13
Jun 14

Dobel Kobol-Kobolnya

Genderang tetabuhan tari Samba di Brazil sudah sampai di Bulaksumur. Mister Wasis sudah mulai persiapan joged-joged tari Samba sejak seminggu yang lalu. Dan sebagai seorang connoisseur bal-balan kelas Tarkam sejati, tentu Mister Wasis tidak akan melewatkan satupun pertandingan wahid dari ajang Piala Dunia. Ajang bal-balan seantero jagad raya yang cuma muncul setengah windu sekali ini.

Wis jangan tanya lagi persiapan yang sudah dilakukan Mister Wasis. Mulai dari memberikan instruksi khusus kepada Nyai Wasis untuk menambah stok kopi dan gula, sampai menambah alokasi dana khusus non-budgeter untuk cemilan kacang kulit, kacang bawang, kacang godog dan kacang-kacangan lainnya. Wis pokoknya semua cemepak rapi sebelum gelaran Piala Dunianya dimulai.

Dus.. mendadak sontak, sore beberapa hari yang lalu, televisi kesayangan kami sekeluarga mulai berulah. Mulai dari memudarnya warna, sehingga semua tampilannya jadi tampak semu-semu biru esem. La nek nonton Mahabharata jadi lucu ini. Semua tampak seperti Kresna yang jika mengacu pada literatur aslinya adalah manusia yang berkulit kebiru-biruan. Gejala tidak mengenakkan ini mulai menggerus hati Mister Wasis yang sudah mendambakan pesta lek-lekan yang makin menjelang. La cilakanya tadi malam kok si televisi ini makin parah saja, dan akhirnya pagi ini, sepertinya si televisi ini memutuskan untuk mangkat dan moksa dengan samaptanya setelah mengabdi selama 11 tahun.

Pucetlah Mister Wasis. Maka dengan tergopoh-gopoh, menghadaplah Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini di pagi hari ketika saya sedang sarapan.

“Ndoro.. Nyuwun sak agenging pangapunten. Tapi ini ada sesuatu yang krusial dan urgent. Jadi …sesuai yang kita ketahui bersama, bahwa Piala Dunia sudah menjelang nanti subuh.”

“La terus ?” Saya masih sibuk mengunyah roti gandum panggang yang belepotan selai stroberi buatan Nyai Wasis.

“Ha televisinya sudah moksa Ndoro. Njuk acara nanti subuh ya terancam gagal. Masak iya saya kudu kemulan di pos ronda ? Ha padahal sudah cemepak semua.”

“Ha njuk kepriye maksudnya?”

“La kan televisinya sudah mangkat toh Ndoro. Gimana nek segera diagendakan saja tumbas televisi baru. Sek tipis-tipis itu loh Ndoro. Sek suara jegler-jegler biar nonton Piala Dunianya makin mantep.”

“Welah.. permintaanmu kok subversif toh Sis ? Kok njuk merongrong kondisi moneter kamu Sis.”

“Wah.. ya ngapunten sekali Ndoro. Tapi ya mosok Ndoro ndak nonton Piala Dunia nanti malam po ? Pembukaan loh Ndoro. Di Brazil loh ini kedadennya Ndoro. Ayu-ayu tur bohay-bohay mesti penari sambane.”

Hasyaahhh.. Ndak usah ngompori nek sek bab bohay-bohay begitu. Tak wadulkan ke bojomu loh. Ben dicengkiwing kowe nanti.”

“Woh.. ampun saestu Ndoro. Mbok jangan wadulan begitu. Ha nek ndak kerso nonton sek bohay-bohay, ya mosok Ndoro bakalan melewatkan ramenya kampanye Pilpres ? Mosok ya seorang guru besar njuk kalah informasi ?”

Waduh.. Touche… Nekat tenan ini si Wasis menyerang saya dengan kelemahan paling fundamental. Kebutuhan saya akan informasi memang tidak bisa tidak kudu terpenuhi. Ah semprul tenan ini Wasis.

“Wah.. semprul tenan kowe Sis. Mosok nyerangnya langsung skat mat. “

“Hasekk.. jadi.. ditumbaskan televisi baru ya Ndoro ? Wah.. maturnuwun Ndoro. Haseekk.” Mister Wasis mendadak joged samba.

“Ya wis.. nanti siang diagendakan ke Takrib. Tumbas satu yang tipis. Ben penak bolehmu nonton. Tapi syaratnya cuma satu. Saya ndak mau ada alasan ngantuk besok paginya.”

“Siap Ndoro. Sendiko dawuh!”

Saya baru melahap beberapa suapan roti gandum bakar, lhadalah kok Nyai Wasis juga menghadap.

“Ndoro Besar.. Nyuwun pangapunten. Tapi kawulo mau mengajukan revisi anggaran rumah tangga.”

“Weits. Ada apa ini kok ada revisi anggaran rumah tangga di masa reses seperti ini?”

“Nganu Ndoro.. berhubung bulan puasa sudah menjelang. Maka harga sayur mayur dan lauk termasuk iwak dan tempe sudah mulai merangkak naik. Maka, dengan sangat terpaksa, demi menjaga stabilitas tempe garit, kawulo harus mengajukan penambahan anggaran.”

“Duh.. ini barusan saja suamimu minta dana non-budgeter buat beli televisi baru. La kok sekarang ada tambahan budget lagi. Wah.. suram ini kondisi keuangan. La ini kira-kira tambahan anggarannya perlu berapa banyak ?”

Nyai Wasis mengacungkan 2 jarinya..

“20 % ?” Saya agak lega karena ternyata kenaikannya tidak terlalu banyak.

“Mboten nDoro.. Dua kali lipat maksud kawulo Ndoro.”

Mendadak saya pilu… Dompet saya terasa amat sangat tipis. Dobel kobol-kobolnya. Duh…


28
Apr 14

Demokrasi Feodalism

“Jajan pasarnya Pak Besarrr… ” Seru Yu Winah di teras rumah.

Sore hari seperti saat ini, seperti biasanya, Yu Winah mampir ke rumah menawarkan jajan pasar spesialisasinya. Dan tentu saja dengan senang hati kami di rumah kecil ini menyambut beliau. Bukan saja karena beliau membawa makanan kecil bergizi camilan sekeluarga, tapi ya karena biasanya banyak informasi berharga yang dibawa. Ibarat dunia telik sandi, dari mulut beliau ini kita sering kali mendapatkan informasi A1 yang sangat berharga.

Dan setelah menjereng jajan pasarnya di atas tenongnya seperti biasa, Yu Winah pun mulai bercerita. Tangannya masih sibuk menata jajan pasar seperti menata gelar pasukan Mahabharata. Yang jajan pasar basah dipisahkan dengan yang kering. Yang berat dipisahkan dengan yang ringan. Yang perlu finalisasi khusus juga dipisahkan agar mudah.

“Pak Besar, nek menurut kaidah perbahasaan, jan-jane istilah Pemerintah itu benar ndak toh ?” Ujug-ujug Yu Winah sudah mulai masuk ke pembahasan yang sepertinya bakalan kritis dan analitis.

“Lah memang kenapa je Yu ? Kok istilah bahasa wae dipermasalahkan.” Mister Wasis sudah menyomot sate usus kegemarannya.

“Gini loh Kang. Istilah pemerintah itu lak dari kata dasarnya perintah. Dan perintah itu lak biasane satu garis. Dari yang berkuasa, ke bawahannya. Mirip seperti titah raja nek di negara kerajaan. Padahal kita ini lak bukan negara kerajaan. Negara Demokrasi je. Lah kok kemudian disebutnya Pemerintah. Nopo ndak salah kaprah niku ?”

