19
Jun 14

Revolusi Mentol

Sudah lama saya tidak memanggil Yu Winah dan kini saya sedang kangen-kangennya dengan Selad Solo dan Sosis Solonya itu. Maka demi memenuhi klangenan saya itu, saya pun menitahkan Mister Wasis untuk segera mencegat Yu Winah sore itu juga. Ndilalahnya memang kepeneran, Yu Winah memang sudah punya feeling yang sama. Maka bersambutlah gayung dan sore itu pun menjadi makin gayeng.

“Wah.. saya kira saya di jothaki Pak Besar loh. La kok lama ndak dipanggil nek saya pas lewat. Sudah saya banter-banterkan loh saya teriaknya. Saya lama-lamakan pas lewat depan rumah. Kolo-kolo malah saya juga ndodok di depan pager. Mbok menowo njuk dipanggil masuk. La kok adanya cuma anteng saja di dalam rumah ini.”

“Wah.. maaf beribu maaf ya Yu. Nyuwun saestu pangapunten. Beberapa waktu ini saya terpaksa harus berada di Jakarta. Demi mengudar beberapa bolah bundet yang disusun oleh teman-teman di Jakarta. La kok saya yang kebagian ruwetnya. Jadi ya nyuwun ngapunten sekali kalau jadi tidak pernah menyahut dan memanggil njenengan masuk.”

“Sibuk urusan copras-capres nopo Pak Besar ?” Yu Winah langsung saja menskak mat dengan entengnya.

“Hahaha.. ya biasalah Yu.” Saya cuma bisa ngeles sekenanya.

“Hehehe.. ya saya dan teman-teman yang kawulo alit ini ya cuma bisa berharap saja toh Pak Besar. Mudah-mudahan Presiden yang terpilih besok ya anak bangsa yang terbaik. Yang bisa gusto kerjanya. Bisa melayani rakyat. Dan yang penting punya toto dan ati. Lak ya sewajarnya saja toh pengarepannya kami-kami ini Pak Besar ?”

Yu Winah menghela napas.. tangannya mengambil sesuatu di balik tenongannya. Sebungkus permen berwarna biru dongker.

“Aaammiin.. eh apa itu Yu ? Kok sepertinya saya slamur-slamur kelingan. Mirip panganan jaman baheula.”

“Owalah.. ini Pak ? Ini lak cuma permen Davos.. Permennya golongan kasepuhan seperti saya. Ben semriwing mulutnya.”

“Owalah.. kok ya masih ada ya permen ini. Tak kira sudah punah ditelan jaman je. ” Saya menimang-nimang permen biru ini. Saya jadi teringat jaman muda saya dulu.

“Hahaha… Ndoro kie kok ya sok ngece tenan. Permen Davos ini sih masih banyak nek di desa saya sana. Tapi ya cuma simbah-simbah sek doyan. Nek anak muda ya ndak doyan. Rasane jadul kalau anak saya bilang.”

“Lha iya Kang.. Permen mentol seperti ini ya memang cocoknya buat kasepuhan. Nek buat anak muda ya sudah ganti nama. Ganti bungkus. Padahal jan-jane ya isine lak ya sama toh ya ? Sama-sama mentol.” Yu Winah masih sibuk mengulum Davosnya.

“La ndak cuma permen Yu. Sekarang saja banyak rokok yang pake mentol kok. Ben makin semriwing nek diserot. Makin wangun. Katanya sih gitu.”

“Lucu ya Pak Besar. Padahal mentol-mentolan itu lak permen jaman dulu banget. Tapi kok ya masih bisa moncer sampai sekarang. Bahkan bisa makin banyak jenisnya. Makin kondang. Tidak seperti permen jaman dulu yang lain.”

“Oh iya.. bener Yu. Padahal dulu banyak permen yang rasanya ndak kalah enak yo. Kayak Sarsaparilla dan Frambozen. Sekarang sepertinya sudah ndak ada lagi rasa-rasanan seperti itu ya ? Sek masih awet itu ya mentol-mentolan seperti ini. Ya toh Yu ?”

“Ho oh Kang.. Mentolnya pinter. Mentolnya berevolusi. Supaya ndak ditlindes jaman. Kudu bisa beradaptasi dengan perubahan titimangsa.” Yu Winah tampak serius.

“Walah Yuuu.. bahasamu kok muluk tenan. Revolusi Mentol segala.” Mister Wasis tergelak.

“Tapi ya memang benar apa kata Yu Winah itu loh Sis. Yang namanya revolusi itu perlu. Nek ndak, ya bener-bener ketlindes jaman. Apalagi nek bisa nututi dengan makin banternya efek dari globalisasi. Bisa ilang betul itu.” Saya kok mendadak jadi seperti mendapat dejavu.

Nek Mentol saja harus berevolusi, lalu bagaimana dengan mental ?


13
Jun 14

Dobel Kobol-Kobolnya

Genderang tetabuhan tari Samba di Brazil sudah sampai di Bulaksumur. Mister Wasis sudah mulai persiapan joged-joged tari Samba sejak seminggu yang lalu. Dan sebagai seorang connoisseur bal-balan kelas Tarkam sejati, tentu Mister Wasis tidak akan melewatkan satupun pertandingan wahid dari ajang Piala Dunia. Ajang bal-balan seantero jagad raya yang cuma muncul setengah windu sekali ini.

Wis jangan tanya lagi persiapan yang sudah dilakukan Mister Wasis. Mulai dari memberikan instruksi khusus kepada Nyai Wasis untuk menambah stok kopi dan gula, sampai menambah alokasi dana khusus non-budgeter untuk cemilan kacang kulit, kacang bawang, kacang godog dan kacang-kacangan lainnya. Wis pokoknya semua cemepak rapi sebelum gelaran Piala Dunianya dimulai.

Dus.. mendadak sontak, sore beberapa hari yang lalu, televisi kesayangan kami sekeluarga mulai berulah. Mulai dari memudarnya warna, sehingga semua tampilannya jadi tampak semu-semu biru esem. La nek nonton Mahabharata jadi lucu ini. Semua tampak seperti Kresna yang jika mengacu pada literatur aslinya adalah manusia yang berkulit kebiru-biruan. Gejala tidak mengenakkan ini mulai menggerus hati Mister Wasis yang sudah mendambakan pesta lek-lekan yang makin menjelang. La cilakanya tadi malam kok si televisi ini makin parah saja, dan akhirnya pagi ini, sepertinya si televisi ini memutuskan untuk mangkat dan moksa dengan samaptanya setelah mengabdi selama 11 tahun.

Pucetlah Mister Wasis. Maka dengan tergopoh-gopoh, menghadaplah Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini di pagi hari ketika saya sedang sarapan.

“Ndoro.. Nyuwun sak agenging pangapunten. Tapi ini ada sesuatu yang krusial dan urgent. Jadi …sesuai yang kita ketahui bersama, bahwa Piala Dunia sudah menjelang nanti subuh.”

“La terus ?” Saya masih sibuk mengunyah roti gandum panggang yang belepotan selai stroberi buatan Nyai Wasis.

