24
Oct 14

Angkringan Dan Autokritik

Pohon nangka di pojokan halaman rumah sudah beberapa tahun ini mutung tidak mau berbuah lagi. Mungkin karena pernah kagol kesuntakan air cucian si Komando yang pas itu penuh bledug awu Merapi. Njuk mutung. Sempat rontok hampir sebagian besar daunnya selama sebulan. Setelah itu ya tumbuh lagi daunnya. Tapi njuk tidak pernah berbuah lagi. Padahal dulu, ini salah satu pohon nangka yang paling nggemesi karena saking rajinnya berbuah. Tak cuma rajin berbuah, tapi juga manis gurih. Wuih.. pokok e nggemesi tenan.

Setelah mengadakan rapat kitchen cabinet, akhirnya saya putuskan untuk diremajakan saja. Mau diganti pohon mangga. Mister Wasis menyanggupi untuk mencarikan blandongnya. Katanya Kang Ngadiyo yang pemilik angkringan di pojokan kantor notaris pinggir jalan itu juga seorang blandong sejati. Semua perijinan pun sudah disaguhi dan terurus dalam rangka peremajaan pohon perindang ini.

Maka pagi inipun Mister Wasis sudah siap-siap dengan kampak dan gergaji untuk menebang pohon nangka. Kaos singlet swan dan kathok kolor hitam sudah menjadi kostumnya. Kang Ngadiyo yang diminta menjadi juru blandong pun sudah siap dengan segala ubo rampenya.

“Pak Besar, niki nanti kayu nangkanya buat saya saja ya ? Upah mblandongnya kayu saja. Pareng nggih ?” Kang Ngadiyo meminta ijin untuk meminta kayu nangka sebagai bayaran jasanya hari ini.

“Walah maturnuwun tenan Kang. Ya keno wis Kang. Memang buat apa je ?” Saya mengiyakan. Toh malah memudahkan buat saya daripada masih harus menggotong kayu pohon nangka ini nantinya.

“Buat bikin areng Pak Besar. Arengnya buat angkringan saya. Kayu nangka niki kalau dibuat kopi jos langsung sae soalnya.” Kang Ngadiyo mulai mengasah gergajinya dengan kikir.

“Woalah Kang.. Kopi josmu bukannya pakai areng wit semangka ? Ben manis jarene ?” Mister Wasis tiba-tiba menyahut.

“Heyeehh. Jarene sopo kuwi ?” Kang Ngadiyo terkaget-kaget.

“Ha jarene Hamid kemarin. Ketemu di cakruk lagi ngguyu kemekelen. Sampe bergetar semua sak cakruk-cakruknya. Tak kiro gempa bumi. Jebul Hamid baru kemekelen. Katanya dia ngekek gara-gara Kang Ngadiyo nglempusi bocah-bocah perlente. Bilang nek kopi josmu dibuat pakai arang wit semangka. Biar arengnya manis seperti semangka. Tur ya bocah-bocah kuwi do percoyo.”

“Hahahahah.. Jarene Hamid toh. La itu perkorone saya gemes. Bocah-bocah sekarang banyak sek lali nglemah. Lupa dimana mereka tumbuh. Kelangan larasing urip. Lak ya begitu toh Pak Besar ?”

“Loh kok saya jadi dibawa-bawa ? Ah.. ndak semua kok Kang Ngad. Masih banyak yang nglembah manah juga kok. Ning ya memang kasuistis nek sek lali jiwo itu. La memang gimana je ?” Saya kukur-kukur kepala saya yang ndak gatel.

“Hahahah.. Cuma bocah-bocah itu saja yang pating kakehan polah saja Pak Besar. Saya cuma sekedar menegur saja. Biar pada sadar sama lingkungan sekitar. Ndak usah kadohan panjangkah dulu nek belum mudeng hal sederhana yang ada disekitarnya. Ya sekedar autokritik lah Pak Besar. Mengingatkan diri sendiri.”

“Selengkapnya biar nanti Hamid saja yang cerita. Saya kok jadi malu sendiri. Oh iya, tak rantasi dulu ya niki wit nangkanya ya Pak Besar. Selak siang niki. Selak panas.”

“Oh ya..ya.. Nyuwun tulung ya Kang. Itu minum sama nyamikannya ada di teras. Silakan disambi nek nanti ngelak.”

“Injihh..”

Dan ritual menebang pohon pun dimulai dengan doa memohon kepada Sang Pemilik Hidup agar dimudahkan segala urusan dan ikhtiarnya oleh Kang Ngadiyo sang bakul angkringan sekaligus blandong. Semoga nanti pohon mangga penggantinya bisa nggemesi juga seperti pendahulunya. Dan ndak mutungan.

PS : dibuat karena terinspirasi tulisan koh @vindrasu di njagongan.org yang tersohor tersebut.


21
Apr 14

Ontran-Ontran Indonesia

Beberapa minggu terakhir ini, Mister Wasis sedang gandrung menonton Serial Mahabharata yang diputar salah satu televisi swasta. Setiap jam 20.30 malam sudah sedakep mantep di depan televisi untuk menonton serial kegemarannya. Dan malam ini pun kejadiannya sama. Jam dinding sudah menuju 20.30, dan mister Wasis sudah mulai nyekethem remote tivi. Sambil ngembil rempeyek atau kletikan lainnya di lodhong. Memastikan ritual malamnya tidak ada yang mengganggu. Tidak pula saya. Kalau saya mau nonton yang lain, pasti bakalan ada perang dunia kecil di rumah ini.

“Kowe kok segitunya betul toh Sis bolehnya nonton Mahabharata. Lak ya kamu sudah hapal semua detail ceritanya. Wong kamu ini turunan dalang toh ?”

“Ha ya nek babakan cerita Mahabharata ya saya sudah ngelotok luar dalam lahir batin Ndoro. Tapi ya tetep tidak pernah jeleh tuh Ndoro. Tur ini tetep wangun je. Nek saya kan tahunya cuma versi Jowo. La yang versi India ini lak baru. Apik tenan loh Ndoro. Bisa mirip tenan ngono.”

“La wong lakonnya sama. Sama-sama Mahabharata kok ya. Ya wajar nek mirip toh?”

“Ya tetep ndak wajar Ndoro. Lakon yang saya tahu kan berasal dari turunan ala Jawa. Padahal Jawa sama India lak jauh toh Ndoro ? Numpak montor mabur saja berapa lama coba ? La kok ini bisa mirip tenan. Lak brati ada yang ngajari orang Jawa tentang Mahabharata sampai sedetil-detilnya toh Ndoro ? Sampai terus bisa diturunkan sampai generasi saya loh. Wangun ini..”

Touche. Gemblung tenan ini Prime Minister Kitchen Cabinet saya. Analisanya tetap saja tajam dan natural.

“Apalagi sekarang baru episode seru-serunya Ndoro. Ini baru lahirannya Kurawa dan Pandawa. Apik tenan. Penasaran sama bentukannya Duryudana sama Raden Arjuna. Ngganteng e koyo opo toh nek versi India.”

“Lah kok sek didelok malah ngganteng tur bagusnya. Tak kiro kowe kesengsem sama ceritane tok je.”

“Ha cerita itu lak makin lengkap nek aktornya ngganteng, bagus, sumeh toh Ndoro. Sek perempuannya ayu, semlohai tur kenes.”