Jidat saya jadi berkerut-kerut. Ini kok yang disebut sebagai akar rumput dan rakyat jelata, tapi pemikirannya bisa trengginas, analitis dan kritis seperti ini ya ? Ha kalau rakyatnya saja sedemikian kritis dan analitis, kudunya wakil rakyat di gedung kura-kura hijau itu lebih kritis dan analitis toh ya ? Tapi kok rasanya rada kebalik ya dengan kenyataannya.

“Wah Yu, njenengan memang luar biasa toh. Bisa jadi dirimu benar adanya. Dalam cara Inggris, disebutnya itu Goverment, dari katanya to govern alias mengurusi. Nek mengurusi itu tentu saja beda dengan memerintah. Karena nek mengurusi kan berarti melihat dulu apa kebutuhan yang diurusi, kemudian mengupayakan bagaimana caranya supaya sek diurusi itu bisa kajen. Ya mirip dengan pelayan masyarakat betul. La nek pemerintah itu, ya seperti katamu tadi, kerjanya hanya memberikan perintah. Mirip yang terjadi di sistem kerajaan yang rajanya lalim. Feodalism kalo istilah dari Prof. Lantip sang maestro bahasa. Dan seringkali perintahnya berasal dari kekarepannya pribadi. Tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang kudunya diurusi.”

“Nah itu lah Pak Besar, saya jadi curiga. Gek-gek istilah pemerintah itu sengaja dipergunakan karena sebenarnya kita ini berada di kerajaan. Yang jadi rajanya itu Presiden. Terus bawahan-bawahannya itu jadi mantri-mantri dan seterusnya. Njuk kita sebagai rakyat ini cuma dilihat sebagai obyek yang bisa diperas dan diperintah sak karepnya mereka.” Yu Winah tampak pilu.

“Ealah Yu.. urusan bahasa wae kok jadi ribet ya? ” Mister Wasis kali ini meraih arem-arem.

“Bukan perkara bahasanya saja loh Sis. Bahasa itu lak pengungkapan maksud. La nek bahasanya salah, sek diterima juga salah. Dan karena ini sudah terjadi selama sekian puluh tahun, tidak salah kalau kemudian terjadi penanaman pemahaman yang salah. Jadi wajar nek para PNS yang kerja di pemerintah itu jadi kurang pas bolehnya melayani masyarakat. La wong mereka dipihak pemerintah, alias yang memberikan perintah, la kok sekarang disuruh melayani masyarakat. Sejak kapan penggede itu bisa melayani ?”

Mister Wasis pun manggut-manggut dengan mulut yang masih mengunyah arem-arem dengan gustonya.

“Nah itulah Pak Besar. Kira-kira enaknya diganti istilah apa ya Pemerintah ini. Supaya pas gitu loh niatnya. Sebagai pelayan masyarakat. Bukan sebagai pemberi perintah ke rakyat saja.”

“Sek ya Yu. Nanti saya bawa diskusi ini ke tahap yang lebih pas. Biar pas nanti nek saya ketemu sama guru-guru besar tata bahasa biar dibahas lagi. Ben sisan pas dan trep bolehnya disolusikannya.” Saya kini meraih selad Solo kegemaran saya.

“Nah sudah.. silakan dihitung dulu Yu. Tadi Wasis ambilnya apa saja tambahannya. Saya ambil selad Solo sama Loenpianya tiga.”

“Semuanya Tiga Puluh Lima Ribu saja Pak Besar. Termasuk sama yang sudah dicekethem sama Kang Wasis itu.”

“Heheheh.. ini buat yang di belakang kok Ndoro. Bukan buat saya. Hehehe.” Mister Wasis cengengesan.

“Ya boleh saja. Sisan ditambahi lagi biar pas Empat Puluh Ribu.” Saya ngelungke uang bayaran ke Yu Winah.

“Maturnuwun Ndoro. Aseekk.. ” Mister Wasis mengambil beberapa tusuk sate usus dan sate telur puyuh lagi.

“Maturnuwun Pak Besar sudah dilarisi. Saya pamit nggih.” Yu Winah bergegas membereskan tenongannya untuk kembali beredar.

“Saya juga maturnuwun Yu. Nanti kita ngobrol lagi ya bab Pemerintah Feodal ini. Tak bahas dulu dengan sek lebih mumpuni di bab perbahasaan.”

“Injih Pak Besar. Pareng..” Yu Winah berpamitan dan meninggalkan teras dengan wajah sedikit kelegan. Sepertinya apa yang dipikirnya beberapa hari ini sudah bisa keluar.

Semoga cerita ini bisa saya bawa ke pertemuan dengan Prof. Lantip sang maestro Bahasa. Dan semoga kita bisa menemukan istilah yang lebih pas daripada istilah yang Feodal-Feodil sekali ini.


21
Apr 14

Ontran-Ontran Indonesia

Beberapa minggu terakhir ini, Mister Wasis sedang gandrung menonton Serial Mahabharata yang diputar salah satu televisi swasta. Setiap jam 20.30 malam sudah sedakep mantep di depan televisi untuk menonton serial kegemarannya. Dan malam ini pun kejadiannya sama. Jam dinding sudah menuju 20.30, dan mister Wasis sudah mulai nyekethem remote tivi. Sambil ngembil rempeyek atau kletikan lainnya di lodhong. Memastikan ritual malamnya tidak ada yang mengganggu. Tidak pula saya. Kalau saya mau nonton yang lain, pasti bakalan ada perang dunia kecil di rumah ini.

“Kowe kok segitunya betul toh Sis bolehnya nonton Mahabharata. Lak ya kamu sudah hapal semua detail ceritanya. Wong kamu ini turunan dalang toh ?”

“Ha ya nek babakan cerita Mahabharata ya saya sudah ngelotok luar dalam lahir batin Ndoro. Tapi ya tetep tidak pernah jeleh tuh Ndoro. Tur ini tetep wangun je. Nek saya kan tahunya cuma versi Jowo. La yang versi India ini lak baru. Apik tenan loh Ndoro. Bisa mirip tenan ngono.”

“La wong lakonnya sama. Sama-sama Mahabharata kok ya. Ya wajar nek mirip toh?”

“Ya tetep ndak wajar Ndoro. Lakon yang saya tahu kan berasal dari turunan ala Jawa. Padahal Jawa sama India lak jauh toh Ndoro ? Numpak montor mabur saja berapa lama coba ? La kok ini bisa mirip tenan. Lak brati ada yang ngajari orang Jawa tentang Mahabharata sampai sedetil-detilnya toh Ndoro ? Sampai terus bisa diturunkan sampai generasi saya loh. Wangun ini..”

Touche. Gemblung tenan ini Prime Minister Kitchen Cabinet saya. Analisanya tetap saja tajam dan natural.

“Apalagi sekarang baru episode seru-serunya Ndoro. Ini baru lahirannya Kurawa dan Pandawa. Apik tenan. Penasaran sama bentukannya Duryudana sama Raden Arjuna. Ngganteng e koyo opo toh nek versi India.”

“Lah kok sek didelok malah ngganteng tur bagusnya. Tak kiro kowe kesengsem sama ceritane tok je.”

“Ha cerita itu lak makin lengkap nek aktornya ngganteng, bagus, sumeh toh Ndoro. Sek perempuannya ayu, semlohai tur kenes.”

“Hahahahah.. ya bolehlah sana. Silakan ditonton saja sampai puas.”

“Tapi ya Ndoro, yang saya gumun dengan cerita Mahabharata ini toh, mirip tenan loh sama Indonesia sekarang. Sedang babagan ontran-ontran rebutan kekuasaan. Banyak muncul resi-resi kapiran. Padahal sejatinya selicik Sangkuni.”

