08
Sep 14

Kemedol yang tidak Didol

Saya sedang leyeh-leyeh di kursi malas ketika Monsieur Lantip bertamu. Mister Wasis yang sudah hafal dengan kelakuan Monsieur Lantip segera saja mempersilakannya masuk ke ruang tengah dan jumeneng di amben kayu jati yang biasa saya pakai untuk ritual mbenakne boyok. Dipojokan amben jati ini masih tersisa minyak urut yang dipakai Mister Wasis untuk mijeti kempol saya kemarin malam.

“Halo Kangmas Besar. Sibuk benar bolehnya siesta sore. Nikmat bin mat toch ?” tegur Monsieur Lantip tanpa kesan menyindir. Tangannya mengangsurkan minyak urut kepada Mister Wasis yang menerimanya dengan malu-malu. Ketiwasan…

“Sugeng sonten Kangmas Lantip. Pripun..pripun ? Sore-sore kok berkunjung ke gubug saya. Ada keperluan nopo Kangmas ? Maaf loh dapat suguhan pemandangan tidak senonoh. Ya anggap saja seperti di rumah sendiri nggih ?” Saya yang cuma sarungan dan kaos lethek ya jadi ndak enak hati sendiri.

“Hahahah.. Ndak papa Kangmas Besar. Saya yang harusnya minta maaf. Sudah nenamu tapi ndak bawa sesuatu. Maafkan kelancangan saya ya Kangmas.”

Mister Wasis keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir kopi Kalosi Toraja buat kami berdua. Aroma kopi Kalosi yang tonjo membuat suasana santai sore ini jadi makin berwarna saja nampaknya. Ditambahi pisang goreng kepok kuning buatan Nyai Wasis, makin lengkaplah segala ubo rampe siesta sore ini.

“Gini loh Kangmas. Saya memerlukan datang kesini dengan harapan bisa mohon bantuan njenengan.”

Heladalah Kangmas.. Kok sajaknya berat betul. Pertolongan macam apa yang bisa saya berikan buat njenengan. Oh iya, ini sudah dibuatkan kopi dan nyamikan seadanya. Monggo diseruput dulu sebelum dingin.”

“Wah maturnuwun Kangmas. Maturnuwun ya Kang Wasis. Kopinya nampak menggoda sekali. Saya seruput nggih ?”

“Monggo Pak Lantip.” Mister Wasis mengangsurkan cangkir kopi ke Monsieur Lantip.

“Jadi begini Kangmas. Kita berdua lak sama-sama tahu, bahwa Jogja sekarang sedang carut marut di beberapa kondisinya. Jadi saya dan teman-teman menggagas gerakan Jogja Ora Didol. Semacam gerakan self introspection buat pemerintah. Toh dalam waktu dekat, Jogjakarta mau ulang tahun. Jadi ini semacam hadiah ulang tahun untuk pemerintah kota Jogjakarta. Bahwa ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki dan bahwa sangat urgent untuk diantisipasi agar Jogjakarta yang kita cintai ini tidak kebanjur rusak.” Monsieur Lantip mengeluarkan urek-urekan konsep yang sudah disiapkan.

Saya mendengarkan dengan seksama. Mister Wasis manggut-manggut.

“Gamblangnya begini Kangmas. Saya mau minta bantuan njenengan supaya menceritakan kepada mahasiswa Kangmas. Jika mereka menemukan suatu hal yang tidak sreg tentang kota Jogjakarta, mbok tolong dibantu difoto, terus di uploadkan ke facebook yang sudah saya siapkan ini. Sekaligus ditambahi beberapa datanya seperti kapan ditemukannya, dan pendapat mereka tentang hal itu. Kumpulan dari uneg-uneg yang sahih ini akan kami sampaikan kepada pemerintah kota Jogjakarta mbesok pas ulang tahun Kota Jogjakarta.”

“Wah.. seperti biasa, ide Kangmas Lantip ini selalu saja loh jos gandos dan mlethik. Mengajak partisipasi masyarakat untuk memberikan auto critic adalah suatu yang jamak dilakukan di negara-negara dan kota-kota yang sudah misuwur. Nggih Mas. InsyaAllah akan saya sampaikan ide njenengan. Dan InsyaAllah mahasiswa saya akan dengan senang hati membantu memberikan hadiah kepada pemerintah kota Jogjakarta.”

“Maturnuwun sekali atas perkenan Kangmas. Mudah-mudahan ini bisa menjadi self introspection buat kita sebagai warga Jogjakarta dan sebagai kado ulang tahun kota Jogjakarta yang pantas.”

“Sami-sami Kangmas Lantip. Memang dengan adanya pembangunan yang luar biasa pesat di Jogjakarta ini sok nrabas-nrabas paugeran dan budaya kita sendiri. Ya memang kita sok kudu bisa ngerem dan bijaksana. Pinilih-pinilih mana yang bisa kita bangun. Tapi juga pinilih-pinilih yang mana yang justru perlu kita hindari. Demi menjaga trap dan keJawaan Jogjakarta toh nggih ?”

Leres Kangmas. Bukankah dunia ini berputar karena dua hal tersebut. Yang satu pihak melaju kencang atas nama modernitas, yang satu pihak nggondeli dengan rem tradisi, budaya, kebijaksanaan atau apapun namanya. Kombinasi yang pas dari kedua hal ini yang bikin roda dunia berputar tanpa kebablasen. Jogja kalau diibaratkan sebagai komoditi memang sedang sangat elok untuk dijual. Tapi tidak semua hal bisa dijual toh ya ? Sekalipun ditawar sangat mahal, tentu ada trap-trapan yang tidak boleh kemedol. Lak begitu toh Kangmas ?” Mister Lantip mulai menikmati pisang goreng kepok kuning yang mengepul hangat.

“Sekali lagi njenengan memang selalu pas dan trapsila Kangmas.” Saya mengamini dan ikutan menikmati pisang goreng buatan Nyai Wasis.

Dan sore ini berlalu dengan limpahan cintaNya yang mawujud dalam bentuk semilir sore yang menyenangkan, kopi yang nikmat, pisang goreng kepok kuning yang legit plus obrolan dengan sahabat yang mumpuni lan migunani. Hokyakarta!


01
Sep 14

Budaya Klepon dan Donat

Sore-sore ba’da Ashar itu sebenarnya lebih nikmat jika dirasakan sambil lesehan di teras, ngedep teh Tambi ditambah gulo batu buatan Mister Wasis sambil comot-comot jajan pasar yang dibawa oleh Yu Winah dan menikmati semilir angin sore dengan tenang.

Dan sebenarnya sore ini pun kejadiannya serupa. Ada teh Tambi gulo batu buatan Mister Wasis, ada pula jejeran jajan pasar yang sudah ditebar Yu Winah dengan gelar pasukan sapit urang yang dikomandani Selat Solo di sisi utara, dan arem-arem di sisi selatan. Dan di tengah ada nasi kuning yang menjadi pemecah belah konsentrasi. Sebuah sore yang sebenarnya akan jadi periode yang pas untuk nglaras rasa. Tapi kok ya bahasan tripartit sore ini malah berat betul rasanya. Masalah keJogjaan dan perubahan kultur masyarakatnya.

