Ontran-Ontran Indonesia

Beberapa minggu terakhir ini, Mister Wasis sedang gandrung menonton Serial Mahabharata yang diputar salah satu televisi swasta. Setiap jam 20.30 malam sudah sedakep mantep di depan televisi untuk menonton serial kegemarannya. Dan malam ini pun kejadiannya sama. Jam dinding sudah menuju 20.30, dan mister Wasis sudah mulai nyekethem remote tivi. Sambil ngembil rempeyek atau kletikan lainnya di lodhong. Memastikan ritual malamnya tidak ada yang mengganggu. Tidak pula saya. Kalau saya mau nonton yang lain, pasti bakalan ada perang dunia kecil di rumah ini.

“Kowe kok segitunya betul toh Sis bolehnya nonton Mahabharata. Lak ya kamu sudah hapal semua detail ceritanya. Wong kamu ini turunan dalang toh ?”

“Ha ya nek babakan cerita Mahabharata ya saya sudah ngelotok luar dalam lahir batin Ndoro. Tapi ya tetep tidak pernah jeleh tuh Ndoro. Tur ini tetep wangun je. Nek saya kan tahunya cuma versi Jowo. La yang versi India ini lak baru. Apik tenan loh Ndoro. Bisa mirip tenan ngono.”

“La wong lakonnya sama. Sama-sama Mahabharata kok ya. Ya wajar nek mirip toh?”

“Ya tetep ndak wajar Ndoro. Lakon yang saya tahu kan berasal dari turunan ala Jawa. Padahal Jawa sama India lak jauh toh Ndoro ? Numpak montor mabur saja berapa lama coba ? La kok ini bisa mirip tenan. Lak brati ada yang ngajari orang Jawa tentang Mahabharata sampai sedetil-detilnya toh Ndoro ? Sampai terus bisa diturunkan sampai generasi saya loh. Wangun ini..”

Touche. Gemblung tenan ini Prime Minister Kitchen Cabinet saya. Analisanya tetap saja tajam dan natural.

“Apalagi sekarang baru episode seru-serunya Ndoro. Ini baru lahirannya Kurawa dan Pandawa. Apik tenan. Penasaran sama bentukannya Duryudana sama Raden Arjuna. Ngganteng e koyo opo toh nek versi India.”

“Lah kok sek didelok malah ngganteng tur bagusnya. Tak kiro kowe kesengsem sama ceritane tok je.”

“Ha cerita itu lak makin lengkap nek aktornya ngganteng, bagus, sumeh toh Ndoro. Sek perempuannya ayu, semlohai tur kenes.”

“Hahahahah.. ya bolehlah sana. Silakan ditonton saja sampai puas.”

“Tapi ya Ndoro, yang saya gumun dengan cerita Mahabharata ini toh, mirip tenan loh sama Indonesia sekarang. Sedang babagan ontran-ontran rebutan kekuasaan. Banyak muncul resi-resi kapiran. Padahal sejatinya selicik Sangkuni.”

Ontran-ontran gimana ?”

“Ha ya rebutan kursi dan kekuasaan di Istana itu Ndoro. Mungkin karena namanya Istana Negoro ya, makane rebutannya persis seperti Mahabharata. Koyo rebutan Hastinapura gitu. Coba nek Ndoro pirsani di hasil pemilu legislatif kemarin. Lak kelihatan sejatine para pemimpin partai itu toh ? Tidak ada teman yang sejati, tidak pula ada musuh yang sejati. Sek ada ya mung kepentingan sejati. Selama kepentingannya bisa kelakon, siapa saja bisa jadi teman ataupun lawan. Banyak petinggi partai sek menjilat ludahnya sendiri. Pinter tenan le bersilat lidah. Adu domba sana-sini. Persis seperti Sangkuni sek ngglembuki Destarata sek wuto dan anak-anaknya sek kemlinthi itu.”

“La sekarang nek Indonesia kita mirip seperti Mahabharata, njuk siapa yang jadi Pandawa sek siapa sek jadi Kurawa ?”

“Nah itu serunya ontran-ontran di Indonesia Ndoro. Ndak jelas mana yang jadi Pandawa mana yang jadi Kurawa. Semuanya berpura-pura baik. Tapi semua juga main kotor. Sek jelas lakon e ya cuma satu Ndoro.”

“Sek lakon yang mana?”

“Lakon masyarakat jelata. Ha ya kita-kita ini. Sek cuma bisa nonton dagelan ontran-ontran di Istana itu.”

“Hmm.. Kok kowe makin hari makin wasis saja toh Sis ?”

“Lah.. nyak Ndoro kie. Ngece.. la wong saya cuma bisa nonton saja kok ya. Ya seperti nonton Mahabharata ini. Mung bisa nonton nDoro.. Nonton doannngg..”

Yah.. kita memang cuma bisa menonton. Mudah-mudahan kita tidak ikut menderita seperti rakyat Hastinapura sek diplekotho Kurawa ya Sis. Semoga..

Tags: , , , , , , , , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.