Ontran-ontran gimana ?”

“Ha ya rebutan kursi dan kekuasaan di Istana itu Ndoro. Mungkin karena namanya Istana Negoro ya, makane rebutannya persis seperti Mahabharata. Koyo rebutan Hastinapura gitu. Coba nek Ndoro pirsani di hasil pemilu legislatif kemarin. Lak kelihatan sejatine para pemimpin partai itu toh ? Tidak ada teman yang sejati, tidak pula ada musuh yang sejati. Sek ada ya mung kepentingan sejati. Selama kepentingannya bisa kelakon, siapa saja bisa jadi teman ataupun lawan. Banyak petinggi partai sek menjilat ludahnya sendiri. Pinter tenan le bersilat lidah. Adu domba sana-sini. Persis seperti Sangkuni sek ngglembuki Destarata sek wuto dan anak-anaknya sek kemlinthi itu.”

“La sekarang nek Indonesia kita mirip seperti Mahabharata, njuk siapa yang jadi Pandawa sek siapa sek jadi Kurawa ?”

“Nah itu serunya ontran-ontran di Indonesia Ndoro. Ndak jelas mana yang jadi Pandawa mana yang jadi Kurawa. Semuanya berpura-pura baik. Tapi semua juga main kotor. Sek jelas lakon e ya cuma satu Ndoro.”

“Sek lakon yang mana?”

“Lakon masyarakat jelata. Ha ya kita-kita ini. Sek cuma bisa nonton dagelan ontran-ontran di Istana itu.”

“Hmm.. Kok kowe makin hari makin wasis saja toh Sis ?”

“Lah.. nyak Ndoro kie. Ngece.. la wong saya cuma bisa nonton saja kok ya. Ya seperti nonton Mahabharata ini. Mung bisa nonton nDoro.. Nonton doannngg..”

Yah.. kita memang cuma bisa menonton. Mudah-mudahan kita tidak ikut menderita seperti rakyat Hastinapura sek diplekotho Kurawa ya Sis. Semoga..


24
Mar 14

Cleret Tahun Dan Pesta Demokrasi

Buat kami yang tumbuh di pedesaan pada jaman semono, tentu sering saja mendengar ada kasus cleret tahun. Kejadian maha luar biasa yang membawa petaka pada suatu daerah. Banyak yang tiba-tiba sakit parah. Bahkan saking beratnya Cleret Tahun bisa menyebabkan kematian dengan sangat cepat. Biasanya diawali dengan angin kencang yang memekakkan telinga.

Dan kini periode itu datang pula. Tak cuma di desa, tapi juga makin parah di kota-kota. Cleret tahun ini muncul dengan beraneka warna. Ada merah, hijau, biru, oranye, kuning dan lain sebagainya. Suaranya benar-benar memekakkan telinga. Dari kejauhan saja sudah terdengar kalau nggerisi ati. Banyak yang trimo tidak keluar rumah daripada harus berpapasan dengan Cleret tahun yang mbebayani ini.

Termasuk juga Yu Winah yang trimo lebih banyak ngendon di komplek perumahan dan terutama teras rumah saya, daripada berpatroli menjajakan jajan pasar seperti biasanya. Ndilalahnya memang banyak yang mborong dagangannya, jadi ya pas wis.. Tumbuk oleh tutup.

“Wah Kang.. nek wis musim kampanye seperti ini, mending saya ndak muter wis nek ndak kepepet.”

“La iya noh Yu. Wis berisik, nganggu, kadang yo malah meden-medeni barang kampanyenya.”

“La ya kayak gitu kok mau mimpin negoro ya Kang ? Lak yo mung dadi geguyu pitik toh ? La wong pas saatnya mencari simpati rakyat tapi malah mendapat sebalnya rakyat, kuwi lak salah kaprah toh ? Dan diulang terus je. Opo ndak gendeng namanya ?”

“La ya memang gendeng Yu. Mister Ainstain, wong sek pinter banget kae nek jarene Ndoro Besar, pernah ngendiko, gendeng namanya nek mengharapkan sesuatu yang berbeda jika dilakukan dengan cara yang sama. La cara kampanye yang sama kok pengen mendapat simpati rakyat. Lak ya cen gendeng namanya ?”

“Betul kuwi Kang. Saya ya nggumun tenan. Mereka ini kan lak ya pengen dianggap layak sebagai calon pemimpin negara yo ? La tapi ngurusi konstituennya saja sek cuma sedikit itu saja ndak mampu, la kok pengen bisa memimpin negara sek orangnya lebih banyak tur kekarepan e luwih macem-macem.

“Sedang demam sepertinya kok Yu. Demam Rumongso Biso.”

Rumongso Biso itu memang penyakitnya penggede-penggede ya Kang. Nek kita-kita sek kawulo alit ini memang harus lebih pintar untuk Biso Rumongso. Tahu sikon, situasi dan kondisi. Mana yang pantas dan trap, mana yang tidak pantas dan sebaiknya dihindari.”

“Eh Kang, Ndoro Besar ikutan jadi caleg ndak ?”

“Ealah Yu.. Ndoro Besar itu lak ndak punya duit. Gimana mau nyaleg. La wong nek ada sek minta sumbangan kecil-kecilan saja sering kecut pulangnya. Soale cuma disangunoni sewu.. nuwun sewu maksudnya..”

Ealah.. sontoloyo juga ini Mister Wasis. Mbuka wadi..

“Hahahah.. malah bener kuwi Kang. Ndoromu itu bener malahan toh ? Biso rumongso. Nek ndak punya duit ya ndak usah memaksakan diri ikutan sek beginian. Wong ini gaweannya wong turah-turah duit. Mbangane edan nek ora keduman kursi. Kecuali nek ada sponsor ya ?”

“La sek arep sponsor kie ya mesti mikir-mikir nek mau nyeponsori Ndoro Besar. La wong senengane cuma reriungan di rumah. Ndak suka luntang-luntung nyari proyek. Proyek yang digarap saja palingan cuma proyek opo toh Yu.. Proyek bareng mahasiswa dan teman-temannya itu.. Sek ndak ada duite itu.”

“Wooo.. sembarangan tenan kowe Sis. Proyekku ya ada duitnya loh.” Gemes juga saya mendengar Mister Wasis daritadi kok ngece saya.

“Ealah.. Ndoro denger toh.. hihihihi. Tapi opo iyo toh Ndoro ? Mosok proyek e Ndoro ada duitnya ? La iku kok mobil Kijang Komandonya masih betah saja di garasi. Padahal sekarang sudah jamannya Innova atau Livina.”

“Wooo.. Duitnya proyekku memang ndak bisa sampai bikin beli Innova atau Livina. Tapi bisa bikin aku plesiran kemana-mana.” Saya ya ndak mau kalah.

“Hahahah.. Ndoro ngeles wae.” Mister Wasis menang angin.

“Ah.. kowe sontoloyo tenan Sis.”

Yu Winah jadi ikutan ngecek mendengar keributan kecil di sore ini.


21
Jan 14

Golmut.. Golongan Mutung

Sore-sore di teras yang sedang gerimis seperti cuaca akhir-akhir ini memang asyik masyuknya sambil menikmati kopi hangat ples kudapan ringan ala priyayi. Selat Solo yang kemrenyes kripik kentangnya makin endes ketika ketemu asemnya acar mentimun. Kuah mlekohnya tentu makin mak legender ketika telur pindangnya pas kena kuning telur. Aahh.. nikmat..

Saya masih sibuk menikmati selat Solo yang marem ini ketika Yu Winah dan Mister Wasis sibuk berpadu di teras. Berpadu maksudnya saling padu.. Memadu padankan pendapat tepatnya.