“Ndoro, ini kasusnya mbak sek di sosial media itu pripun toh jan-jane ? Mosok ya cuma karena muntap njuk sampai dijebloske ke penjara ?” Mister Wasis gedek-gedek.

“Iya niku Pak Besar. Kok cuma masalah sepele seperti itu saja kok ya sampai di kunjoro ? Opo ndak berlebihan nopo niku ?” Yu Winah nambah-nambahi.

“Gini loh.. perkara muntapnya itu memang mungkin tidak perlu disikapi sampai masuk kunjoro. Tapi nek ndak salah, si mbak e itu berniat menghilangkan barang bukti. Jadi itu yang membuat pak Polisi kemudian terpaksa menahannya.”

“Ning ya Ndoro. Nek saya diceritani Thole, kok sepertinya tiyang Jogja bolehnya nguyo-uyo si mbak e itu kok sampai medeni ya ? Mosok ada yang ngancam sampai mau mengusir dari Jogja loh ? Hopo tumon niku ?”

“Ho oh Pak Besar. Mosok ya cuma karena perkoro sepele begitu njuk kudu dihukumi berat betul. Sampai diusir loh ? Nopo nek sudah dihukumi dikuyo-kuyo saja ndak cukup ?” Yu Winah masih saja tetep nambah-nambahi.

“Wah nek bab itu saya ya bingung je. Kok sepertinya tiyang Jogja rada berubah yo? Apa akibat makin sumpeknya Jogja ya saya juga masih belum trep masalahnya. Orang-orang Jogja itu lak dikenalnya sebagai orang-orang yang kalem, tenang, mendem jero dan mondol mburi. Ndak pernah ada kasus sek orang Jogja sampai nguyo-nguyo orang lain.”

“Betul itu Pak Besar. Wong Jogja itu lak jane-jane sifatnya ya seperti klepon niki. Luarnya gurih karena ada klopo parutnya, di dalamnya manis karena ada gulo Jowonya. Pokok e semua serba menyenangkan wong Jogja itu…. Ya toh Pak besar ? Ini kleponnya kerso Pak Besar ?” Yu Winah mengangsurkan klepon dan saya menerimanya.

“Mungkin ya karena ada banyak yang hal terjadi beberapa waktu terakhir ini njuk membuat wong Jogja sedang rodo kurang Jogjanya ya ? Sumpek dan macetnya Jogja karena banyak gedung baru sek marakne rodo luntur. Tur ndilalahnya pas kejadian itu ya pas lagi rame-ramene ngantri bensin toh ? Mungkin ya itu sek marakne wong Jogja jadi sumuntak atine.” Klepon dari Yu Winah saya kunyah pelan-pelan. Semprotan gula Jawa yang mlekoh di mulut memang menyenangkan. Seperti melihat kembang api pas tahun baru. Serba menyenangkan..

“Ini cuma bedek-bedekan saya ya Ndoro. Mbok menowo orang Jogja sekarang sedang kagol dengan budaya Jawanya sendiri. Saking banyaknya serbuan budaya dari luar. Njuk beberapa tiyang Jogja njuk rodo lali dengan budayanya sendiri. Lak sekarang budaya luar itu luar biasa derasnya nyerbu Jogja toh Ndoro ? Ha ya seperti donat ini, budaya dari luar. Tepungnya dari gandum impor. Budaya donatnya juga dari impor. Donat itu memang manis memang di luarnya, tapi lak kopong di tengahnya.” Mister Wasis mencomot sate donat.

“Mungkin ya memang benar omonganmu Sis. Gegar budaya itu memang sok bikin munyer-munyer. Lali jiwo. Lupa jati diri sendiri, njuk lali kudu ngopo nek keno perkoro. Lali nek budayane dewe itu adem andhap asor. Budaya itu lak jan-jane dadi pager ketika terjadi hal-hal yang kurang trep di tataran hati.”

Semilir sore ini berhembus pelan. Rodo adem memang di mongso mbediding ini. Mudah-mudahan Mbak e yang sedang bermasalah ini segera adem juga hatinya. Dan semoga juga demikian dengan tiyang-tiyang Jogja semoga makin adem hatinya. Dan semuanya jadi adem lagi. Tentrem lagi. Kalem lagi. Adem..adem..adem…

PS : tulisan ini dibuat terinspirasi oleh tulisan seorang teman di facebook yang membandingkan donat dan klepon pula.


29
Aug 14

Jogja Arep Stroke

Beberapa hari ini Jogja sedang rame-ramenya pada ngantri BBM premium. Ya mobil ya montor. Ya karena ternyata kuota BBM yang disubsidi APBN ternyata sudah habis pada bulan Agustus. Padahal tahun masih berjalan sampai bulan Desember. Antrian yang mengular sampai ngalah-ngalahi antrian nonton bioskop filemnya Suzanna jaman saya masih kuliah dulu.

Dan Mister Wasis pun termasuk salah satu yang terkena imbas untuk ikutan ngantri bensin itu. Dan sore ini dengan tampang kuyu dan tampang lemes, Mister Wasis ndeprok di teras setelah seharian ngantri di pom bensin.

Yu Winah yang pas ndilalahnya sedang berada di depan pagar rumah, sudah siap-siap mbengok menawarkan dagangan seperti sore-sore biasanya jadi mak klakep dan ikutan ndlosor saja di teras.

“Kesel yo kang ?” Yu Winah bertanya tanpa rasa bersalah.

“Walah Yu.. kok ya masih ditanya kesel apa ndak toh ? Wis meh semaput iki rasane.” Mister Wasis kipas-kipas koran bekas sambil meminum air es yang dibawakan Nyai Wasis. Nyai Wasis cuma tersenyum melihat suaminya yang nggresulo.

Yu Winah cuma cengengesan di pliriki Mister Wasis yang sedang semengit. Ya maklum pula adanya. Kesel hatinya Mister Wasis karena perkara yang biasanya tidak menjadi masalah, kini jadi masalah pelik.

Saya kemudian ikutan deprok juga di lantai teras. Dinginnya lantai karena sudah beranjak sore memang bisa ikut andil menenangkan hati.

“Tapi ya Kang… ada baiknya juga loh kasus beginian.” Yu Winah mencairkan suasana.

“Baik pripun je Yu ?” Dari nadanya, Mister Wasis sudah mulai turun kadar semengitnya. Tangannya pun mulai rajin bergerilya di antara lemper dan sate usus. Sajaknya memang ngantri bensin ini memakan banyak energinya.