“Ha televisinya sudah moksa Ndoro. Njuk acara nanti subuh ya terancam gagal. Masak iya saya kudu kemulan di pos ronda ? Ha padahal sudah cemepak semua.”

“Ha njuk kepriye maksudnya?”

“La kan televisinya sudah mangkat toh Ndoro. Gimana nek segera diagendakan saja tumbas televisi baru. Sek tipis-tipis itu loh Ndoro. Sek suara jegler-jegler biar nonton Piala Dunianya makin mantep.”

“Welah.. permintaanmu kok subversif toh Sis ? Kok njuk merongrong kondisi moneter kamu Sis.”

“Wah.. ya ngapunten sekali Ndoro. Tapi ya mosok Ndoro ndak nonton Piala Dunia nanti malam po ? Pembukaan loh Ndoro. Di Brazil loh ini kedadennya Ndoro. Ayu-ayu tur bohay-bohay mesti penari sambane.”

Hasyaahhh.. Ndak usah ngompori nek sek bab bohay-bohay begitu. Tak wadulkan ke bojomu loh. Ben dicengkiwing kowe nanti.”

“Woh.. ampun saestu Ndoro. Mbok jangan wadulan begitu. Ha nek ndak kerso nonton sek bohay-bohay, ya mosok Ndoro bakalan melewatkan ramenya kampanye Pilpres ? Mosok ya seorang guru besar njuk kalah informasi ?”

Waduh.. Touche… Nekat tenan ini si Wasis menyerang saya dengan kelemahan paling fundamental. Kebutuhan saya akan informasi memang tidak bisa tidak kudu terpenuhi. Ah semprul tenan ini Wasis.

“Wah.. semprul tenan kowe Sis. Mosok nyerangnya langsung skat mat. “

“Hasekk.. jadi.. ditumbaskan televisi baru ya Ndoro ? Wah.. maturnuwun Ndoro. Haseekk.” Mister Wasis mendadak joged samba.

“Ya wis.. nanti siang diagendakan ke Takrib. Tumbas satu yang tipis. Ben penak bolehmu nonton. Tapi syaratnya cuma satu. Saya ndak mau ada alasan ngantuk besok paginya.”

“Siap Ndoro. Sendiko dawuh!”

Saya baru melahap beberapa suapan roti gandum bakar, lhadalah kok Nyai Wasis juga menghadap.

“Ndoro Besar.. Nyuwun pangapunten. Tapi kawulo mau mengajukan revisi anggaran rumah tangga.”

“Weits. Ada apa ini kok ada revisi anggaran rumah tangga di masa reses seperti ini?”

“Nganu Ndoro.. berhubung bulan puasa sudah menjelang. Maka harga sayur mayur dan lauk termasuk iwak dan tempe sudah mulai merangkak naik. Maka, dengan sangat terpaksa, demi menjaga stabilitas tempe garit, kawulo harus mengajukan penambahan anggaran.”

“Duh.. ini barusan saja suamimu minta dana non-budgeter buat beli televisi baru. La kok sekarang ada tambahan budget lagi. Wah.. suram ini kondisi keuangan. La ini kira-kira tambahan anggarannya perlu berapa banyak ?”

Nyai Wasis mengacungkan 2 jarinya..

“20 % ?” Saya agak lega karena ternyata kenaikannya tidak terlalu banyak.

“Mboten nDoro.. Dua kali lipat maksud kawulo Ndoro.”

Mendadak saya pilu… Dompet saya terasa amat sangat tipis. Dobel kobol-kobolnya. Duh…


28
Apr 14

Demokrasi Feodalism

“Jajan pasarnya Pak Besarrr… ” Seru Yu Winah di teras rumah.

Sore hari seperti saat ini, seperti biasanya, Yu Winah mampir ke rumah menawarkan jajan pasar spesialisasinya. Dan tentu saja dengan senang hati kami di rumah kecil ini menyambut beliau. Bukan saja karena beliau membawa makanan kecil bergizi camilan sekeluarga, tapi ya karena biasanya banyak informasi berharga yang dibawa. Ibarat dunia telik sandi, dari mulut beliau ini kita sering kali mendapatkan informasi A1 yang sangat berharga.

Dan setelah menjereng jajan pasarnya di atas tenongnya seperti biasa, Yu Winah pun mulai bercerita. Tangannya masih sibuk menata jajan pasar seperti menata gelar pasukan Mahabharata. Yang jajan pasar basah dipisahkan dengan yang kering. Yang berat dipisahkan dengan yang ringan. Yang perlu finalisasi khusus juga dipisahkan agar mudah.

“Pak Besar, nek menurut kaidah perbahasaan, jan-jane istilah Pemerintah itu benar ndak toh ?” Ujug-ujug Yu Winah sudah mulai masuk ke pembahasan yang sepertinya bakalan kritis dan analitis.

“Lah memang kenapa je Yu ? Kok istilah bahasa wae dipermasalahkan.” Mister Wasis sudah menyomot sate usus kegemarannya.

“Gini loh Kang. Istilah pemerintah itu lak dari kata dasarnya perintah. Dan perintah itu lak biasane satu garis. Dari yang berkuasa, ke bawahannya. Mirip seperti titah raja nek di negara kerajaan. Padahal kita ini lak bukan negara kerajaan. Negara Demokrasi je. Lah kok kemudian disebutnya Pemerintah. Nopo ndak salah kaprah niku ?”

Jidat saya jadi berkerut-kerut. Ini kok yang disebut sebagai akar rumput dan rakyat jelata, tapi pemikirannya bisa trengginas, analitis dan kritis seperti ini ya ? Ha kalau rakyatnya saja sedemikian kritis dan analitis, kudunya wakil rakyat di gedung kura-kura hijau itu lebih kritis dan analitis toh ya ? Tapi kok rasanya rada kebalik ya dengan kenyataannya.

“Wah Yu, njenengan memang luar biasa toh. Bisa jadi dirimu benar adanya. Dalam cara Inggris, disebutnya itu Goverment, dari katanya to govern alias mengurusi. Nek mengurusi itu tentu saja beda dengan memerintah. Karena nek mengurusi kan berarti melihat dulu apa kebutuhan yang diurusi, kemudian mengupayakan bagaimana caranya supaya sek diurusi itu bisa kajen. Ya mirip dengan pelayan masyarakat betul. La nek pemerintah itu, ya seperti katamu tadi, kerjanya hanya memberikan perintah. Mirip yang terjadi di sistem kerajaan yang rajanya lalim. Feodalism kalo istilah dari Prof. Lantip sang maestro bahasa. Dan seringkali perintahnya berasal dari kekarepannya pribadi. Tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang kudunya diurusi.”

“Nah itu lah Pak Besar, saya jadi curiga. Gek-gek istilah pemerintah itu sengaja dipergunakan karena sebenarnya kita ini berada di kerajaan. Yang jadi rajanya itu Presiden. Terus bawahan-bawahannya itu jadi mantri-mantri dan seterusnya. Njuk kita sebagai rakyat ini cuma dilihat sebagai obyek yang bisa diperas dan diperintah sak karepnya mereka.” Yu Winah tampak pilu.

