Manusia Gamelan Jathilan

“Ndoro.. Saya mau nggresulo pareng mboten ?” Siang itu saya sedang menikmati tayangan televisi yang membahas tentang perekonomian Indonesia yang sedang kontraksi. La kok tiba-tiba Mister Wasis sudah ndeprok di bawah

“Weh.. nggresulo apa je ? ” Sebagaimana biasa, saya langsung pasang telinga. Karena nggresulonya Mister Wasis ini terkadang membawa informasi yang paten dan cespleng. Langsung dari akar rumput. Mungkin saya bisa mendapat informasi yang lebih valid tentang perekonomian Indonesia ala Mister Wasis.

“Jadi begini nDoro.. Tempo hari pas saya ngangkring, saya denger banyak temen-temen yang ngomong e kok seperti ndak dipikir. Waton clebung saja gitu loh.”

“Sek..sek.. Ini mbahas bab apa je ? Kok bisa kamu bisa bilang nek teman-temanmu waton ceblung ? Jangan asal tuduh loh.”

“Ha ya karena itu saya sebut saya mau nggresulo. Karena menurut saya teman-teman saya itu sedang waton clebung. Ya jane bahasan e biasa sih Ndoro. Ya bab kebijakan pemerintah. Ya bab sulitnya ekonomi. Ya bab bahasannya rakyat kecil lah. Mung sek diomongi itu kok ya ndak pake dinalar dan dipikir. Apa-apa yang diissuekan kie langsung disembur dan diamini bareng-bareng. Koyo gamelan jathilan.” Mister Wasis langsung nyerocos tanpa henti.

“Loh.. kok gamelan jathilan dibawa-bawa loh kowe kie.”

“Ha gimana je Ndoro. Gamelan jathilan itu lak begitu ditabuh langsung bunyi. Pung del pung del pung. Padahal manusia itu lak punya nalar. Nek ada issue apa-apa kie ya dipikir dulu. Dinalar dulu. Dicari datanya dulu. Biar yang keluar dari mulutnya itu yang benar dan baik. Nek setiap issue yang didengar langsung diomongkan, lak ndak ada bedanya sama gamelan jathilan. Sek seneng kan yang lempar issue. Sek nggamel jadi banyak.”

“Terus nek menurutmu gimana ?”

“Ha ya..” Mister Wasis baru mau ngomong ketika tiba-tiba terdengar.

“Pakcik Wasiiisss!!” Suara kecil yang melengking tinggi terdengar dari balik pagar.

Mister Wasis yang sedang leyeh-leyeh di jobin, langsung njenggirat. Berlari tergopoh-gopoh ke depan.

“Ada apa je Mas Oliq kok sudah main ke sini jam segini ? Lak belum saatnya siram-siram tanaman.”

Namanya Oliq. Anaknya Mas Puput dan Mbak Olen tetangga sebelah. Pasangan ini barusan pulang dari Malaysia. Kebetulan Mas Puput ini adalah tenaga ahli perminyakan jebolan ITB dan mendapat pekerjaan yang mengharuskannya menghabiskan waktu di Malaysia. Dan saat Mas Puput ini bekerja di Malaysia, Mas Oliq lahir.

“Mau minta ditemani menonton Jathilan di lapangan. Pung del pung del pung..”

“Sudah bilang sama Ibuk ?”

“Sudah. Ibu yang minta Oliq supaya ditemeni Pakcik Wasis. Soalnya Ibu lagi sibuk mandikan adik.”

“Oh baik. Sebentar ya. Tak bilang ke Pak Besar dulu. Mas Oliq mau pamit sama Pak Besar dulu ?”

“Mau!” Oliq mengangguk dan ngibrit masuk ke dalam. Sendal jepitnya melayang di teras.

“Pakcik Besar.. Oliq mau nonton jathilan di lapangan. Pung del pung del pung. Boleh minta ditemenin Pakcik Wasis ? Soalnya Ibuk baru sibuk mandikan adik.”

“Oh boleh..boleh.. Wah.. Mas Oliq sudah lancar berbahasa Indonesia ya ?”

“Iya.. kata Ibuk dan Cikgu, Oliq harus lancar berbahasa Indonesia. Karena Oliq kan anak Indonesia.”

“Wah Mas Oliq pintaarrr… Ya sudah.. Selamat menonton ya. Nanti sebelum maghrib pulang dulu loh ya. Biar ndak dicari-cari Ibuk. OK ?”

“OK Pakcik Besar.”

“Sebentar nggih Ndoro. Saya menemeni mas Oliq nonton Jathilan. Nggresulonya berlanjut nanti sore. Ayok berangkat mas Oliq.”

“Ayoookkk.. Pung del pung del pung..” Sembari jejogetan, keduanya keluar rumah.

Dan saya kembali asyik dengan bahasan ekonom-ekonom Indonesia yang membahas kontraksi ekonomi. Seru sekali nampaknya. Saling ngotot saling tuding. Saling menyalahkan. Kalau ditimbangi bunyi gamelan jathilan tentu makin seru. Pung del pung del pung.

Tags: , , , ,

Silakan meninggalkan jejak