“Ha gara-gara pada ngantri bensin ini, kan njuk pada sadar. Sadar nek bensin itu barang yang mahal tur susah didapatkan. Jadi ndak pada nyepelekne bensin lagi. Sekarang pada lebih ngati-ati kalau naik kendaraan. Ndak lagi pada mbleyer-mbleyer di jalan. Pada alon-alon bolehnya mbejek gas niku. Orang-orang seperti saya sek cuma bisa naik becak dan jalan kaki lak jadi kepenak. Mau nyabrang jalan di Malioboro sekarang jadi lebih gampang. Hak yo beneran jadi apik toh itu Kang ?”

“Ho oh Yu.. Bener nek bab itu. Memang nek perkara jadi kembali pada alon-alon bolehnya nyepeda montor itu benar adanya. Jogja memang jadi lebih kepenak kalau pada tidak terburu-buru toh ?” Saya ikutan mengamini gong dari Yu Winah.

“Padahal ya Ndoro, kapan kolo gitu lak kita pernah ngobrol nek Jogja terancam karena banyak pembangunan hotel sek ndak umum banyaknya. Eh sate donatnya mana Yu ?” Mister Wasis masih saja mencari-cari tambahan cemilan. Padahal baru saja satu arem-arem sudah tandas. Sepertinya memang ngelih betul.

“Ho oh Kang. Jogja lak terancam stroke nek terlalu banyak hotel dan fasilitas bangunan magrong-magrong dibangun. Soalnya jalanan di Jogja ini sudah tumumplak. Sudah tidak cukup lagi menampung kendaraan yang sumuntak di Jogja.” Yu Winah gantian mengamini Mister Wasis.

Kosek..kosek.. kalian ini ngomong opo je ? Kok ada Jogja terancam stroke kie gimana perkaranya ?”

“Ha gini loh Ndoro. Kapan waktu itu kita berdua pernah ngobrol. Nek Jogja dibangun banyak gedung dan hotel magrong-magrong itu lak nek ibarat badan menungso, banyak ditambahi jantung-jantung baru. Lak hotel-hotel dan mall-mall itu bakalan jadi pusat kegiatan baru. Tapi saluran darahnya itu ndak ditambah. Padahal jumlah darah yang kudu lewat makin banyak. Ha njuk bisa stroke toh Ndoro nek begitu itu ?”

“Ealah.. kalian berdua kie nek punya perumpamaan kok sok kepunjulen toh ? Bener ning marahi bingung nek ndak dirunut dulu masalahnya. Gumun tenan saya.. Bisa dapet perumpamaan koyo ngono itu darimana..”

“Heheheh.. ha ya gitu itu Ndoro. Omongannya wong cilik. Sok kemaki tur keminter. Ben rodo ketok nek nyambut gawe di tempat priyayi itu ya marakne pinter. Nunut mulyo sithik ya Ndoro.” Mister Wasis cengangas-cengenges. Yu Winah juga nggleges.

“Tapi ya bisa diterima juga loh obrolan kalian berdua. Jogja memang terancam stroke nek perkara montor mobil ini ndak dibenahi. Eh ndilalahnya Ngarso Dalem sudah paring pitutur. Nanti tahun 2017 di Jogja bakalan ada trem. Sudah pada mbaca di koran tadi pagi toh ? Jadi kemana-mana nanti bisa naik trem. Selain ada bis TransJogja. Solusinya apik toh itu?”

“Amin Ndoro.. Saestu Amin.. Nek beneran, kita jadi penak kalau bisa naek trem seperti jaman Londo dulu. Nek wong cilik macam saya ini lak luwih pas nek numpak sek umum-umum. Murah.. Ning nek bisa ya tetep nyaman.” Yu Winah tampak bungah.

Angin sore semilir berhembus. Nyaman sekali menembus kaos oblong saya yang sudah bolong di sana sini. Bayangan saya kembali mundur beberapa puluh tahun. Seperti diceritakan Simbok dan Bapak saya. Dulu dari Bantul ke Jogja sangat menyenangkan karena bisa naik trem rame-rame. Tanpa macet, tanpa ngantri BBM, dan yang jelas tanpa tambahan gemes di jalanan yang semruntul kendaraan yang waton nyetirnya karena terburu waktu. Makin turunlah potensi stroke kita. Juga Jogja akan berkurang ancaman stroke alias macetnya. Mudahan-mudahan mawujud nggih….


21
Aug 14

Sama Macetnya, Beda Rasanya

Saya baru selesai mandi dan bersiap untuk ke kampus ketika melihat Mister Wasis terkekeh-kekeh sambil memegang handphonenya.

“Woh.. ada apa ini kok isuk-isuk wis ngekek.” Saya masih kalungan anduk.

“Ha ini temen saya si Slamet nggresulo di sms. Dia sambat karena kena pengalihan arus itu loh nDoro. Gara-gara ada yang demo di depan MK. Njuk dia kena macet.”

“Owalah.. demo protesnya calon presidenmu kuwi yo?” Saya ngekek kelingan ngototnya Mister Wasis beberapa waktu itu.

“Halahh.. calon presidennya nDoro juga toh ?” Mister Wasis ngeles saja.

“La terus, dimana lucunya ? Kok kamu ngekek koyo ngono ? Apa ndak mesakne sama Slamet toh ? Kok malah mbok geguyu kie gimana ?”

“La sama je nasibnya si Slamet sama saya itu, Ndoro. Kemarin lak saya ya senasib sama Slamet. Pas mau ke tumbas ban pit di ngarepan Purawisata itu loh nDoro. Ubeng-ubengan ra karu-karuan. Dalan dari jalan Kaliurang ndak boleh ngidul ke Terban. Mau lewat Panti Rapih ya ndak boleh mengidul. Lewat Tugu jebul ya ndak boleh mengidul. Ada panggung guede tenan di Tugu buat FKY itu. Njuk baru bisa mengidul di Kotabaru.”

“Ha njuk ?” Saya masih belum paham.

“Ha kami berdua ini lak korban macet semua Ndoro. Tapi bedo rosone. Si Slamet nggresulo karena macetnya nyebahi. Nek saya keno macet ya rapopo nDoro. Seneng-seneng saja. Wong kena macet buat bungah-bungahan. Keno macet tapi ikut sumringah lihat Kirab kemarin sore itu. Uapik tenan nDoro. Kroso tenan gustonya rakyat kecil seperti saya. Wis entuk tontonan apik, gratis meneh. Lak ya nyenengke toh Ndoro ?”

“Owalahh.. begitu toh. Ya Mesakne tenan yo Slamet kie. Ha yo kuwi calon Presidenmu sek marahi. Protesan sih.”

“Ha yo calon Presidennya nDoro juga toh ?” Mister Wasis ngekek tapi jawaban e kok ya nyengit tenan bolehnya.

Ya demikianlah. Jebul dua kondisi yang sama-sama menyebalkan sebetulnya. Tapi kalau alasannya berbeda, penerimaannya ya bisa berbeda. Sama macetnya, beda rasanya. Jogja memang hokya toh ?


14
Aug 14

Ngopi yang Ngopeni

Rencana Gusti Pangeran itu memang terkadang sangat unik. Bahkan sampai tidak bisa dinalar. Maka saya sepakat nek rencana Gusti Pangeran itu diikuti saja.