“Ealah Yu.. urusan bahasa wae kok jadi ribet ya? ” Mister Wasis kali ini meraih arem-arem.

“Bukan perkara bahasanya saja loh Sis. Bahasa itu lak pengungkapan maksud. La nek bahasanya salah, sek diterima juga salah. Dan karena ini sudah terjadi selama sekian puluh tahun, tidak salah kalau kemudian terjadi penanaman pemahaman yang salah. Jadi wajar nek para PNS yang kerja di pemerintah itu jadi kurang pas bolehnya melayani masyarakat. La wong mereka dipihak pemerintah, alias yang memberikan perintah, la kok sekarang disuruh melayani masyarakat. Sejak kapan penggede itu bisa melayani ?”

Mister Wasis pun manggut-manggut dengan mulut yang masih mengunyah arem-arem dengan gustonya.

“Nah itulah Pak Besar. Kira-kira enaknya diganti istilah apa ya Pemerintah ini. Supaya pas gitu loh niatnya. Sebagai pelayan masyarakat. Bukan sebagai pemberi perintah ke rakyat saja.”

“Sek ya Yu. Nanti saya bawa diskusi ini ke tahap yang lebih pas. Biar pas nanti nek saya ketemu sama guru-guru besar tata bahasa biar dibahas lagi. Ben sisan pas dan trep bolehnya disolusikannya.” Saya kini meraih selad Solo kegemaran saya.

“Nah sudah.. silakan dihitung dulu Yu. Tadi Wasis ambilnya apa saja tambahannya. Saya ambil selad Solo sama Loenpianya tiga.”

“Semuanya Tiga Puluh Lima Ribu saja Pak Besar. Termasuk sama yang sudah dicekethem sama Kang Wasis itu.”

“Heheheh.. ini buat yang di belakang kok Ndoro. Bukan buat saya. Hehehe.” Mister Wasis cengengesan.

“Ya boleh saja. Sisan ditambahi lagi biar pas Empat Puluh Ribu.” Saya ngelungke uang bayaran ke Yu Winah.

“Maturnuwun Ndoro. Aseekk.. ” Mister Wasis mengambil beberapa tusuk sate usus dan sate telur puyuh lagi.

“Maturnuwun Pak Besar sudah dilarisi. Saya pamit nggih.” Yu Winah bergegas membereskan tenongannya untuk kembali beredar.

“Saya juga maturnuwun Yu. Nanti kita ngobrol lagi ya bab Pemerintah Feodal ini. Tak bahas dulu dengan sek lebih mumpuni di bab perbahasaan.”

“Injih Pak Besar. Pareng..” Yu Winah berpamitan dan meninggalkan teras dengan wajah sedikit kelegan. Sepertinya apa yang dipikirnya beberapa hari ini sudah bisa keluar.

Semoga cerita ini bisa saya bawa ke pertemuan dengan Prof. Lantip sang maestro Bahasa. Dan semoga kita bisa menemukan istilah yang lebih pas daripada istilah yang Feodal-Feodil sekali ini.


21
Apr 14

Ontran-Ontran Indonesia

Beberapa minggu terakhir ini, Mister Wasis sedang gandrung menonton Serial Mahabharata yang diputar salah satu televisi swasta. Setiap jam 20.30 malam sudah sedakep mantep di depan televisi untuk menonton serial kegemarannya. Dan malam ini pun kejadiannya sama. Jam dinding sudah menuju 20.30, dan mister Wasis sudah mulai nyekethem remote tivi. Sambil ngembil rempeyek atau kletikan lainnya di lodhong. Memastikan ritual malamnya tidak ada yang mengganggu. Tidak pula saya. Kalau saya mau nonton yang lain, pasti bakalan ada perang dunia kecil di rumah ini.

“Kowe kok segitunya betul toh Sis bolehnya nonton Mahabharata. Lak ya kamu sudah hapal semua detail ceritanya. Wong kamu ini turunan dalang toh ?”

“Ha ya nek babakan cerita Mahabharata ya saya sudah ngelotok luar dalam lahir batin Ndoro. Tapi ya tetep tidak pernah jeleh tuh Ndoro. Tur ini tetep wangun je. Nek saya kan tahunya cuma versi Jowo. La yang versi India ini lak baru. Apik tenan loh Ndoro. Bisa mirip tenan ngono.”

“La wong lakonnya sama. Sama-sama Mahabharata kok ya. Ya wajar nek mirip toh?”

“Ya tetep ndak wajar Ndoro. Lakon yang saya tahu kan berasal dari turunan ala Jawa. Padahal Jawa sama India lak jauh toh Ndoro ? Numpak montor mabur saja berapa lama coba ? La kok ini bisa mirip tenan. Lak brati ada yang ngajari orang Jawa tentang Mahabharata sampai sedetil-detilnya toh Ndoro ? Sampai terus bisa diturunkan sampai generasi saya loh. Wangun ini..”

Touche. Gemblung tenan ini Prime Minister Kitchen Cabinet saya. Analisanya tetap saja tajam dan natural.

“Apalagi sekarang baru episode seru-serunya Ndoro. Ini baru lahirannya Kurawa dan Pandawa. Apik tenan. Penasaran sama bentukannya Duryudana sama Raden Arjuna. Ngganteng e koyo opo toh nek versi India.”

“Lah kok sek didelok malah ngganteng tur bagusnya. Tak kiro kowe kesengsem sama ceritane tok je.”

“Ha cerita itu lak makin lengkap nek aktornya ngganteng, bagus, sumeh toh Ndoro. Sek perempuannya ayu, semlohai tur kenes.”

“Hahahahah.. ya bolehlah sana. Silakan ditonton saja sampai puas.”

“Tapi ya Ndoro, yang saya gumun dengan cerita Mahabharata ini toh, mirip tenan loh sama Indonesia sekarang. Sedang babagan ontran-ontran rebutan kekuasaan. Banyak muncul resi-resi kapiran. Padahal sejatinya selicik Sangkuni.”

Ontran-ontran gimana ?”

“Ha ya rebutan kursi dan kekuasaan di Istana itu Ndoro. Mungkin karena namanya Istana Negoro ya, makane rebutannya persis seperti Mahabharata. Koyo rebutan Hastinapura gitu. Coba nek Ndoro pirsani di hasil pemilu legislatif kemarin. Lak kelihatan sejatine para pemimpin partai itu toh ? Tidak ada teman yang sejati, tidak pula ada musuh yang sejati. Sek ada ya mung kepentingan sejati. Selama kepentingannya bisa kelakon, siapa saja bisa jadi teman ataupun lawan. Banyak petinggi partai sek menjilat ludahnya sendiri. Pinter tenan le bersilat lidah. Adu domba sana-sini. Persis seperti Sangkuni sek ngglembuki Destarata sek wuto dan anak-anaknya sek kemlinthi itu.”

“La sekarang nek Indonesia kita mirip seperti Mahabharata, njuk siapa yang jadi Pandawa sek siapa sek jadi Kurawa ?”