“Hahahahah.. ya bolehlah sana. Silakan ditonton saja sampai puas.”

“Tapi ya Ndoro, yang saya gumun dengan cerita Mahabharata ini toh, mirip tenan loh sama Indonesia sekarang. Sedang babagan ontran-ontran rebutan kekuasaan. Banyak muncul resi-resi kapiran. Padahal sejatinya selicik Sangkuni.”

Ontran-ontran gimana ?”

“Ha ya rebutan kursi dan kekuasaan di Istana itu Ndoro. Mungkin karena namanya Istana Negoro ya, makane rebutannya persis seperti Mahabharata. Koyo rebutan Hastinapura gitu. Coba nek Ndoro pirsani di hasil pemilu legislatif kemarin. Lak kelihatan sejatine para pemimpin partai itu toh ? Tidak ada teman yang sejati, tidak pula ada musuh yang sejati. Sek ada ya mung kepentingan sejati. Selama kepentingannya bisa kelakon, siapa saja bisa jadi teman ataupun lawan. Banyak petinggi partai sek menjilat ludahnya sendiri. Pinter tenan le bersilat lidah. Adu domba sana-sini. Persis seperti Sangkuni sek ngglembuki Destarata sek wuto dan anak-anaknya sek kemlinthi itu.”

“La sekarang nek Indonesia kita mirip seperti Mahabharata, njuk siapa yang jadi Pandawa sek siapa sek jadi Kurawa ?”

“Nah itu serunya ontran-ontran di Indonesia Ndoro. Ndak jelas mana yang jadi Pandawa mana yang jadi Kurawa. Semuanya berpura-pura baik. Tapi semua juga main kotor. Sek jelas lakon e ya cuma satu Ndoro.”

“Sek lakon yang mana?”

“Lakon masyarakat jelata. Ha ya kita-kita ini. Sek cuma bisa nonton dagelan ontran-ontran di Istana itu.”

“Hmm.. Kok kowe makin hari makin wasis saja toh Sis ?”

“Lah.. nyak Ndoro kie. Ngece.. la wong saya cuma bisa nonton saja kok ya. Ya seperti nonton Mahabharata ini. Mung bisa nonton nDoro.. Nonton doannngg..”

Yah.. kita memang cuma bisa menonton. Mudah-mudahan kita tidak ikut menderita seperti rakyat Hastinapura sek diplekotho Kurawa ya Sis. Semoga..


27
Mar 14

Janji Suwargi Caleg

Sore hari seperti beberapa waktu ini agak panas. Rasanya ngelaras rasa jadi kurang nyes kalau dilakukan ba’da Ashar. Maka biasanya kemudian saya geser sedikit waktunya sampai menjelang Maghrib. Sambil menikmati teh hangat, sambil menikmati pendar sinar matahari tenggelam, rasanya memang nyes betul.

Mister Wasis biasanya sedang menyirami latar depan. Pemandangan air yang mancur dari selang, bertemu dengan sinar matahari sore, rasanya membuat batin tentrem betul. Luar biasa nikmat dariNya.

Sama seperti sore ini, Mister Wasis sedang menyirami latar depan, dan saya sedang menikmati teh sore dari Perkebunan Teh Tambi sambil membaca koran sore dan mencomot loenpia depan Gardena yang baru saja dibelikan Mister Wasis. Mak legender rasanya.

“Ndoro.. sambil ngobrol ya.” Mister Wasis sepertinya pengen ngudo roso

“Yoh. Mau ngobrol apa ?” Saya menyahut sambil mata saya tetap membaca ke koran.

“Sek lagi hot saja Ndoro. Masalah caleg.”

“Hot dan abot. Piye statementmu ?” Saya berhenti membaca koran. Sepertinya yang kali ini perlu diperhatikan lebih saksama.

“Gini loh Ndoro.. Caleg itu kan nek janji-janji selalu muluk tenan ya. Dan biasane syarate njuk berakhiran, saya akan blablabla kalau nanti terpilih. Jadi coblos saya ya.”

“He em.. lalu terus gimana ?”

“La para caleg itu apa ndak mikir ya besok itu pertanggungjawaban mereka di suwargi njuk kepripun gitu loh Ndoro ?”

“Lha kayaknya sih para caleg itu ndak mikir sampai sana je. Buat mereka sepertinya yang penting bisa jadi legislatif dulu. Yang begituan sih perkoro belakangan. Kan nek wis jadi legislatif mereka bisa ngumpulin duit buat nyumbang masjid. Tur nanti kalau sudah tua ya tinggal diperbanyak ibadah. Wis bakbuk lah.”

“Gemblung tenan ya Ndoro. Memang mereka pikir nek suwarginya Gusti Pangeran itu bisa dibeli nopo yo ?”

“Hahaha.. kok abot men toh pikiranmu Sis. Tumben.”

“Hehehe.. saya jadi kebayang gini Ndoro. Jika suatu hari di hari pengadilan itu Para Caleg sudah dikumpulkan di suatu tempat. Terus para malaikat menyampaikan kalau mereka semua masuk surga. Seneng mesti para caleg itu.”

“Njuk digiringlah mereka semua ke suatu tempat yang dijanjikan bernama surga. Jebul disana mereka tidak ketemu yang indah-indah. Apalagi bidadari-bidadari bohay. Yang ada malah justru kesusahan dan siksaan.”

“Njuk para caleg itu para protes. “Wahai malaikat, kok kalian membohongi kami ? Kalian mengatakan bahwa kami akan diberikan surga yang penuh keindahan dan wanita cantik. Kok ini malah kami dapat tempat yang penuh kesusahan dan kami diberatkan dengan siksaan.”

“Njuk para malaikatnya dengan kompak mbales : Lah kalian dulu kan juga seperti itu.” “Mesti njuk cuma bisa mringis saja itu para caleg. Kepangan kelakon e dewe pas masih di dunia. “

“Heheheheh.. bayanganmu bisa jadi tenan kuwi Sis. Mung ketok e kok para malaikat kie ora entuk ngapusi je. “

“Heheheh.. la ini kan cuma bayangan saya Ndoro. Mesti nggonduk tenan itu para caleg.”

“Hahaha.. nggonduk tenan mesti kuwi. Eh Sis.. kuwi wit markisane wis teles kebes kuwi. Kakehan ngalamun wae kowe.

“Eh iya.. Duh..” Mister Wasis langsung memindahkan siramannya ke tanaman lainnya. Dan saya langsung memindahkan pikiran saya ke koran sore yang ternyata masih berkisar tentang janji suwargi para caleg. “Saya menjanjikan ambulan untuk seluruh masyarakat jika saya terpilih besok.” sebuah judul besar terpampang di koran sore saya kali ini.

“Ah.. mbelgedes!!”

PS : cerita ini terinspirasi dari tulisan di facebooknya Dolob Lover. Saya cuma kebagian menulis ulang dengan bahasa berbeda 😀


21
Jan 14

Golmut.. Golongan Mutung

Sore-sore di teras yang sedang gerimis seperti cuaca akhir-akhir ini memang asyik masyuknya sambil menikmati kopi hangat ples kudapan ringan ala priyayi. Selat Solo yang kemrenyes kripik kentangnya makin endes ketika ketemu asemnya acar mentimun. Kuah mlekohnya tentu makin mak legender ketika telur pindangnya pas kena kuning telur. Aahh.. nikmat..

