Efek Satu Suro

Menjelang satu Suro seperti ini njuk biasane Mister Wasis selalu bebersih rumah. Semua disulaki dan dilap sampai menceling. Meja, kursi, rak, bahkan tempat tidurpun jadi resik dan rapih. Taman pun tak kalah kena efeknya. Semua dibabati resik. Rumput-rumput jadi terpotong rapih. Termasuk pohon Makutodewo dan mangga arum manis yang biasane rimbun kini tampak agak langsing karena dikeprasi.

Maka ketika sore itu Yu Winah mampir ke rumah, tampak panglinglah beliau melihat kondisi rumah yang tidak biasanya. Sampai-sampai Yu Winah harus permisi dulu ketika akan meletakkan tenongannya di lantai teras depan saking takutnya mengotori lantai.

“Weh Kang, iki le ngeresiki kok nganti kincling banget toh ? Saya nganti wedi kepleset je.”

“Heheheh.. La wong mau Satu Suro je Yu. Sebagai kawulo Metaram lak memang kudune nyengkuyung adanya tahun baru Jawa ini toh?” Mister Wasis tampak bolehnya puas betul melihat hasil kerjanya manglingi orang-orang dekatnya.

Ho.. ngono ya ? Saya malah mau ngikut bojo saya ke Solo besok pas malem Satu Suro. Mau lek-lekan sambil tapa bisu di Kraton Solo. Ngiring Kebo Bule Kyai Slamet. Sapa tau entuk berkah. Pulangnya mampir dulu ke Bubur Mbok Lemu. Mesti enak tenan.. adem-adem pulang dari ngiring gitu njuk maem Bubur mlekoh. Apalagi minumnya njuk pakai teh nasgitel. Manteepp..”

“Weh.. Saya ya pengen jane Yu. Sepertinya kok bakalan gayeng juga yo nek gitu. Rame-rame sama kawulo Metaram lainnya. Tapi ketoke saya ya cukup di rumah saja Yu. Mau tirakatan saja. Ndongo sama Gusti Pangeran. Mudah-mudahan tahun depan lebih bagus daripada tahun ini. Semoga ontran-ontran karena Pemilu ndak terjadi. Dan semoga kita semua dapat pemimpin yang luhur dan agung budinya. Ya seperti Kanjeng Sultan Agung dulu itu. Sek mbikin Satu Suro ini.”

“Weh… Satu Suro itu sek nggawe Kanjeng Sultan Agung toh Kang ? Memang artine Suro itu jan-jane opo toh Kang ?”

“Wah.. nek itu ya saya ndak tahu. Kosik..kosik.. Kita tanya saja sama Ndoro Besar nek bab itu.”

Mister Wasis kemudian ngibrit masuk ke dalam. Saya yang baru leyeh-leyeh kemudian didawuhi cerita tentang Satu Suro. Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah seperti sudah siap saja didongengi. Mata-mata mereka menceling seperti siap menerima petuah agung. Nek sudah begini lak ya saya ndak bisa nolak. Maka saya pun cincing-cincing sarung dan segera menuju ke teras diikuti Mister Wasis. Malah mirip inspektur upacara yang diiringi pembawa naskah Pancasila saja adanya.

“Jadi beneran ini pada pengen tahu tentang ceritanya Satu Suro dan Sultan Agung ?” Saya njuk duduk di kursi di teras dan bergaya bak orator ulung.

“Injiiihhhh..” Kompak suara koor dari Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah bergema di teras kecil rumah.

“Baiklah jika memang sudah disepakat. Saya mulai saja ceritanya ya. Jadi begini..” Tangan saya kemudian teracung seolah menunjuk masa lalu. Kembali ke abad dimana Sang Raja besar Mataram itu hidup. Kembali ke abad 16 Masehi.