Weladalah.. Belum-belum kok saya sudah menuliskan kesimpulan. Rada kuwalik sepertinya dalam tata krama penulisan. Tapi tak mengapa lah ya ? Sekali-kali menyalahi pakem agar jiwa kreatif tetap terasah. Boleh disepakati nggih ya ?

Jadi begini….. Kolo-kolo waktu itu saya sedang selo. Selo seselo-selonya. Sampai bingung harus ngapain. Acara perkuliahan belum ramai, period syawalan sudah selesai, kerjaan di rumah pun sudah klaar. Ha njuk saya mau ngapain ? Ndilalahnya Mister Wasis dan Nyai Wasis pun sedang berkunjung ke rumah saudaranya yang kesripahan. Lengkapnya keseloan saya sore itu.

Isenglah saya nyengklak si Komando. Mampir sajalah saya ke Klinikkopi. Kepunyaan seorang anak muda yang eksentrik yang dipanggil Pepeng. Ngakunya sebagai seorang Coffee Story Teller alias tukang cerita tentang kopiSaya pun memang sudah beberapa kali ke tempat ini. Pengunjungnya kebanyakan anak muda Jogja. Yang sepantaran saya ya bisalah dihitung dengan sebelah tangan saja. Tapi tak jarang pula saya ketemu dengan bule-bule yang pengen kenal kopi Indonesia dengan lebih kaffah yang mampir.

La kok ndilalahnya malam itu ada acara talkshow. Pembicaranya Pak Prawoto Indarto yang terkenal sebagai penulis buku Java Coffee. Yang ditemani Romo Banar dari Sanata Dharma. Wah.. ya sisanlah saya ikutan nimbrung ditengah-tengah muda-mudi Jogja yang sedang gemar ngopi. Reriungan anget sambil gojeg kere. Ya sok rada kelangan enggok dengan guyonnya anak muda sekarang. Tapi tak mengapalah sekali-kali belajar jadi lebih muda. Biar awet enom toh ?

Pak Indarto memulai cerita seperti biasa dengan masuknya kopi ke Indonesia. Literatur sejarahnya menuliskan masuknya kopi ke Nusantara pada tahun 1698 di Jatinegara Jakarta. Percobaan pertama penanaman biji kopi di Nusantara ini dinyatakan gagal. Baru pada percobaan kedua pada dua tahun berikutnya yang dinyatakan berhasil. Ditanam di daerah Priangan (sekarang menjadi wilayah Bandung dan sekitarnya). Biji kopi yang ditanam di Priangan diambil yang berasal dari Ceylon, Srilangka. Jenis kopinya Arabica. Jebul penamaan ini karena salah kaprah. Disebut Arabica karena pedagang Arab banyak memperjualbelikan kopi di kawasan Turki dan Eropa pada masa itu. Padahal biji kopinya sendiri awalnya berasal dari kawasan Ethiopia di Afrika sana.

Cerita Pak Indarto terus berlanjut. VOCnya Belanda yang menggunakan bantuan dari Bupati-bupati Priangan agar masyarakat Sunda mau menanam kopi di lahan mereka. Dan pada periode itu, VOC membeli setiap pikul biji kopi seharga 6 ringgit perak. Sampai ke cerita Daendels yang membuat kopi tersebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur sekaligus memperbaiki tata niaganya dengan membuat jalan raya Pos. Dilanjutkan periode Cultur Steelsel yang mengharuskan penanaman kopi besar-besaran di Jawa. Pada periode ini, kopi Jawa menjadi salah satu eksportir terbesar kopi di dunia karena saking banyaknya.

Hingga kemudian muncul hama pohon kopi yang menghancurkan seluruh perkebunan kopi di Jawa. Hanya tersisa sedikit yang ndilalahnya ditanam di atas 1000 meter di atas permukaan laut. Njuk kemudian seluruh tanaman kopi yang rusak itu diganti dengan tanaman teh. Ada juga sebagian yang tetap menanam kopi tapi diganti jadi jenis kopi robusta.

Itulah alasannya kenapa budaya ngopi di Jawa Barat dan Jawa Tengah kurang tersohor dibandingkan budaya ngopi di Jawa Timur. Jebul karena secara sejarah, perkebunan kopi di Jawa Barat dan Jawa Tengah banyak yang hancur karena hama pohon kopi dan digantikan oleh budidaya tanaman teh. Di Jawa Timur, budidaya kopinya selain sangat banyak, juga banyak perkebunan yang masih selamat. Itulah mengapa kemudian budaya ngopi dan ngeteh di Jawa saja bisa berbeda.

Nah.. Satu PR dari Mister Wasis tentang budaya ngopi dan ngeteh sudah terjawab sekarang. Jadi saya bisa umuk nanti ketika ketemu dia. Sebagai ndoro, memang kudu bisa sedikit umuk toh ?

Nah.. ada satu istilah yang kemudian menggelitik saya. Yaitu istilah ngopi. Budaya ngopi di literatur kuliner Jawa ternyata tidak banyak. Ngopi tidak muncul didalam upacara-upacara adat. Tidak muncul pula dalam kehidupan sehari-hari. Ngopi cuma muncul di sebuah lukisan tentang wedangan di sebuah pasar. Dan diduga, ngopinya ini tentu bukan ngopi yang serius secara kualitas. Cuma seadanya saja. Dideplok ala kadarnya. Padahal ngopi itu dalam bahasa Jawa bermaksud ngopeni. Alias memelihara. Karena ngopi itu menghidupkan dan memelihara silaturahmi. Ngopi enaknya memang dilakukan sambil bercerita dan ngobrol bareng tonggo teparo atau sanak kadang.

Dan kopi Indonesia pun kini, walaupun secara jumlah menjadi negara penghasil kopi nomer 3 terbesar di dunia, tidak banyak memberikan sumbangsih kepada petaninya. Tidak banyak orang yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai juragan kopi. Tidak banyak pula anak-anak yang bangga njuk bilang kalau dirinya anak seorang petani kopi. Kopi masih belum bisa ngopeni yang membuatnya tumbuh. Sebuah hal yang miris jika dibandingkan dengan jumlah ekspor biji kopi yang tinggi dan terus meningkat di Indonesia.

Tuhan pasti punya rencana yang indah. Dibalik disembunyikannya kesejahteraan petani kopi, pasti ada berkah lain yang Dia sembunyikan. Mudah-mudahan kita semua bisa menikmati berkah dan rahasiaNya. Karena dia yang menurunkan kopi, pasti Maha Ngopeni.


02
Jul 14

Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Cocopandan

Marhaban ya Ramadhan.. Selamat datang duhai bulan Ramadhan.

Ramadhan datang menjelang lagi. Suara mercon mulai bersahutan dinyalakan anak-anak di seputar kompleks. Ditimpali suara marah-marah kaum sepuh yang terkaget-kaget karena suara mercon. Kurma-kurma curah mulai muncul di toko-toko swalayan. Sirup-sirup beraneka warna dan rasa mulai muncul di rak-raknya pula. Gambar ketupat dan nuansa hijau janur mulai jamak nongolnya dimana-mana.