Saya masih sibuk menikmati selat Solo yang marem ini ketika Yu Winah dan Mister Wasis sibuk berpadu di teras. Berpadu maksudnya saling padu.. Memadu padankan pendapat tepatnya.

Suara ribut mereka jadi menarik perhatian saya yang kebetulan sudah habis satu ronde selat Solo. Sambil membawa cangkir kopi Arabica Merapi, saya jadi pengen ikutan menimbrung perpaduan mereka berdua. Dengan berjingkat-jingkat saya ke teras depan. Supaya tidak mengagetkan keseruan perpaduan mereka.

“Lagi banjir seperti ini dimana-mana yo Kang.. La kok malah ada caleg sek ndak punya hati malah kampanye di bantuan buat pengungsi banjir.” Yu Winah tampak gemas sekali.

“Wedian tenan memang caleg-caleg sekarang ya Yu. Kok ya ndak punya etika yo ? Wong lagi pada susah kok ya dijejeli kampanye.” Mister Wasis dengan semangatnya mengompori.

“Ho oh Kang. Kampanye itu malah seperti pagebluk sekarang. Datang ramai-ramai, ribut sekali dengan atribut macem-macem tur warna warni, eh bukannya membawa kesejahteraan, malah mbawa sawan. Membawa mangkel saja di hati.” Yu Winah meracau.

“Betul sekali! Nek jaman dulu itu pagebluk marahi anak-anak jadi kena demam. Sek tua-tua jadi was-was. Ha sekarang nek pas kampanye itu ya sama saja. Semua kok sepertinya sudah demam panas dingin kalau lihat caleg mau kampanye. Pengennya gek ndang rampung saja acaranya. Nek perlu disawat sendal saja biar gelis rampungnya.”

“Hus.. kalian berdua ini loh. Wong orang sedang berusaha mencari simpati kok malah disawat sandal.” Saya ngekek dengan brutalisme Mister Wasis. Jika tidak distop imajinasinya sekarang, bisa-bisa beneran nyawat sandal ke calon legislatif yang akan kampanye dalam waktu dekat ini.

“La menyebalkan betul je Ndoro. Nyari simpati kok malah menyebabkan antipati. Apa ndak salah strategi atau memang waton saja strateginya ?”

“Betul itu Pak Besar. Nek caranya para caleg itu nyari simpatinya seperti sekarang, ha ya mesti ditinggal konstituennya betul. Wis jeleh je kami ini dijanjeni macem-macem tur mung nggedebus. Besok kalau sudah duduk di kursi dewan lak mung memperkaya diri. Wis males le niteni pokoknya Pak Besar.”

“Ha terus kalian maunya gimana ?”

“Ha ya kami berdua tadi sepakat. Pokoknya besok pas Pemilu mau Golput. Tidak mau nyoblos blas. Sudah males sama acara Pemilu-pemilunan?”

“Golput atau golmut ?”

“Golmut itu apa Ndoro ? Kok saya belum pernah dengar ?” Mister Wasis kukur-kukur kepala.

“Golmut itu Golongan Mutung. Ha ya seperti kalian berdua itu. Mutung ndak mau milih.”

“Ha ya gimana lagi Pak Besar ? La wong para caleg itu ya mung rajanya tega je. Sudah dipilih bener-bener la kok malah ngapusi rakyat kecil. Korupsi gede-gedean sisan. Tur sek dikorupsi itu duit negara, duitnya kami-kami sek kecil ini. ” Yu Winah tampak geram betul.

“Ha ya bener.. memang banyak caleg yang ndableg sekarang. Ha tapi bukan begitu caranya. Ha kok njuk Golmut.. Nek banyak seperti kalian yang Golmut, ya yang menang yang suka korup-korup itu lagi. Nek duit negara dikorup, ha yang susah lak kalian-kalian juga. Kita-kita juga. Coba bayangkan.. Nek duit buat mbangun jembatan itu dikorupsi. Terus jadinya jembatannya kurang pas. Malah membahayakan yang lewat di atasnya. Trus ambles. Nek sek pas lewat di jembatan itu anakmu atau keluargamu gimana ? Lak sek cilaka kita semua ?”

“Wah.. ya jangan si Thole yang kena toh Ndoro. Wong anak saya ndak ada salah apa-apa je. Kok malah melu kena amblesnya jembatan.” Mister Wasis pucat pasi..

“Ha itu contohnya. Nek tidak memilih pas pemilu besok, sudah bisa dipastikan sek menang ya mereka-mereka lagi. Yang suka korupsi-korupsi itu lagi.”

“La terus pripun bagusnya Pak Besar ?”

“Gini saja. Mulai sekarang, titenono saja. Itu berita-berita lak banyak yang beredar. Bacalah koran sebanyak-banyaknya. Titeni daftar caleg yang ada. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Sek jelas-jelas track recordnya jelek, langsung saja hapus dari daftar calegmu. Sebarkan beritanya kalau mereka itu punya track record jelek. Ngobrolah dengan banyak orang supaya banyak yang tahu kalau itu caleg yang jelek. Bagi-bagi informasi lah. Ha seperti sek di tivi kemarin itu. Ada caleg sek bintang film panas tapi sekarang krukupan. Dikiranya lak masyarakat tidak menyadari. Padahal ya sadar betul toh ? Ha sek seperti itu titenono.

“Ha tapi sekarang banyak yang sok suci je nek pas kampanye itu Ndoro ..”

“La kan modalmu ngobrol dengan banyak orang. Banyak orang itu berarti banyak informasi. Cari informasi yang benar dan utuh. Pilih caleg yang nggenah. Biar aman urip kita semua besok. Sudah cukup je menderita selama 10 tahun di pemerintahan yang kurang nggenah seperti sekarang. Iya toh ? Lak ya kamu semua pengen makmur juga toh ?”

“Ha ya jelas toh Pak Besar. Pengen bisa makmur juga lah. Minimal kayak jaman dulu itu. Pas jaman Mbah Harto. Semua-semuanya murah. Bisa dijangkau harganya. Ndak seperti sekarang.”

“Ha ya nek gitu, mulai cari informasi caleg-caleg bosok saja. Terus berbagi ceritalah. Ben kita bisa memasukkan caleg-caleg bagus ke DPR dan MPR besok pas Pemilu. Biar caleg-caleg bagus itu yang jadi tentara anti korupsi anti ngapusi kita. Ha rak begitu toh ?”

“Wah iya ya.. Tadinya saya pikir mending mutung saja je. Jebul nek mutung kie ya ndak pas juga ya?”

“Ha ya jelas. Nek kita mutung, sek remuk ya kita sendiri je.”

Saya masuk ke dalam lagi sambil kini membawa satu porsi selat Solo lagi. Orasi sebentar saja sudah membuat perut saya minta tanduk. Ealah.. mbul..gembul..

 

 

 


30
Oct 13

Kelirumitologi

Pagi-pagi Mister Wasis sudah ndeprok di depan kursi malas. Saya yang baru membuka koran pagi ya njuk melipat dulu korannya dan menunda ritual sarapan pagi saya.

“Piye Sis ? Ada keperluan apa ?” Koran yang saya lipat saya keleki dulu.