Suara ribut mereka jadi menarik perhatian saya yang kebetulan sudah habis satu ronde selat Solo. Sambil membawa cangkir kopi Arabica Merapi, saya jadi pengen ikutan menimbrung perpaduan mereka berdua. Dengan berjingkat-jingkat saya ke teras depan. Supaya tidak mengagetkan keseruan perpaduan mereka.

“Lagi banjir seperti ini dimana-mana yo Kang.. La kok malah ada caleg sek ndak punya hati malah kampanye di bantuan buat pengungsi banjir.” Yu Winah tampak gemas sekali.

“Wedian tenan memang caleg-caleg sekarang ya Yu. Kok ya ndak punya etika yo ? Wong lagi pada susah kok ya dijejeli kampanye.” Mister Wasis dengan semangatnya mengompori.

“Ho oh Kang. Kampanye itu malah seperti pagebluk sekarang. Datang ramai-ramai, ribut sekali dengan atribut macem-macem tur warna warni, eh bukannya membawa kesejahteraan, malah mbawa sawan. Membawa mangkel saja di hati.” Yu Winah meracau.

“Betul sekali! Nek jaman dulu itu pagebluk marahi anak-anak jadi kena demam. Sek tua-tua jadi was-was. Ha sekarang nek pas kampanye itu ya sama saja. Semua kok sepertinya sudah demam panas dingin kalau lihat caleg mau kampanye. Pengennya gek ndang rampung saja acaranya. Nek perlu disawat sendal saja biar gelis rampungnya.”

“Hus.. kalian berdua ini loh. Wong orang sedang berusaha mencari simpati kok malah disawat sandal.” Saya ngekek dengan brutalisme Mister Wasis. Jika tidak distop imajinasinya sekarang, bisa-bisa beneran nyawat sandal ke calon legislatif yang akan kampanye dalam waktu dekat ini.

“La menyebalkan betul je Ndoro. Nyari simpati kok malah menyebabkan antipati. Apa ndak salah strategi atau memang waton saja strateginya ?”

“Betul itu Pak Besar. Nek caranya para caleg itu nyari simpatinya seperti sekarang, ha ya mesti ditinggal konstituennya betul. Wis jeleh je kami ini dijanjeni macem-macem tur mung nggedebus. Besok kalau sudah duduk di kursi dewan lak mung memperkaya diri. Wis males le niteni pokoknya Pak Besar.”

“Ha terus kalian maunya gimana ?”

“Ha ya kami berdua tadi sepakat. Pokoknya besok pas Pemilu mau Golput. Tidak mau nyoblos blas. Sudah males sama acara Pemilu-pemilunan?”

“Golput atau golmut ?”

“Golmut itu apa Ndoro ? Kok saya belum pernah dengar ?” Mister Wasis kukur-kukur kepala.

“Golmut itu Golongan Mutung. Ha ya seperti kalian berdua itu. Mutung ndak mau milih.”

“Ha ya gimana lagi Pak Besar ? La wong para caleg itu ya mung rajanya tega je. Sudah dipilih bener-bener la kok malah ngapusi rakyat kecil. Korupsi gede-gedean sisan. Tur sek dikorupsi itu duit negara, duitnya kami-kami sek kecil ini. ” Yu Winah tampak geram betul.

“Ha ya bener.. memang banyak caleg yang ndableg sekarang. Ha tapi bukan begitu caranya. Ha kok njuk Golmut.. Nek banyak seperti kalian yang Golmut, ya yang menang yang suka korup-korup itu lagi. Nek duit negara dikorup, ha yang susah lak kalian-kalian juga. Kita-kita juga. Coba bayangkan.. Nek duit buat mbangun jembatan itu dikorupsi. Terus jadinya jembatannya kurang pas. Malah membahayakan yang lewat di atasnya. Trus ambles. Nek sek pas lewat di jembatan itu anakmu atau keluargamu gimana ? Lak sek cilaka kita semua ?”

“Wah.. ya jangan si Thole yang kena toh Ndoro. Wong anak saya ndak ada salah apa-apa je. Kok malah melu kena amblesnya jembatan.” Mister Wasis pucat pasi..

“Ha itu contohnya. Nek tidak memilih pas pemilu besok, sudah bisa dipastikan sek menang ya mereka-mereka lagi. Yang suka korupsi-korupsi itu lagi.”

“La terus pripun bagusnya Pak Besar ?”

“Gini saja. Mulai sekarang, titenono saja. Itu berita-berita lak banyak yang beredar. Bacalah koran sebanyak-banyaknya. Titeni daftar caleg yang ada. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Sek jelas-jelas track recordnya jelek, langsung saja hapus dari daftar calegmu. Sebarkan beritanya kalau mereka itu punya track record jelek. Ngobrolah dengan banyak orang supaya banyak yang tahu kalau itu caleg yang jelek. Bagi-bagi informasi lah. Ha seperti sek di tivi kemarin itu. Ada caleg sek bintang film panas tapi sekarang krukupan. Dikiranya lak masyarakat tidak menyadari. Padahal ya sadar betul toh ? Ha sek seperti itu titenono.

“Ha tapi sekarang banyak yang sok suci je nek pas kampanye itu Ndoro ..”

“La kan modalmu ngobrol dengan banyak orang. Banyak orang itu berarti banyak informasi. Cari informasi yang benar dan utuh. Pilih caleg yang nggenah. Biar aman urip kita semua besok. Sudah cukup je menderita selama 10 tahun di pemerintahan yang kurang nggenah seperti sekarang. Iya toh ? Lak ya kamu semua pengen makmur juga toh ?”

“Ha ya jelas toh Pak Besar. Pengen bisa makmur juga lah. Minimal kayak jaman dulu itu. Pas jaman Mbah Harto. Semua-semuanya murah. Bisa dijangkau harganya. Ndak seperti sekarang.”

“Ha ya nek gitu, mulai cari informasi caleg-caleg bosok saja. Terus berbagi ceritalah. Ben kita bisa memasukkan caleg-caleg bagus ke DPR dan MPR besok pas Pemilu. Biar caleg-caleg bagus itu yang jadi tentara anti korupsi anti ngapusi kita. Ha rak begitu toh ?”

“Wah iya ya.. Tadinya saya pikir mending mutung saja je. Jebul nek mutung kie ya ndak pas juga ya?”

“Ha ya jelas. Nek kita mutung, sek remuk ya kita sendiri je.”

Saya masuk ke dalam lagi sambil kini membawa satu porsi selat Solo lagi. Orasi sebentar saja sudah membuat perut saya minta tanduk. Ealah.. mbul..gembul..

 

 

 


18
Dec 13

Tulus dan Nothing To Loose bagai Wedhus

Pagi-pagi saya sudah mendengar keributan kecil di kitchet cabinet saya. Ternyata Nyai Wasis sedang menginterogasi suaminya yang duduk ndepis di pojokan dapur. Bagai seorang terdakwa yang terancam hukuman berat, Mister Wasis cuma bisa menunduk pasrah menghadapi interogasi istrinya itu. Terkadang, yang namanya wanita itu lebih galak dibandingkan Jaksa jebulnya.

Pripun toh Pakne. Ituloh mbok Mas Narto ditagih utangnya. Sudah 3 bulan loh belum disaur.”

La piye Bune ? Aku ya ndak penak je. La wong kayaknya Mas Narto masih belum bisa mbayar je ? La nek tak parani itu masih sering sambat nek kerjaannya belum dapat yang nggenah dan bisa menghidupi.”

“La tapi kan kita ya perlu buat mbayari sekolahnya Thole toh Pakne ?”

“Ha ya nanti sore tak coba ke rumahnya lagi wis ya ? Wis..wis.. saya tak mbuatke kopi dulu buat Ndoro.”

