Perkara Konstitusi

Jam di Paris masih menunjukkan jam 6 pagi. Di Jogja mesti sudah jam 11 siang. Disini saya masih bisa leyeh-leyeh sambil menikmati pemandangan Menara Eiffel yang tingginya menjulang dan kesohor karena romantismenya itu. Sebenarnya niatnya ya mau leyeh-leyeh saja sambil menyiapkan presentasi tentang budaya Indonesia di depan Monsieur dan Mademoiselle yang mancung mbangir plus mata biru yang seperti kelereng beling itu. Tapi ndilalahnya kok pagi ini feeling saya agak ndak enak ya. Saya khawatir terjadi sesuatu di rumah. Jadi saya sempatkan untuk telepon ke Mister Wasis pagi ini. Ya niatnya hanya sekedar jaga-jaga saja. Mbok menowo ada sesuatu yang harus diawekani.

Kring..kring…

“Sugeng morning. Dengan kediaman Pak Besar. Ada yang bisa saya bantu ?” suara Mister Wasis dari seberang sana tampak lancar saja. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa feeling saya tidak benar adanya.

“Haloo.. Ini saya Sis. “

“Owalah Ndoro toh. Pripun nDoro ? Di Paris enak ? Roti krosannya eco ? Selenya mlekoh ? Kopinya juos ?” Belum apa-apa justru saya yang diinterogasi oleh Mister Wasis.

“Ealah.. kok malah kowe sek tekon. Paris sedang adem njikut. Roti krosannya muantep kriuk-kriuk. Selenya bolehnya mantep. Kopinya masih kalah dengan yang di rumah. Demikian laporannya. “

“Hehehe.. ampun nDoro.. Pripun ? Ada titah nopo ?

“Bukan titah. Saya cuma mau ngecek saja. Soale feeling saya kok rada ndak penak. Gimana kondisi rumah ? Aman saja toh ?”

“Kondisi rumah aman terkendali Ndoro. Semua titah sudah kami lakukan sesuai instruksi dari Ndoro persis sebelum berangkat kemarin. Manuk Pleci dan Koi sudah terjaga asupan maemnya.”

“Kondisi Jogja gimana ? Aman terkendali juga kan? “

“Kondisi Jogja juga aman terkendali Ndoro. Kecuali Pak Walinya yang sedang ngilang. Semua kondisi di Jogja masih aman terkendali sejauh pantauan dari intel-intel di angkringan dan informasi dari Kedaulatan Rakyat. Demikian informasinya.”

“Kondisi Indonesia gimana ? Apa ada berita khusus ? “

“Kondisi Indonesia masih aman Ndoro. Eh.. ndak ding.. ada yang ndak aman.. Semalam ada berita kalau ketua Mahkamah Konstitusi ditangkep KPK. Dicokok tangan karena diduga menerima suap.”

Blaik!! Ternyata ini yang bikin feeling saya tidak enak. Jebul aparat hakim tertinggi negara ada yang tertangkap tangan oleh KPK. Cilakak ini.. Mesti nanti pas kuliah umum akan ada yang nanya tentang bab ini. Matek… “Oh ya sudah. Nanti tak coba cari informasinya dulu di internet. Maturnuwun ya Sis.

“Sami-sami Ndoro. Sugeng makaryo di Perancis.”

Saya tutup telepon dan segera bergegas membuka laptop. Dan ternyata berita penangkapan Pak Ketua MK ini sudah menyebar kemana-mana. Dengan adanya dunia maya, maka informasi seperti ini jelas akan tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Yang bikin cenut-cenut sirah saya adalah mencari jawaban jika nanti ada pertanyaan tentang hal ini. Padahal di depan kuliah umum tentang budaya Indonesia je. Lak ya cilakak nek saya tidak bisa menjawab dengan indah.

Browsing kesana sini.. bolak-balik ke kamar kecil karena grogi. Saya jadi mirip mahasiswa yang mau sidang skripsi. Ah.. Sontoloyo tenan. La kok kasus begini pas saya lagi mau presentasi tentang indahnya budaya Indonesia toh ? Saya olak-alik semua informasinya, kok ndak ada yang bisa melegakan untuk jadi cara yang ayu untuk ngeles di hadapan publik nanti. Ah sudahlah.. saya pasrah saja. Mau gimana lagi..

Jam 12 saya berangkat ke Universitas Sorbonne. Di pintu masuk saya disambut oleh kolega saya Monsieur Foucoult yang bathuknya ndak kalah klimis dengan pengilon.

Bonjour Monsieur Besar. Siap berpresentasi toh ?” Monsieur Foucoult menyalami saya dengan gustonya. Saya jadi makin mengkeret atine.

What’s wrong ? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu ? Hahahah.. I know it.. Ini pasti karena kasus Ketua Mahkamah Konstitusimu yang tertangkap menyuap toh ? Tenang saja Monsieur Besar, kami semua sudah tahu. Dan kami yakin, mahasiswa Sorbonne lebih memilih untuk bertanya dengan elegan tentang hal ini daripada menyalahkanmu untuk kasus ini. Tenang saja Monsieur Besar..” Monsieur Foucoult berusaha mbombong ati saya yang kebacut rontok ini.

Well.. You know Monsieur Besar. Sejarah memang terkadang kejam. Kami orang Perancis pun mengalami. Tak pula kami malu mengakui bahwa kami sempat punya raja yang lalim di era Louis XVI. Kami orang Perancis sadar, jika kami tidak mengakui, maka kami tidak akan pernah bisa mengambil pelajaran darinya. Bukan begitu toh ?”

“Ah Monsieur Foucoult bisa saja kalau bab menaikkan hati orang.” Saya mulai bisa tersenyum lega.

“Hahaha.. Biasa saja kok Monsieur Besar. Saya juga deg-degan kalau kamu berkecil hati. Bisa hancur juga reputasi saya kalau orang yang saya percayai untuk presentasi di depan mahasiswa dan guru besar di sini kok rontok hatinya. Jadi.. sudah siapkan ? ” Touche.. Bener juga kata Monsieur Foucoult. Bisa beliau yang kena getahnya kalau saya rontok di jalan seperti ini.

Maka dengan berbekal nyenyuwun kepada Gusti Pangeran untuk dikuatkan hati, saya njuk melangkah masuk ke hallnya Universitas Sorbonne yang sak hohah itu..

Tags: , , , , , , , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.