Dan ketika Mister Wasis mulai sibuk membuat daftar menu buka puasa yang harus dibeli di Pasar Tiban Kauman dan Jogokariyan, berarti ini sudah mulai lengkap aura Bulan Puasa.

“Jadi Ndoro. Untuk buka puasa hari pertama nanti, Ndoro mau ditumbaske napa ? Ada Kicak, Jenang Gandum, Mie Kopyok, Serabi kocor, Pepes Gurameh, Otak-Otak nopo yang lain ?”

“Heloh, sek to Sis.. Kowe kok malah gustonya bab buko ? Wong puasanya saja baru jam 8 pagi loh ya ?” Saya yang baru membaca koran pagi jadi mak jejagig rada nggresulo dengan pertanyaan Mister Wasis.

“Ha Ndoro ndak mau buko nopo ?” Mister Wasis malah nampak bingung.

“Ha ya bukan begitu. Tapi kok ya saru nek puasanya saja masih baru mulai kok ya sudah mulai mbahas buko.”

“La maksud saya kan untuk persiapan Ndoro. Daripada kehabisan loh. Soalnya kalau telat berangkat ke pasar Tiban Kauman itu ya wis entek-entekan tenan.”

Saya njuk kukur-kukur sendiri. Wah.. kalau begini ya tidak bisa disalahkan juga mister Wasis. Wong ya dia hanya berniat baik memastikan bahwa semua perkara berjalan dengan semestinya. Walaupun cuma perkara buka puasa. Sebagai pemimpin di rumah ini saya ya ndak pas juga kalau menyalahkan Mister Wasis.

“Wah ya maaf..maaf.. Niat baikmu saya terima. Ya wis.. Gini saja, nanti sore tolong ditumbaskan serabi kocor saja buat saya. Buatmu dan istrimu silakan milih sendiri nanti disana. Jangan banyak-banyak milihnya. Biar ndak mubazir.”

“Sendiko dawuh Ndoro. La terus untuk lawuh buat makan malamnya nopo Ndoro ? Tempe tahu bacem sama ayam kremes kerso ?” Mister Wasis mencatat setiap permintaan saya bagai seorang waitress profesional.

“Boleh juga. Tambah sayur tewel dan tetelannya kalau ada.”

“Siap Ndoro.” Mister Wasis membuat urek-urekan lagi di catatannya.

“Untuk buahnya gimana ? Apa rencanamu ?” Kini gantian saya yang bertanya.

“Untuk buahnya saya mau tumbaske pepaya separuh, melon separuh, camcao, jeruk manis sedikit, pakai air kelapa muda, kelapa mudanya juga ada. Nanti dibuat es buah pakai stroop merah. Pripun Ndoro ? Sae toh ?”

“Sae..sae.. tapi jangan lupa stroop cocopandan. Sek mereknya TBH. Sebagai orang Jogja nek stroopnya buat TBH kok kurang marem.” Saya mewanti-wanti

“Tentu sudah disiapkan Ndoro. Tenang saja.” Mister Wasis mengangguk-angguk paham.

“Suip. Ya wis, saya tak mangkat dulu ke kampus.” Saya siap-siap mandi dan bersiap untuk melakukan kewajiban saya pagi ini. Ke kampus.

Di kamar saya malah membayangkan nikmatnya es buah yang isinya mencungul disana-sini. Lembutnya kelapa muda yang ketemu dengan stroop cocopandan dan semburat wangi jeruk. Lalu mak legender ketemu sepotong dua potong camcao hitam. Duh.. kok malah kemecer begini. Duh.. ngapunten Gusti.. Kawulo khilaf..

Marhaban ya Ramadhan… Marhaban ya cocopandan.


25
Jun 14

Sanajan Nyadran

Jogja akhir-akhir ini sedang sumuk luar biasa. Sore hari ba’da Ashar yang biasanya bisa jadi waktu yang sudah nyaman untuk nglaras rasa, kini pun masih tetap panas ngenthang-ngenthang.

Tak ayal kalau kemudian sore ini Yu Winah  mampir ke teras depan rumah dengan tergopoh-gopoh. Mister Wasis yang sedang sibuk menyiram rambutan menatap dengan penuh kebingungan.

“Kang.. nyuwun banyu nggo ngombe ya. Ngelak banget ini saya. Panasnya Jogja sedang ra umum.” Yu Winah langsung ndlosor saja di jobin teras depan sambil kipas-kipas dan menyeka keningnya yang penuh keringat. Tenongannya diturunkan dan diletakkan sekenanya.

Mister Wasis langsung masuk ke dalam rumah dan berteriak kepada istrinya. Buneee.. Ono wong arep semaputt.. Njaluk banyu ademnya yaaa..

Mendengar suaminya yang berteriak stereo seperti ini, dengan tergopoh-gopoh Nyai Wasis segera lari dengan wajah panik mencari suaminya yang masih di teras.

“Siapa sek meh semaput Pakne ?” Tangannya membawa sebotol air dingin dari kulkas.

“Hush.. Kang Wasis ini waton tenan. Saya yang kehausan Yu. Bukan mau semaput. Cuma ngelak banget soale Jogja sedang ndak umum panasnya.” Yu Winah jadi jengah sendiri.

Saya yang sedang leyeh-leyeh di dalam juga dengan tergopoh-gopoh keluar. Menengok ada keributan apa di depan. Yu Winah makin tak enak hati

“Duh.. ngapunten ya Pak Besar. Saya numpang ngeyup sebentar. Kepanasen banget ini. Dus nyuwun pangunten karena nyuwun air dinginnya.” Yu Winah mringis sampai terlihat gigi emas dipojokan senyumnya.

“Ealah.. tak kira ada apa. Wasis ini kok senengane gawe gede perkoro. Wong Yu Winah cuma mau leren saja kok ya dibilang mau semaput.” Mister Wasis hanya cengengesan saja mendengar saya protes.

“Ya silakan saja Yu nek mau leren dulu di sini. Ha mumpung sampeyan disini toh Yu, mbok dibuka saja tenongannya. Masih ada apa saja?” Saya yang kebetulan sedang butuh penganan pengganjal perut sebelum makan malam njuk ya kepingin inguk-inguk.

“Wah.. Ngalkamdulillah malah dipayoni Pak Besar. Padahal tadinya saya cuma mau numpang leren, la kok malah dipayoni. Bejane saya.. Silakan Pak Besar. Masih ada beberapa menu sengseman Pak Besar. Selad Solo dan Serabi Solo masih ada. Loenpianya juga masih ada. Ini malah masih ada nasi kuning nek ngersakne.”

Mata saya menginspeksi komoditas tenongan Yu Winah yang sepertinya sangat menggiurkan. Tapi mata saya justru tertuju pada bungkusan daun pisang di pojokan tenongan.