Tenan loh Pakne. Nanti sore ditagih loh.”

“Iyoh.. Nanti tak tagihke ke Mas Narto.”

Ketika kemudian Mister Wasis datang membawakan jatah kopi pagi saya, saya masih melihat wajahnya yang njaprut seperti Nasi kucing yang kehilangan karetnya. Ambyar.. Ethok-ethoknya saya ndak reti apa yang tadi saya dengar di dapur.

“Knapa je Sis ? Kok isuk-isuk wis njegadut ?”

“Hehehehe.. Biyasa Ndoro.. Kebutuhan domestik yang mendesak.”

“Perlu buat apa je ?

“Ya biasa kok Ndoro. Buat mbayar sekolahnya Thole. Cuma masalahnya duit saya itu baru dipinjam sama Mas Narto pojokan pertigaan itu. Mau nagih kok belum tega.”

“La memang menagih hutang itu cen urusan yang rodo berat je Sis. Nek ndak mau nagih, ya sebaiknya tidak memberikan hutang.”

“La nek diminta minjemi sama temen ya masak ndak ngasih toh Ndoro ?”

“Ha ya nek gitu diikhlaskan saja. Diberikan buat temenmu itu. Lak penak toh ? Njuk kamu ndak perlu nagih.”

“Lah.. maunya juga begitu Ndoro. Ha tapi nanti urusan bayarannya Thole pripun ?”

“La ya nek itu memang kudu gantian dipikir lagi. Heheheh..”

“Wah.. Ndoro ini loh. Malah tambah mumet saya mikirnya jadinya.” Mister Wasis makin mbesengut saja. Saya ngekek.

“Hahahahha.. ngono wae nesu. Dah..dah.. urusane Thole biar tak bantu. Sek penting urusanmu sama Mas Narto itu. Piye ? Bisa tulus ndak ?

“Waduh.. tenane ini Ndoro ? Duh… maturnuwun sanged Ndoro.. Ngalkamdulillah..

“Urusan Thole ini perlu didahulukan karena menyangkut masa depan putra bangsa. Tapi yang ndak kalah penting adalah urusanmu sama Mas Narto itu. “

“Wah.. nek bab tulus ndak tulus kok berat ya buat saya Ndoro ? Urusan hutang je.”

“Memang susah nek digondeli. Nek mau gampang kie kowe kudu koyo wedhus.”

“Loh kok jadi seperti wedhus toh Ndoro ? Apa saya disuruh maem suket gitu ?”

“Haduh.. Kok malah mangan suket kie piye ? Maksud saya, nek kowe mau belajar tulus, belajarlah sama Wedhus. Wedhus itu lak mau diperes susunya, mau diambil bulunya lak tulus-tulus saja.

Ha ya karang susu itu bakalan keluar lagi. Bulu juga bakalan tumbuh lagi. Pantes mawon nek tulus.

“La memangnya rejekimu bakalan habis tamat po ? Seperti ndak bakalan kebagian jatah lagi dari Gusti Pangeran ? Lak ya sama toh perkaranya rejekimu sama bulunya wedhus ?”

“Eh iya juga ya Ndoro ?”

La terus apa sek marakne anyel nek begitu ?”

“Ha ya jan-jane ndak ada ya Ndoro ?”

“Makane itu.. La wong bagiannya Thole bulan ini sudah saya akuisisi. Apa masih angel po sekarang nang atimu ?”

Masih je Ndoro.”

“Walah.. kok ngeyel banget toh kowe Sis ?”

“Hehehe.. kan ya ngendikane Ndoro suruh sinau dari wedhus. Wedhus lak ya ngeyelan Ndoro. Nek pas disuruh mandi. Hehehe..”

“Woooo .. wedhus gembus kamu Sis.”

“Hehehe.. Tapi serius niki Ndoro. Kok ati saya masih angel ya mau tulus seperti Wedhus ngendikane Ndoro itu. Padahal ya sudah selesai urusane Thole.”

Ha ya embuh.. Nek itu kowe sek reti perkarane.”

Mister Wasis kukur-kukur kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya berpikir keras sekali. Sesekali keringatnya menetes keluar. Semoga tetesan keringatnya itu bisa membantunya mendapatkan inspirasi yang bener.

PS : Ide ini saya dapat dari status FBnya mas Dwi. Nuwun ya Mas.


12
Dec 13

The Privilege of Selo

Ujug-ujug bulan Desember sudah tiba. La kok semua mendadak jadi terasa sangat cepat berjalan. Padahal baru saja sepertinya saya menikmati New Year Party di Hotel Ambarrukmo. Sambil beranjangsana-beranjangsini, wedang di tangan kiri, tangan kanan tak lupa mencomot canape-canape yang rasanya mak legender enaknya. Rumangsa saya, baru saja selesai acaranya, la kok ujug-ujug sudah mau perayaan Tahun Baru lagi ? Hedeleh.. kepiye iki.

“Ndoro, mau tahun barunan dimana kali ini ? Ke Hotel Ambarrukmo lagi nopo ?”

“Hmmm…” saya menghela napas panjang. “Aku kok rasane malah kurang penak ya arep pesta-pesta lagi. Pengen di rumah saja je Sis.”

“Loh kok tumben toh Ndoro ? Pripun je ? Mosok ya Ndoro cuma di rumah saja. Trimo nonton kembang api dari tipi sama nyebul terompet kertas tok ? Kok ketoknya ndak Ndoro sekali gitu ?” Mister Wasis terheran-heran melihat saya agak kurang gusto menyambut tahun baru kali ini.

“Gini loh sebabnya. Nek tak rasa-rasakan kok sepertinya waktu terlalu cepat berlalu ya. La wong rasanya baru kemarin je saya itu cipika-cipiki di Hotel Ambarrukmo sambil maem kuwih-kuwih enak itu. La kok sekarang sudah mau tahun barunan lagi. Saya kok jadi seperti ditlindes sama waktu saking cepetnya.”

“Owalah Ndoro..ndoro. Kayak gitu kok malah getun toh ? Nek waktu terasa cepat berlalu itu lak brati Ndoro memang banyak kegiatan. Artinya sebagai menungso lak ya berguna gitu ? La wong Ndoro juga blabar-blebernya bukan dolan je. La wong ngajar toh ?”

“Coba nek koyo sek masih nganggur itu. Lak yo waktu itu seperti terlalu lama berputarnya. Karang ndak ada kerjaan je Ndoro. Kerjaan saja ndak ada, apalagi migunani sesama.”

“Ha ya Ngalhamdulillah nek masih bisa berguna sebagai manusia. Memang hidup itu lak wang sinawang ya ? Saya pengen rasanya sekali-kali merasakan hidup yang selo. Selo kie menjadi sebuah kemewahan je. Bisa leyeh-leyeh seharian ndak diganggu kerjaan. Ndak harus mikir apa-apa. Lak ya penak toh ?”

“Wahahahaha.. Ndoro kie aeng-aeng wae.”

Aeng-aeng gimana je. Lak ya leyeh-leyeh itu sesuatu yang wajar toh ?”

“La ya wajar nek buat orang seperti saya. La nek buat Ndoro ya ndak wajar.”

“Heleh. Kowe kok waton toh ? Mosok leyeh-leyeh ndak wajar buat saya ? Kepriye kuwi ukurane ? “

“La Ndoro kan memang tidak pernah diem. Jal nek sampai selo sebentar, mesti sudah grusak-grusuk nggarap opo gitu. Wong pas kapan itu saja Ndoro nginep di Panti Rapih, bisa-bisanya minta dibawakan kerjaan kampus ke rumah sakit kok. Padahal ya itu wis kon leren loh. Wis di kon selo tenan sampai diharuskan Gusti Pangeran supaya mondok di Panti Rapih. La kok tetep saja nekat nggarap kerjaan kampus. Mahasiswa yang mau bimbingan saja masih dilayani di rumah sakit. La kok sekarang malah minta leyeh-leyeh. Lak yo aeng-aeng wae toh namanya ?”

