Haute Cuisine De Garangasem

Haduh nDoro.. nyuwun duko… ketiwasan sanget..Ujug-ujug Nyai Wasis ndeprok di dekat kursi malas tempat saya sedang membaca koran sore. Mengadu. Sedih sekali nadanya. Mister Wasis pun ujug-ujug ikut ndeprok di samping istrinya tanpa suara.

“Weh.. ada apa je ? Kok sampai seperti ini bolehmu nyuwun ngapunten ?” Saya juga jadi ikutan deg-degan melihat Nyai Wasis sampai ketakutan seperti ini.

Nganu nDoro..¬†Ketiwasan.. Nasi buat maem malam nDoro rada kurang air, jadinya rada pera. Ndak seperti yang seperti biasanya yang Ndoro senengi.. Ngapunten sanget nDoro.” Nyai Wasis masih saja menunduk ketakutan sambil tangannya meremas tangan suaminya.

“Ealaahhh.. cuma perkara nasi pera toh ?” Deg-degan saya jadi hilang. Karena duduk perkaranya ternyata tidak terlalu gawat darurot.

“Ha ya gampang saja itu solusinya. Wis.. Ndak papa wis. Nanti biar suamimu keluar sebentar. Tumbas Garangasem di depan Amplaz itu. Buat nemeni maem nasi pera ya cocoknya yang berkuah dan seger. Contohnya ya garangasem itu. Wis beres.. gampang toh.”

“Duh.. Ndoro.. maturnuwun sanget. Tadinya saya takut kalau Ndoro marah.” Suara Nyai Wasis sudah mulai tenang.

“Halah.. cuma perkara seperti itu loh ya. Apa perlunya marah-marah. Wis sana ke belakang. Tolong gorengkan sedikit emping buat temen maem garangasem.”

“Sendiko dawuh nDoro..” Nyai Wasis tampak kelegan sekali. Dan kemudian kembali ke dapur. Sudah bisa mulai tersenyum kembali. Saya pun kelegan juga.

Suaminya yang tadinya ndeprok dengan penuh takzim sekarang jadi nyekakar. Seperti manusia yang kelegan sekali hatinya. Sudah bisa mrenges lagi. “Haduh.. sudah meh mati saya tadi deg-degannya Ndoro. Takut nek diamuk Ndoro.”

“Halahh.. kowe kie yo sok berlebihan. Kapan saya pernah marah sama kalian berdua ?”

“Heheheh.. ha ya malah karena Ndoro tidak pernah marah itu, dalem berdua malah jadi takut nek sampai membuat Ndoro ndak kepenak. Pakewuhnya ndak ketulungan nDoro.”

“Hahahaha.. padahal ya ada solusinya toh ? Ha ya sudah, sana mampir ke depan Amplaz. Tumbas Garangasem 3 bungkus. Yang anget ya ?”

“Sendiko dawuh Ndoro. Saya mancal motor dulu sebentar.” Mister Wasis segera pamitan dan tak lama kemudian suara motornya terdengar menjauh… Jug..jug..jug..jug.. wer..wer..

Garangasem memang bukan masakan sepele. Buat saya, garangasem adalah hasil perenungan yang luar biasa. Ayam kampung yang dagingnya cenderung alot, bisa berubah menjadi hidangan daging yang succulent dengan tingkat keindahan rasa dan aroma yang luar biasa cantik. Dengan aroma gurih dari santan kelapa yang menguar indah. Memang ada gagrak garangasem yang tidak menggunakan santan kelapa, yang diganti dengan air kelapanya. Gagrak ini pun tak kalah cantiknya.

Gelar Haute Cuisine nya Garangasem saya sematkan bukan karena dipersiapkan menggunakan bahan terbaik yang harganya mahal. Tapi justru karena Garangasem adalah solusi dari bahan makanan yang terbatas tapi bisa menghasilkan kualitas yang sangat boleh dipoedjikan.

Ayam kampung yang lembutnya diperoleh karena dikukus menggunakan air kelapa dan campuran belimbing wuluh. Belimbing wuluh pun adalah solusi pengempuk daging yang secara bijaksana dipilih karena asamnya yang khas dan bisa blending dengan yahud dengan ayam kampung dan kemiri. Komposisi bahan lainnya pun diperoleh dengan mudah. Kemiri yang ditambahkan membuat kuahnya makin mlekoh dan gurih. Dibungkus dengan daun pisang, kemudian dikukus sehingga aroma daun pisang bisa merasuk indah ke dalam daging ayam kampungnya. Istilah sekarangnya adalah metode slow cooking. Memasak dengan pelan, sebuah metode memasak yang digadang-gadang berlawanan dengan metode fast food yang sedang meraja dimana-mana.

Dan Garangasem justru menjadi punya nilai lebih karena nasi yang nikmat untuk disantap bersamanya bukanlah jenis nasi yang pulen. Justru lebih enak jika nasinya sedikit keras, sehingga kuahnya bisa meresap dengan cantik di sela-sela nasi. Ini adalah solusi cantik dimana dulu nasi yang diperoleh kebanyakan adalah nasi yang agak keras. Nasi pulen sangat terbatas jumlahnya dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan. Maka justru menjadi ketiwasan yang melegakan ketika Nyai Wasis secara tidak sengaja memasak nasinya agak keras. Cocok sudah.

Memang selalu ada kebetulan yang indah untuk setiap rencanaNya. Dan rencanaNya kali ini memang nyamleng sekali. Garang Asem berteman emping melinjo Mbantul buat makan malam adalah endess margondes.

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.