Revolusi Mentol

Sudah lama saya tidak memanggil Yu Winah dan kini saya sedang kangen-kangennya dengan Selad Solo dan Sosis Solonya itu. Maka demi memenuhi klangenan saya itu, saya pun menitahkan Mister Wasis untuk segera mencegat Yu Winah sore itu juga. Ndilalahnya memang kepeneran, Yu Winah memang sudah punya feeling yang sama. Maka bersambutlah gayung dan sore itu pun menjadi makin gayeng.

“Wah.. saya kira saya di jothaki Pak Besar loh. La kok lama ndak dipanggil nek saya pas lewat. Sudah saya banter-banterkan loh saya teriaknya. Saya lama-lamakan pas lewat depan rumah. Kolo-kolo malah saya juga ndodok di depan pager. Mbok menowo njuk dipanggil masuk. La kok adanya cuma anteng saja di dalam rumah ini.”

“Wah.. maaf beribu maaf ya Yu. Nyuwun saestu pangapunten. Beberapa waktu ini saya terpaksa harus berada di Jakarta. Demi mengudar beberapa bolah bundet yang disusun oleh teman-teman di Jakarta. La kok saya yang kebagian ruwetnya. Jadi ya nyuwun ngapunten sekali kalau jadi tidak pernah menyahut dan memanggil njenengan masuk.”

“Sibuk urusan copras-capres nopo Pak Besar ?” Yu Winah langsung saja menskak mat dengan entengnya.

“Hahaha.. ya biasalah Yu.” Saya cuma bisa ngeles sekenanya.

“Hehehe.. ya saya dan teman-teman yang kawulo alit ini ya cuma bisa berharap saja toh Pak Besar. Mudah-mudahan Presiden yang terpilih besok ya anak bangsa yang terbaik. Yang bisa gusto kerjanya. Bisa melayani rakyat. Dan yang penting punya toto dan ati. Lak ya sewajarnya saja toh pengarepannya kami-kami ini Pak Besar ?”

Yu Winah menghela napas.. tangannya mengambil sesuatu di balik tenongannya. Sebungkus permen berwarna biru dongker.

“Aaammiin.. eh apa itu Yu ? Kok sepertinya saya slamur-slamur kelingan. Mirip panganan jaman baheula.”

“Owalah.. ini Pak ? Ini lak cuma permen Davos.. Permennya golongan kasepuhan seperti saya. Ben semriwing mulutnya.”

“Owalah.. kok ya masih ada ya permen ini. Tak kira sudah punah ditelan jaman je. ” Saya menimang-nimang permen biru ini. Saya jadi teringat jaman muda saya dulu.

“Hahaha… Ndoro kie kok ya sok ngece tenan. Permen Davos ini sih masih banyak nek di desa saya sana. Tapi ya cuma simbah-simbah sek doyan. Nek anak muda ya ndak doyan. Rasane jadul kalau anak saya bilang.”

“Lha iya Kang.. Permen mentol seperti ini ya memang cocoknya buat kasepuhan. Nek buat anak muda ya sudah ganti nama. Ganti bungkus. Padahal jan-jane ya isine lak ya sama toh ya ? Sama-sama mentol.” Yu Winah masih sibuk mengulum Davosnya.

“La ndak cuma permen Yu. Sekarang saja banyak rokok yang pake mentol kok. Ben makin semriwing nek diserot. Makin wangun. Katanya sih gitu.”

“Lucu ya Pak Besar. Padahal mentol-mentolan itu lak permen jaman dulu banget. Tapi kok ya masih bisa moncer sampai sekarang. Bahkan bisa makin banyak jenisnya. Makin kondang. Tidak seperti permen jaman dulu yang lain.”

“Oh iya.. bener Yu. Padahal dulu banyak permen yang rasanya ndak kalah enak yo. Kayak Sarsaparilla dan Frambozen. Sekarang sepertinya sudah ndak ada lagi rasa-rasanan seperti itu ya ? Sek masih awet itu ya mentol-mentolan seperti ini. Ya toh Yu ?”

“Ho oh Kang.. Mentolnya pinter. Mentolnya berevolusi. Supaya ndak ditlindes jaman. Kudu bisa beradaptasi dengan perubahan titimangsa.” Yu Winah tampak serius.

“Walah Yuuu.. bahasamu kok muluk tenan. Revolusi Mentol segala.” Mister Wasis tergelak.

“Tapi ya memang benar apa kata Yu Winah itu loh Sis. Yang namanya revolusi itu perlu. Nek ndak, ya bener-bener ketlindes jaman. Apalagi nek bisa nututi dengan makin banternya efek dari globalisasi. Bisa ilang betul itu.” Saya kok mendadak jadi seperti mendapat dejavu.

Nek Mentol saja harus berevolusi, lalu bagaimana dengan mental ?

Tags: , , , , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.