“Nah itu serunya ontran-ontran di Indonesia Ndoro. Ndak jelas mana yang jadi Pandawa mana yang jadi Kurawa. Semuanya berpura-pura baik. Tapi semua juga main kotor. Sek jelas lakon e ya cuma satu Ndoro.”

“Sek lakon yang mana?”

“Lakon masyarakat jelata. Ha ya kita-kita ini. Sek cuma bisa nonton dagelan ontran-ontran di Istana itu.”

“Hmm.. Kok kowe makin hari makin wasis saja toh Sis ?”

“Lah.. nyak Ndoro kie. Ngece.. la wong saya cuma bisa nonton saja kok ya. Ya seperti nonton Mahabharata ini. Mung bisa nonton nDoro.. Nonton doannngg..”

Yah.. kita memang cuma bisa menonton. Mudah-mudahan kita tidak ikut menderita seperti rakyat Hastinapura sek diplekotho Kurawa ya Sis. Semoga..


31
Mar 14

Haute Cuisine De Garangasem

Haduh nDoro.. nyuwun duko… ketiwasan sanget..Ujug-ujug Nyai Wasis ndeprok di dekat kursi malas tempat saya sedang membaca koran sore. Mengadu. Sedih sekali nadanya. Mister Wasis pun ujug-ujug ikut ndeprok di samping istrinya tanpa suara.

“Weh.. ada apa je ? Kok sampai seperti ini bolehmu nyuwun ngapunten ?” Saya juga jadi ikutan deg-degan melihat Nyai Wasis sampai ketakutan seperti ini.

Nganu nDoro.. Ketiwasan.. Nasi buat maem malam nDoro rada kurang air, jadinya rada pera. Ndak seperti yang seperti biasanya yang Ndoro senengi.. Ngapunten sanget nDoro.” Nyai Wasis masih saja menunduk ketakutan sambil tangannya meremas tangan suaminya.

“Ealaahhh.. cuma perkara nasi pera toh ?” Deg-degan saya jadi hilang. Karena duduk perkaranya ternyata tidak terlalu gawat darurot.

“Ha ya gampang saja itu solusinya. Wis.. Ndak papa wis. Nanti biar suamimu keluar sebentar. Tumbas Garangasem di depan Amplaz itu. Buat nemeni maem nasi pera ya cocoknya yang berkuah dan seger. Contohnya ya garangasem itu. Wis beres.. gampang toh.”

“Duh.. Ndoro.. maturnuwun sanget. Tadinya saya takut kalau Ndoro marah.” Suara Nyai Wasis sudah mulai tenang.

“Halah.. cuma perkara seperti itu loh ya. Apa perlunya marah-marah. Wis sana ke belakang. Tolong gorengkan sedikit emping buat temen maem garangasem.”

“Sendiko dawuh nDoro..” Nyai Wasis tampak kelegan sekali. Dan kemudian kembali ke dapur. Sudah bisa mulai tersenyum kembali. Saya pun kelegan juga.

Suaminya yang tadinya ndeprok dengan penuh takzim sekarang jadi nyekakar. Seperti manusia yang kelegan sekali hatinya. Sudah bisa mrenges lagi. “Haduh.. sudah meh mati saya tadi deg-degannya Ndoro. Takut nek diamuk Ndoro.”

“Halahh.. kowe kie yo sok berlebihan. Kapan saya pernah marah sama kalian berdua ?”

“Heheheh.. ha ya malah karena Ndoro tidak pernah marah itu, dalem berdua malah jadi takut nek sampai membuat Ndoro ndak kepenak. Pakewuhnya ndak ketulungan nDoro.”

“Hahahaha.. padahal ya ada solusinya toh ? Ha ya sudah, sana mampir ke depan Amplaz. Tumbas Garangasem 3 bungkus. Yang anget ya ?”

“Sendiko dawuh Ndoro. Saya mancal motor dulu sebentar.” Mister Wasis segera pamitan dan tak lama kemudian suara motornya terdengar menjauh… Jug..jug..jug..jug.. wer..wer..

Garangasem memang bukan masakan sepele. Buat saya, garangasem adalah hasil perenungan yang luar biasa. Ayam kampung yang dagingnya cenderung alot, bisa berubah menjadi hidangan daging yang succulent dengan tingkat keindahan rasa dan aroma yang luar biasa cantikDengan aroma gurih dari santan kelapa yang menguar indah. Memang ada gagrak garangasem yang tidak menggunakan santan kelapa, yang diganti dengan air kelapanya. Gagrak ini pun tak kalah cantiknya.

Gelar Haute Cuisine nya Garangasem saya sematkan bukan karena dipersiapkan menggunakan bahan terbaik yang harganya mahal. Tapi justru karena Garangasem adalah solusi dari bahan makanan yang terbatas tapi bisa menghasilkan kualitas yang sangat boleh dipoedjikan.

Ayam kampung yang lembutnya diperoleh karena dikukus menggunakan air kelapa dan campuran belimbing wuluh. Belimbing wuluh pun adalah solusi pengempuk daging yang secara bijaksana dipilih karena asamnya yang khas dan bisa blending dengan yahud dengan ayam kampung dan kemiri. Komposisi bahan lainnya pun diperoleh dengan mudah. Kemiri yang ditambahkan membuat kuahnya makin mlekoh dan gurih. Dibungkus dengan daun pisang, kemudian dikukus sehingga aroma daun pisang bisa merasuk indah ke dalam daging ayam kampungnya. Istilah sekarangnya adalah metode slow cooking. Memasak dengan pelan, sebuah metode memasak yang digadang-gadang berlawanan dengan metode fast food yang sedang meraja dimana-mana.

Dan Garangasem justru menjadi punya nilai lebih karena nasi yang nikmat untuk disantap bersamanya bukanlah jenis nasi yang pulen. Justru lebih enak jika nasinya sedikit keras, sehingga kuahnya bisa meresap dengan cantik di sela-sela nasi. Ini adalah solusi cantik dimana dulu nasi yang diperoleh kebanyakan adalah nasi yang agak keras. Nasi pulen sangat terbatas jumlahnya dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan. Maka justru menjadi ketiwasan yang melegakan ketika Nyai Wasis secara tidak sengaja memasak nasinya agak keras. Cocok sudah.

Memang selalu ada kebetulan yang indah untuk setiap rencanaNya. Dan rencanaNya kali ini memang nyamleng sekali. Garang Asem berteman emping melinjo Mbantul buat makan malam adalah endess margondes.


27
Mar 14

Janji Suwargi Caleg

Sore hari seperti beberapa waktu ini agak panas. Rasanya ngelaras rasa jadi kurang nyes kalau dilakukan ba’da Ashar. Maka biasanya kemudian saya geser sedikit waktunya sampai menjelang Maghrib. Sambil menikmati teh hangat, sambil menikmati pendar sinar matahari tenggelam, rasanya memang nyes betul.

Mister Wasis biasanya sedang menyirami latar depan. Pemandangan air yang mancur dari selang, bertemu dengan sinar matahari sore, rasanya membuat batin tentrem betul. Luar biasa nikmat dariNya.

