkan urek-urekan konsep yang sudah disiapkan.

Saya mendengarkan dengan seksama. Mister Wasis manggut-manggut.

“Gamblangnya begini Kangmas. Saya mau minta bantuan njenengan supaya menceritakan kepada mahasiswa Kangmas. Jika mereka menemukan suatu hal yang tidak sreg tentang kota Jogjakarta, mbok tolong dibantu difoto, terus di uploadkan ke facebook yang sudah saya siapkan ini. Sekaligus ditambahi beberapa datanya seperti kapan ditemukannya, dan pendapat mereka tentang hal itu. Kumpulan dari uneg-uneg yang sahih ini akan kami sampaikan kepada pemerintah kota Jogjakarta mbesok pas ulang tahun Kota Jogjakarta.”

“Wah.. seperti biasa, ide Kangmas Lantip ini selalu saja loh jos gandos dan mlethik. Mengajak partisipasi masyarakat untuk memberikan auto critic adalah suatu yang jamak dilakukan di negara-negara dan kota-kota yang sudah misuwur. Nggih Mas. InsyaAllah akan saya sampaikan ide njenengan. Dan InsyaAllah mahasiswa saya akan dengan senang hati membantu memberikan hadiah kepada pemerintah kota Jogjakarta.”

“Maturnuwun sekali atas perkenan Kangmas. Mudah-mudahan ini bisa menjadi self introspection buat kita sebagai warga Jogjakarta dan sebagai kado ulang tahun kota Jogjakarta yang pantas.”

“Sami-sami Kangmas Lantip. Memang dengan adanya pembangunan yang luar biasa pesat di Jogjakarta ini sok nrabas-nrabas paugeran dan budaya kita sendiri. Ya memang kita sok kudu bisa ngerem dan bijaksana. Pinilih-pinilih mana yang bisa kita bangun. Tapi juga pinilih-pinilih yang mana yang justru perlu kita hindari. Demi menjaga trap dan keJawaan Jogjakarta toh nggih ?”

Leres Kangmas. Bukankah dunia ini berputar karena dua hal tersebut. Yang satu pihak melaju kencang atas nama modernitas, yang satu pihak nggondeli dengan rem tradisi, budaya, kebijaksanaan atau apapun namanya. Kombinasi yang pas dari kedua hal ini yang bikin roda dunia berputar tanpa kebablasen. Jogja kalau diibaratkan sebagai komoditi memang sedang sangat elok untuk dijual. Tapi tidak semua hal bisa dijual toh ya ? Sekalipun ditawar sangat mahal, tentu ada trap-trapan yang tidak boleh kemedol. Lak begitu toh Kangmas ?” Mister Lantip mulai menikmati pisang goreng kepok kuning yang mengepul hangat.

“Sekali lagi njenengan memang selalu pas dan trapsila Kangmas.” Saya mengamini dan ikutan menikmati pisang goreng buatan Nyai Wasis.

Dan sore ini berlalu dengan limpahan cintaNya yang mawujud dalam bentuk semilir sore yang menyenangkan, kopi yang nikmat, pisang goreng kepok kuning yang legit plus obrolan dengan sahabat yang mumpuni lan migunani. Hokyakarta!