Mister Wasis mengatupkan kedua tangan sambil sendiko. Lagaknya seperti abdi dalem Kraton yang mau matur. “Ndoro.. Nyuwun panganpunten.. Besok Minggu saya pamit keluar sebentar.. Mau kondangan di tetangga..”

“Hayah gayamu Sis. Sek biasa wae lah. Ha ya nek bab itu ya silakan. Nek tetangga kie brati bakalane ngidul adoh sana ? Mau naik apa ? Nek numpak pitungmu itu apa ndak malah protol di jalan ?”

“Untungnya cuma di Jalan Parangtritis situ mawon Ndoro. Ndak terlalu jauh. Pitungnya masih wutuh kalau cuma sampai Jalan Parangtritis sih.” Mister Wasis nyengir pasrah.

“Ha ya sudah nek gitu. Soale saya juga mau kondangan besok Minggu. Jadi Commandonya tak bawa dulu.”

“Woh jebul Ndoro juga jagongan toh ? Woh.. memang lagi musim kondangan kok ya ? Karang wis arep Suro sih ya Ndoro. Jadi ya banyak sek mantenan pas bulan ini.”

“La memang nek sasi Suro kenapa je ?” Saya etok-etoknya belum tahu.

“Heyeh.. Ndoro kie sok etok-etok ndak reti. Ngapusi tenan nek Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM sek magrong-magrong kondang kawentar-wentar kok ndak tahu nek sasi Suro itu dilarang bikin kawinan. Mengko tibo cidro nek kata simbah-simbah saya. Bisa ndak langgeng keluarga yang menikah pada sasi Suro itu. Heyeh.. Ndoro nggarapi saya ik.”

“Heheheh.. ya ndak yo. Saya cuma pengen tahu saja. Jan-jane kowe percoyo ndak toh sek bab begituan ?”

“Ha ya percaya ndak percaya Ndoro. Tapi ya saya manut saja sama kersane Kraton. La wong sek ngelarang itu lak asline dari Kraton toh ? Ha ya ini kan babakan ngabekti saya sama adat Ngayogyakarta Hadiningrat.”

“Woh.. Kersane Kraton bagaimana ? “

“Heyeh.. Ndoro ngejak suloyo tenan nek ini. Mosok ndak tahu toh nek Suro itu bulannya Kraton sek kawinan ? Jadi karena Suro itu memang sasi yang bagus untuk kawinan, jadi Kraton pengen supaya bisa konsentrasi mbikin acara di sasi Suro itu. Supaya masyarakatnya bisa nyengkuyung acara Kraton, jadi kemudian diharapkan supaya masyarakat Ngayogyakarta ndak bikin acara kawinan pas sasi Suro. Lah kok sek malah diterimanya sama masyarakat kok seolah-olah nek sasi Suro itu pamali buat bikin kawinan.”

Woh.. kowe kok bisa dapat informasi sedetail itu ? Ampuh juga kowe Sis.”

“Ha ya saya dapetnya juga dari ngobrol-ngobrol dengan Pak Atmo sek lurahe Abdi Dalem itu loh Ndoro.”

“Owalah.. pantesan kowe kok bolehnya sangat wasis bab ini. Jebul dapet petuah dari orang dalam toh.” Saya manggut-manggut

“Hehehe.. Nek sek bab Candi Prambanan itu saya juga dapatnya dari temen saya sek jadi guide.”

“Ada apa je dengan Prambanan ?”

“Ha ya itu Ndoro. Mitos nek ndak boleh pacaran di Prambanan. Nek pacaran di Prambanan nanti malah pegatan.”

“Owalah.. mitos sek itu toh. Emang boleh po pacaran di Prambanan ?”

“Ha ya tetep ndak boleh Ndoro. Makanya kemudian ada mitos seperti itu. Prambanan itu lak tempat sembahyangnya saudara-saudara kita umat Hindu. Ndak ilok nek pacaran di tempat orang sembahyang. Makane dibuat mitos seperti itu. Ben ndak pacaran di Prambanan. Jan-jane ya mung ben ora do kurang ajar sih. Mosok yang-yangan nang nggon wong sembahyang. Ya toh Ndoro ?”

“Hehehe.. jebul wasismu boleh juga.”

“Nama saya kan memang wasis Ndoro ? Walaupun wasis bolehnya kulakan. Hehehehe..”

“Tapi memang banyak kok mitos-mitos di negara kita itu sek sengaja di buat. Semata-mata agar lebih pas dan mat bolehnya bermasyarakat.”

“Iya ya Ndoro .. Saya juga baru tahu beberapa. Ning sepertinya memang banyak kelirumitologi yang sengaja dibentuk.”

“Keliru opo ?”

“Kelirumitologi Ndoro. Mitos yang keliru tapi sudah dianggap umum di masyarakat kita.”

“Woh.. kosakata opo kuwi kok saya belum pernah denger ? Kelirumitologi ? ” Saya kukur-kukur kepala yang tidak gatel karena bingung dengan istilah barunya Mister Wasis ini.

“Hehehe.. saya ya mung ngarang kok Ndoro. Kulakan dari Kelirumologinya Pak Jaya Suprana sek kondang itu.”

“Ckckckc.. kowe kok sangsoyo kreatif saiki ?”

“La wong Ndoro saya Guru Besar UGM sek magrong-magrong kondang kawentar-wentar je. Gimana saya ndak nambah kreatif coba ?”

“Hush.. yo ora ngono.” Tapi hidung saya ndak bisa bohong. Tetap mengembang plendas-plendus..

“Hehehe.. ajeng sarapan nopo Ndoro ? Ibune sudah masak soto. Soalnya ini hari Rabo. Jadinya ya Rabo Soto. Kerso ?”

“Ha ya jelas. Wis mari sarapan dulu. Kopinya jangan lupa ya ?”

“Injih Ndoro. Toraja Kalosi pripun ? Eco toh ?”

Eco.. cocik pokoke.

Sendiko dawuh Ndoro… Monggo..”

Maka sayapun menuju meja makan. Dimana sotonya sudah kemepul di atas meja makan. Uborampenya boleh lengkap. Soun, cambah kecil, jeruk nipis, lenthok telo, suwiran ayam kampung dan kerupuk putih. Bersyukur betul saya pagi ini dikaruniai sarapan yang luar biasa sedapnya. Juga dikaruniai seorang Prime Minister Kitchen Cabinet yang luar biasa cerdas dan wasis seperti Mister Wasis. Sekalipun hanya lulusan SMA, tapi wasisnya boleh patoet dipoedjikan. Excelent. Ngalkamdulillah..

 

Notes : Tulisan ini terinspirasi dari obrolan ringan dengan @Tey_Saja & @Jay_Afrisando


24
Oct 13

Gusti Pangeran di Kamar Mandi

Pagi-pagi habis mandi memang menyegarkan. Nek badan sedang seger seperti ini ya tentu saja enaknya sambil ngopi. Kebetulan di meja sudah ada kopi dari Sindoro yang barusan diseduhkan Mister Wasis. Wangi kopi yang habis digerus lalu diseduh ala French Press itu memang bikin melayang-layang. Wuenak tenan…

Saya masih handukan mengeringkan rambut yang baru saja saya keramas sambil menyeruput kopi. La kok anak mata saya menemukan Mister Wasis baru ngalamun di teras belakang. Tangannya masih memegang sapu lidi. Saya lalu dekati dan jejeri Mister Wasis.

