03
Oct 17

Rempah Indonesia dan Swasembada

“Kring..kring..kring..”

Telepon butut saya masih bernada dering jadul itu berbunyi. Saya melirik jam dinding, masih jam 9 pagi. Kok tumben ada yang sudah telepon. Saya angkat telepon dari Finlandia ini dan melihat nama tertulis di layar hitam putihnya. “Kangmas Kokok”

Jenggirat, saya langsung duduk sampurna. Berdehem sejenak. Baru saya pencet tanda telepon yang berwarna hijau sehingga saya bisa berbicara dengan yang di seberang sana.

“Kangmas Besar, saya baru di Jogja ini. Baru mau ngisi acara ngobrol-ngobrol tentang cengkeh di UGM. Nanti sore selo mboten ? Saya kangen pengen ngobrol je.” Suara di ujung sana saya kenal betul.

“Boleh..boleh. Nanti ketemu mawon di Bakmi Pak No ya. Lak ya masih kelingan toh tempatnya?”

“Siap. Nek Pak No ya jelas masih ingat. Kulon PKU kan nggih. Siap mas. Nanti saya kabari lagi jika sudah siap meluncur.”

Kangmas Kokok… Nama ini mengingatkanku pada sesosok pemuda gagah perkasa yang sangat trengginas membahas tentang pangan Indonesia. Idealismenya sering dituliskan dimana-mana. Ya di media massa, di majalah, koran, bahkan sosial media seperti notesnya di facebook yang kekinian. Fans tulisannya banyak tersebar dimana-mana.

———————————————————————

Sore itu kemudian saya mentitahkan Mister Wasis untuk mengantarkan saya ke bilangan Jalan Nyai Ahmad Dahlan. Menuju tempat perjanjian dengan KangMas Kokok. Wabil khusus, di Bakmi Jawa Pak No.

Mas Kokok sudah duduk manis sambil menyeruput teh anget saat saya tiba. Saya sedikit tak enak hati karena malah datang belakangan.

“Selamat sore Kangmas. Maaf saya datang duluan. Keburu ngelih. Maklum tadi habis ngamen.” Mas Kokok langsung duduk menyambut saya dan Mister Wasis dan mempersilakan kami duduk.

Pak No melihat, sang maestro bakmi Jawa, melihat saya dan Mister Wasis datang, menyambut pula dengan senyum. Dengan kode jarinya membentuk angka 2, dan kata-kata “seperti biasa ?” langsung diucapkan. Saya dan Mister Wasis hanya mengangguk tersenyum. “Beres!!” begitu kata Pak No. Memang luar biasa maestro Bakmi Jawa ini. Hampir semua pelanggannya bisa diingat dengan luar kepala dengan seluruh pesanan kesukaannya masing-masing.

“Gimana..gimana.. wah kok tampak makin seger saja niki.” Saya menyambut mas Kokok dengan sumringah.

“Ah biasa mawon loh Kangmas. Saya cuma mampir ke Jogja. Ya pengen silaturahmi dan ngobrol-ngobrol. Kebetulan kok ya pas tadi mbahas tentang cerita Cengkeh di Indonesia. Saya kan kulakan ceritanya dari njenengan. Jadi ya pengen berbagi berkahnya pula lah. Jadi kali ini saya yang traktir.”

“Ealah… ndak usah loh ya. Wong yang waktu itu ya cuma ngudoroso.”

“Hahahaha.. mbok sekali-kali saya diperbolehkan mbayari seorang kangmas kesayangan saya gitu loh. Mosok ya adiknya ndak pernah nraktir kangmasnya.”

“Ya wis.. ya wis.. nek gitu saya sisan nambah brutu biar makin tonjo. Mumpung dibayari.”

“Boleh.. boleh..!!” Mas Kokok langsung mengkode permintaan tambahan saya ke Pak No yang dekat sigap langsung mengacungkan jempolnya.

“Gimana..gimana.. ada cerita baru apa ini ?”

“Saya sedang gumun dengan pemerintah. Eh ndak sedang dink. Sudah gumun dari dulu. Tapi baru terpikir dengan lengkap sekarang.”

“Gumun bab apa je?”

