Cleret Tahun Dan Pesta Demokrasi

Buat kami yang tumbuh di pedesaan pada jaman semono, tentu sering saja mendengar ada kasus cleret tahun. Kejadian maha luar biasa yang membawa petaka pada suatu daerah. Banyak yang tiba-tiba sakit parah. Bahkan saking beratnya Cleret Tahun bisa menyebabkan kematian dengan sangat cepat. Biasanya diawali dengan angin kencang yang memekakkan telinga.

Dan kini periode itu datang pula. Tak cuma di desa, tapi juga makin parah di kota-kota. Cleret tahun ini muncul dengan beraneka warna. Ada merah, hijau, biru, oranye, kuning dan lain sebagainya. Suaranya benar-benar memekakkan telinga. Dari kejauhan saja sudah terdengar kalau nggerisi ati. Banyak yang trimo tidak keluar rumah daripada harus berpapasan dengan Cleret tahun yang mbebayani ini.

Termasuk juga Yu Winah yang trimo lebih banyak ngendon di komplek perumahan dan terutama teras rumah saya, daripada berpatroli menjajakan jajan pasar seperti biasanya. Ndilalahnya memang banyak yang mborong dagangannya, jadi ya pas wis.. Tumbuk oleh tutup.

“Wah Kang.. nek wis musim kampanye seperti ini, mending saya ndak muter wis nek ndak kepepet.”

“La iya noh Yu. Wis berisik, nganggu, kadang yo malah meden-medeni barang kampanyenya.”

“La ya kayak gitu kok mau mimpin negoro ya Kang ? Lak yo mung dadi geguyu pitik toh ? La wong pas saatnya mencari simpati rakyat tapi malah mendapat sebalnya rakyat, kuwi lak salah kaprah toh ? Dan diulang terus je. Opo ndak gendeng namanya ?”

“La ya memang gendeng Yu. Mister Ainstain, wong sek pinter banget kae nek jarene Ndoro Besar, pernah ngendiko, gendeng namanya nek mengharapkan sesuatu yang berbeda jika dilakukan dengan cara yang sama. La cara kampanye yang sama kok pengen mendapat simpati rakyat. Lak ya cen gendeng namanya ?”

“Betul kuwi Kang. Saya ya nggumun tenan. Mereka ini kan lak ya pengen dianggap layak sebagai calon pemimpin negara yo ? La tapi ngurusi konstituennya saja sek cuma sedikit itu saja ndak mampu, la kok pengen bisa memimpin negara sek orangnya lebih banyak tur kekarepan e luwih macem-macem.

“Sedang demam sepertinya kok Yu. Demam Rumongso Biso.”

Rumongso Biso itu memang penyakitnya penggede-penggede ya Kang. Nek kita-kita sek kawulo alit ini memang harus lebih pintar untuk Biso Rumongso. Tahu sikon, situasi dan kondisi. Mana yang pantas dan trap, mana yang tidak pantas dan sebaiknya dihindari.”

“Eh Kang, Ndoro Besar ikutan jadi caleg ndak ?”

“Ealah Yu.. Ndoro Besar itu lak ndak punya duit. Gimana mau nyaleg. La wong nek ada sek minta sumbangan kecil-kecilan saja sering kecut pulangnya. Soale cuma disangunoni sewu.. nuwun sewu maksudnya..”

Ealah.. sontoloyo juga ini Mister Wasis. Mbuka wadi..

“Hahahah.. malah bener kuwi Kang. Ndoromu itu bener malahan toh ? Biso rumongso. Nek ndak punya duit ya ndak usah memaksakan diri ikutan sek beginian. Wong ini gaweannya wong turah-turah duit. Mbangane edan nek ora keduman kursi. Kecuali nek ada sponsor ya ?”

“La sek arep sponsor kie ya mesti mikir-mikir nek mau nyeponsori Ndoro Besar. La wong senengane cuma reriungan di rumah. Ndak suka luntang-luntung nyari proyek. Proyek yang digarap saja palingan cuma proyek opo toh Yu.. Proyek bareng mahasiswa dan teman-temannya itu.. Sek ndak ada duite itu.”

“Wooo.. sembarangan tenan kowe Sis. Proyekku ya ada duitnya loh.” Gemes juga saya mendengar Mister Wasis daritadi kok ngece saya.

“Ealah.. Ndoro denger toh.. hihihihi. Tapi opo iyo toh Ndoro ? Mosok proyek e Ndoro ada duitnya ? La iku kok mobil Kijang Komandonya masih betah saja di garasi. Padahal sekarang sudah jamannya Innova atau Livina.”

“Wooo.. Duitnya proyekku memang ndak bisa sampai bikin beli Innova atau Livina. Tapi bisa bikin aku plesiran kemana-mana.” Saya ya ndak mau kalah.

“Hahahah.. Ndoro ngeles wae.” Mister Wasis menang angin.

“Ah.. kowe sontoloyo tenan Sis.”

Yu Winah jadi ikutan ngecek mendengar keributan kecil di sore ini.

Tags: , , , , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.