“Hayo.. ngopo kowe ? Kok malah ndak nyapu ? Mikir kemproh yo ? Isih isuk kok wis kemproh kie loh.”

“Halah Ndoro.. Ndak mikir kemproh loh ya. Ini baru mikir serius tenan.” Wajah Mister Wasis tampak berpikir betul.

Weleh…weleh.. ngopo je isuk-isuk kok wis mikir abot koyo mikir negoro wae. Isuk-isuk kie enake ngomong sek enteng-enteng wae.  Karo sarapan roti. Pemanasan sek. Mikir abote nanti pas jam kantor wae.”

“Hahaha.. Ndoro kie ono-ono wae. Mikir abot kok ya dibatesi jam kantor. Koyo pegawai kantoran mawon. Etapi saya baru mikir serius tenan loh Ndoro. Serius banget malah. Ning kok ya belum ketemu jawabannya. Makin dipikir malah sangsoyo mumet.

“Mikir opo toh kowe ?” Saya mengambil posisi penak di kursi malas sambil nyeruput kopi. Handuk yang masih basah saya sampirkan di leher.

“Nganu Ndoro.. Nek di kamar mandi itu ada Gusti Pangeran ndak ya ?”

“Horotoyoh!!” Saya terkaget-kaget mendengar pertanyaan Mister Wasis yang super ajaib kali ini. Saya sampai terbangun dari posisi leyeh-leyeh dan jadi menegakkan badan. Untung saja ndak keselek kopi.

“Ha piye toh ? Kok pitakonanmu kie ya ajaib tenan. Iki mesti ono opo-opo ? Ono opo hayo ?

Mboten onten nopo-nopo kok Ndoro. Saya cuma kepikiran saja. Soale.. nek pas nongkrong pagi-pagi itu, sok kadang kepikiran macem-macem. Ndak jarang pula njuk malah kelingan Gusti Pangeran. Tentang pangestuNya. Tentang alam semesta. Tentang berkahNya. Tentang Maha KuwosoNya. Ya macem-macem tentang Gusti Pangeran wis Ndoro. Padahal ya posisinya baru jongkok gitu. Ha nek seperti itu, itu ilhamnya dari mana ? Mosok ya dari setan ? La wong malah dadi insap je Ndoro…

“Heemmm… Bisa jadi bener juga kowe Sis. Heheheh… Wasismu lagi kumat yo ? Tapi pertanyaanmu memang berbobot bener. Pertanyaan apakah Gusti Pangeran ada ndak ya di kamar mandi itu pertanyaan yang mendasar. Tapi ya nek menurut saya, lak ya Gusti Pangeran itu Maha Besar. Ha wong alam semesta sek ciptaanNya saja gedene sak hohah loh. Guedenya alam semesta itu lak belum terukur. Bumi saja ndak ada apa-apane nek dibandingkan sama alam semesta. Ha nek cuma sebesar kamar mandimu yang ukurannya cuma segitu saja ya mestine tetep masuk ke dalam lingkup kekuasaanNya. Ndak ono sak upil kuwi sek jenenge wilayah kamar mandimu dibandingkan luasnya wilayah kekuasaanNya toh ?”

“Tapi la rak ya jan-jane saru ya Ndoro ? Kelingan Gusti Pangeran kok pas ndodok.”

La nek namane menungso itu kan memang pikirannya selalu muter. Selalu mikir. Nek ora mikir malah koyo wong mati. Ha nek kowe malah iso mikir tentang Kuwosonya Gusti Pangeran, ha ya itu lak malah apik banget. Ning cuma boleh sebatas mikir tok. Nek corone kyai-kyai ngendiko itu, ya cuma boleh dzikir qalbi. Dzikir dalam hati. Nek wis nyebut namanya Gusti Pangeran.. naa itu baru ndak boleh.”

Nek itu memang bab tata cara dan kesopanan ya Ndoro ?”

“Ho oh. Wis kono gek ndang dirampungke le nyapu. Wis rodo awan iki. Mengko selak panas loh.”

Sendiko dawuh Ndoro. Ndoro sudah mau berangkat ke kampus nopo ?”

Ha iyes. Pagi ini pas ono janjian sama Pak Rektor je.”

Ngaturaken sugeng nyambut damel lan makaryo nggih Ndoro.”

“Syep.. Wis kono gek ndang disapu latare.”

Mister Wasis pun mulai menyapu teras belakang pelan-pelan. Sepertinya pembicaraan tadi belum cukup buatnya. Ha ya gini ini nek punya Prime Minister Kitchen Cabinet yang terlalu pinter dan wasis. Hedehh…


20
Oct 13

Negeri Sayur Lodeh ~ Negeri Para Dewa

Kuliner itu sebenarnya tidak pernah lepas dari budaya manusia. Bahkan budaya kuliner itu sejauh umur manusia itu sendiri. Sejak manusia hadir di dunia, maka proses mencari makanan adalah proses kuliner. Namun kok ya sayang sekali nek budaya kuliner negara kita ini ternyata masih belum terdokumentasikan dengan baik. Di tengah keprihatinan saya tersebut, eh la kok ndilalahnya saya malah ketemu di Profesor Doktor F.G Winarno, bapak Teknologi Pangan se-Indonesia Raya. Kami bertemu tidak sengaja di Bandara Soekarno-Hatta yang mulai berbenah mempercantik diri. Ha ya wajar toh, sudah lama betul umurnya bandara Soekarno-Hatta. Selama ini cuma bisa pupuran dan bengesan sana-sini tambal sulam sana-sini, untuk mempercantik diri, maka kini rasanya sudah perlu kalau bertransformasi total untuk mengubah diri menjadi lebih mumpuni.

Beliau sedang pulang kampung setelah melawat dari Tokyo Jepang. Beliau baru saja mempertahankan fakta bahwa Indonesia adalah asal darimana Melinjo. Hal ini harus beliau lakukan karena adanya klaim dari negara Jiran kita, bahwa Melinjo adalah tanaman asli mereka.

“Tidak bisa Pak Besar. Saya tidak terima kalau negara tetangga kita itu mengklaim bahwa melinjo adalah tanaman asli mereka.” Kata Prof. Win

“Lah pripun toh Prof ? Memangnya sedang ada ontran-ontran apa je kok Melinjo sampai diperebutkan dengan Malaysia ?”

“Kita ini negara besar toh Pak Besar ? Namun sering sekali di kadali oleh negara lain karena pemimpin kita kurang tanggap untuk menjaga amanah kekayaan alam dan buadya yang Tuhan diberikan ke kita. Melinjo itu salah satunya. Kita cuma tahu bahwa melinjo itu cocoknya ya dibuat emping. Padahal penelitian terakhir, melinjo itu sangat-sangat hebat khasiatnya.”

Kosik Prof. Eh nanti dulu maksud saya. Hebat khasiatnya buat apa ? Lak ya memang cuma itu saja kegunaan melinjo ? Buat bikin emping atau mentok-mentok daunnya dibuat jangan godong so atau lodeh. Lak ya begitu toh ?