Sama seperti sore ini, Mister Wasis sedang menyirami latar depan, dan saya sedang menikmati teh sore dari Perkebunan Teh Tambi sambil membaca koran sore dan mencomot loenpia depan Gardena yang baru saja dibelikan Mister Wasis. Mak legender rasanya.

“Ndoro.. sambil ngobrol ya.” Mister Wasis sepertinya pengen ngudo roso

“Yoh. Mau ngobrol apa ?” Saya menyahut sambil mata saya tetap membaca ke koran.

“Sek lagi hot saja Ndoro. Masalah caleg.”

“Hot dan abot. Piye statementmu ?” Saya berhenti membaca koran. Sepertinya yang kali ini perlu diperhatikan lebih saksama.

“Gini loh Ndoro.. Caleg itu kan nek janji-janji selalu muluk tenan ya. Dan biasane syarate njuk berakhiran, saya akan blablabla kalau nanti terpilih. Jadi coblos saya ya.”

“He em.. lalu terus gimana ?”

“La para caleg itu apa ndak mikir ya besok itu pertanggungjawaban mereka di suwargi njuk kepripun gitu loh Ndoro ?”

“Lha kayaknya sih para caleg itu ndak mikir sampai sana je. Buat mereka sepertinya yang penting bisa jadi legislatif dulu. Yang begituan sih perkoro belakangan. Kan nek wis jadi legislatif mereka bisa ngumpulin duit buat nyumbang masjid. Tur nanti kalau sudah tua ya tinggal diperbanyak ibadah. Wis bakbuk lah.”

“Gemblung tenan ya Ndoro. Memang mereka pikir nek suwarginya Gusti Pangeran itu bisa dibeli nopo yo ?”

“Hahaha.. kok abot men toh pikiranmu Sis. Tumben.”

“Hehehe.. saya jadi kebayang gini Ndoro. Jika suatu hari di hari pengadilan itu Para Caleg sudah dikumpulkan di suatu tempat. Terus para malaikat menyampaikan kalau mereka semua masuk surga. Seneng mesti para caleg itu.”

“Njuk digiringlah mereka semua ke suatu tempat yang dijanjikan bernama surga. Jebul disana mereka tidak ketemu yang indah-indah. Apalagi bidadari-bidadari bohay. Yang ada malah justru kesusahan dan siksaan.”

“Njuk para caleg itu para protes. “Wahai malaikat, kok kalian membohongi kami ? Kalian mengatakan bahwa kami akan diberikan surga yang penuh keindahan dan wanita cantik. Kok ini malah kami dapat tempat yang penuh kesusahan dan kami diberatkan dengan siksaan.”

“Njuk para malaikatnya dengan kompak mbales : Lah kalian dulu kan juga seperti itu.” “Mesti njuk cuma bisa mringis saja itu para caleg. Kepangan kelakon e dewe pas masih di dunia. “

“Heheheheh.. bayanganmu bisa jadi tenan kuwi Sis. Mung ketok e kok para malaikat kie ora entuk ngapusi je. “

“Heheheh.. la ini kan cuma bayangan saya Ndoro. Mesti nggonduk tenan itu para caleg.”

“Hahaha.. nggonduk tenan mesti kuwi. Eh Sis.. kuwi wit markisane wis teles kebes kuwi. Kakehan ngalamun wae kowe.

“Eh iya.. Duh..” Mister Wasis langsung memindahkan siramannya ke tanaman lainnya. Dan saya langsung memindahkan pikiran saya ke koran sore yang ternyata masih berkisar tentang janji suwargi para caleg. “Saya menjanjikan ambulan untuk seluruh masyarakat jika saya terpilih besok.” sebuah judul besar terpampang di koran sore saya kali ini.

“Ah.. mbelgedes!!”

PS : cerita ini terinspirasi dari tulisan di facebooknya Dolob Lover. Saya cuma kebagian menulis ulang dengan bahasa berbeda 😀


24
Mar 14

Cleret Tahun Dan Pesta Demokrasi

Buat kami yang tumbuh di pedesaan pada jaman semono, tentu sering saja mendengar ada kasus cleret tahun. Kejadian maha luar biasa yang membawa petaka pada suatu daerah. Banyak yang tiba-tiba sakit parah. Bahkan saking beratnya Cleret Tahun bisa menyebabkan kematian dengan sangat cepat. Biasanya diawali dengan angin kencang yang memekakkan telinga.

Dan kini periode itu datang pula. Tak cuma di desa, tapi juga makin parah di kota-kota. Cleret tahun ini muncul dengan beraneka warna. Ada merah, hijau, biru, oranye, kuning dan lain sebagainya. Suaranya benar-benar memekakkan telinga. Dari kejauhan saja sudah terdengar kalau nggerisi ati. Banyak yang trimo tidak keluar rumah daripada harus berpapasan dengan Cleret tahun yang mbebayani ini.

Termasuk juga Yu Winah yang trimo lebih banyak ngendon di komplek perumahan dan terutama teras rumah saya, daripada berpatroli menjajakan jajan pasar seperti biasanya. Ndilalahnya memang banyak yang mborong dagangannya, jadi ya pas wis.. Tumbuk oleh tutup.

“Wah Kang.. nek wis musim kampanye seperti ini, mending saya ndak muter wis nek ndak kepepet.”

“La iya noh Yu. Wis berisik, nganggu, kadang yo malah meden-medeni barang kampanyenya.”

“La ya kayak gitu kok mau mimpin negoro ya Kang ? Lak yo mung dadi geguyu pitik toh ? La wong pas saatnya mencari simpati rakyat tapi malah mendapat sebalnya rakyat, kuwi lak salah kaprah toh ? Dan diulang terus je. Opo ndak gendeng namanya ?”

“La ya memang gendeng Yu. Mister Ainstain, wong sek pinter banget kae nek jarene Ndoro Besar, pernah ngendiko, gendeng namanya nek mengharapkan sesuatu yang berbeda jika dilakukan dengan cara yang sama. La cara kampanye yang sama kok pengen mendapat simpati rakyat. Lak ya cen gendeng namanya ?”

“Betul kuwi Kang. Saya ya nggumun tenan. Mereka ini kan lak ya pengen dianggap layak sebagai calon pemimpin negara yo ? La tapi ngurusi konstituennya saja sek cuma sedikit itu saja ndak mampu, la kok pengen bisa memimpin negara sek orangnya lebih banyak tur kekarepan e luwih macem-macem.

“Sedang demam sepertinya kok Yu. Demam Rumongso Biso.”

Rumongso Biso itu memang penyakitnya penggede-penggede ya Kang. Nek kita-kita sek kawulo alit ini memang harus lebih pintar untuk Biso Rumongso. Tahu sikon, situasi dan kondisi. Mana yang pantas dan trap, mana yang tidak pantas dan sebaiknya dihindari.”

“Eh Kang, Ndoro Besar ikutan jadi caleg ndak ?”

“Ealah Yu.. Ndoro Besar itu lak ndak punya duit. Gimana mau nyaleg. La wong nek ada sek minta sumbangan kecil-kecilan saja sering kecut pulangnya. Soale cuma disangunoni sewu.. nuwun sewu maksudnya..”

