Kraton dan Nyi Roro Kidul

“Ndoro.. ndoro..” Seperti biasa, jika Mister Wasis ada mau, pasti saja nadanya merajuk. Ya persis seperti sore ini.

“Piye ?” Saya melihat Mister Wasis yang ndlosor di bawah kursi malas saya dari balik koran pagi yang baru bercerita tentang perekonomian dunia yang sedang memuram.

“Begini Ndoro.. saya punya analisa wangun ini Ndoro. Mohon dikritisi ya Ndoro..” Lah.. tumben ini Mister Wasis, nadanya merajuk, tapi jebul mau minta dikritisi.

“Weits.. kok kowe lagaknya sudah seperti mahasiswa saya yang mau mengajukan thesis wae ? Njaluk dikritisi barang. Opo wis siap po nek dibantai alur logika dan datamu ?”

“Ah.. nek cuma dibantai Ndoro saja sih wis kerep Ndoro.. Wis kasep. ” Mister Wasis nyengir. Deretan giginya mengkilap terkena sinar matahari sore.

“Hahahah.. iya ya.. Ya wis.. piye analisamu ?”

“Gini nDoro.. ” Mister Wasis berganti posisi jadi bersila yang serius. Sepertinya memang analisanya kali ini juga serius. Seserius kerutan di dahinya. Berlapis sepuluh

“Pada perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke kerajaan Kediri dan Pajang, ada pergeseran dari kebudayaan Budha dan Hindu ke kebudayaan Islam. Ya toh ?”

“Ho oh.. betul.. terus ?” Saya sudah curiga jika pembukaannya seberat ini. Analisa macam apa lagi ini yang akan diajukan oleh Mister Wasis. Kadang-kadang saya terkaget-kaget juga dengan analisa yang ngakunya hanya tamatan SD ini. Tapi kok analisanya bisa indepth dan mrantasi.

“Nah.. pada jaman kerajaan Pajang dan Kediri, maka simbol yang dipergunakan dalam kehidupan sosial masyarakatnya adalah Wali Songo. Lak ngaten Ndoro ?”

“Woh.. wangun kamu.. Bolehnya menganalisa sampai sedalam ini. Lanjutkan.” Saya mulai ikutan serius ketika analisa Mister Wasis mulai sedalam ini. Tenanan sajaknya.

“Nah.. begitu kerajaan Pajang dan Kediri bergeser menjadi kerajaan Mataram yang notabene adalah kerajaan Islam, kok simbol yang dipergunakan justru Nyi Roro Kidul ya Ndoro ? Kok tidak simbol-simbol Islam yang lebih¬†Islami¬†gitu loh ?”

“Ha njuk analisamu piye ?” Saya kembalikan pertanyaannya ke Mister Wasis. Biasane ini sih cuma pancingan. Wong dia sebenarnya sudah punya analisa sendiri.

“Menurut saya, sekalipun Mataram itu kerajaan Islam, tapi simbol yang digunakan bersifat kejawen yang berkeinginan agar masyarakat Mataram Jawa niku tetap ingat pada asal usulnya. Begitu Ndoro. Bener ndak ?”

“Boleh juga analisamu kuwi.” La rak tenan.. Mister Wasis cuma perlu dikasih ruang untuk menunjukkan hasil analisanya.

“Ibarat tanaman, sekalipun jenis tanamannya sama, tapi jika tempat tumbuhnya berbeda, tentu akan menghasilkan buah yang berbeda sedikit pula. Minimal ada ciri khasnya ngoten loh Ndoro… ”

“Hmmm.. betul..betul.. Analogimu betul..”

“Nah.. karena Mataram Jogja ini tetap mengacu pada simbol Nyi Roro Kidul sebagai pasangan dari Hamengkubuwono, sepertinya bakalan ada gegeran dalam waktu dekat ya Ndoro ?”

“Gegeran gimana ?”

“Lha itu.. lak calon penerusnya Hamengkubawono ke X lak putri toh Ndoro. Brati nanti Nyi Roro Kidul bersanding dengan Putri ? Teneh gegeran toh Ndoro ?”

“Blaik!!…” Saya lalu terdiam.. Saya bingung.. Ntah harus berkomentar apa.

 

Notes : Cerita ini terinspirasi dari status FB Baba @Rasarab pagi ini yang memang luar biasa jeniusnya.

Tags: , , ,

Silakan meninggalkan jejak