Rekening Montok

Setelah divonis oleh Dik Dokter Palgunadi bahwa saya agak asam urat. Cuma berstatus agak loh ya. Saya memutuskan untuk mengurangi bolehnya jajan yang mlekoh dan berpurin tinggi. La kok ndilalahnya Dik Dokter Palgunadi juga menyarankan untuk mulai menambah porsi olahraga karena ada dugaan sedikit gajih menumpuk di lipatan pinggang dan sekitar perut. Jadilah saya mulai sering bangun lebih pagi untuk sekedar jalan cepat di seputaran komplek rumah.

Dan pagi itu saya baru saja selesai beranjang sana-sini berhaha-hihi sambil berjalan cepat diantara rumah-rumah tonggo teparo, dan ketika tiba di rumah sudah disambut roti bakar lapis selai stroberi-nanas dan secangkir kopi Java Raung.

“Wah.. kalau caranya begini ya rencana menurunkan lingkar perut bisa terhambat.” Batin saya

“Wassiiiisss.. Kesiniii..”

Mister Wasis yang baru bersih-bersih di halaman belakang langsung tergopoh-gopoh masuk. “Ada apa Ndoro ? Apakah rotinya kurang matang ? Atau kopinya kurang wangi ?” Mister Wasis sudah sigap tanggap sasmito bahkan sebelum saya mengemukakan keberatan saya.

“Oh bukan perkara itu. Nek perkoro rotinya masih Top-Notch matangnya. Kopinya juga tetap jempolan. Tapi masalahnya porsinya kakehan. Lak kowe dengar juga ngendikonya Pak Dokter Palgunadi bahwa saya kudu menurunkan kadar kelemuan.”

Mister Wasis mendengarkan sambil manggut-manggut. “La njuk pripun Ndoro ?”

“Demi kemaslahatan badan, saya meminta untuk mulai besok disiapkan saja roti bakar separuh.” Saya memberikan mandat

Mister Wasis mendelik. Seolah tak percaya. “Ah.. tenane Ndoro ? Nopo cukup ? Nopo ndak muntir-muntir nanti ususnya Ndoro ? Ngelih tenan loh Ndoro ?” Mister Wasis tampak khawatir.

“Lah.. kok kamu menyepelekan saya tenan. Saya ini bermental baja. Dulu wis kulino prihatin. Nek cuma ngelih sih masih bisa tahan lah.”

“Hayah Ndoro.. dulu itu berapa puluh tahun kepungkur. Mosok ya masih kuat toh Ndoro ? Mbok jangan aeng-aeng toh. Nek nanti semaput lak ya repot.”

Kok kowe ngeyelan wae toh Sis ?” Saya mendelik.

“Nggih mpun..besok saya siapkan rotinya separuh. Tapi saya siapkan juga nasi merah nggih ? Buat ganjel-ganjel mbok menowo masih kurang.”

“Nah.. itu solusi bagus. Cen pinter tenan kowe.” Saya puas dengan alternatif yang ditawarkan Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini.

“Heheheh… saya kan paham Ndoro..”

“Wis..wis.. sekarang koran pagi ini mana ? Saya pengen baca berita je. Kasus rekening gendutnya itu perlu diwaspadai dan diikuti dengan seksama.”

“Niki korannya Ndoro. Jenderalnya sepertinya tidak berkenan dipanggil dalam kasus rekening gendut. Kok bisa ya Ndoro ? Priyayi hukum kok ndak taat hukum?”

“Ini bukan semata-mata perkara hukum loh Sis. Ini sudah perkara harga diri.” Saya membaca koran pagi ini sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.

“Loh kok perkara harga diri jadi dimasukkan dalam perkara hukum toh Ndoro ? Nopo karena seorang jenderal njuk ndak mau dipanggil ?” Mister Wasis penasaran.

“Ha ya gimana lagi. Panggilan karena rekening gendut itu lak nggateli. Menohok hati. Coba nek panggilannya diganti jadi karena kasus rekening montok. Pasti lain hasilnya.”

“Halaaaahhhh.. Ndoroooooo.. Tak kira perkoro opo.” Mister Wasis keki berat

Saya terkekeh-kekeh..

Tags: , , , , , ,

1 comment

  1. rekening bahenol juga bisa mas 😀

Silakan meninggalkan jejak