“Nggih bab pangan saja kok Kangmas.” Sambil menyeruput teh hangat, Mas Kokok mulai bercerita dengan gusto. Tangannya mulai naik-naik tudang-tuding bagai seorang Signor.

“Saya gumun sekali dengan cara pemerintah untuk memilih komoditi yang akan diswasembadakan. Padahal ndak terlalu memberikan keuntungan dari hitung-hitungan ekonomi.”

“Beberapa rempah-rempah memiliki harga tinggi. Termahal adalah Saffron. Saffron lak dipanen dari bunga Crocus. Dan per gram Saffron dihasilkan dari 150 bunga Crocus. Per bunga hanya menghasilkan 3 helai. Nah, Iran adalah negara penghasil Saffron terbanyak di dunia. Lebih dari 90% produksi Saffron dunia berasal dari Iran. Penanaman, pemanenan dan pengolahan hingga siap konsumsi hanya bisa dilakukan manual. Harga Saffron kualitas terbaik, per gramnya bisa tak jauh beda dengan emas. Per tahun produksi Saffron hanya 250-300 ton saja loh Kangmas.” Mata Mas Kokok makin berbinar saat berbicara tentang saffron.

“Njuk berturut-turut rempah yang harganya juga terhitung mahal, walau tak semahal Saffron, adalah Vanilla, Cengkeh, Kapulaga dan Lada Hitam.”

“Vanili diproduksi tidak begitu banyak di dunia. Bisa jadi cuma ada 8-10 ribu ton panenan biji Vanili per tahun. Sama dengan Saffron, penanaman, pemanenan Vanili membutuhkan banyak tenaga manusia. Terutama saat penyerbukan. Polinasi alias penyerbukannya dilakukan manual satu per satu.”

“Tahukah njenengan negara penghasil Vanili terbanyak di dunia Kangmas? Ha Indonesia kita ini. Posisinya susul menyusul dengan Madagaskar. Indonesia dan Madagaskar menguasai 80% bahkan lebih, produksi Vanili dunia.” Saya nyengir karena saya juga menyadari tentang fakta ini.

“Lalu bunga Cengkeh yang belum mekar adalah komoditas yang dipanen. Cengkeh di dunia, digunakan untuk bumbu dan parfum. Anti oksidan dalam cengkeh juga lumayan tinggi. Di Indonesia, 90% produksi Cengkeh dikonsumsi hanya oleh satu industri: kretek.”

“Lak ya rasanya tidak sulit menebak negara penghasil Cengkeh terbanyak di dunia. Ha ya, Indonesia. Dapat dikatakan 80-90% produksi Cengkeh dunia dihasilkan Indonesia. Sisanya Zanzibar, Tanzania, India, Pakistan dan Madagaskar dalam produksi yang sangat sangat kecil dibandingkan Indonesia. Bener toh Kangmas ?”

“Berdasar cerita kulakan dari Kangmas, lahan Cengkeh nasional pernah mencapai puncaknya dengan luas 700 ribu hektar lebih. Sampai kemudian Pangeran Cendana yang diamini pengambil kebijakan membentuk BPPC. Petani kecewa dan menebangi pohon Cengkeh yang menjadi sandaran hidup mereka. Lahan Cengkeh terjun bebas ke 200 ribu rupiah saja hektar. Petani stress. Piye? Penak zamanku, to? Opo-opo iso diatur sak karep-karepe. Berani melawan? Bedil ndasmu.”

“Nek saya ndak tidak salah ingat, Gus Dur membubarkan BPPC. Harga Cengkeh mulai rebound, Cengkeh mulai ditanam lagi. Saat ini pun, luas lahan Cengkeh nasional belum menyamai lahan sebelum ada BPPC namun produktivitas per hektarnya jauh lebih tinggi. Bener ndak Kangmas?” Saya hanya manggut-manggut.. dan mulai agak terdistraksi karena mie nyemek saya sudah tiba. Dan bau lada putih plus bawang putihnya berpuar-puar di hidung saya.

“Njuk Kapulaga nih Kangmas. Rempah ini digunakan untuk berbagai bumbu kari dan briyani. Juga digunakan untuk memperkaya rasa kopi, teh dan kue-kue. Di Indonesia bersama dengan Cengkeh, Kapulaga digunakan juga untuk bahan campuran dalam rokok kretek.”