Ealah.. sontoloyo juga ini Mister Wasis. Mbuka wadi..

“Hahahah.. malah bener kuwi Kang. Ndoromu itu bener malahan toh ? Biso rumongso. Nek ndak punya duit ya ndak usah memaksakan diri ikutan sek beginian. Wong ini gaweannya wong turah-turah duit. Mbangane edan nek ora keduman kursi. Kecuali nek ada sponsor ya ?”

“La sek arep sponsor kie ya mesti mikir-mikir nek mau nyeponsori Ndoro Besar. La wong senengane cuma reriungan di rumah. Ndak suka luntang-luntung nyari proyek. Proyek yang digarap saja palingan cuma proyek opo toh Yu.. Proyek bareng mahasiswa dan teman-temannya itu.. Sek ndak ada duite itu.”

“Wooo.. sembarangan tenan kowe Sis. Proyekku ya ada duitnya loh.” Gemes juga saya mendengar Mister Wasis daritadi kok ngece saya.

“Ealah.. Ndoro denger toh.. hihihihi. Tapi opo iyo toh Ndoro ? Mosok proyek e Ndoro ada duitnya ? La iku kok mobil Kijang Komandonya masih betah saja di garasi. Padahal sekarang sudah jamannya Innova atau Livina.”

“Wooo.. Duitnya proyekku memang ndak bisa sampai bikin beli Innova atau Livina. Tapi bisa bikin aku plesiran kemana-mana.” Saya ya ndak mau kalah.

“Hahahah.. Ndoro ngeles wae.” Mister Wasis menang angin.

“Ah.. kowe sontoloyo tenan Sis.”

Yu Winah jadi ikutan ngecek mendengar keributan kecil di sore ini.


21
Jan 14

Golmut.. Golongan Mutung

Sore-sore di teras yang sedang gerimis seperti cuaca akhir-akhir ini memang asyik masyuknya sambil menikmati kopi hangat ples kudapan ringan ala priyayi. Selat Solo yang kemrenyes kripik kentangnya makin endes ketika ketemu asemnya acar mentimun. Kuah mlekohnya tentu makin mak legender ketika telur pindangnya pas kena kuning telur. Aahh.. nikmat..

Saya masih sibuk menikmati selat Solo yang marem ini ketika Yu Winah dan Mister Wasis sibuk berpadu di teras. Berpadu maksudnya saling padu.. Memadu padankan pendapat tepatnya.

Suara ribut mereka jadi menarik perhatian saya yang kebetulan sudah habis satu ronde selat Solo. Sambil membawa cangkir kopi Arabica Merapi, saya jadi pengen ikutan menimbrung perpaduan mereka berdua. Dengan berjingkat-jingkat saya ke teras depan. Supaya tidak mengagetkan keseruan perpaduan mereka.

“Lagi banjir seperti ini dimana-mana yo Kang.. La kok malah ada caleg sek ndak punya hati malah kampanye di bantuan buat pengungsi banjir.” Yu Winah tampak gemas sekali.

“Wedian tenan memang caleg-caleg sekarang ya Yu. Kok ya ndak punya etika yo ? Wong lagi pada susah kok ya dijejeli kampanye.” Mister Wasis dengan semangatnya mengompori.

“Ho oh Kang. Kampanye itu malah seperti pagebluk sekarang. Datang ramai-ramai, ribut sekali dengan atribut macem-macem tur warna warni, eh bukannya membawa kesejahteraan, malah mbawa sawan. Membawa mangkel saja di hati.” Yu Winah meracau.

“Betul sekali! Nek jaman dulu itu pagebluk marahi anak-anak jadi kena demam. Sek tua-tua jadi was-was. Ha sekarang nek pas kampanye itu ya sama saja. Semua kok sepertinya sudah demam panas dingin kalau lihat caleg mau kampanye. Pengennya gek ndang rampung saja acaranya. Nek perlu disawat sendal saja biar gelis rampungnya.”

“Hus.. kalian berdua ini loh. Wong orang sedang berusaha mencari simpati kok malah disawat sandal.” Saya ngekek dengan brutalisme Mister Wasis. Jika tidak distop imajinasinya sekarang, bisa-bisa beneran nyawat sandal ke calon legislatif yang akan kampanye dalam waktu dekat ini.

“La menyebalkan betul je Ndoro. Nyari simpati kok malah menyebabkan antipati. Apa ndak salah strategi atau memang waton saja strateginya ?”

“Betul itu Pak Besar. Nek caranya para caleg itu nyari simpatinya seperti sekarang, ha ya mesti ditinggal konstituennya betul. Wis jeleh je kami ini dijanjeni macem-macem tur mung nggedebus. Besok kalau sudah duduk di kursi dewan lak mung memperkaya diri. Wis males le niteni pokoknya Pak Besar.”

“Ha terus kalian maunya gimana ?”

“Ha ya kami berdua tadi sepakat. Pokoknya besok pas Pemilu mau Golput. Tidak mau nyoblos blas. Sudah males sama acara Pemilu-pemilunan?”

“Golput atau golmut ?”

“Golmut itu apa Ndoro ? Kok saya belum pernah dengar ?” Mister Wasis kukur-kukur kepala.

“Golmut itu Golongan Mutung. Ha ya seperti kalian berdua itu. Mutung ndak mau milih.”

“Ha ya gimana lagi Pak Besar ? La wong para caleg itu ya mung rajanya tega je. Sudah dipilih bener-bener la kok malah ngapusi rakyat kecil. Korupsi gede-gedean sisan. Tur sek dikorupsi itu duit negara, duitnya kami-kami sek kecil ini. ” Yu Winah tampak geram betul.

“Ha ya bener.. memang banyak caleg yang ndableg sekarang. Ha tapi bukan begitu caranya. Ha kok njuk Golmut.. Nek banyak seperti kalian yang Golmut, ya yang menang yang suka korup-korup itu lagi. Nek duit negara dikorup, ha yang susah lak kalian-kalian juga. Kita-kita juga. Coba bayangkan.. Nek duit buat mbangun jembatan itu dikorupsi. Terus jadinya jembatannya kurang pas. Malah membahayakan yang lewat di atasnya. Trus ambles. Nek sek pas lewat di jembatan itu anakmu atau keluargamu gimana ? Lak sek cilaka kita semua ?”

“Wah.. ya jangan si Thole yang kena toh Ndoro. Wong anak saya ndak ada salah apa-apa je. Kok malah melu kena amblesnya jembatan.” Mister Wasis pucat pasi..

“Ha itu contohnya. Nek tidak memilih pas pemilu besok, sudah bisa dipastikan sek menang ya mereka-mereka lagi. Yang suka korupsi-korupsi itu lagi.”

“La terus pripun bagusnya Pak Besar ?”