“Sek dibungkus godhong pisang itu apa Yu ? Kok sepertinya mirip Ayam Panggang ala Klaten ? Menu baru nopo ?”

“Wah.. Pak Besar kok teliti sekali. Betul sekali ini Ayam Panggang ala Klaten yang tersohor niku. Mlekoh loh niki arehnya Pak Besar. Monggo dipirsani dulu.” Yu Winah dengan sigap membuka bungkusan daun pisang yang menutupi ayam panggangnya.

Dan memang betul. Areh dari santan yang mlekoh yang merupakan ciri khas Ayam Panggang ala Klaten nampak mencuat dari balik daging dan kulit ayam panggangnya. Bau ayam panggang menyemburatkan aroma bawang putih dan kemiri yang bertemu kecap dan berpadu indah lalu terkaramelisasi sempurna karena proses memanggang kelas profesional. Saya duga ayam panggang ini dibakar dengan sabut kelapa. Sehingga tidak menyisakan ruang untuk gosong pada kulit ayamnya. Golden Brown kalau coro Enggres bilang.

Saya langsung memberi instruksi kepada Nyai Wasis untuk mengambil piring di dalam rumah. Dan memberi kode kepada Yu Winah untuk menyisihkan 4 potong ayam panggang Klaten yang superb ini.

Jan-jane ini ayam panggang karena turah Pak Besar. Turah karena juragan saya kebanyakan mbuat ayam panggan buat Nyadran.” Yu Winah ngomong sambil tangannya cak-cek memindahkan ayam panggang pesanan saya ke piring yang sudah disorongkan Nyai Wasis.

“Loh kok bisa turah Yu ?” Mister Wasis tak kalah gesit dengan menyambar sate usus dan serabi kocor.

“Ya begitulah Kang. Nek dulu kan orang-orang yang Nyadran masih banyak. Dulu yang bawa besek banyak. Sego bucunya banyak, lawuhnya sedikit. Jadi semua komanan lawuh. Biasanya ya njuk tidak ada sek sisa dibawa pulang. La nek sekarang. Sek bawa nasi sedikit, lawuhnya sek turah-turah. Salah satu yang turah ini ya Ayam Panggang ini.”

“Wah.. nek turahan kudune kita dapet diskon toh Yu ?” Mister Wasis nyengir. Bisa saja dia nyahut saja nek perkara yang beginian. Sat-set trengginas nek perkara diskon-diskonan.

“Beres Kang.. untuk yang ini kasusnya spesial. Jadi harganya pasti spesial. Rego pok e wis.” Yu Winah mengacungkan jempolnya.

“Wah.. mantep ini nanti malem untuk dhaharannya Bune. Dapet lawuh enak. Tinggal tambahi lalapan karo sambel wis nyamleng.” Mister Wasis mengkode istrinya.

“Suip Pakne.. Beres pokok e.” Nyai Wasis juga ikut-ikutan mengacungkan jempol.

“La memang sek nyadran di tempatmu masih banyak po Kang ?” Tanya Yu Winah kepada Mister Wasis.

“Wah.. ketoknya ya memang makin sedikit Yu. Kemarin pas aku sama Bune ini pulang ke desa buat Nyadran sekalian ngeterne Thole pulang, ya memang ndak banyak lagi yang pulang kampung. Biasanya sekarang pada pulangnya pas Lebaran saja. Nek Nyadran gini paling ya cuma kirim doa saja masing-masing. Ndak sempet pulang.”

“Wah memang sekarang sanajan nyadran, tapi kok ya susah bisa ngumpul bareng ya Kang ?”

“Ha ya pripun malih Yu ? La sikonnya kan berubah. Sanajan Nyadran, nek ndak bisa diselakan, arep piye meneh ?”

Kami semua menghela napas… memandang langit yang mulai menguning pertanda petang segera datang. Ya sama seperti petang yang datang setelah siang yang ngenthan-ngenthan. Semua berubah.. Sanajan tetep Nyadran tapi tidak seperti dulu lagi. Dunia makin berubah dengan cepat ternyata.


23
Jun 14

Pemilu Pemula

Seminggu yang lalu, rumah kecil saya jadi ketambahan satu orang personel. Si Thole dari pelosok Kulon Progo sana ingin menghabiskan masa liburan sekolahnya di Jogja. Pengen bisa kumpul bareng dengan orang tuanya. Dan setelah Mister Wasis memohon ijin kepada saya, maka Thole pun resmi menjadi Kitchen Cabinet Antar Waktu dengan masa bakti selama liburan sekolahnya.

Senengnya saya karena si Thole ini sekalipun dari Kulon Progo pelosok sana, niat belajarnya tinggi. Koran yang barusan di baca bapaknya, lalu dilalap habis. Sekalipun beberapa koran yang berbahasa Inggris dilewatkannya. “Saya ndak mudeng Pak Besar.” Begitu alasannya. Tapi toh demikian, saya ya tetep saja membujuk untuk bisa membaca koran-koran yang penuh karya tulis berharga itu.

Dan sore ini, ketika saya sedang ngelaras rasa sambil menikmati kopi Kalosi seduhan Mister Wasis dan ditemani pisang kepok kuning goreng, si Thole duduk ndelosor di lantai sambil membaca koran sore terbitan nasional. Bapaknya sedang menyiram tanaman di belakang. Anaknya malah tampak sedang serius betul.

“Sedang mbaca apa je Le ? Kok bolehnya serius betul ? Sampai alismu gathuk begitu..”

“Niki loh Pak Besar, baru membaca ulasan debat capres semalam. Ulasan dari ahli militer yang mbedah analisa capres-capres itu.” Thole menjawab tapi konsentrasinya tetap penuh ke koran yang sedang dibacanya.

Saya diamkan sebentar. Memberinya waktu untuk menyelesaikan artikelnya sampai selesai. Saya penasaran juga dengan Mister Wasis Junior ini. Masih SMA kok bacaannya sudah demen yang berat-berat seperti ini. Gek-gek ketularan bapaknya ini.

Setelah selesai membaca koran, saya jawil lagi si Thole. “Le.. kamu lak sudah 17 tahun toh kemarin. Berarti besok kamu sudah boleh ikutan nyoblos toh ?”

“Ha iya Pak Besar. Rencananya saya mau nyoblos bareng Bapak Ibu di rumah sana. Sudah didaftarkan juga kok kemarin supaya bisa ikut coblosan.” Si Thole tampak sumringah.. bangga karena sudah bisa masuk ke daftar pemilih tetap tahun ini.

“Wih senenge bisa ikut coblosan pertama.”

“Ha tapi saya ya bingung Pak Besar.. Bingung milih yang mana.”

“Loh la piye ? Wong kamu sudah membaca sek ada di koran tadi itu toh ? Kok malah bingung.”

