14
Aug 14

Ngopi yang Ngopeni

Rencana Gusti Pangeran itu memang terkadang sangat unik. Bahkan sampai tidak bisa dinalar. Maka saya sepakat nek rencana Gusti Pangeran itu diikuti saja.

Weladalah.. Belum-belum kok saya sudah menuliskan kesimpulan. Rada kuwalik sepertinya dalam tata krama penulisan. Tapi tak mengapa lah ya ? Sekali-kali menyalahi pakem agar jiwa kreatif tetap terasah. Boleh disepakati nggih ya ?

Jadi begini….. Kolo-kolo waktu itu saya sedang selo. Selo seselo-selonya. Sampai bingung harus ngapain. Acara perkuliahan belum ramai, period syawalan sudah selesai, kerjaan di rumah pun sudah klaar. Ha njuk saya mau ngapain ? Ndilalahnya Mister Wasis dan Nyai Wasis pun sedang berkunjung ke rumah saudaranya yang kesripahan. Lengkapnya keseloan saya sore itu.

Isenglah saya nyengklak si Komando. Mampir sajalah saya ke Klinikkopi. Kepunyaan seorang anak muda yang eksentrik yang dipanggil Pepeng. Ngakunya sebagai seorang Coffee Story Teller alias tukang cerita tentang kopiSaya pun memang sudah beberapa kali ke tempat ini. Pengunjungnya kebanyakan anak muda Jogja. Yang sepantaran saya ya bisalah dihitung dengan sebelah tangan saja. Tapi tak jarang pula saya ketemu dengan bule-bule yang pengen kenal kopi Indonesia dengan lebih kaffah yang mampir.

La kok ndilalahnya malam itu ada acara talkshow. Pembicaranya Pak Prawoto Indarto yang terkenal sebagai penulis buku Java Coffee. Yang ditemani Romo Banar dari Sanata Dharma. Wah.. ya sisanlah saya ikutan nimbrung ditengah-tengah muda-mudi Jogja yang sedang gemar ngopi. Reriungan anget sambil gojeg kere. Ya sok rada kelangan enggok dengan guyonnya anak muda sekarang. Tapi tak mengapalah sekali-kali belajar jadi lebih muda. Biar awet enom toh ?

Pak Indarto memulai cerita seperti biasa dengan masuknya kopi ke Indonesia. Literatur sejarahnya menuliskan masuknya kopi ke Nusantara pada tahun 1698 di Jatinegara Jakarta. Percobaan pertama penanaman biji kopi di Nusantara ini dinyatakan gagal. Baru pada percobaan kedua pada dua tahun berikutnya yang dinyatakan berhasil. Ditanam di daerah Priangan (sekarang menjadi wilayah Bandung dan sekitarnya). Biji kopi yang ditanam di Priangan diambil yang berasal dari Ceylon, Srilangka. Jenis kopinya Arabica. Jebul penamaan ini karena salah kaprah. Disebut Arabica karena pedagang Arab banyak memperjualbelikan kopi di kawasan Turki dan Eropa pada masa itu. Padahal biji kopinya sendiri awalnya berasal dari kawasan Ethiopia di Afrika sana.

Cerita Pak Indarto terus berlanjut. VOCnya Belanda yang menggunakan bantuan dari Bupati-bupati Priangan agar masyarakat Sunda mau menanam kopi di lahan mereka. Dan pada periode itu, VOC membeli setiap pikul biji kopi seharga 6 ringgit perak. Sampai ke cerita Daendels yang membuat kopi tersebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur sekaligus memperbaiki tata niaganya dengan membuat jalan raya Pos. Dilanjutkan periode Cultur Steelsel yang mengharuskan penanaman kopi besar-besaran di Jawa. Pada periode ini, kopi Jawa menjadi salah satu eksportir terbesar kopi di dunia karena saking banyaknya.

Hingga kemudian muncul hama pohon kopi yang menghancurkan seluruh perkebunan kopi di Jawa. Hanya tersisa sedikit yang ndilalahnya ditanam di atas 1000 meter di atas permukaan laut. Njuk kemudian seluruh tanaman kopi yang rusak itu diganti dengan tanaman teh. Ada juga sebagian yang tetap menanam kopi tapi diganti jadi jenis kopi robusta.

Itulah alasannya kenapa budaya ngopi di Jawa Barat dan Jawa Tengah kurang tersohor dibandingkan budaya ngopi di Jawa Timur. Jebul karena secara sejarah, perkebunan kopi di Jawa Barat dan Jawa Tengah banyak yang hancur karena hama pohon kopi dan digantikan oleh budidaya tanaman teh. Di Jawa Timur, budidaya kopinya selain sangat banyak, juga banyak perkebunan yang masih selamat. Itulah mengapa kemudian budaya ngopi dan ngeteh di Jawa saja bisa berbeda.

Nah.. Satu PR dari Mister Wasis tentang budaya ngopi dan ngeteh sudah terjawab sekarang. Jadi saya bisa umuk nanti ketika ketemu dia. Sebagai ndoro, memang kudu bisa sedikit umuk toh ?

Nah.. ada satu istilah yang kemudian menggelitik saya. Yaitu istilah ngopi. Budaya ngopi di literatur kuliner Jawa ternyata tidak banyak. Ngopi tidak muncul didalam upacara-upacara adat. Tidak muncul pula dalam kehidupan sehari-hari. Ngopi cuma muncul di sebuah lukisan tentang wedangan di sebuah pasar. Dan diduga, ngopinya ini tentu bukan ngopi yang serius secara kualitas. Cuma seadanya saja. Dideplok ala kadarnya. Padahal ngopi itu dalam bahasa Jawa bermaksud ngopeni. Alias memelihara. Karena ngopi itu menghidupkan dan memelihara silaturahmi. Ngopi enaknya memang dilakukan sambil bercerita dan ngobrol bareng tonggo teparo atau sanak kadang.

Dan kopi Indonesia pun kini, walaupun secara jumlah menjadi negara penghasil kopi nomer 3 terbesar di dunia, tidak banyak memberikan sumbangsih kepada petaninya. Tidak banyak orang yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai juragan kopi. Tidak banyak pula anak-anak yang bangga njuk bilang kalau dirinya anak seorang petani kopi. Kopi masih belum bisa ngopeni yang membuatnya tumbuh. Sebuah hal yang miris jika dibandingkan dengan jumlah ekspor biji kopi yang tinggi dan terus meningkat di Indonesia.

Tuhan pasti punya rencana yang indah. Dibalik disembunyikannya kesejahteraan petani kopi, pasti ada berkah lain yang Dia sembunyikan. Mudah-mudahan kita semua bisa menikmati berkah dan rahasiaNya. Karena dia yang menurunkan kopi, pasti Maha Ngopeni.