“Produksi Kapulaga nasional terus meningkat. Saat ini Indonesia ada di peringkat ketiga sebagai produsen Kapulaga terbanyak di dunia. Di bawah Guatemala dan India. Kalau melihat tren produksi Kapulaga, sepertinya Indonesia bisa menduduki ranking 2 di masa-masa yang akan datang.”

“Saya juga dapat kulakan tentang Kayu Manis. Banyak cerita saya dapatkan dari Kayu Manis. Salah satunya adalah bumbu masak tertua yang pernah digunakan manusia. Kayu Manis digunakan di Mesir Kuno sekitar 5000 tahun lalu.”

“Kayu Manis juga dipercaya menjadi suplemen yang membantu meringankan berbagai macam sakit. Tentunya dipergunakan dengan campuran produk lainnya. Kayu Manis dengan madu misalnya, bisa mengurangi sakit radang sendi dan perut kembung. Tapi saya belum lihat atau baca ada uji lab yang serius untuk bab ini.”

“Ndilalahnya, lagi-lagi di salah satu rempah termahal ini, Indonesia menduduki ranking pertama. 43% Kayu Manis dunia berasal dari Indonesia. Disusul kemudian oleh China dengan produksi 33% dari total produksi global.”

“Produksi Kayu Manis Indonesia paling banyak dihasilkan dari sekitar Gunung Kerinci. Ada yang bilang 70% – 90% Kayu Manis Indonesia berasal dari sekitar Gunung Kerinci. Produksi nasional sekitar 90-100 ribu ton/tahun.”

“Lalu kita punya Lada Hitam pula. Indonesia menduduki peringkat kedua dunia dalam produksi Lada Hitam global. Ranking 1 adalah negara tetangga, Vietnam.”

“Indonesia memproduksi dua jenis lada, hitam dan putih. Lada Hitam terkenal adalah produksi Lampung, Lada Putih dari Bangka Belitung yang dikenal dunia dengan nama Muntok White Pepper. Saat ke Belitung, saya baru tahu jika Lada Hitam dan Lada Putih berasal dari Lada yang sama namun beda proses pengolahan. Yang putih lebih ribet. Walau menduduki ranking 2 dunia, produktivitas Lada Indonesia per hektar baru 0,8 ton. Jauh di bawah Vietnam dan Brasil yang sudah 2,1 ton dan China yang sudah 1,2 ton. Dengan luas lahan 165 ribu hektar lebih, jika produktivitas per hektar digenjot, maka bukan tidak mungkin Indonesia menduduki peringkat pertama produsen Lada dunia.”

“Nah niki yang unik Kangmas, meskipun Vietnam adalah produsen Lada terbanyak di dunia, negara tersebut mengimpor Lada dari Indonesia. Vietnam adalah importer Lada Indonesia terbesar dengan nilai impor per 2015 mencapai $180 juta.”

“Kira-kira nek Lada Indonesia sampai Vietnam, apa netizen Vietnam mencaci pemerintahnya dengan kalimat, Apa apa kok impor? Kapan negara ini swasembada? Negara gagal!! Gitu?” Kangmas Kokok masih dengan gustonya bercerita. Sambil gedeg-gedeg. Mirip seperti boneka yang ada pegas di lehernya ketika dijawil.

——————————————————–

“Selain rempah, Indonesia juga cukup berpengaruh di komoditas kopi, Kakao, Teh, Karet, Kelapa, Sagu, dan Kelapa Sawit. Belum termasuk tanaman bio farmaka seperti jahe, kunyit, laos, temulawak, dan lainnya.”

“Demikian besar berkah alam dalam bentuk komoditas di Indonesia. Rempah, hasil kebun, bio farmaka, juga beberapa buah tropis yang eksotik. Jika dikembangkan dengan strategi industri tengah dan final, nilai tambahnya akan kian besar. Tenaga kerja yang direkrut juga akan kian banyak. Mayoritas penghasil rempah juga masyarakat biasa, bukan konglomerasi. Lak kudune begitu toh Kangmas?”