“Ha ya bingung tenan Pak Besar. La temen-temen saya di fesbuk ngojok-ngojoki saya untuk milih jagoan mereka. Yang suka nomer satu, ngelek-elek sek nomer dua. Sek nomer dua ya sama saja ngelek-elek yang nomer satu. Malah sampai ada yang tonyo-tonyonan karena pada ece-ecenan. Malah pada babak bundhas.”

“Hahahahah.. La njuk kamu gimana ? Mau milih sek mana ?”

“Saya manut Bapak Ibu saja lah Pak Besar. Sendiko dawuh saja sama ngersane Bapak Ibu. Nek disuruh milih yang mana saja, saya manut.”

“Loh.. ya ndak bisa.. Kamu kudunya milih atas dasar pertimbanganmu sendiri.”

Ha wong saya ya bingung je Pak Besar.”

“Ya wis.. coba ngobrol sama Bapak Ibumu dulu sana. Mereka pilih yang mana ?”

“Nek saya pilih sek nomer satu toh ya Ndoro. Sek ngganteng, tur gagah. Numpak jaran, seperti Pangeran Diponegoro. Bisa nyikat kumpeni-kumpeni yang mau ngubek-ubek Indonesia.” Mister Wasis tiba-tiba sudah ikutan ambil suara.

Ha nek saya ya pilih yang nomer dua Ndoro. Yang sederhana orangnya, mesti bisa pangerten sama orang kecil. Yang sukanya blusukan, jadi bisa diajak ngobrol sama rakyatnya.” La ujug-ujug Nyai Wasis juga ikutan ndlosor.

“Nah kuwi Le, Bapak Ibumu sudah memberikan pendapat. Kamu milih yang mana sekarang.”

“Duh.. la kok Bapak Ibu ndak kompak begini suaranya ? Saya jadi makin bingung Pak Besar.”

“Ha ya itu yang namanya demokrasi Le. Kamu boleh berbeda suara, sekalipun dengan Bapak Ibumu. Yang penting itu kamu tahu, kenapa memilih yang mau kamu pilih. Bapak Ibumu ndak bakal ngelarang wis. Ya toh Sis ? Kamu lak ngajari anakmu untuk berani memilih sesuai nuraninya toh ?”

“Ya jan-jane saya pengennya Thole milih sama seperti yang saya pilih sih Ndoro.”

“Weits!! Ndak bisa. Nek Thole mau memilih ya kudu diberi kebebasan. Kecuali nek kamu mau tak cengklong gajimu.”

“Woh.. ya ndak gitu juga dong Ndoro.. Urikan tenan nih Ndoro. Mainnya ancaman..” Thole langsung ngekek mendengar Bapaknya protes.

“Jadi ya Le, yang penting itu bukan siapa yang kamu pilih. Karena InsyaAllah keduanya orang baik. Yang penting buat Pemula Pemilu seperti kamu itu justru belajar mencari tahu kenapa kamu mau memilih salah satunya. Wong kamu lak cah pinter toh. Coba banyak baca dari koran dan sumber lainnya. Bandingkan track recordnya. Baru pilih yang paling sreg di hatimu. Yang penting itu bukan siapa yang kamu pilih. Tapi kenapa kamu milih dia.”

Si Thole manggut-manggut. Mudah-mudahan dia mudeng apa yang saya sampaikan.

“La Ndoro sendiri mau milih yang mana buat besok tanggal 6 ?” Thole balik bertanya

“Buat saya, yang penting itu siapa saja yang bisa menjadikan Indonesia Bersatu. Presiden sih nomer dua.” Saya mesem…


19
Jun 14

Revolusi Mentol

Sudah lama saya tidak memanggil Yu Winah dan kini saya sedang kangen-kangennya dengan Selad Solo dan Sosis Solonya itu. Maka demi memenuhi klangenan saya itu, saya pun menitahkan Mister Wasis untuk segera mencegat Yu Winah sore itu juga. Ndilalahnya memang kepeneran, Yu Winah memang sudah punya feeling yang sama. Maka bersambutlah gayung dan sore itu pun menjadi makin gayeng.

“Wah.. saya kira saya di jothaki Pak Besar loh. La kok lama ndak dipanggil nek saya pas lewat. Sudah saya banter-banterkan loh saya teriaknya. Saya lama-lamakan pas lewat depan rumah. Kolo-kolo malah saya juga ndodok di depan pager. Mbok menowo njuk dipanggil masuk. La kok adanya cuma anteng saja di dalam rumah ini.”

“Wah.. maaf beribu maaf ya Yu. Nyuwun saestu pangapunten. Beberapa waktu ini saya terpaksa harus berada di Jakarta. Demi mengudar beberapa bolah bundet yang disusun oleh teman-teman di Jakarta. La kok saya yang kebagian ruwetnya. Jadi ya nyuwun ngapunten sekali kalau jadi tidak pernah menyahut dan memanggil njenengan masuk.”

“Sibuk urusan copras-capres nopo Pak Besar ?” Yu Winah langsung saja menskak mat dengan entengnya.

“Hahaha.. ya biasalah Yu.” Saya cuma bisa ngeles sekenanya.

“Hehehe.. ya saya dan teman-teman yang kawulo alit ini ya cuma bisa berharap saja toh Pak Besar. Mudah-mudahan Presiden yang terpilih besok ya anak bangsa yang terbaik. Yang bisa gusto kerjanya. Bisa melayani rakyat. Dan yang penting punya toto dan ati. Lak ya sewajarnya saja toh pengarepannya kami-kami ini Pak Besar ?”

Yu Winah menghela napas.. tangannya mengambil sesuatu di balik tenongannya. Sebungkus permen berwarna biru dongker.

“Aaammiin.. eh apa itu Yu ? Kok sepertinya saya slamur-slamur kelingan. Mirip panganan jaman baheula.”

“Owalah.. ini Pak ? Ini lak cuma permen Davos.. Permennya golongan kasepuhan seperti saya. Ben semriwing mulutnya.”

“Owalah.. kok ya masih ada ya permen ini. Tak kira sudah punah ditelan jaman je. ” Saya menimang-nimang permen biru ini. Saya jadi teringat jaman muda saya dulu.

“Hahaha… Ndoro kie kok ya sok ngece tenan. Permen Davos ini sih masih banyak nek di desa saya sana. Tapi ya cuma simbah-simbah sek doyan. Nek anak muda ya ndak doyan. Rasane jadul kalau anak saya bilang.”

“Lha iya Kang.. Permen mentol seperti ini ya memang cocoknya buat kasepuhan. Nek buat anak muda ya sudah ganti nama. Ganti bungkus. Padahal jan-jane ya isine lak ya sama toh ya ? Sama-sama mentol.” Yu Winah masih sibuk mengulum Davosnya.

“La ndak cuma permen Yu. Sekarang saja banyak rokok yang pake mentol kok. Ben makin semriwing nek diserot. Makin wangun. Katanya sih gitu.”

“Lucu ya Pak Besar. Padahal mentol-mentolan itu lak permen jaman dulu banget. Tapi kok ya masih bisa moncer sampai sekarang. Bahkan bisa makin banyak jenisnya. Makin kondang. Tidak seperti permen jaman dulu yang lain.”