“Hahahaha.. kowe kok ya reti tenan toh Sis.” Dies.. tepat sekali omongan Mister Wasis kali ini.

“Ha emang dikiranya saya ngancani Ndoro baru sebulan dua bulan po ? Wis apal saya sama njenengan Ndoro. Wis kasep.”

“Hahahaha.. kowe cen luar biasa tenan kok Sis. Eh la nek kowe mau kemana tahun baru besok ?”

“Ha ya jan-jane tadinya mau ngajaki Ibune Thole ke alun-alun Ndoro. Nonton sekaten. Sisan nonton kembang api. Mesti sae tenan niku nek kembang api di Alun-alun. Tapi ya nek Ndoro mau di rumah saja, ya saya manut ngancani Ndoro saja di rumah.”

“Walah, ndak begitu kok. Saya mau ngomah di Jakarta saja. Tahun Barunan bareng Ibu dan anak-anak. Reriungan saja di rumah. Paling mentok-mentoke ya dolan ke Monas atau ke Ancol saja. Nonton kembang api. Kowe wis tenang saja. Nontonlah ke Alun-alun. Ndelok donya ya ? Ning jangan lupa dikancingi dulu semuanya sebelum pergi.”

“Wah… maturnuwun sanget Ndoro. Sendiko dawuh. Nanti saya kancingi dulu semuanya sebelum pergi. Tak titipkan juga ke Satpam depan supaya dipatrolikan.”

“Syep itu.”

“Oh ya Ndoro. Ini sudah sore. Kira-kira ngersani mau maem apa buat nanti malam ?”

“Oh.. jan-jane aku kok kelingan pengen maem Garang Asem ya Sis ?”

“Garang Asem Kotabaru pripun Ndoro ? Eco toh ?”

“Ya lumayan lah nggo tombo kepingin. Nek eco-econan ya gagrak Kotabaru itu masih 1 setrip dibawah Garang Asem Purwodadi je.”

“La ya ndak pas nek dibandingkan toh Ndoro.  Saya tak mancal sekarang ya Ndoro. Selak habis nanti swiwinya.”

Good…good… Ya wis sana. Ati-ati ya ?”

Sendiko dawuh Ndoro.”

Mister Wasis segera pergi ke belakang sebentar. Tak lama kemudian terdengar suaranya menyetarter motor Pitung yang kemudian meluncur ke bilangan Kotabaru.

Teringat akan rencana saya untuk tahun baruan di rumah Jakarta, saya jadi teringat pula kalau harus segera memesan tiket. Saya angkat telepon untuk menghubungi travel agent langganan.

“Halo Mas Jun. Tolong tiket Garuda ke Jakarta ya ? Tanggal 29 atau 30 Desember besok. Sek masih murah saja ya ? Jamnya saya manut. Sekalian di kirim ke email tiketnya ya ? Yes untuk satu orang. Saya sendiri saja. Maturnuwun…

Ngalhamdulillah masih dapat tiket.. semoga selo bisa menjadi privilege saya sebentar di akhir tahun ini. Jakarta here I come.. again.


30
Oct 13

Kelirumitologi

Pagi-pagi Mister Wasis sudah ndeprok di depan kursi malas. Saya yang baru membuka koran pagi ya njuk melipat dulu korannya dan menunda ritual sarapan pagi saya.

“Piye Sis ? Ada keperluan apa ?” Koran yang saya lipat saya keleki dulu.

Mister Wasis mengatupkan kedua tangan sambil sendiko. Lagaknya seperti abdi dalem Kraton yang mau matur. “Ndoro.. Nyuwun panganpunten.. Besok Minggu saya pamit keluar sebentar.. Mau kondangan di tetangga..”

“Hayah gayamu Sis. Sek biasa wae lah. Ha ya nek bab itu ya silakan. Nek tetangga kie brati bakalane ngidul adoh sana ? Mau naik apa ? Nek numpak pitungmu itu apa ndak malah protol di jalan ?”

“Untungnya cuma di Jalan Parangtritis situ mawon Ndoro. Ndak terlalu jauh. Pitungnya masih wutuh kalau cuma sampai Jalan Parangtritis sih.” Mister Wasis nyengir pasrah.

“Ha ya sudah nek gitu. Soale saya juga mau kondangan besok Minggu. Jadi Commandonya tak bawa dulu.”

“Woh jebul Ndoro juga jagongan toh ? Woh.. memang lagi musim kondangan kok ya ? Karang wis arep Suro sih ya Ndoro. Jadi ya banyak sek mantenan pas bulan ini.”

“La memang nek sasi Suro kenapa je ?” Saya etok-etoknya belum tahu.

“Heyeh.. Ndoro kie sok etok-etok ndak reti. Ngapusi tenan nek Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM sek magrong-magrong kondang kawentar-wentar kok ndak tahu nek sasi Suro itu dilarang bikin kawinan. Mengko tibo cidro nek kata simbah-simbah saya. Bisa ndak langgeng keluarga yang menikah pada sasi Suro itu. Heyeh.. Ndoro nggarapi saya ik.”

“Heheheh.. ya ndak yo. Saya cuma pengen tahu saja. Jan-jane kowe percoyo ndak toh sek bab begituan ?”

“Ha ya percaya ndak percaya Ndoro. Tapi ya saya manut saja sama kersane Kraton. La wong sek ngelarang itu lak asline dari Kraton toh ? Ha ya ini kan babakan ngabekti saya sama adat Ngayogyakarta Hadiningrat.”

“Woh.. Kersane Kraton bagaimana ? “

“Heyeh.. Ndoro ngejak suloyo tenan nek ini. Mosok ndak tahu toh nek Suro itu bulannya Kraton sek kawinan ? Jadi karena Suro itu memang sasi yang bagus untuk kawinan, jadi Kraton pengen supaya bisa konsentrasi mbikin acara di sasi Suro itu. Supaya masyarakatnya bisa nyengkuyung acara Kraton, jadi kemudian diharapkan supaya masyarakat Ngayogyakarta ndak bikin acara kawinan pas sasi Suro. Lah kok sek malah diterimanya sama masyarakat kok seolah-olah nek sasi Suro itu pamali buat bikin kawinan.”

Woh.. kowe kok bisa dapat informasi sedetail itu ? Ampuh juga kowe Sis.”

“Ha ya saya dapetnya juga dari ngobrol-ngobrol dengan Pak Atmo sek lurahe Abdi Dalem itu loh Ndoro.”

“Owalah.. pantesan kowe kok bolehnya sangat wasis bab ini. Jebul dapet petuah dari orang dalam toh.” Saya manggut-manggut

“Hehehe.. Nek sek bab Candi Prambanan itu saya juga dapatnya dari temen saya sek jadi guide.”

“Ada apa je dengan Prambanan ?”

“Ha ya itu Ndoro. Mitos nek ndak boleh pacaran di Prambanan. Nek pacaran di Prambanan nanti malah pegatan.”

“Owalah.. mitos sek itu toh. Emang boleh po pacaran di Prambanan ?”

“Ha ya tetep ndak boleh Ndoro. Makanya kemudian ada mitos seperti itu. Prambanan itu lak tempat sembahyangnya saudara-saudara kita umat Hindu. Ndak ilok nek pacaran di tempat orang sembahyang. Makane dibuat mitos seperti itu. Ben ndak pacaran di Prambanan. Jan-jane ya mung ben ora do kurang ajar sih. Mosok yang-yangan nang nggon wong sembahyang. Ya toh Ndoro ?”