“Nah itulah Pak Besar. Itulah fungsi dari penelitian. Lodeh itu sejarahnya panjang toh ? Boleh dicek di cerita sejarah di museum Belanda sana. Saya sudah teliti literatur aslinya dalam bahasa Belanda. Lodeh itu sudah muncul sejak jaman penjajahan Belanda. Lodeh itu sayur asli Jogjakarta dan Jawa Tengah. Dan setiap membuat sayur lodeh, maka daun So dan melinjo baik dalam bentuk bijinya maupun kulit bijinya, harus diikutkan. Itu ternyata adalah makanan surga Pak Besar. Makanan panjang umur. “

“Hah ? Tenannya Prof ? Mosok sayur lodeh saja memperpanjang umur ? La wong banyak orang bilang sayur lodeh itu justru berbahaya karena santannya mlekoh dan ada daun melinjo yang menyebabkan asam urat je.”

“Hahahaha.. Nonsense Pak Besar. Melinjo itu tidak pernah terbukt secara kedokteran sebagai penyebab asam urat. Bahkan di melinjo itu terdapat senyawa Resveratrol yang membuatmu dan saya panjang umur. Mau tahu buktinya ? Umur orang Jogja dan Jawa Tengah itu panjang-panjang. Terbukti secara survei nasional. Itu salah satunya karena gemar makan sayur lodeh toh ?”

“Weleh.. saya malah kok ndak sadar kalau lodeh itu sedemikian hebatnya.”

“Hahahaha.. itu hal biasa Pak Besar. Banyak potensi kita yang belum kita sadari. Dan bagi kita yang dikaruniai kelebihan ini ya memang punya kewajiban untuk menggali dan mempertahankan sebelum diambil negara lain. Betul kan ?

“Iyes..iyes.. betul sekali Prof. Saya setuju..” Saya cuma bisa manggut-manggut.

Teng..teng..teng..teng… Panggilan untuk penumpang penerbangan jurusan Jakarta-Solo. Silakan masuk melalui gate A.

“Nah itu dia pesawat saya. Saya harus ke Solo dulu ya Pak Besar. Mau ketemu mahasiswa di UNS besok pagi. Saatnya menceriakan mereka dengan berita bagus bahwa Cokelat adalah makanan dewa. Yang banyak tumbuh di Indonesia.”

“Waduh.. saya perlu ngobrol lagi tentang itu Prof. Kapan-kapan yes ?”

“Silakan saja Pak Besar. Kapan saja hubungi saya. Saya berangkat dulu ya ?”

Prof Winarno bergegas menuju gate yang sudah diumumkan mbak-mbak announcer sek suarane kenes banget itu. Ah.. tambah ilmu lagi. Lodeh oh lodeh.. ternyata engkau makanan dewa. Saya masih mau umur panjang dan sehat. Sepertinya saya jadi pengen maem jangan lodeh untuk dinner kali ini. Semoga saja masih bisa. Saya harus segera telepon ke rumah. Semoga Mister Wasis masih sempat ke swalayan untuk beli uborampenya sayur lodeh.

“Wasis, segerakan ke swalayan ya ? Saya pengen maem jangan lodeh buat nanti malam.”

Jieh.. tumben-tumbenan Ndoro pengen maem lodeh. Bar dapet apa hayooo ?” Mister Wasis malah nggodani koyo nggodani cah abege sek konangan arep pacaran.

“Wis toh.. ini penting. Jangan lodeh itu panganan dewa. Wis kono gek ndang ke swalayan tuku godong sonya. Jangan lupa kulit melinjonya juga. Sek banyak ya. Coba cek di persediaan tempe semangitnya. Nek masih ada ya sisan dicemplungkan juga.”

“Siap Ndoro.. Ini mesti barusan dapet wangsit mesti. Nanti saya diceritani ya Ndoro.”

“Beres.”

Alhamdulillah.. mudah-mudahan masih bisa menikmati sayur lodeh yang cukupan saja santannya. Tapi banyak melinjo dan godong sonya. Dengan tempe semangit pasti makin mantep. Sambel terasinya bolehlah agak pedes sedikit. Tambah tempe garit pasti makin legit. Ah.. saya lapar..

 

PS : Cerita ini memang karangan semata. Tapi tentang khasiat melinjonya serius. Demikian yang saya peroleh ketika ngobrol dengan Prof. DR. F.G Winarno kemarin tanggal 19 Oktober 2013. Jadi jangan takut makan melinjo ya ?


09
Oct 13

Perkara Konstitusi

Jam di Paris masih menunjukkan jam 6 pagi. Di Jogja mesti sudah jam 11 siang. Disini saya masih bisa leyeh-leyeh sambil menikmati pemandangan Menara Eiffel yang tingginya menjulang dan kesohor karena romantismenya itu. Sebenarnya niatnya ya mau leyeh-leyeh saja sambil menyiapkan presentasi tentang budaya Indonesia di depan Monsieur dan Mademoiselle yang mancung mbangir plus mata biru yang seperti kelereng beling itu. Tapi ndilalahnya kok pagi ini feeling saya agak ndak enak ya. Saya khawatir terjadi sesuatu di rumah. Jadi saya sempatkan untuk telepon ke Mister Wasis pagi ini. Ya niatnya hanya sekedar jaga-jaga saja. Mbok menowo ada sesuatu yang harus diawekani.

Kring..kring…

“Sugeng morning. Dengan kediaman Pak Besar. Ada yang bisa saya bantu ?” suara Mister Wasis dari seberang sana tampak lancar saja. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa feeling saya tidak benar adanya.

“Haloo.. Ini saya Sis. “

“Owalah Ndoro toh. Pripun nDoro ? Di Paris enak ? Roti krosannya eco ? Selenya mlekoh ? Kopinya juos ?” Belum apa-apa justru saya yang diinterogasi oleh Mister Wasis.

“Ealah.. kok malah kowe sek tekon. Paris sedang adem njikut. Roti krosannya muantep kriuk-kriuk. Selenya bolehnya mantep. Kopinya masih kalah dengan yang di rumah. Demikian laporannya. “

“Hehehe.. ampun nDoro.. Pripun ? Ada titah nopo ?

“Bukan titah. Saya cuma mau ngecek saja. Soale feeling saya kok rada ndak penak. Gimana kondisi rumah ? Aman saja toh ?”

“Kondisi rumah aman terkendali Ndoro. Semua titah sudah kami lakukan sesuai instruksi dari Ndoro persis sebelum berangkat kemarin. Manuk Pleci dan Koi sudah terjaga asupan maemnya.”

“Kondisi Jogja gimana ? Aman terkendali juga kan? “

“Kondisi Jogja juga aman terkendali Ndoro. Kecuali Pak Walinya yang sedang ngilang. Semua kondisi di Jogja masih aman terkendali sejauh pantauan dari intel-intel di angkringan dan informasi dari Kedaulatan Rakyat. Demikian informasinya.”

“Kondisi Indonesia gimana ? Apa ada berita khusus ? “

“Kondisi Indonesia masih aman Ndoro. Eh.. ndak ding.. ada yang ndak aman.. Semalam ada berita kalau ketua Mahkamah Konstitusi ditangkep KPK. Dicokok tangan karena diduga menerima suap.”

Blaik!! Ternyata ini yang bikin feeling saya tidak enak. Jebul aparat hakim tertinggi negara ada yang tertangkap tangan oleh KPK. Cilakak ini.. Mesti nanti pas kuliah umum akan ada yang nanya tentang bab ini. Matek… “Oh ya sudah. Nanti tak coba cari informasinya dulu di internet. Maturnuwun ya Sis.