“Namun perhatian pemerintah rasanya sungguh minim. Informasi-informasi produk dalam negeri mendunia pun jarang. Justru negara sibuk komunikasi swasembada padi dan jagung yang entah swasembada beneran atau cuma angka di atas kertas. Tengok saja yang bilang swasembada beras dengan produksi Gabah Kering Giling (GKG) 80jt ton. Itu setara beras 48-50jt ton. Konsumsi 3,5jt ton/bulan atau 42jt ton. Harusnya di atas kertas berlebih 6-8jt ton beras. Harusnya harga turun dan bahkan ekspor dalam jumlah besar. Nyatanya? Jagung katanya swasembada. Tanyalah peternak ayam petelur dan pedagjng kelas kecil dan menengah yang anda kenal. Apakah harga jagung hari ini membahagiakan mereka? Yang pasti dana untuk swasembada-swasembadaan padi-jagung ini triliunan.”

“Swasembada omong kosong berikutnya adalah Bawang Putih yang 96-97% konsumsi dalam negeri dipenuhi impor. Juga kedelai yang 70% impor. Biaya untuk ‘mengejar swasembada’ ini triliunan dan entah hasilnya apa. Kalau gagal sekalipun tidak akan dianggap kerugian negara.” Tiba-tiba Mas Kokok menghembuskan napas panjang. Seperti berduka dalam.

“Yang tidak mungkin swasembada diuber-uber agar swasembada. Dibungkus casing nasionalisme dan atas nama rakyat. Kadang saya juga melihat hestek di media sosial bertaburan seolah sukses ini itu di pertanian. Duh, sungguh aku merasa embuh.”

“Yang jelas-jelas sudah mampu menorehkan produksi besar level global tak diurus sungguh cara ekspor agar lebih mudah. Tidak ada ajakan menarik investasi pengolah rempah dengan branding yang membuat nama Indonesia mendunia dan mengintegrasikannya dengan petani lokal.”

“Kadang kita sibuk mengejar apa yang tidak kita miliki. Sampai lupa dengan sedemikian banyak yang sudah ada dalam genggaman.” Kangmas Kokok menyelesaikan orasinya yang mengebu-gebu karena mie pesanannya juga sudah datang.

Saya memandang mas Kokok dengan takjub. Lalu memandang piring saya yang sudah kosong tandas. Terbayang campuran bumbu mie Jawa yang sangat lengkap rempahnya. Mendadak saya jadi lapar lagi.

“Pak No, tanduk ya!” Saya langsung mengkode Pak No yang disambut dengan jempol.

Mas Kokok terbahak hingga sebagian bakminya muncrat.

———————————————————————–

Tulisan ini dibuat atas tulisan Mas Kokok Herdjianto Dirgantoro di Facebook. Dan sudah atas persetujuan beliaunya.

 


03
Oct 13

Blek Gold

Kedemenan saya terhadap kopi mungkin ya memper-memper dengan kedemenan saya terhadap mie Jawa. Agak sedikit di luar batas kewajaran bolehnya mengkonsumsi.

Padahal sejak kecil saya justru dibiasakan dengan teh dekokan. Teh yang nasgitel seduhan Ibu saya sendiri. Teh yang batangnya sedikit kemampul itu digodog di ketel sampai mendidih, baru di tuangkan ke gelas enamel dengan uap yang kemepul. Di dalam gelas enamel tadi sudah ada gula batu yang bakalan melarut bersama tuangan teh panas munthup-munthup tadi. Dinikmati bareng pisang goreng pas sore-sore sambil dikancani Ibu mendengarkan cerita dari Radio. Wuih.. pokoknya mantap betul rasanya.

Itu tidak terlalu berubah juga sebetulnya. Hanya saja sejak saya kenal kopi espresso di Roma, ada yang bertambah dalam wacana klangenan saya terhadap yang namanya kopi. Dan ndilalahnya, ternyata negara kita ini surganya tanaman kopi. Hampir di semua daerah ada tanaman kopi. Ning sayangnya, entah mengapa kok rasa kopi dalam negeri kita ini belum bisa pas betul. Kualitas kopi kita ya masih cuma sebatas mondho-mondho saja. Ah.. betapa sayangnya.