“Hehehe.. jebul wasismu boleh juga.”

“Nama saya kan memang wasis Ndoro ? Walaupun wasis bolehnya kulakan. Hehehehe..”

“Tapi memang banyak kok mitos-mitos di negara kita itu sek sengaja di buat. Semata-mata agar lebih pas dan mat bolehnya bermasyarakat.”

“Iya ya Ndoro .. Saya juga baru tahu beberapa. Ning sepertinya memang banyak kelirumitologi yang sengaja dibentuk.”

“Keliru opo ?”

“Kelirumitologi Ndoro. Mitos yang keliru tapi sudah dianggap umum di masyarakat kita.”

“Woh.. kosakata opo kuwi kok saya belum pernah denger ? Kelirumitologi ? ” Saya kukur-kukur kepala yang tidak gatel karena bingung dengan istilah barunya Mister Wasis ini.

“Hehehe.. saya ya mung ngarang kok Ndoro. Kulakan dari Kelirumologinya Pak Jaya Suprana sek kondang itu.”

“Ckckckc.. kowe kok sangsoyo kreatif saiki ?”

“La wong Ndoro saya Guru Besar UGM sek magrong-magrong kondang kawentar-wentar je. Gimana saya ndak nambah kreatif coba ?”

“Hush.. yo ora ngono.” Tapi hidung saya ndak bisa bohong. Tetap mengembang plendas-plendus..

“Hehehe.. ajeng sarapan nopo Ndoro ? Ibune sudah masak soto. Soalnya ini hari Rabo. Jadinya ya Rabo Soto. Kerso ?”

“Ha ya jelas. Wis mari sarapan dulu. Kopinya jangan lupa ya ?”

“Injih Ndoro. Toraja Kalosi pripun ? Eco toh ?”

Eco.. cocik pokoke.

Sendiko dawuh Ndoro… Monggo..”

Maka sayapun menuju meja makan. Dimana sotonya sudah kemepul di atas meja makan. Uborampenya boleh lengkap. Soun, cambah kecil, jeruk nipis, lenthok telo, suwiran ayam kampung dan kerupuk putih. Bersyukur betul saya pagi ini dikaruniai sarapan yang luar biasa sedapnya. Juga dikaruniai seorang Prime Minister Kitchen Cabinet yang luar biasa cerdas dan wasis seperti Mister Wasis. Sekalipun hanya lulusan SMA, tapi wasisnya boleh patoet dipoedjikan. Excelent. Ngalkamdulillah..

 

Notes : Tulisan ini terinspirasi dari obrolan ringan dengan @Tey_Saja & @Jay_Afrisando


24
Oct 13

Gusti Pangeran di Kamar Mandi

Pagi-pagi habis mandi memang menyegarkan. Nek badan sedang seger seperti ini ya tentu saja enaknya sambil ngopi. Kebetulan di meja sudah ada kopi dari Sindoro yang barusan diseduhkan Mister Wasis. Wangi kopi yang habis digerus lalu diseduh ala French Press itu memang bikin melayang-layang. Wuenak tenan…

Saya masih handukan mengeringkan rambut yang baru saja saya keramas sambil menyeruput kopi. La kok anak mata saya menemukan Mister Wasis baru ngalamun di teras belakang. Tangannya masih memegang sapu lidi. Saya lalu dekati dan jejeri Mister Wasis.

“Hayo.. ngopo kowe ? Kok malah ndak nyapu ? Mikir kemproh yo ? Isih isuk kok wis kemproh kie loh.”

“Halah Ndoro.. Ndak mikir kemproh loh ya. Ini baru mikir serius tenan.” Wajah Mister Wasis tampak berpikir betul.

Weleh…weleh.. ngopo je isuk-isuk kok wis mikir abot koyo mikir negoro wae. Isuk-isuk kie enake ngomong sek enteng-enteng wae.  Karo sarapan roti. Pemanasan sek. Mikir abote nanti pas jam kantor wae.”

“Hahaha.. Ndoro kie ono-ono wae. Mikir abot kok ya dibatesi jam kantor. Koyo pegawai kantoran mawon. Etapi saya baru mikir serius tenan loh Ndoro. Serius banget malah. Ning kok ya belum ketemu jawabannya. Makin dipikir malah sangsoyo mumet.

“Mikir opo toh kowe ?” Saya mengambil posisi penak di kursi malas sambil nyeruput kopi. Handuk yang masih basah saya sampirkan di leher.

“Nganu Ndoro.. Nek di kamar mandi itu ada Gusti Pangeran ndak ya ?”

“Horotoyoh!!” Saya terkaget-kaget mendengar pertanyaan Mister Wasis yang super ajaib kali ini. Saya sampai terbangun dari posisi leyeh-leyeh dan jadi menegakkan badan. Untung saja ndak keselek kopi.

“Ha piye toh ? Kok pitakonanmu kie ya ajaib tenan. Iki mesti ono opo-opo ? Ono opo hayo ?

Mboten onten nopo-nopo kok Ndoro. Saya cuma kepikiran saja. Soale.. nek pas nongkrong pagi-pagi itu, sok kadang kepikiran macem-macem. Ndak jarang pula njuk malah kelingan Gusti Pangeran. Tentang pangestuNya. Tentang alam semesta. Tentang berkahNya. Tentang Maha KuwosoNya. Ya macem-macem tentang Gusti Pangeran wis Ndoro. Padahal ya posisinya baru jongkok gitu. Ha nek seperti itu, itu ilhamnya dari mana ? Mosok ya dari setan ? La wong malah dadi insap je Ndoro…

“Heemmm… Bisa jadi bener juga kowe Sis. Heheheh… Wasismu lagi kumat yo ? Tapi pertanyaanmu memang berbobot bener. Pertanyaan apakah Gusti Pangeran ada ndak ya di kamar mandi itu pertanyaan yang mendasar. Tapi ya nek menurut saya, lak ya Gusti Pangeran itu Maha Besar. Ha wong alam semesta sek ciptaanNya saja gedene sak hohah loh. Guedenya alam semesta itu lak belum terukur. Bumi saja ndak ada apa-apane nek dibandingkan sama alam semesta. Ha nek cuma sebesar kamar mandimu yang ukurannya cuma segitu saja ya mestine tetep masuk ke dalam lingkup kekuasaanNya. Ndak ono sak upil kuwi sek jenenge wilayah kamar mandimu dibandingkan luasnya wilayah kekuasaanNya toh ?”

“Tapi la rak ya jan-jane saru ya Ndoro ? Kelingan Gusti Pangeran kok pas ndodok.”

La nek namane menungso itu kan memang pikirannya selalu muter. Selalu mikir. Nek ora mikir malah koyo wong mati. Ha nek kowe malah iso mikir tentang Kuwosonya Gusti Pangeran, ha ya itu lak malah apik banget. Ning cuma boleh sebatas mikir tok. Nek corone kyai-kyai ngendiko itu, ya cuma boleh dzikir qalbi. Dzikir dalam hati. Nek wis nyebut namanya Gusti Pangeran.. naa itu baru ndak boleh.”

Nek itu memang bab tata cara dan kesopanan ya Ndoro ?”

“Ho oh. Wis kono gek ndang dirampungke le nyapu. Wis rodo awan iki. Mengko selak panas loh.”

Sendiko dawuh Ndoro. Ndoro sudah mau berangkat ke kampus nopo ?”

Ha iyes. Pagi ini pas ono janjian sama Pak Rektor je.”

Ngaturaken sugeng nyambut damel lan makaryo nggih Ndoro.”

