Sih Pinilih Dalam Bakmi Jawa

Jogja sudah memasuki musim hujan sepertinya. Setiap sore menjelang surup, biasanya mendung sudah menggantung. Kadang malah sudah deres. Bau petrichore yang menyenangkan membuat saya jadi sering kelaparan di luar jam-jam makan yang wajar.

“Sis.. ketok e nek mbakmi Jowo, enak yo pas udan-udanan ngene.”

“Siap Ndoro. Mau kemana ? Pak Hadigeno ? Mbah Mo ? Nopo Bakmi Ndoro ?” Mister Wasis mengajukan daftar Mie Jawa terwahid di Jogja.

“Kita mampir ke Bakmi 31 saja di pojokan alun-alun Kidul ya ? Sek ndak patiyo adoh, tur porsine cukupan.”

“Siap! Saya tak manasi Komando sebentar Ndoro. Ndoro silakan siram dulu.” Mister Wasis langsung mak plencing mengambil kunci dan menuju ke garasi. Tak lama kemudian terdengar si Komando distarter.

Saya masuk untuk mandi sore. Dan berganti baju yang lebih pas untuk dolan. Dan ketika saya keluar kamar, Mister Wasis juga sudah ganti busana yang lebih pas.

“Kemon.. Mari mancal..” Saya memberi kode kepada Wasis untuk berangkat.

Setibanya di Bakmi 31, beruntunglah kami. Karena situasi dan kondisi masih mendukung. Masih belum ramai. Jadi kami masih bebas memilih tempat duduk yang paling nyaman. Tentu saja yang paling dekat dengan chefnya. Madamme Warno herself. Dan Mister Wasis langsung memesan 2 bakmi nyemek dan teh anget gula batu. Yang disambut dengan anggukan dan senyuman pelan Madamme Warno.

“Ndoro.. Kok Mie Jowo niku kok selalu dimasaknya satu-satu nggih ?” Mister Wasis mengajukan pertanyaan ajaib seperti biasanya.

“Ha memangnya piye je ?” Saya bingung harus menjawab apa pada Mister Wasis.

“Lak nek mengacu pada standar efektitas waktu toh Ndoro, masak satu-satu niku lak ndak masuk blas. Kesuwen. Gitu toh Ndoro ?” Mister Wasis melanjutkan pertanyaan sambil menyeruput teh hangat yang baru saja di antarkan Pak Warto, sang empunya Bakmi 31 sekaligus the husband of the Madamme Warno.

“Njenengan pengen tahu aja nopo pengen tahu banget Kangmas ?” Pak Warto ikutan nimbrung.

“Wah.. mbok sisan dibagi informasinya Pak kalau memang ada. Sini silakan sambil duduk mawon Pak.” Mister Wasis yang penasaran njuk malah sekalian nanggapi

“Hehehehe.. Ya niki jan-jane cuma gothak-gathuk mawon loh Kangmas. Saya cuma dapat informasinya juga dari sek ngajari saya bikin bakmi.” Pak Warno mengambil posisi di ujung tempat duduk panjang.

“Silakan loh Pak Warto. Nek memang ada kearifan lokal. Monggo dibagi-bagi. Saya ya pengen reti je.” Saya ikut menimpali

“Nah itu dia Kangmas. Saya pikir jan-jane ini ya seperti kearifan lokal juga. Jadi begini ceritanya. Eh tapi nek nanti bakminya sudah datang, monggo sambil dhaharan ya ? Jangan sampai cerita saya mengganggu.”

“Beress..” Kami berdua kompak mengamini

“Jadi menurut guru perbakmian saya, bakmi Jawa dibuat satu persatu itu demi asas keadilan dan kekhususan. Orang Jawa menjunjung tinggi nilai keadilan di atas kecepatan. Nopo malih sudah ada pranoto kalau orang Jawa itu Alon-Alon Maton Kelakon. Pelan itu tak mengapa, asal tepat waktu. Lak begitu nggih ?”

Kami manggut-manggut masih mengiyakan statement dari Pak Warto.

“Keadilannya orang Jawa itu terwujud ketika memasak bakmi Jawa yang satu-persatu. Sehingga konon wajannya bakmi Jawa itu dibuat hanya untuk satu porsi.”

“Nah.. demi langkah tersebut, sebelum memasak, tentu seyogyanya seluruh ubo rampe Bakmi Jawa sudah disiapkan dahulu. Ya bakminya, ayamnya, sayurannya, kaldunya, bumbunya dan sebagainya sudah disiapkan dulu toh ? Disiapkan khusus untuk satu porsi saja. Jadi jika ada yang pesan dengan ubo rampe spesial, bisa disiapkan sesuai pesanan. Mau tambah jerohan ya bisa. Mau tambah endognya kalih ya bisa. Mau tambah balungan ya bisa. Ini adalah pemenuhan asas kekhususan niku.”

“Ha nek asas keadilannya pripun Pak Warto ?” Mister Wasis menyeruput teh hangatnya yang sudah mulai mengecil gula batunya.

“Menurut asas keadilan, maka setiap satu porsi Bakmi Jawa niku ya satu porsi. Pesan satu dapat satu. Adil dan merata. Nek dalam membuat bakmi Jawa dibuat per dua porsi atau lebih, maka pas pembagian bakmi ke dalam piring lak sok ora adil. Ada yang bakminya lebih banyak dari piring sebelahnya. Ada yang ayamnya kurang dibandingkan piring sebelahnya. Dan sebagainya. Pokok e jadi kurang adil karena pembagian pas kondisi panas itu lebih menyulitkan sek masak.”

“Eh iya juga ya Ndoro ? Bener tenan itu. Wuih.. la kok iya ya ? Gothak-gathuk tapi ya pas loh niku Pak Warto.” Mister Wasis terkejut mendapatkan informasi setitis ini.

“Nah itu maksud saya Kangmas. Saya ndak tahu kebenarannya. Ya mung mengikuti cerita guru perbakmian saya saja. Eh ya, niki bakmi Jowo pesenan njenengan sudah jadi. Silakan loh di dhahar. Saya tak kebelakang ya. Bantu asah-asah dulu. Silakan..”

“Maturnuwun loh ceritanya Pak Warto. Nanti tak buat kulakan di cakrug nggih ?”

“Hahaha.. njenengan kok aneh-aneh saja Kangmas. Pakai minta ijin segala. Ya silakan saja Kangmas. Wong cerita itu haknya setiap orang.” Mister Warto kemudian kembali ke belakang.

Dan kami pun mulai menikmati bakmi Jowo nyemek dengan senyum lebar dan bahagia. Karena bakmi Jowo yang sih pinilih karena kesungguhan para garda depan penjaganya. Para bakul bakmi Jawa. Uber Alles Bakmi Jowo.

 

Tags: , , , ,

2 comments

  1. Tep paling enak bakmi yang dimasak pakai areng, rasanya lebih nendang daripada yang memakai kompor. Apalagi kalau pakai areng semangka.

    • sarujuk! areng memang salah satu kebijakan lokal yang perlu terus dilestarikan.
      tak mengapa harga BBM naik sedikit, asal bukan harga areng semangka dan areng salak. yes ?

Silakan meninggalkan jejak