Demokrasi Feodalism

“Jajan pasarnya Pak Besarrr… ” Seru Yu Winah di teras rumah.

Sore hari seperti saat ini, seperti biasanya, Yu Winah mampir ke rumah menawarkan jajan pasar spesialisasinya. Dan tentu saja dengan senang hati kami di rumah kecil ini menyambut beliau. Bukan saja karena beliau membawa makanan kecil bergizi camilan sekeluarga, tapi ya karena biasanya banyak informasi berharga yang dibawa. Ibarat dunia telik sandi, dari mulut beliau ini kita sering kali mendapatkan informasi A1 yang sangat berharga.

Dan setelah menjereng jajan pasarnya di atas tenongnya seperti biasa, Yu Winah pun mulai bercerita. Tangannya masih sibuk menata jajan pasar seperti menata gelar pasukan Mahabharata. Yang jajan pasar basah dipisahkan dengan yang kering. Yang berat dipisahkan dengan yang ringan. Yang perlu finalisasi khusus juga dipisahkan agar mudah.

“Pak Besar, nek menurut kaidah perbahasaan, jan-jane istilah Pemerintah itu benar ndak toh ?” Ujug-ujug Yu Winah sudah mulai masuk ke pembahasan yang sepertinya bakalan kritis dan analitis.

“Lah memang kenapa je Yu ? Kok istilah bahasa wae dipermasalahkan.” Mister Wasis sudah menyomot sate usus kegemarannya.

“Gini loh Kang. Istilah pemerintah itu lak dari kata dasarnya perintah. Dan perintah itu lak biasane satu garis. Dari yang berkuasa, ke bawahannya. Mirip seperti titah raja nek di negara kerajaan. Padahal kita ini lak bukan negara kerajaan. Negara Demokrasi je. Lah kok kemudian disebutnya Pemerintah. Nopo ndak salah kaprah niku ?”

Jidat saya jadi berkerut-kerut. Ini kok yang disebut sebagai akar rumput dan rakyat jelata, tapi pemikirannya bisa trengginas, analitis dan kritis seperti ini ya ? Ha kalau rakyatnya saja sedemikian kritis dan analitis, kudunya wakil rakyat di gedung kura-kura hijau itu lebih kritis dan analitis toh ya ? Tapi kok rasanya rada kebalik ya dengan kenyataannya.

“Wah Yu, njenengan memang luar biasa toh. Bisa jadi dirimu benar adanya. Dalam cara Inggris, disebutnya itu Goverment, dari katanya to govern alias mengurusi. Nek mengurusi itu tentu saja beda dengan memerintah. Karena nek mengurusi kan berarti melihat dulu apa kebutuhan yang diurusi, kemudian mengupayakan bagaimana caranya supaya sek diurusi itu bisa kajen. Ya mirip dengan pelayan masyarakat betul. La nek pemerintah itu, ya seperti katamu tadi, kerjanya hanya memberikan perintah. Mirip yang terjadi di sistem kerajaan yang rajanya lalim. Feodalism kalo istilah dari Prof. Lantip sang maestro bahasa. Dan seringkali perintahnya berasal dari kekarepannya pribadi. Tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang kudunya diurusi.”

“Nah itu lah Pak Besar, saya jadi curiga. Gek-gek istilah pemerintah itu sengaja dipergunakan karena sebenarnya kita ini berada di kerajaan. Yang jadi rajanya itu Presiden. Terus bawahan-bawahannya itu jadi mantri-mantri dan seterusnya. Njuk kita sebagai rakyat ini cuma dilihat sebagai obyek yang bisa diperas dan diperintah sak karepnya mereka.” Yu Winah tampak pilu.

“Ealah Yu.. urusan bahasa wae kok jadi ribet ya? ” Mister Wasis kali ini meraih arem-arem.

“Bukan perkara bahasanya saja loh Sis. Bahasa itu lak pengungkapan maksud. La nek bahasanya salah, sek diterima juga salah. Dan karena ini sudah terjadi selama sekian puluh tahun, tidak salah kalau kemudian terjadi penanaman pemahaman yang salah. Jadi wajar nek para PNS yang kerja di pemerintah itu jadi kurang pas bolehnya melayani masyarakat. La wong mereka dipihak pemerintah, alias yang memberikan perintah, la kok sekarang disuruh melayani masyarakat. Sejak kapan penggede itu bisa melayani ?”

Mister Wasis pun manggut-manggut dengan mulut yang masih mengunyah arem-arem dengan gustonya.

“Nah itulah Pak Besar. Kira-kira enaknya diganti istilah apa ya Pemerintah ini. Supaya pas gitu loh niatnya. Sebagai pelayan masyarakat. Bukan sebagai pemberi perintah ke rakyat saja.”

“Sek ya Yu. Nanti saya bawa diskusi ini ke tahap yang lebih pas. Biar pas nanti nek saya ketemu sama guru-guru besar tata bahasa biar dibahas lagi. Ben sisan pas dan trep bolehnya disolusikannya.” Saya kini meraih selad Solo kegemaran saya.

“Nah sudah.. silakan dihitung dulu Yu. Tadi Wasis ambilnya apa saja tambahannya. Saya ambil selad Solo sama Loenpianya tiga.”

“Semuanya Tiga Puluh Lima Ribu saja Pak Besar. Termasuk sama yang sudah dicekethem sama Kang Wasis itu.”

“Heheheh.. ini buat yang di belakang kok Ndoro. Bukan buat saya. Hehehe.” Mister Wasis cengengesan.

“Ya boleh saja. Sisan ditambahi lagi biar pas Empat Puluh Ribu.” Saya ngelungke uang bayaran ke Yu Winah.

“Maturnuwun Ndoro. Aseekk.. ” Mister Wasis mengambil beberapa tusuk sate usus dan sate telur puyuh lagi.

“Maturnuwun Pak Besar sudah dilarisi. Saya pamit nggih.” Yu Winah bergegas membereskan tenongannya untuk kembali beredar.

“Saya juga maturnuwun Yu. Nanti kita ngobrol lagi ya bab Pemerintah Feodal ini. Tak bahas dulu dengan sek lebih mumpuni di bab perbahasaan.”

“Injih Pak Besar. Pareng..” Yu Winah berpamitan dan meninggalkan teras dengan wajah sedikit kelegan. Sepertinya apa yang dipikirnya beberapa hari ini sudah bisa keluar.

Semoga cerita ini bisa saya bawa ke pertemuan dengan Prof. Lantip sang maestro Bahasa. Dan semoga kita bisa menemukan istilah yang lebih pas daripada istilah yang Feodal-Feodil sekali ini.

Tags: , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.