Janji Suwargi Caleg

Sore hari seperti beberapa waktu ini agak panas. Rasanya ngelaras rasa jadi kurang nyes kalau dilakukan ba’da Ashar. Maka biasanya kemudian saya geser sedikit waktunya sampai menjelang Maghrib. Sambil menikmati teh hangat, sambil menikmati pendar sinar matahari tenggelam, rasanya memang nyes betul.

Mister Wasis biasanya sedang menyirami latar depan. Pemandangan air yang mancur dari selang, bertemu dengan sinar matahari sore, rasanya membuat batin tentrem betul. Luar biasa nikmat dariNya.

Sama seperti sore ini, Mister Wasis sedang menyirami latar depan, dan saya sedang menikmati teh sore dari Perkebunan Teh Tambi sambil membaca koran sore dan mencomot loenpia depan Gardena yang baru saja dibelikan Mister Wasis. Mak legender rasanya.

“Ndoro.. sambil ngobrol ya.” Mister Wasis sepertinya pengen ngudo roso

“Yoh. Mau ngobrol apa ?” Saya menyahut sambil mata saya tetap membaca ke koran.

“Sek lagi hot saja Ndoro. Masalah caleg.”

“Hot dan abot. Piye statementmu ?” Saya berhenti membaca koran. Sepertinya yang kali ini perlu diperhatikan lebih saksama.

“Gini loh Ndoro.. Caleg itu kan nek janji-janji selalu muluk tenan ya. Dan biasane syarate njuk berakhiran, saya akan blablabla kalau nanti terpilih. Jadi coblos saya ya.”

“He em.. lalu terus gimana ?”

“La para caleg itu apa ndak mikir ya besok itu pertanggungjawaban mereka di suwargi njuk kepripun gitu loh Ndoro ?”

“Lha kayaknya sih para caleg itu ndak mikir sampai sana je. Buat mereka sepertinya yang penting bisa jadi legislatif dulu. Yang begituan sih perkoro belakangan. Kan nek wis jadi legislatif mereka bisa ngumpulin duit buat nyumbang masjid. Tur nanti kalau sudah tua ya tinggal diperbanyak ibadah. Wis bakbuk lah.”

“Gemblung tenan ya Ndoro. Memang mereka pikir nek suwarginya Gusti Pangeran itu bisa dibeli nopo yo ?”

“Hahaha.. kok abot men toh pikiranmu Sis. Tumben.”

“Hehehe.. saya jadi kebayang gini Ndoro. Jika suatu hari di hari pengadilan itu Para Caleg sudah dikumpulkan di suatu tempat. Terus para malaikat menyampaikan kalau mereka semua masuk surga. Seneng mesti para caleg itu.”

“Njuk digiringlah mereka semua ke suatu tempat yang dijanjikan bernama surga. Jebul disana mereka tidak ketemu yang indah-indah. Apalagi bidadari-bidadari bohay. Yang ada malah justru kesusahan dan siksaan.”

“Njuk para caleg itu para protes. “Wahai malaikat, kok kalian membohongi kami ? Kalian mengatakan bahwa kami akan diberikan surga yang penuh keindahan dan wanita cantik. Kok ini malah kami dapat tempat yang penuh kesusahan dan kami diberatkan dengan siksaan.”

“Njuk para malaikatnya dengan kompak mbales : Lah kalian dulu kan juga seperti itu.” “Mesti njuk cuma bisa mringis saja itu para caleg. Kepangan kelakon e dewe pas masih di dunia. “

“Heheheheh.. bayanganmu bisa jadi tenan kuwi Sis. Mung ketok e kok para malaikat kie ora entuk ngapusi je. “

“Heheheh.. la ini kan cuma bayangan saya Ndoro. Mesti nggonduk tenan itu para caleg.”

“Hahaha.. nggonduk tenan mesti kuwi. Eh Sis.. kuwi wit markisane wis teles kebes kuwi. Kakehan ngalamun wae kowe.

“Eh iya.. Duh..” Mister Wasis langsung memindahkan siramannya ke tanaman lainnya. Dan saya langsung memindahkan pikiran saya ke koran sore yang ternyata masih berkisar tentang janji suwargi para caleg. “Saya menjanjikan ambulan untuk seluruh masyarakat jika saya terpilih besok.” sebuah judul besar terpampang di koran sore saya kali ini.

“Ah.. mbelgedes!!”

PS : cerita ini terinspirasi dari tulisan di facebooknya Dolob Lover. Saya cuma kebagian menulis ulang dengan bahasa berbeda 😀

Tags: , , , , , , , , , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.