“Dulu Sultan Agung itu lak seorang Islam dan hidup ketika Jawa dalam periode pengembangan Islam. Boleh dimaklumi karena Kalifah Islam itu berdiri sejak tahun 632 dan baru berakhir pada tahun 1972 ketika Turki menjadi negara demokrasi. Nah.. Karena Sultan Agung itu hidup di tahun 1600an ya brati beliau hidup di periode ketika kekalifahan Islam masih jaya. Namun demikian, beliau dengan bijaknya juga menggabungkan dengan adat Jawa yang saat itu masih banyak penganut Hindu-Budha Jawanya. Maka sebagai seorang Sultan, beliau ingin mengembangkan Islam dengan cara yang damai. Yaitu ya salah satunya dengan mengubah penanggalan dari tahun Saka menjadi kalender Islam yang merujuk pada kalender  Hijriyah. Sistemnya penanggalannya menggabungkan pasaran ala Jawa sek 5 harian itu dan 7 harian ala Hijriyah.”

“Ooooo…” Mister Wasis, Nyai Wasis dan Yu Winah serempak berkoor panjang.

“Lanjut ya ?”

“Lanjut Ndoro.” Mister Wasis menyahut.

“Ketika memutuskan untuk awal tahun, maka Kanjeng Sultan Agung ingin menggunakan istilah Asy-Syuro sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa. Asy-Syuro itu artinya sepuluh. Hal ini disebabkan karena pada bulan Muharram itu ada tanggal 10 Muharram yang sangat penting dalam sejarah manusia. Tidak saja dalam agama Islam. Banyak kedaden-kedaden yang dialami oleh Nabi-nabi sek jatuhnya tanggal 10. Seperti Nabi Musa sek diselamatkan dari kejaran Fir’aun di laut merah kuwi ya tanggal 10 Muharram. Kanjeng Nabi Nuh juga dibebaskan dari banjir pada tanggal 10 Muharram. Kanjeng Nabi Yunus ya dibebaskan dari perut iwak gede itu pas tanggal 10 Muharram. Dan banyak lagi lainnya. Memang kebanyakan dialaminya oleh para Nabi. Makane kemudian Kanjeng Sultan Agung menggunakan istilah Asy-Syuro untuk bulan pertama kalender Jawanya. “

Ha nanging karena angel le ngomong, ya njuk di masyarakat Mataram kolo itu jadi lebih dikenal sebagai Satu Suro.” Mister Wasis nyelani cerita saya.

“Ha pinter kowe.. Memang demikian ceritanya. Karena sulit diucapkan, jadi terpelintirlah Asy-Syuro itu menjadi Suro saja.”

“Ooo…” Kini giliran Nyai Wasis dan Yu Winah yang kompak berkoor.

“La nek terus ada budaya reresik itu apa sebabnya Ndoro ?”

“La ya itu lak ya wajar. Mau tahun baru lak ya kudu reresik. Jan-jane sek luwih penting itu reresik hati. Tapi nek bisa reresik lingkungan lak yo apik. Sek luwih penting meneh itu jan-jane pas tanggal 10 Muharramnya ato 10 Suronya itu. Pas tanggal itu jadi tanggal sek pas buat memuliakan anak yatim. Banyak sek bilang nek tanggal 10 Suro itu Lebarannya anak yatim.”

“Oooo…” Sekali lagi koor yang kompak terjadi.

Hasyah.. A..o..A..oo wae… Wis mudeng toh ?” Saya nggeleges pelan.

Sampun Pak Besar.. Wih jebul memang Kanjeng Sultan Agung itu hebat ya ? Jebul penanggalan Jawa itu untuk mendamaikan toh ? Menyatukan kedamaian antara ajaran Islam dan lare-lare umum yang Hindu-Budha di Jawa. Damai gitu loh bolehnya menyebarkan agama itu. Ndak pakai gontok-gontokan dan kepruk-keprukan.”

“Ho oh Yu. Makane kita ndonga saja ya ? Semoga tahun depan itu kita dapat pemimpin sek senengane mendamaikan. Ben masyarakat Indonesia kie yo damai, ayem lan tentrem ngono.”

“Aamiin Kang. Mugi-mugi ya Kang.”

Duh Gusti Pangeran, semoga Engkau ijabahi doa-doa kaummu yang kecil ini. Semoga Engkau berkenan paring welas asih kepada kami. Dan karuniakan kami pemimpin yang benar-benar berhati lurus dan luhur.

Sugeng warso enggal sedoyo rencang.

 

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.