GPS dan Local Wisdom

Kangmas Kunto, dosen antropolog nan tersohor itu mengirimkan undangan kepada saya. Undangan bahwa beliau mau mandito ke desa. Mau menep rasa. Supaya lebih bahagia, begitu katanya kepada saya.

“Sumpek je kalau di kota setiap saat adimas. Ada kalanya kita perlu berdiam. Sejenak beristirahat dari keriuhan manusia. Mendengarkan alam yang lebih tentrem. Tur lak saya sudah senior begini. Kurang pas rasanya kalau selalu reriungan dengan hingar bingar lampu kota.”  begitu beliau sampaikan saat menelepon saya beberapa hari yang lalu.

Jadi ceritanya, Kangmas Kunto ini sedang pindahan rumah. Dan sebagaimana layaknya penghuni rumah baru, beliau mengundang beberapa adimasnya untuk berkunjung. Ndilalahnya, rumah barunya ini ada di pucukan gunung sana. Di Manisrenggo kilometer kur-kuran.

Maka, pada Sabtu pagi ini saya putuskan untuk mengunjungi padepokan baru Kangmas Kunto dan Mbakyu Kunti. Dan karena jempol kaki yang belum seberapa pulih dari asam urat, saya mengajak Mister Wasis untuk menyopiri si Komando. Beberapa buah tangan gula dan teh sudah disiapkan Nyai Wasis untuk dicangking. Maka berangkatlah kami menuju perbatasan Yogyakarta bagian timur.

Jam sudah menunjukkan jam 10, dan kami sudah tiba di wilayah Manisrenggo. Tapi ternyata mencari padepokan kangmas Kunto ini tidak mudah juga. Padahal tadi sudah diberikan ancer-ancer via telepon.

“Ndoro.. Ngapunten ya Ndoro.. Pripun kalau kita bertanya saja pada Bapak-bapak Tani yang lenggahan di situ ?” Mister Wasis sudah nampak tidak sabar.

Kosik..kosik.. Saya kie sudah diajari Bu Alit buat pakai GPS ini loh Sis. Waktu saya di Jakarta itu saya pakai GPS terus ben ndak kesasar. La sekarang kita pakai dulu teknologi GPS ini biar ketemu padepokannya Kangmas Kunto.” Saya masih sibuk mengutek-utek peta GPS di henpon saya.

“Ealah Ndoro…” Mister Wasis mulai kemrungsung.

“Ha itu Sis, ada perempatan di depan, mbelok ngetan sekitar 500 meter. Di situ nanti rumah barunya Kangmas Kunto.” Saya dengan PDnya memberikan instruksi kepada Mister Wasis.

Tenan ini Ndoro ? Ini sudah yang ke 5 kalinya loh kita keblasuk.” dari nadanya, Mister Wasis sudah nampak putus asa.

Ha tenan, ini berdasarkan GPS je. Wis sana.. disopiri kesana dulu.”

Setelah 30 menit, ternyata tidak ketemu juga. Mister Wasis sudah makin mencucu.

“Ya wis..ya wis.. kita tanya ke Bapak Tani itu tadi.” Saya pasrah akhirnya.

Mister Wasis pun turun dan bertanya kepada Pak Tani yang sedang leren di sawah. Begitu kembali ke mobil, wajah Mister Wasis tampak sumringah.

“Gimana ? Pak Taninya ngerti po omah e Kangmas Kunto?”

“Ha jelas toh Ndoro. Wong di desa kie mesti ngerti tanggane. Sekalipun itu orang baru. Ha itu rumahnya, katanya dari pertigaan itu ngetan sedikit.”

“Ealaah.. Lah kok pertigaan itu ndak ada di GPS.”

“Ndoro..ndoro..” Mister Wasis nggleges dengan jumawanya.

15 menit kemudian kami tibalah di padepokan Kangmas Kunto. Dan langsung disambut oleh pasangan yang sangat kompak ini.

“Gimana adimas ? Susah po ketemunya ? Kata yang di rumahmu tadi sudah berangkat sejak 2 jam yang lalu. La kok ndak sampai-sampai. Mbakyumu sampai cemas loh. Dikiro nek keblasuk.” Kangmas Kunto menyambut di depan pintunya.

“Ho oh Kangmas. Keblasuk tenan je saya. Padahal sudah pakai GPS loh.”

“Lah kok pakai GPS. Mbok kamu tanya saja sama penduduk sini malah cepet ketemu.” Kowe kie kok aeng-aeng wae toh adimas ?” Kini giliran Kangmas Kunto yang nggeleges.

“Ha ya memang akhirnya Mister Wasis sek tanya ke Pak Tani di sawah sana.”

“Hahahaha.. kowe kie cen antik kok adimas. Terlalu banyak ngutho. Sudah lupa sama kebijakan lokal po ? Lokal Wisdom. Di desa itu, GPS ga berguna. Lebih pas kalau GPS itu jadinya Golek Penduduk Sekitar. Malah beres toh ?” Kangmas Kunto terkekeh-kekeh. Saya juga terkekeh-kekeh menyadari kesalahan saya. Mister Wasis juga ngekek.

“Nah itulah yang terjadi jika manusia terlalu kekota-kotaan. Suka lupa bahwa desa juga punya kebijaksanaan sendiri toh Adimas ? Ah.. mari..mari.. silakan masuk dulu. Kita ngobrolnya di amben saja. Kebetulan Mbakyumu sudah masak besar. Dan kowe pasti sudah lapar setelah kesasar toh ? Mari… Mari Mister Wasis.” Kangmas Kunto menggeret tangan saya masuk ke padepokannya yang baru.

Ealah.. saya luput kali ini.. GPS jebulnya Golek Penduduk Sekitar. Trapsilo dan kebijakan lokal itu memang sangat lokal. Dan kini gantian saya yang interlokal. Ealaahh..

Tags: , , ,

1 comment

  1. we ladalah… lha ya itu mas, teknologi yang bisa melupakan tradisi 🙂

Silakan meninggalkan jejak