Dobel Kobol-Kobolnya

Genderang tetabuhan tari Samba di Brazil sudah sampai di Bulaksumur. Mister Wasis sudah mulai persiapan joged-joged tari Samba sejak seminggu yang lalu. Dan sebagai seorang connoisseur bal-balan kelas Tarkam sejati, tentu Mister Wasis tidak akan melewatkan satupun pertandingan wahid dari ajang Piala Dunia. Ajang bal-balan seantero jagad raya yang cuma muncul setengah windu sekali ini.

Wis jangan tanya lagi persiapan yang sudah dilakukan Mister Wasis. Mulai dari memberikan instruksi khusus kepada Nyai Wasis untuk menambah stok kopi dan gula, sampai menambah alokasi dana khusus non-budgeter untuk cemilan kacang kulit, kacang bawang, kacang godog dan kacang-kacangan lainnya. Wis pokoknya semua cemepak rapi sebelum gelaran Piala Dunianya dimulai.

Dus.. mendadak sontak, soreĀ beberapa hari yang lalu, televisi kesayangan kami sekeluarga mulai berulah. Mulai dari memudarnya warna, sehingga semua tampilannya jadi tampak semu-semu biruĀ esem. La nek nonton Mahabharata jadi lucu ini. Semua tampak seperti Kresna yang jika mengacu pada literatur aslinya adalah manusia yang berkulit kebiru-biruan. Gejala tidak mengenakkan ini mulai menggerus hati Mister Wasis yang sudah mendambakan pesta lek-lekan yang makin menjelang. La cilakanya tadi malam kok si televisi ini makin parah saja, dan akhirnya pagi ini, sepertinya si televisi ini memutuskan untuk mangkat dan moksa dengan samaptanya setelah mengabdi selama 11 tahun.

Pucetlah Mister Wasis. Maka dengan tergopoh-gopoh, menghadaplah Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini di pagi hari ketika saya sedang sarapan.

“Ndoro.. Nyuwun sak agenging pangapunten. Tapi ini ada sesuatu yang krusial dan urgent. Jadi …sesuai yang kita ketahui bersama, bahwa Piala Dunia sudah menjelang nanti subuh.”

“La terus ?” Saya masih sibuk mengunyah roti gandum panggang yang belepotan selai stroberi buatan Nyai Wasis.

“Ha televisinya sudah moksa Ndoro. Njuk acara nanti subuh ya terancam gagal. Masak iya saya kudu kemulan di pos ronda ? Ha padahal sudah cemepak semua.”

“Ha njuk kepriye maksudnya?”

“La kan televisinya sudah mangkat toh Ndoro. Gimana nek segera diagendakan saja tumbas televisi baru. Sek tipis-tipis itu loh Ndoro. Sek suara jegler-jegler biar nonton Piala Dunianya makin mantep.”

“Welah.. permintaanmu kok subversif toh Sis ? Kok njuk merongrong kondisi moneter kamu Sis.”

“Wah.. ya ngapunten sekali Ndoro. Tapi ya mosok Ndoro ndak nonton Piala Dunia nanti malam po ? Pembukaan loh Ndoro. Di Brazil loh ini kedadennya Ndoro. Ayu-ayu tur bohay-bohay mesti penari sambane.”

Hasyaahhh.. Ndak usah ngompori nek sek bab bohay-bohay begitu. Tak wadulkan ke bojomu loh. Ben dicengkiwing kowe nanti.”

“Woh.. ampun saestu Ndoro. Mbok jangan wadulan begitu. Ha nek ndak kerso nonton sek bohay-bohay, ya mosok Ndoro bakalan melewatkan ramenya kampanye Pilpres ? Mosok ya seorang guru besar njuk kalah informasi ?”

Waduh.. Touche… Nekat tenan ini si Wasis menyerang saya dengan kelemahan paling fundamental. Kebutuhan saya akan informasi memang tidak bisa tidak kudu terpenuhi. Ah semprul tenan ini Wasis.

“Wah.. semprul tenan kowe Sis. Mosok nyerangnya langsung skat mat. “

“Hasekk.. jadi.. ditumbaskan televisi baru ya Ndoro ? Wah.. maturnuwun Ndoro. Haseekk.” Mister Wasis mendadak joged samba.

“Ya wis.. nanti siang diagendakan ke Takrib. Tumbas satu yang tipis. Ben penak bolehmu nonton. Tapi syaratnya cuma satu. Saya ndak mau ada alasan ngantuk besok paginya.”

“Siap Ndoro. Sendiko dawuh!”

Saya baru melahap beberapa suapan roti gandum bakar, lhadalah kok Nyai Wasis juga menghadap.

“Ndoro Besar.. Nyuwun pangapunten. Tapi kawulo mau mengajukan revisi anggaran rumah tangga.”

“Weits. Ada apa ini kok ada revisi anggaran rumah tangga di masa reses seperti ini?”

“Nganu Ndoro.. berhubung bulan puasa sudah menjelang. Maka harga sayur mayur dan lauk termasuk iwak dan tempe sudah mulai merangkak naik. Maka, dengan sangat terpaksa, demi menjaga stabilitas tempe garit, kawulo harus mengajukan penambahan anggaran.”

“Duh.. ini barusan saja suamimu minta dana non-budgeter buat beli televisi baru. La kok sekarang ada tambahan budget lagi. Wah.. suram ini kondisi keuangan. La ini kira-kira tambahan anggarannya perlu berapa banyak ?”

Nyai Wasis mengacungkan 2 jarinya..

“20 % ?” Saya agak lega karena ternyata kenaikannya tidak terlalu banyak.

“Mboten nDoro.. Dua kali lipat maksud kawulo Ndoro.”

Mendadak saya pilu… Dompet saya terasa amat sangat tipis. Dobel kobol-kobolnya. Duh…

Tags: , , , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.