“Sami-sami Ndoro. Sugeng makaryo di Perancis.”

Saya tutup telepon dan segera bergegas membuka laptop. Dan ternyata berita penangkapan Pak Ketua MK ini sudah menyebar kemana-mana. Dengan adanya dunia maya, maka informasi seperti ini jelas akan tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Yang bikin cenut-cenut sirah saya adalah mencari jawaban jika nanti ada pertanyaan tentang hal ini. Padahal di depan kuliah umum tentang budaya Indonesia je. Lak ya cilakak nek saya tidak bisa menjawab dengan indah.

Browsing kesana sini.. bolak-balik ke kamar kecil karena grogi. Saya jadi mirip mahasiswa yang mau sidang skripsi. Ah.. Sontoloyo tenan. La kok kasus begini pas saya lagi mau presentasi tentang indahnya budaya Indonesia toh ? Saya olak-alik semua informasinya, kok ndak ada yang bisa melegakan untuk jadi cara yang ayu untuk ngeles di hadapan publik nanti. Ah sudahlah.. saya pasrah saja. Mau gimana lagi..

Jam 12 saya berangkat ke Universitas Sorbonne. Di pintu masuk saya disambut oleh kolega saya Monsieur Foucoult yang bathuknya ndak kalah klimis dengan pengilon.

Bonjour Monsieur Besar. Siap berpresentasi toh ?” Monsieur Foucoult menyalami saya dengan gustonya. Saya jadi makin mengkeret atine.

What’s wrong ? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu ? Hahahah.. I know it.. Ini pasti karena kasus Ketua Mahkamah Konstitusimu yang tertangkap menyuap toh ? Tenang saja Monsieur Besar, kami semua sudah tahu. Dan kami yakin, mahasiswa Sorbonne lebih memilih untuk bertanya dengan elegan tentang hal ini daripada menyalahkanmu untuk kasus ini. Tenang saja Monsieur Besar..” Monsieur Foucoult berusaha mbombong ati saya yang kebacut rontok ini.

Well.. You know Monsieur Besar. Sejarah memang terkadang kejam. Kami orang Perancis pun mengalami. Tak pula kami malu mengakui bahwa kami sempat punya raja yang lalim di era Louis XVI. Kami orang Perancis sadar, jika kami tidak mengakui, maka kami tidak akan pernah bisa mengambil pelajaran darinya. Bukan begitu toh ?”

“Ah Monsieur Foucoult bisa saja kalau bab menaikkan hati orang.” Saya mulai bisa tersenyum lega.

“Hahaha.. Biasa saja kok Monsieur Besar. Saya juga deg-degan kalau kamu berkecil hati. Bisa hancur juga reputasi saya kalau orang yang saya percayai untuk presentasi di depan mahasiswa dan guru besar di sini kok rontok hatinya. Jadi.. sudah siapkan ? ” Touche.. Bener juga kata Monsieur Foucoult. Bisa beliau yang kena getahnya kalau saya rontok di jalan seperti ini.

Maka dengan berbekal nyenyuwun kepada Gusti Pangeran untuk dikuatkan hati, saya njuk melangkah masuk ke hallnya Universitas Sorbonne yang sak hohah itu..


03
Oct 13

Tirakat 40 Hari

Karena kampus sedang reses masa perkuliahan, maka dosen-dosen seperti saya njuk mendapatkan privilege untuk bisa sedikit ngeluk boyok. Dan periode sekarang ini kebetulan saya juga mendapatkan panggilan dari kolega saya di Sorbonne Paris untuk bisa berbagi cerita tentang budaya Indonesia. Jadi ya sekalianlah saya berencana untuk plesiran bareng Bu Alit ke Perancis. Second Honeymoon.

Untuk kepentingan inilah saya kemudian mengumpulkan seluruh Kitchen Cabinet yang walaupun cuma terdiri dari Mister Wasis dan Nyai Wasis. Maka sore itu kemudian kami bertiga reriungan di ruang tengah sambil saya leyeh-leyeh.

“Karena saya mau ada acara ke Perancis, maka saya akan meninggalkan kalian kurang lebih selama 15 hari ya ?”

Sendiko dawuh Ndoro…” Mister Wasis dan Nyai Wasis yang sudah biasa saya tinggal-tinggal ini ya sendiko dawuh saja.

“Tapi kali ini ada beberapa agenda yang harus diselesaikan. Selain agenda reguler seperti biasa yaitu makani Pleci dan Koi, ada agenda khusus yaitu mengantarkan materi kuliah ini ke Kampus pada tanggal 10 besok. Juga jangan lupa untuk bla…bla..bla.. lalu bla..bla..bla..” Saya mengomandoni, membagi tugas, menjelaskan dan beberapa kali mencontohkan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh Mister Wasis dan Nyai Wasis.

“Yak sudah selesai. Jadi sudah dimengerti toh tugas-tugas yang harus diselesaikan selama saya pergi ? Remindernya sudah saya tuliskan di kalender. Jadi setiap pagi kudu ngecek jadwal tugas di kalender situ. Roger ?”

“Syep Ndoro..” Mister Wasis mengacungkan jempolnya.

“Ealah.. Ndoro cuma pergi dua minggu saja tugasnya seabrek-abrek. Nek sampai 40 hari ninggalke anak buah kie njuk kayak apa repotnya ya?” Mister Wasis bergumam.

“Heh.. kowe mau nyindir siapa je ?” 

“Hhehehehe.. Cuma nggumun sama Walikota Jogja niku kok Ndoro. Mau pergi ninggalke anak buah kok suwe men. Sampai 40 hari loh Ndoro. Apa ndak mumet tenan ya anak buahnya ketiban sampur segitu banyaknya.”

“Heyeh.. sok tau kowe. Nek Walikota lak ada wakil walikotanya toh. Mestinya ndak terlalu repot lah. Tur kan mesti sistemnya sudah beres. Semuanya bisa di delegasikan. Mosok ya selevel Walikota saja ndak bisa mendelegasikan tugas.”

“La ya bisa sih Ndoro. Tapi nek ibaratnya sedang main bal-balan, njuk nek ada satu sek dikartu merah gitu lak, njuk berkurang satu pemain kunci, lak ya keroso banget. Apalagi misalnya itu jenderal lapangan tengahnya. Lak yo rekoso tenan itu timnya.”

“Hahaha.. iso-isone kowe madakne Balaikota karo tim bal-balan. Mbok dilihat sisi positifnya toh. Pak Wali itu lak bukan piknik toh ? Beliau itu sekolah loh selama 40 hari itu. Di Harvard pula. Universitas paling kesohornya Amerikah. Nek wong Jowo tirakat selama 40 hari itu lak jebolane mesti apik. Ilmunya sudah madep mantep. Merasuk dalam tulang dan darah. Ha nek Pak Wali sinau ilmu pemerintahan selama 40 hari, lak ya mesti nantinya jebolane apik. Mantep langkahnya sebagai walikota. Lak yo begitu toh ?”

“Ha ya kudunya sih begitu Ndoro. Tapi ya mbuh ya Ndoro.. Sek saya lihat kok malah banyak sek nggoleki Pak Wali selama beliau ngilang 40 hari itu. Untung Ndoro cuma pergi 15 hari. Nek sampai 40 hari, entah sek nggoleki dan nggruduk kesini akan sebanyak apa.”

