02
Jul 14

Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Cocopandan

Marhaban ya Ramadhan.. Selamat datang duhai bulan Ramadhan.

Ramadhan datang menjelang lagi. Suara mercon mulai bersahutan dinyalakan anak-anak di seputar kompleks. Ditimpali suara marah-marah kaum sepuh yang terkaget-kaget karena suara mercon. Kurma-kurma curah mulai muncul di toko-toko swalayan. Sirup-sirup beraneka warna dan rasa mulai muncul di rak-raknya pula. Gambar ketupat dan nuansa hijau janur mulai jamak nongolnya dimana-mana.

Dan ketika Mister Wasis mulai sibuk membuat daftar menu buka puasa yang harus dibeli di Pasar Tiban Kauman dan Jogokariyan, berarti ini sudah mulai lengkap aura Bulan Puasa.

“Jadi Ndoro. Untuk buka puasa hari pertama nanti, Ndoro mau ditumbaske napa ? Ada Kicak, Jenang Gandum, Mie Kopyok, Serabi kocor, Pepes Gurameh, Otak-Otak nopo yang lain ?”

“Heloh, sek to Sis.. Kowe kok malah gustonya bab buko ? Wong puasanya saja baru jam 8 pagi loh ya ?” Saya yang baru membaca koran pagi jadi mak jejagig rada nggresulo dengan pertanyaan Mister Wasis.

“Ha Ndoro ndak mau buko nopo ?” Mister Wasis malah nampak bingung.

“Ha ya bukan begitu. Tapi kok ya saru nek puasanya saja masih baru mulai kok ya sudah mulai mbahas buko.”

“La maksud saya kan untuk persiapan Ndoro. Daripada kehabisan loh. Soalnya kalau telat berangkat ke pasar Tiban Kauman itu ya wis entek-entekan tenan.”

Saya njuk kukur-kukur sendiri. Wah.. kalau begini ya tidak bisa disalahkan juga mister Wasis. Wong ya dia hanya berniat baik memastikan bahwa semua perkara berjalan dengan semestinya. Walaupun cuma perkara buka puasa. Sebagai pemimpin di rumah ini saya ya ndak pas juga kalau menyalahkan Mister Wasis.

“Wah ya maaf..maaf.. Niat baikmu saya terima. Ya wis.. Gini saja, nanti sore tolong ditumbaskan serabi kocor saja buat saya. Buatmu dan istrimu silakan milih sendiri nanti disana. Jangan banyak-banyak milihnya. Biar ndak mubazir.”

“Sendiko dawuh Ndoro. La terus untuk lawuh buat makan malamnya nopo Ndoro ? Tempe tahu bacem sama ayam kremes kerso ?” Mister Wasis mencatat setiap permintaan saya bagai seorang waitress profesional.

“Boleh juga. Tambah sayur tewel dan tetelannya kalau ada.”

“Siap Ndoro.” Mister Wasis membuat urek-urekan lagi di catatannya.

“Untuk buahnya gimana ? Apa rencanamu ?” Kini gantian saya yang bertanya.

“Untuk buahnya saya mau tumbaske pepaya separuh, melon separuh, camcao, jeruk manis sedikit, pakai air kelapa muda, kelapa mudanya juga ada. Nanti dibuat es buah pakai stroop merah. Pripun Ndoro ? Sae toh ?”

“Sae..sae.. tapi jangan lupa stroop cocopandan. Sek mereknya TBH. Sebagai orang Jogja nek stroopnya buat TBH kok kurang marem.” Saya mewanti-wanti

“Tentu sudah disiapkan Ndoro. Tenang saja.” Mister Wasis mengangguk-angguk paham.

“Suip. Ya wis, saya tak mangkat dulu ke kampus.” Saya siap-siap mandi dan bersiap untuk melakukan kewajiban saya pagi ini. Ke kampus.

Di kamar saya malah membayangkan nikmatnya es buah yang isinya mencungul disana-sini. Lembutnya kelapa muda yang ketemu dengan stroop cocopandan dan semburat wangi jeruk. Lalu mak legender ketemu sepotong dua potong camcao hitam. Duh.. kok malah kemecer begini. Duh.. ngapunten Gusti.. Kawulo khilaf..

Marhaban ya Ramadhan… Marhaban ya cocopandan.