Pemilu Pemula

Seminggu yang lalu, rumah kecil saya jadi ketambahan satu orang personel. Si Thole dari pelosok Kulon Progo sana ingin menghabiskan masa liburan sekolahnya di Jogja. Pengen bisa kumpul bareng dengan orang tuanya. Dan setelah Mister Wasis memohon ijin kepada saya, maka Thole pun resmi menjadi Kitchen Cabinet Antar Waktu dengan masa bakti selama liburan sekolahnya.

Senengnya saya karena si Thole ini sekalipun dari Kulon Progo pelosok sana, niat belajarnya tinggi. Koran yang barusan di baca bapaknya, lalu dilalap habis. Sekalipun beberapa koran yang berbahasa Inggris dilewatkannya. “Saya ndak mudeng Pak Besar.” Begitu alasannya. Tapi toh demikian, saya ya tetep saja membujuk untuk bisa membaca koran-koran yang penuh karya tulis berharga itu.

Dan sore ini, ketika saya sedang ngelaras rasa sambil menikmati kopi Kalosi seduhan Mister Wasis dan ditemani pisang kepok kuning goreng, si Thole duduk ndelosor di lantai sambil membaca koran sore terbitan nasional. Bapaknya sedang menyiram tanaman di belakang. Anaknya malah tampak sedang serius betul.

“Sedang mbaca apa je Le ? Kok bolehnya serius betul ? Sampai alismu gathuk begitu..”

“Niki loh Pak Besar, baru membaca ulasan debat capres semalam. Ulasan dari ahli militer yang mbedah analisa capres-capres itu.” Thole menjawab tapi konsentrasinya tetap penuh ke koran yang sedang dibacanya.

Saya diamkan sebentar. Memberinya waktu untuk menyelesaikan artikelnya sampai selesai. Saya penasaran juga dengan Mister Wasis Junior ini. Masih SMA kok bacaannya sudah demen yang berat-berat seperti ini. Gek-gek ketularan bapaknya ini.

Setelah selesai membaca koran, saya jawil lagi si Thole. “Le.. kamu lak sudah 17 tahun toh kemarin. Berarti besok kamu sudah boleh ikutan nyoblos toh ?”

“Ha iya Pak Besar. Rencananya saya mau nyoblos bareng Bapak Ibu di rumah sana. Sudah didaftarkan juga kok kemarin supaya bisa ikut coblosan.” Si Thole tampak sumringah.. bangga karena sudah bisa masuk ke daftar pemilih tetap tahun ini.

“Wih senenge bisa ikut coblosan pertama.”

“Ha tapi saya ya bingung Pak Besar.. Bingung milih yang mana.”

“Loh la piye ? Wong kamu sudah membaca sek ada di koran tadi itu toh ? Kok malah bingung.”

“Ha ya bingung tenan Pak Besar. La temen-temen saya di fesbuk ngojok-ngojoki saya untuk milih jagoan mereka. Yang suka nomer satu, ngelek-elek sek nomer dua. Sek nomer dua ya sama saja ngelek-elek yang nomer satu. Malah sampai ada yang tonyo-tonyonan karena pada ece-ecenan. Malah pada¬†babak bundhas.”

“Hahahahah.. La njuk kamu gimana ? Mau milih sek mana ?”

“Saya manut Bapak Ibu saja lah Pak Besar. Sendiko dawuh saja sama ngersane Bapak Ibu. Nek disuruh milih yang mana saja, saya manut.”

“Loh.. ya ndak bisa.. Kamu kudunya milih atas dasar pertimbanganmu sendiri.”

Ha wong saya ya bingung je Pak Besar.”

“Ya wis.. coba ngobrol sama Bapak Ibumu dulu sana. Mereka pilih yang mana ?”

“Nek saya pilih sek nomer satu toh ya Ndoro. Sek ngganteng, tur gagah. Numpak jaran, seperti Pangeran Diponegoro. Bisa nyikat kumpeni-kumpeni yang mau ngubek-ubek Indonesia.” Mister Wasis tiba-tiba sudah ikutan ambil suara.

Ha nek saya ya pilih yang nomer dua Ndoro. Yang sederhana orangnya, mesti bisa pangerten sama orang kecil. Yang sukanya blusukan, jadi bisa diajak ngobrol sama rakyatnya.” La ujug-ujug Nyai Wasis juga ikutan ndlosor.

“Nah kuwi Le, Bapak Ibumu sudah memberikan pendapat. Kamu milih yang mana sekarang.”

“Duh.. la kok Bapak Ibu ndak kompak begini suaranya ? Saya jadi makin bingung Pak Besar.”

“Ha ya itu yang namanya demokrasi Le. Kamu boleh berbeda suara, sekalipun dengan Bapak Ibumu. Yang penting itu kamu tahu, kenapa memilih yang mau kamu pilih. Bapak Ibumu ndak bakal ngelarang wis. Ya toh Sis ? Kamu lak ngajari anakmu untuk berani memilih sesuai nuraninya toh ?”

“Ya jan-jane saya pengennya Thole milih sama seperti yang saya pilih sih Ndoro.”

“Weits!! Ndak bisa. Nek Thole mau memilih ya kudu diberi kebebasan. Kecuali nek kamu mau tak cengklong gajimu.”

“Woh.. ya ndak gitu juga dong Ndoro.. Urikan tenan nih Ndoro. Mainnya ancaman..” Thole langsung ngekek mendengar Bapaknya protes.

“Jadi ya Le, yang penting itu bukan siapa yang kamu pilih. Karena InsyaAllah keduanya orang baik. Yang penting buat Pemula Pemilu seperti kamu itu justru belajar mencari tahu kenapa kamu mau memilih salah satunya. Wong kamu lak cah pinter toh. Coba banyak baca dari koran dan sumber lainnya. Bandingkan track recordnya. Baru pilih yang paling sreg di hatimu. Yang penting itu bukan siapa yang kamu pilih. Tapi kenapa kamu milih dia.”

Si Thole manggut-manggut. Mudah-mudahan dia mudeng apa yang saya sampaikan.

“La Ndoro sendiri mau milih yang mana buat besok tanggal 6 ?” Thole balik bertanya

“Buat saya, yang penting itu siapa saja yang bisa menjadikan Indonesia Bersatu. Presiden sih nomer dua.” Saya mesem…

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.