Heyeh.. nek saya pamit 40 hari teneh saya bakalan disetrap sama kampus. Sembarangan wae.”

“Hehehehehe.. Njuk saya mbayangke Ndoro disetrap hormat bendera sampai siang.”

“Njuk kowe tak ajaki sisan nek aku nganti disetrap hormat bendera. Ben melu ngerasakne.”

“Loh kok saya jadi ikut-ikutan kena setrap toh Ndoro ?” Mister Wasis protes.

“Ha ya pokokmen begitu..”

“Wooo.. Ndoro urikan.” Mister Wasis menjep.

Buen.. Kan aku sek Ndoro.. Mbangane kowe sek tak kon mewakili disetrap hormat bendera ? Pilih endi ?”

“Duh.. ampun Ndoro.. Mboten sakabehe nek pareng..

“Hora iso.. kudu milih..”

Dan pucatlah wajah Mister Wasis.. Saya nggeleges… menang kuwoso.. Sebagai Ndoro memang menyenangkan..

Nek sebagai Ndoro kecil-kecilan saja sudah menyenangkan. Apalagi nek jadi Walikota ya ?

Notes : tulisan ini saya sajikan dalam mengaktualisasikan ide dari mas @arman_dhani.


03
Oct 13

Trah Bandung Bondowoso

“Duh Ndoro.. Cilaka Ndoro.. Cilaka empat belas…” Mister Wasis berlarian masuk ke rumah. Sendalnya langsung dilempar sembarangan. Langsung ndeprok duduk di lantai njejeri saya yang sedang leha-leha di kursi malas.

Saya yang sedang membaca koran ya kaget mak jenggirat. Ada apa ini gerangan kok seperti ada serbuan tentara Belanda ? Serba ujug-ujug penuh kepanikan. “Weh.. ada apa ini ? Kok bolehnya urgent sekali. Panikmu itu mbok ditata dulu, biar saya ndak ikutan senewen. Ada apa je ?”

“Sebentar Ndoro.. mimik dulu.. Mister Wasis langsung mengambil gelas saya yang ada di meja dan meminum isinya. Glek..glek..glek..” Seperti orang yang sudah 2 minggu tidak ketemu air minum saja lagaknya.

“Heh.. sembarangan wae kowe. Unjukanku kok diombe kie loh.” Saya tunggu sebentar sampai Mister Wasis menyelesaikan urusannya. “Piye ? Wis lego ?”

“Hehehe.. meh mati je rasanya Ndoro. Ngelak banget. La habis lari dari tempatnya Mas Prabowo di pojokan gang sana je. Ini ada berita penting sekali soalnya Ndoro.”

“Berita opo toh ? Kok sampe dibelani mlayu-mlayu. Mah koyo Pheidippides wae kowe..

Diplites sapa Ndoro ? Saya ndak diplites kok.”

“Hasyah.. wis..wis.. beritanya apa ? Kok sajaknya penting sekali..”

“Gini Ndoro.. saya tadi diceritani sama Mas Prabowo, dia dapet berita dari Ndoronya yang anggota Dewan Jogja itu loh Ndoro. Katanya di Jogja ini mau dibangun buaannyak sekali hotel. Bahkan katanya mau nambah sampai 20an hotel lagi. Lak ciloko toh itu Ndoro ? Nek 20 hotel nambah itu njuk macete koyo ngopo Ndoro ? La wong sekarang saja nek pas jam berangkat sekolah sama jam pulang kantor saja dalanan sudah macet je. Ini malah masih mau ketambahan 20 hotel. “

Loh lak malah bagus toh nek banyak hotel ? Lak brati nambah lapangan kerja. Sodara-sodara kita sek masih nganggur jadi bisa dapat kerja. Petani-petani sek nandur sayur dan buah bisa nyetori hotel-hotel itu. Banyak yang bisa jadi sopir ngeterke tamu-tamu hotel, banyak guide yang jadi bisa kerja. Banyak restoran yang payu.”

“Ha tapi macete itu loh Ndoro. La nanti Jogja jadi kebak mobil.”

“Loh.. macet itu lak perkara karena ndak tertib. Coba nek semua pengguna kendaraan itu do tertib. Semuanya mau antri dengan teratur. Lak yo kudune lancar. Jangankan mobil, wong nek numpak pit tapi ndak teratur saja yo marahi macet kok. La kae bocah-bocah sek pit-pitan nek Jumat sore kae. Nek wis mak reguduk ora gelem ngalah lak yo marahi macet liyane toh?

“Jadi nek hotelnya banyak kie ndak papa ya Ndoro ? Ealah.. tiwas saya panik loh.”

La ya kowe panik kie kenapa ? La wong nek hotelnya banyak itu ya karena Jogja itu memang kota pariwisata. Makin banyak hotel lak makin banyak pilihan buat turis-turis. Mau yang murah ya ada, mau yang mahal ya ada. Mau yang deket kota ya banyak, mau yang rada metu kutho ya boleh. Semuanya kebagian.”

“Tapi kok saya masih kepikiran sama macete ya Ndoro ?”

“Macet itu lak karena kita belum terbiasa untuk tertib toh ? Gambarane gini. Dulu itu dalanan masih sepi. Nek kita mau rada sembarangan bolehnya numpak kendaraan ya masih ndak papa. Mau rada hoyak-hayik ya boleh juga. Soale nggone isih jembar. Paling ya tibo ngglangsar. Tapi sekarang dalanannya sudah rame. Nek sembarangan bolehnya numpak kendaraan ya langsung nyenggol orang lain. Mbebayani liyan. Jadi ya kudu tertib. Tangkas tapi ndak biyayakan.”

“Wah.. rodo repot ya Ndoro ?”

La ya memang repot, la wong kita masih terbiasa ndak tertib.”

“Eh tapi kok bolehnya mbangun hotel itu pada serba ujug-ujug ya Ndoro ? La Mas Prabowo itu cerita nek sekarang ini ada 20 hotel yang sedang dibangun loh Ndoro.. Lak welok tenan ya? Buanter tenan mbangunnya..”

“Loh ya wajar.. La wong kita ini kan trahnya Bandung Bondowoso. La wong mbangun sewu candi sewengi wae iso. Opo meneh mung mbangun 20 hotel. Ha ya kecilll..”

“Heyeh Ndoro kie.. guyon wae…”

“Heloh.. ha rak tenan toh ? Kita ini sekarang jadi serba bat-bet… sat-set.. nek bukan karena trahnya Bandung Bondowoso kie lak ya ndak bisa.” Saya tersenyum terkekeh melihat wajah Mister Wasis yang keki.

Padahal sebenarnya dalam hati saya ya bingung. Bingung bagaimana nanti tata kota ini bisa bertahan tetap rapi. La wong sekarang saja sudah ndak jelas lagi tata kotanya. Bingung apakah kota Jogja ini sendiri masih bisa mensupport manusia yang akan hidup di atasnya. Dan terutama bingung apakah budaya manusia Jawa ini masih akan bisa bertahan digerus gedung-gedung tinggi dan manusia yang makin sulit bertoleransi. Ah.. semoga Jogja masih arif dan nentremke ati. Kita pasti bisa jika mau.