Budaya Klepon dan Donat

Sore-sore ba’da Ashar itu sebenarnya lebih nikmat jika dirasakan sambil lesehan di teras, ngedep teh Tambi ditambah gulo batu buatan Mister Wasis sambil comot-comot jajan pasar yang dibawa oleh Yu Winah dan menikmati semilir angin sore dengan tenang.

Dan sebenarnya sore ini pun kejadiannya serupa. Ada teh Tambi gulo batu buatan Mister Wasis, ada pula jejeran jajan pasar yang sudah ditebar Yu Winah dengan gelar pasukan sapit urang yang dikomandani Selat Solo di sisi utara, dan arem-arem di sisi selatan. Dan di tengah ada nasi kuning yang menjadi pemecah belah konsentrasi. Sebuah sore yang sebenarnya akan jadi periode yang pas untuk nglaras rasa. Tapi kok ya bahasan tripartit sore ini malah berat betul rasanya. Masalah keJogjaan dan perubahan kultur masyarakatnya.

“Ndoro, ini kasusnya mbak sek di sosial media itu pripun toh jan-jane ? Mosok ya cuma karena muntap njuk sampai dijebloske ke penjara ?” Mister Wasis gedek-gedek.

“Iya niku Pak Besar. Kok cuma masalah sepele seperti itu saja kok ya sampai di kunjoro ? Opo ndak berlebihan nopo niku ?” Yu Winah nambah-nambahi.

“Gini loh.. perkara muntapnya itu memang mungkin tidak perlu disikapi sampai masuk kunjoro. Tapi nek ndak salah, si mbak e itu berniat menghilangkan barang bukti. Jadi itu yang membuat pak Polisi kemudian terpaksa menahannya.”

“Ning ya Ndoro. Nek saya diceritani Thole, kok sepertinya tiyang Jogja bolehnya nguyo-uyo si mbak e itu kok sampai medeni ya ? Mosok ada yang ngancam sampai mau mengusir dari Jogja loh ? Hopo tumon¬†niku ?”

“Ho oh Pak Besar. Mosok ya cuma karena perkoro sepele begitu njuk kudu dihukumi berat betul. Sampai diusir loh ? Nopo nek sudah dihukumi dikuyo-kuyo saja ndak cukup ?” Yu Winah masih saja tetep nambah-nambahi.

“Wah nek bab itu saya ya bingung je. Kok sepertinya tiyang Jogja rada berubah yo? Apa akibat makin sumpeknya Jogja ya saya juga masih belum trep masalahnya. Orang-orang Jogja itu lak dikenalnya sebagai orang-orang yang kalem, tenang, mendem jero dan mondol mburi. Ndak pernah ada kasus sek orang Jogja sampai nguyo-nguyo orang lain.”

“Betul itu Pak Besar. Wong Jogja itu lak jane-jane sifatnya ya seperti klepon niki. Luarnya gurih karena ada klopo parutnya, di dalamnya manis karena ada gulo Jowonya. Pokok e semua serba menyenangkan wong Jogja itu…. Ya toh Pak besar ? Ini kleponnya kerso Pak Besar ?” Yu Winah mengangsurkan klepon dan saya menerimanya.

“Mungkin ya karena ada banyak yang hal terjadi beberapa waktu terakhir ini njuk membuat wong Jogja sedang rodo kurang Jogjanya ya ? Sumpek dan macetnya Jogja karena banyak gedung baru sek marakne rodo luntur. Tur ndilalahnya pas kejadian itu ya pas lagi rame-ramene ngantri bensin toh ? Mungkin ya itu sek marakne wong Jogja jadi sumuntak atine.” Klepon dari Yu Winah saya kunyah pelan-pelan. Semprotan gula Jawa yang mlekoh di mulut memang menyenangkan. Seperti melihat kembang api pas tahun baru. Serba menyenangkan..

“Ini cuma bedek-bedekan saya ya Ndoro. Mbok menowo orang Jogja sekarang sedang kagol dengan budaya Jawanya sendiri. Saking banyaknya serbuan budaya dari luar. Njuk beberapa tiyang Jogja njuk rodo lali dengan budayanya sendiri. Lak sekarang budaya luar itu luar biasa derasnya nyerbu Jogja toh Ndoro ? Ha ya seperti donat ini, budaya dari luar. Tepungnya dari gandum impor. Budaya donatnya juga dari impor. Donat itu memang manis memang di luarnya, tapi lak¬†kopong di tengahnya.” Mister Wasis mencomot sate donat.

“Mungkin ya memang benar omonganmu Sis. Gegar budaya itu memang sok bikin munyer-munyer. Lali jiwo. Lupa jati diri sendiri, njuk lali kudu ngopo nek keno perkoro. Lali nek budayane dewe itu adem andhap asor. Budaya itu lak jan-jane dadi pager ketika terjadi hal-hal yang kurang trep di tataran hati.”

Semilir sore ini berhembus pelan. Rodo adem memang di mongso mbediding ini. Mudah-mudahan Mbak e yang sedang bermasalah ini segera adem juga hatinya. Dan semoga juga demikian dengan tiyang-tiyang Jogja semoga makin adem hatinya. Dan semuanya jadi adem lagi. Tentrem lagi. Kalem lagi. Adem..adem..adem…

PS : tulisan ini dibuat terinspirasi oleh tulisan seorang teman di facebook yang membandingkan donat dan klepon pula.

Tags: , , ,

Silakan meninggalkan jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.