Dan kebiasaan minum kopi saat ngelaras sore ini tentu tetap saja berlanjut di bulan Poso. Pokoke tiada hari tanpa kopi. Hanya saja jadwalnya tentu harus disesuaikan. Sehabis tarweh biasanya baru saya nyeruput kopi. Saya ada koleksi kopi kecil-kecilan lah. Beberapa ada yang saya peroleh pas jalan-jalan dan ider cangkem ke daerah-daerah penghasil kopi. Sebagian lagi bolehnya pemberian dari kolega-kolega teman saya yang sehati, penikmat kopi. Cukup mongkok juga hati saya kalau melihat toples-toples koleksi kopi saya yang berjejer di atas buffet. Ada sekitar 20 toples berisi kopi-kopi dari nusantara. Mulai dari Aceh Gayo sampai Wamena Papua. Ngalkahmdulillah..  barusan boleh dapat kiriman biji kopi Amungme Papua dari kolega saya. Makin maremlah hati saya.

Malam itu saya baru nyeruput kopi Amungme boleh kirim dari kolega saya. Dan seperti biasa, Mister Wasis sedang asyik mencet-mencet remote tivi sambil ndelosor di bawah.

“Ndoro, kok Ndoro kie antik yo ?” Ngomongnya Mister Wasis ke saya, tapi matanya masih saja ke arah tivi.

“Antik piye ? Padakne koleksi museum poh ? Sembarangan wae kowe. “

Mboten ngaten Ndoro. Antiknya gini, Ndoro ini kan priyayi Jawa mlipisNek wong Jowo itu kan biasane luwih seneng ngeteh toh ya Ndoro. Teh sek nasgithel. Ditambahi gulo batu. Di aduk pelan-pelan. Terus di sruput. La kok Ndoro ini malah lebih senang ngopi. Lak yo antik toh Ndoro ? Bahkan sampai ditoplesi begitu kopine. ” Mister Wasis melirik ke deretan toples kopi di bufet atas.

“Sis.. saya ya tetep seneng ngetehNing aku luwih seneng ngopi. Bagi saya, ini apresiasi loh Sis. Apresiasi bahwa negara kita ini sakjane kaya betul dengan kopi. Dari Sabang sampai Merauke kita ini punya banyak sekali jenis kopi. Dan semuanya enak. Lak wedian toh ? Ndak ada negara lain di dunia yang koleksi kopinya itu sebanyak kita loh Sis. Coba bayangno, kopi kita itu ada ada Gayo, Lintong, Jambi, Lampung, Jawa, Bali, Flores Bajawa, Kalosi, Papua lan sapanunggalaneAkeh kae loh toplese. Sebagai wujud apresiasi anak bangsa, rasanya ya pas nek saya mencintai kopi. Lak ya begitu toh ?”

“Kopi itu Blek Gold Sis alias emas hitam. Emas hitam. Larang regone kalo di luar negeri. Komoditas terkemuka di dunia. Disana dihargai sedemikian tinggi. Masak kita di dalam negeri malah ndak doyan. Ndak baeng-baeng loh.” Saya seruput lagi kopi Amungme. Sedap dan mat betul.

“Hahahaha.. Ndoro ngarang. Mosok emas hitam. Nek bener kopi niku emas hitam, teneh Yu Endang sedulur saya di Temanggung sana sudah sugihLa wong dia nandur kopi dari sejak jaman simbahnya dulu niku. Tapi nyatanya kok ya tetep saja cuma cukup buat maem sehari-hari saja tuh Ndoro. Omahnya ya tetep tembok batako. Ndak magrong-magrong. Motornya cuma satu buat bawa kronjot dagangannya ke pasar. Emas nopone Ndoro…” Mister Wasis ngekek.

Ealah… saya lupa. Emas hitam itu cuma berlaku di Eropa. Di petani sini ya cuma jadi seperti biji kopi. Saya terdiam. Kopi saya jadi terasa makin pahit. Duh.. iya ya… Kopi yang ada di cangkir saya ini kopi mahal. Tapi kopi yang mahal ini kok ya belum bisa bikin bangsa saya kaya. Sek salah njuk siapa ini ? Kopi saya jadi terasa adem dan makin pahit…