“Syep.. Wis kono gek ndang disapu latare.”

Mister Wasis pun mulai menyapu teras belakang pelan-pelan. Sepertinya pembicaraan tadi belum cukup buatnya. Ha ya gini ini nek punya Prime Minister Kitchen Cabinet yang terlalu pinter dan wasis. Hedehh…


22
Oct 13

Pawiwahan Ageng

Beberapa hari ini Yogyakarta sedang sibuk sekali sepertinya mempersiapkan kedatangan tamu Pawiwahan Ageng Kraton Ngayogyakarta. Ingkang Sinuhun Sri Sultan HB X sedang punya gawe untuk menikahkan anaknya yang nomer empat, GKR. Hayu. Banyak patroli polisi wira-wiri di seputaran Kraton. Voorijder banyak yang sudah siap sedia mengawal tamu-tamu negara yang konon informasinya bakalan datang beribu-ribu orang. Sebuah momen yang amat sangat khusus wal spesial sepertinya. La ndilalahnya kok ya saya juga mendapat berkah untuk bisa ikut dalam acara resepsi Pawiwahan Ageng besok siang. Ngalhamdulillah…

Maka, Bu Alit pun segera saya panggil pulang ke Yogyakarta untuk ikut menemani saya ke acara yang bakalan sangat magrong-magrong dan sakral ini.

—————————————————

Bu Alit sedang repot di kamar membongkar-bongkar koleksi kain dan kebaya yang pas untuk dipakai di acara resepsi Pawiwahan Ageng Sri Sultan HB X. Semua koleksi kain dan kebaya dikeluarkan. Disawang-sawang.. dipas-paskan. Mana yang paling pas untuk acara besok siang. Memang untuk bagian mengepas-paskan sandangan dalam acara-acara khusus seperti ini, saya cuma bisa bergantung pada seleranya Bu Alit supaya nampak selaras dan sarimbit.

“Bapak besok mau pakai baju yang mana ? Tenun Troso atau pakai batik Mas Iwan Tirta mawon ?” Bu Alit menanyakan dari ruang kamar.

“Sepertinya lebih pas nek pakai batiknya mas Iwan saja ya Bu ? ” Saya menyahut dari kursi malas kegemaran saya. Memang sore itu saya sedang leyeh-leyeh nglaras rasa setelah seharian digempur kerjaan di kampus. Sore hari adalah saatnya menyelaraskan antara nafas dan hati supaya tetap dalam kondisi mat dan selaras.

“Oh baiklah..”

Bu Alit kemudian masih sibuk mencari asesoris yang pas buat menemani kebaya encimnya Anne Avantie, tentu saja supaya bisa menemani baju batiknya mas Iwan Tirta. Menyandingkan kain batik seorang maestro sekelas Almarhum Iwan Tirta dengan kebaya Anne Avantie plus asesorisnya tentu jadi PR sendiri. Ndak bisa sembarangan toh ? Kain ini saya peroleh sekitar 5 tahun yang lalu ketika bareng dengan Mas Iwan ke Eropa. Walaupun sudah 5 tahun, tapi batik ini jumlah keluarnya sepertinya jauh dibawah bilangan tahunnya alias jarang dipakai.

Sore itu kondisi teras rumah juga sedang ramai karena Yu Winah pun sedang saya panggil menyetori jajan pasar kesenengan saya, Loenpia dan selat Solo. Sudah lama bolehnya Yu Winah tidak mampir ke rumah. Ya ndilalahnya juga pas beberapa waktu yang lalu saya juga pas ndak dirumah. Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah pun lesehan di teras depan sambil jagongan.

“Eh Kang, iki mung andai-andai ya. Nek seandainya kowe diundang ke acara Pawiwahan Ageng arep ngopo ?” Yu Winah sambil dengan cekatan tangannya memasukkan pesanan saya dan Bu Alit ke dalam atas piring yang dibawa Nyai Wasis.

Ha ya nek saya sek bakalan paling tak titeni ya maemane toh Yu. La kapan lagi bakalan nemu maeman sek enak-enak khas Kraton Ngayogyakarta, nek ndak pas acara seperti ini. La denger-denger Kraton bakalan mengeluarkan menu khusus pas Pawiwahan Ageng. Ada Gudeg Manggar, Kambing Guling, Es Camcao sama Es Ronde. Gudeg Manggarnya mesti kualitasnya berbeda dengan yang seumumnya itu. Manggarnya mesti masih enom yang kalau digigit mak prul empuk tenan. Iwak ayame mesti maknyos mempurnya. Kuah arehnya juga mesti wangi tur gurih. Es Camcaonya mesti mak nyes… Es Rondenya mesti juga mak legender anget jahe tapi adem cekelane. Aah.. sedaapp..”

“Wah.. Pakne ini kok sek diurusi panganaaann wae. Nek saya melu di undang Sinuhun ya pengen melihat manten kakung dan putrinya sek mesti bagus dan ayu tenan. Tamu-tamune juga mesti dandangane kenes tur ayu. Wangi-wangi parfum larang seperti punya Ndoro Itu. Sandangannya juga mesti alus tur mak tralap-tralap banyak batu permatane. Aahh.. Ayu tenan…” Nyai Wasis ndak mau kalah dengan suaminya.

“Haahahaha.. ngono ya keno kok Nyai. Nek saya diundang di Pawiwahan Ageng ini ya saya pengen mirsani upacarane mawon. Mudah-mudahan banyak tamu-tamu sek top-topnya negara ini sek mirsani. Jadi kemudian pada nguri-uri budaya Jawa lagi. Termasuk jajanan pasarnya. Nah.. nek jajan pasar jadi ngetop lagi lak ya saya juga kebagian makin laris juga dagangannya. Aah.. Kelarisan..” Yu Winah tak mau kalah juga berandai-andai.

Njuk semua terdiam. Sepertinya sibuk dengan lamunannya masing-masing.

“Jebul Pawiwahan Ageng itu maknanya beda-beda ya ? Walaupun kita cuma kawulo biasa, jebul kekarepane juga sok luar biasa.” Mister Wasis memecah keheningan.

“Ya namanya juga beda kepala toh Kang. Mestine ya kekarepane beda-beda. Ning sek penting, kita sebagai kawulo alit ya turut mendoakan kepada kedua mempelai GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Nderek mangayubagyo Pawiwahan Ageng. Mugi-mugi Gusti Pangeran tansah pinaringan berkah sedaya lampah. Lak begitu toh ya Kang ?”

“He eh Yu. Sek penting kita urun donga saja kepada kedua mempelai. Semoga rukun terus sampai kaken ninen. Bisa jadi conto buat kawulo alit seperti kita ini.”

“He eh Pakne…” Nyai Wasis mengiyakan sambil manggut-manggut.

Hehehe.. saya mbatin saja mendengarkan celoteh dari Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah ini. Yah semoga Gusti Pangeran berkenan mengijabahi doa yang tulus dari kawulo alit seperti kami ini. Semoga Gusti Pangeran purun paring berkah kaliyan Pawiwahan Ageng ini. Semoga ini adalah pernikahan yang pertama dan sekaligus yang terakhir untuk GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Aaammiiieenn..

“Pak.. Pantesnya pakai yang mana ? Yang merah ini atau sek ijo ?” Istri saya, Bu Alit, keluar dari kamar dan menunjukkan asesoris yang ingin dipakainya untuk njagong besok siang.

Sek endi wae kowe tetep ayu kok Bune.” Saya pasang senyum paling lebar untuk istri saya tercinta ini.

Heyeh.. ditakoni tenanan kok malah nggombal amoh!” Bu Alit melengos dan masuk ke dalam kamar lagi. Saya nggleges..