“Gini saja. Mulai sekarang, titenono saja. Itu berita-berita lak banyak yang beredar. Bacalah koran sebanyak-banyaknya. Titeni daftar caleg yang ada. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Sek jelas-jelas track recordnya jelek, langsung saja hapus dari daftar calegmu. Sebarkan beritanya kalau mereka itu punya track record jelek. Ngobrolah dengan banyak orang supaya banyak yang tahu kalau itu caleg yang jelek. Bagi-bagi informasi lah. Ha seperti sek di tivi kemarin itu. Ada caleg sek bintang film panas tapi sekarang krukupan. Dikiranya lak masyarakat tidak menyadari. Padahal ya sadar betul toh ? Ha sek seperti itu titenono.

“Ha tapi sekarang banyak yang sok suci je nek pas kampanye itu Ndoro ..”

“La kan modalmu ngobrol dengan banyak orang. Banyak orang itu berarti banyak informasi. Cari informasi yang benar dan utuh. Pilih caleg yang nggenah. Biar aman urip kita semua besok. Sudah cukup je menderita selama 10 tahun di pemerintahan yang kurang nggenah seperti sekarang. Iya toh ? Lak ya kamu semua pengen makmur juga toh ?”

“Ha ya jelas toh Pak Besar. Pengen bisa makmur juga lah. Minimal kayak jaman dulu itu. Pas jaman Mbah Harto. Semua-semuanya murah. Bisa dijangkau harganya. Ndak seperti sekarang.”

“Ha ya nek gitu, mulai cari informasi caleg-caleg bosok saja. Terus berbagi ceritalah. Ben kita bisa memasukkan caleg-caleg bagus ke DPR dan MPR besok pas Pemilu. Biar caleg-caleg bagus itu yang jadi tentara anti korupsi anti ngapusi kita. Ha rak begitu toh ?”

“Wah iya ya.. Tadinya saya pikir mending mutung saja je. Jebul nek mutung kie ya ndak pas juga ya?”

“Ha ya jelas. Nek kita mutung, sek remuk ya kita sendiri je.”

Saya masuk ke dalam lagi sambil kini membawa satu porsi selat Solo lagi. Orasi sebentar saja sudah membuat perut saya minta tanduk. Ealah.. mbul..gembul..

 

 

 


18
Dec 13

Tulus dan Nothing To Loose bagai Wedhus

Pagi-pagi saya sudah mendengar keributan kecil di kitchet cabinet saya. Ternyata Nyai Wasis sedang menginterogasi suaminya yang duduk ndepis di pojokan dapur. Bagai seorang terdakwa yang terancam hukuman berat, Mister Wasis cuma bisa menunduk pasrah menghadapi interogasi istrinya itu. Terkadang, yang namanya wanita itu lebih galak dibandingkan Jaksa jebulnya.

Pripun toh Pakne. Ituloh mbok Mas Narto ditagih utangnya. Sudah 3 bulan loh belum disaur.”

La piye Bune ? Aku ya ndak penak je. La wong kayaknya Mas Narto masih belum bisa mbayar je ? La nek tak parani itu masih sering sambat nek kerjaannya belum dapat yang nggenah dan bisa menghidupi.”

“La tapi kan kita ya perlu buat mbayari sekolahnya Thole toh Pakne ?”

“Ha ya nanti sore tak coba ke rumahnya lagi wis ya ? Wis..wis.. saya tak mbuatke kopi dulu buat Ndoro.”

Tenan loh Pakne. Nanti sore ditagih loh.”

“Iyoh.. Nanti tak tagihke ke Mas Narto.”

Ketika kemudian Mister Wasis datang membawakan jatah kopi pagi saya, saya masih melihat wajahnya yang njaprut seperti Nasi kucing yang kehilangan karetnya. Ambyar.. Ethok-ethoknya saya ndak reti apa yang tadi saya dengar di dapur.

“Knapa je Sis ? Kok isuk-isuk wis njegadut ?”

“Hehehehe.. Biyasa Ndoro.. Kebutuhan domestik yang mendesak.”

“Perlu buat apa je ?

“Ya biasa kok Ndoro. Buat mbayar sekolahnya Thole. Cuma masalahnya duit saya itu baru dipinjam sama Mas Narto pojokan pertigaan itu. Mau nagih kok belum tega.”

“La memang menagih hutang itu cen urusan yang rodo berat je Sis. Nek ndak mau nagih, ya sebaiknya tidak memberikan hutang.”

“La nek diminta minjemi sama temen ya masak ndak ngasih toh Ndoro ?”

“Ha ya nek gitu diikhlaskan saja. Diberikan buat temenmu itu. Lak penak toh ? Njuk kamu ndak perlu nagih.”

“Lah.. maunya juga begitu Ndoro. Ha tapi nanti urusan bayarannya Thole pripun ?”

“La ya nek itu memang kudu gantian dipikir lagi. Heheheh..”

“Wah.. Ndoro ini loh. Malah tambah mumet saya mikirnya jadinya.” Mister Wasis makin mbesengut saja. Saya ngekek.

“Hahahahha.. ngono wae nesu. Dah..dah.. urusane Thole biar tak bantu. Sek penting urusanmu sama Mas Narto itu. Piye ? Bisa tulus ndak ?

“Waduh.. tenane ini Ndoro ? Duh… maturnuwun sanged Ndoro.. Ngalkamdulillah..

“Urusan Thole ini perlu didahulukan karena menyangkut masa depan putra bangsa. Tapi yang ndak kalah penting adalah urusanmu sama Mas Narto itu. “

“Wah.. nek bab tulus ndak tulus kok berat ya buat saya Ndoro ? Urusan hutang je.”

“Memang susah nek digondeli. Nek mau gampang kie kowe kudu koyo wedhus.”

“Loh kok jadi seperti wedhus toh Ndoro ? Apa saya disuruh maem suket gitu ?”

“Haduh.. Kok malah mangan suket kie piye ? Maksud saya, nek kowe mau belajar tulus, belajarlah sama Wedhus. Wedhus itu lak mau diperes susunya, mau diambil bulunya lak tulus-tulus saja.

Ha ya karang susu itu bakalan keluar lagi. Bulu juga bakalan tumbuh lagi. Pantes mawon nek tulus.

“La memangnya rejekimu bakalan habis tamat po ? Seperti ndak bakalan kebagian jatah lagi dari Gusti Pangeran ? Lak ya sama toh perkaranya rejekimu sama bulunya wedhus ?”

“Eh iya juga ya Ndoro ?”

La terus apa sek marakne anyel nek begitu ?”

“Ha ya jan-jane ndak ada ya Ndoro ?”

“Makane itu.. La wong bagiannya Thole bulan ini sudah saya akuisisi. Apa masih angel po sekarang nang atimu ?”

Masih je Ndoro.”

“Walah.. kok ngeyel banget toh kowe Sis ?”

“Hehehe.. kan ya ngendikane Ndoro suruh sinau dari wedhus. Wedhus lak ya ngeyelan Ndoro. Nek pas disuruh mandi. Hehehe..”

“Woooo .. wedhus gembus kamu Sis.”

“Hehehe.. Tapi serius niki Ndoro. Kok ati saya masih angel ya mau tulus seperti Wedhus ngendikane Ndoro itu. Padahal ya sudah selesai urusane Thole.”

Ha ya embuh.. Nek itu kowe sek reti perkarane.”