“Oh iya.. bener Yu. Padahal dulu banyak permen yang rasanya ndak kalah enak yo. Kayak Sarsaparilla dan Frambozen. Sekarang sepertinya sudah ndak ada lagi rasa-rasanan seperti itu ya ? Sek masih awet itu ya mentol-mentolan seperti ini. Ya toh Yu ?”

“Ho oh Kang.. Mentolnya pinter. Mentolnya berevolusi. Supaya ndak ditlindes jaman. Kudu bisa beradaptasi dengan perubahan titimangsa.” Yu Winah tampak serius.

“Walah Yuuu.. bahasamu kok muluk tenan. Revolusi Mentol segala.” Mister Wasis tergelak.

“Tapi ya memang benar apa kata Yu Winah itu loh Sis. Yang namanya revolusi itu perlu. Nek ndak, ya bener-bener ketlindes jaman. Apalagi nek bisa nututi dengan makin banternya efek dari globalisasi. Bisa ilang betul itu.” Saya kok mendadak jadi seperti mendapat dejavu.

Nek Mentol saja harus berevolusi, lalu bagaimana dengan mental ?


13
Jun 14

Dobel Kobol-Kobolnya

Genderang tetabuhan tari Samba di Brazil sudah sampai di Bulaksumur. Mister Wasis sudah mulai persiapan joged-joged tari Samba sejak seminggu yang lalu. Dan sebagai seorang connoisseur bal-balan kelas Tarkam sejati, tentu Mister Wasis tidak akan melewatkan satupun pertandingan wahid dari ajang Piala Dunia. Ajang bal-balan seantero jagad raya yang cuma muncul setengah windu sekali ini.

Wis jangan tanya lagi persiapan yang sudah dilakukan Mister Wasis. Mulai dari memberikan instruksi khusus kepada Nyai Wasis untuk menambah stok kopi dan gula, sampai menambah alokasi dana khusus non-budgeter untuk cemilan kacang kulit, kacang bawang, kacang godog dan kacang-kacangan lainnya. Wis pokoknya semua cemepak rapi sebelum gelaran Piala Dunianya dimulai.

Dus.. mendadak sontak, sore beberapa hari yang lalu, televisi kesayangan kami sekeluarga mulai berulah. Mulai dari memudarnya warna, sehingga semua tampilannya jadi tampak semu-semu biru esem. La nek nonton Mahabharata jadi lucu ini. Semua tampak seperti Kresna yang jika mengacu pada literatur aslinya adalah manusia yang berkulit kebiru-biruan. Gejala tidak mengenakkan ini mulai menggerus hati Mister Wasis yang sudah mendambakan pesta lek-lekan yang makin menjelang. La cilakanya tadi malam kok si televisi ini makin parah saja, dan akhirnya pagi ini, sepertinya si televisi ini memutuskan untuk mangkat dan moksa dengan samaptanya setelah mengabdi selama 11 tahun.

Pucetlah Mister Wasis. Maka dengan tergopoh-gopoh, menghadaplah Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini di pagi hari ketika saya sedang sarapan.

“Ndoro.. Nyuwun sak agenging pangapunten. Tapi ini ada sesuatu yang krusial dan urgent. Jadi …sesuai yang kita ketahui bersama, bahwa Piala Dunia sudah menjelang nanti subuh.”

“La terus ?” Saya masih sibuk mengunyah roti gandum panggang yang belepotan selai stroberi buatan Nyai Wasis.

“Ha televisinya sudah moksa Ndoro. Njuk acara nanti subuh ya terancam gagal. Masak iya saya kudu kemulan di pos ronda ? Ha padahal sudah cemepak semua.”

“Ha njuk kepriye maksudnya?”

“La kan televisinya sudah mangkat toh Ndoro. Gimana nek segera diagendakan saja tumbas televisi baru. Sek tipis-tipis itu loh Ndoro. Sek suara jegler-jegler biar nonton Piala Dunianya makin mantep.”

“Welah.. permintaanmu kok subversif toh Sis ? Kok njuk merongrong kondisi moneter kamu Sis.”

“Wah.. ya ngapunten sekali Ndoro. Tapi ya mosok Ndoro ndak nonton Piala Dunia nanti malam po ? Pembukaan loh Ndoro. Di Brazil loh ini kedadennya Ndoro. Ayu-ayu tur bohay-bohay mesti penari sambane.”

Hasyaahhh.. Ndak usah ngompori nek sek bab bohay-bohay begitu. Tak wadulkan ke bojomu loh. Ben dicengkiwing kowe nanti.”

“Woh.. ampun saestu Ndoro. Mbok jangan wadulan begitu. Ha nek ndak kerso nonton sek bohay-bohay, ya mosok Ndoro bakalan melewatkan ramenya kampanye Pilpres ? Mosok ya seorang guru besar njuk kalah informasi ?”

Waduh.. Touche… Nekat tenan ini si Wasis menyerang saya dengan kelemahan paling fundamental. Kebutuhan saya akan informasi memang tidak bisa tidak kudu terpenuhi. Ah semprul tenan ini Wasis.

“Wah.. semprul tenan kowe Sis. Mosok nyerangnya langsung skat mat. ”

“Hasekk.. jadi.. ditumbaskan televisi baru ya Ndoro ? Wah.. maturnuwun Ndoro. Haseekk.” Mister Wasis mendadak joged samba.

“Ya wis.. nanti siang diagendakan ke Takrib. Tumbas satu yang tipis. Ben penak bolehmu nonton. Tapi syaratnya cuma satu. Saya ndak mau ada alasan ngantuk besok paginya.”

“Siap Ndoro. Sendiko dawuh!”

Saya baru melahap beberapa suapan roti gandum bakar, lhadalah kok Nyai Wasis juga menghadap.

“Ndoro Besar.. Nyuwun pangapunten. Tapi kawulo mau mengajukan revisi anggaran rumah tangga.”

“Weits. Ada apa ini kok ada revisi anggaran rumah tangga di masa reses seperti ini?”

“Nganu Ndoro.. berhubung bulan puasa sudah menjelang. Maka harga sayur mayur dan lauk termasuk iwak dan tempe sudah mulai merangkak naik. Maka, dengan sangat terpaksa, demi menjaga stabilitas tempe garit, kawulo harus mengajukan penambahan anggaran.”

“Duh.. ini barusan saja suamimu minta dana non-budgeter buat beli televisi baru. La kok sekarang ada tambahan budget lagi. Wah.. suram ini kondisi keuangan. La ini kira-kira tambahan anggarannya perlu berapa banyak ?”

Nyai Wasis mengacungkan 2 jarinya..

“20 % ?” Saya agak lega karena ternyata kenaikannya tidak terlalu banyak.

“Mboten nDoro.. Dua kali lipat maksud kawulo Ndoro.”

Mendadak saya pilu… Dompet saya terasa amat sangat tipis. Dobel kobol-kobolnya. Duh…