Mister Wasis kukur-kukur kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya berpikir keras sekali. Sesekali keringatnya menetes keluar. Semoga tetesan keringatnya itu bisa membantunya mendapatkan inspirasi yang bener.

PS : Ide ini saya dapat dari status FBnya mas Dwi. Nuwun ya Mas.


12
Dec 13

The Privilege of Selo

Ujug-ujug bulan Desember sudah tiba. La kok semua mendadak jadi terasa sangat cepat berjalan. Padahal baru saja sepertinya saya menikmati New Year Party di Hotel Ambarrukmo. Sambil beranjangsana-beranjangsini, wedang di tangan kiri, tangan kanan tak lupa mencomot canape-canape yang rasanya mak legender enaknya. Rumangsa saya, baru saja selesai acaranya, la kok ujug-ujug sudah mau perayaan Tahun Baru lagi ? Hedeleh.. kepiye iki.

“Ndoro, mau tahun barunan dimana kali ini ? Ke Hotel Ambarrukmo lagi nopo ?”

“Hmmm…” saya menghela napas panjang. “Aku kok rasane malah kurang penak ya arep pesta-pesta lagi. Pengen di rumah saja je Sis.”

“Loh kok tumben toh Ndoro ? Pripun je ? Mosok ya Ndoro cuma di rumah saja. Trimo nonton kembang api dari tipi sama nyebul terompet kertas tok ? Kok ketoknya ndak Ndoro sekali gitu ?” Mister Wasis terheran-heran melihat saya agak kurang gusto menyambut tahun baru kali ini.

“Gini loh sebabnya. Nek tak rasa-rasakan kok sepertinya waktu terlalu cepat berlalu ya. La wong rasanya baru kemarin je saya itu cipika-cipiki di Hotel Ambarrukmo sambil maem kuwih-kuwih enak itu. La kok sekarang sudah mau tahun barunan lagi. Saya kok jadi seperti ditlindes sama waktu saking cepetnya.”

“Owalah Ndoro..ndoro. Kayak gitu kok malah getun toh ? Nek waktu terasa cepat berlalu itu lak brati Ndoro memang banyak kegiatan. Artinya sebagai menungso lak ya berguna gitu ? La wong Ndoro juga blabar-blebernya bukan dolan je. La wong ngajar toh ?”

“Coba nek koyo sek masih nganggur itu. Lak yo waktu itu seperti terlalu lama berputarnya. Karang ndak ada kerjaan je Ndoro. Kerjaan saja ndak ada, apalagi migunani sesama.”

“Ha ya Ngalhamdulillah nek masih bisa berguna sebagai manusia. Memang hidup itu lak wang sinawang ya ? Saya pengen rasanya sekali-kali merasakan hidup yang selo. Selo kie menjadi sebuah kemewahan je. Bisa leyeh-leyeh seharian ndak diganggu kerjaan. Ndak harus mikir apa-apa. Lak ya penak toh ?”

“Wahahahaha.. Ndoro kie aeng-aeng wae.”

Aeng-aeng gimana je. Lak ya leyeh-leyeh itu sesuatu yang wajar toh ?”

“La ya wajar nek buat orang seperti saya. La nek buat Ndoro ya ndak wajar.”

“Heleh. Kowe kok waton toh ? Mosok leyeh-leyeh ndak wajar buat saya ? Kepriye kuwi ukurane ? “

“La Ndoro kan memang tidak pernah diem. Jal nek sampai selo sebentar, mesti sudah grusak-grusuk nggarap opo gitu. Wong pas kapan itu saja Ndoro nginep di Panti Rapih, bisa-bisanya minta dibawakan kerjaan kampus ke rumah sakit kok. Padahal ya itu wis kon leren loh. Wis di kon selo tenan sampai diharuskan Gusti Pangeran supaya mondok di Panti Rapih. La kok tetep saja nekat nggarap kerjaan kampus. Mahasiswa yang mau bimbingan saja masih dilayani di rumah sakit. La kok sekarang malah minta leyeh-leyeh. Lak yo aeng-aeng wae toh namanya ?”

“Hahahaha.. kowe kok ya reti tenan toh Sis.” Dies.. tepat sekali omongan Mister Wasis kali ini.

“Ha emang dikiranya saya ngancani Ndoro baru sebulan dua bulan po ? Wis apal saya sama njenengan Ndoro. Wis kasep.”

“Hahahaha.. kowe cen luar biasa tenan kok Sis. Eh la nek kowe mau kemana tahun baru besok ?”

“Ha ya jan-jane tadinya mau ngajaki Ibune Thole ke alun-alun Ndoro. Nonton sekaten. Sisan nonton kembang api. Mesti sae tenan niku nek kembang api di Alun-alun. Tapi ya nek Ndoro mau di rumah saja, ya saya manut ngancani Ndoro saja di rumah.”

“Walah, ndak begitu kok. Saya mau ngomah di Jakarta saja. Tahun Barunan bareng Ibu dan anak-anak. Reriungan saja di rumah. Paling mentok-mentoke ya dolan ke Monas atau ke Ancol saja. Nonton kembang api. Kowe wis tenang saja. Nontonlah ke Alun-alun. Ndelok donya ya ? Ning jangan lupa dikancingi dulu semuanya sebelum pergi.”

“Wah… maturnuwun sanget Ndoro. Sendiko dawuh. Nanti saya kancingi dulu semuanya sebelum pergi. Tak titipkan juga ke Satpam depan supaya dipatrolikan.”

“Syep itu.”

“Oh ya Ndoro. Ini sudah sore. Kira-kira ngersani mau maem apa buat nanti malam ?”

“Oh.. jan-jane aku kok kelingan pengen maem Garang Asem ya Sis ?”

“Garang Asem Kotabaru pripun Ndoro ? Eco toh ?”

“Ya lumayan lah nggo tombo kepingin. Nek eco-econan ya gagrak Kotabaru itu masih 1 setrip dibawah Garang Asem Purwodadi je.”

“La ya ndak pas nek dibandingkan toh Ndoro.  Saya tak mancal sekarang ya Ndoro. Selak habis nanti swiwinya.”

Good…good… Ya wis sana. Ati-ati ya ?”

Sendiko dawuh Ndoro.”

Mister Wasis segera pergi ke belakang sebentar. Tak lama kemudian terdengar suaranya menyetarter motor Pitung yang kemudian meluncur ke bilangan Kotabaru.

Teringat akan rencana saya untuk tahun baruan di rumah Jakarta, saya jadi teringat pula kalau harus segera memesan tiket. Saya angkat telepon untuk menghubungi travel agent langganan.

“Halo Mas Jun. Tolong tiket Garuda ke Jakarta ya ? Tanggal 29 atau 30 Desember besok. Sek masih murah saja ya ? Jamnya saya manut. Sekalian di kirim ke email tiketnya ya ? Yes untuk satu orang. Saya sendiri saja. Maturnuwun…

Ngalhamdulillah masih dapat tiket.. semoga selo bisa menjadi privilege saya sebentar di akhir tahun ini. Jakarta here I come.. again.