Angkringan – Bartendernya orang Jogja

Sudah lama saya tidak menikmati riuh rendahnya suasana angkringan. Jahe anget yang meneduhkan hati. Sate brutu bakar yang memenuhi rongga mulut. Menari bersama limpahan sambel teri di atas cuilan telur dadar di pincuk nasi kucing.

Maka sore itu saya sudah mewanti-wanti Mister Wasis untuk siap-siap ke angkringan Pak Ngadiyo setelah Maghrib.

Dan berangkatlah kami berdua ke Angkringan nan sederhana ini. Pak Ngadiyo sedang memanggang beberapa brutu pesanan ketika kami datang.

“Teh jahe satu dan jahe panasnya satu ya Kang.. Eh bener toh Ndoro ? Pengennya jahe panas toh ?” Mister Wasis langsung memesan menu dan segera mengaduk-aduk uborampe yang tersedia di meja Javanese¬†buffe style¬†ini. Dan segera saja menyurungkan tempe dan tahu bacem untuk dibakarkan.

Saya mengangguk dan mengamini statement Mister Wasis. Saya juga mulai mengambil sate brutu, tempe mendoan, nasi kucing sambel teri, nasi soun, tahu bacem dan mengangsurkannya ke Pak Ngadiyo untuk dibakarkan.

Ternyata yang memesan brutu sebelum kami, hanya untuk dibawa pulang. Jadi angkringan Pak Ngadiyo agak sepi sore itu.

“Wah.. jadi rada sepi nih Kang.”

“Ya ndak papa Kang. Memang kadang rame kadang sepi kok. Tur beberapa pengunjung malah seneng nek sepi. Soal e bisa ngobrol banyak. Nek pas rame kan susah mau ngobrolnya.”

“Wah.. jan-jane berarti njenengan ini punya banyak kulakan cerita dari kastemer sampeyan noh Kang.”

“Banyak sih ya lumayan Kang. Tapi saya ndak bisa loh berbagi cerita kastemer saya ke orang lain. Ini seperti etika bisnis. Bakul angkringan itu penjaga amanah. Dilarang membuka cerita kepada orang lain.”

“Wuihh.. kok nggaya je kowe Kang. Pakai buka etika bisnis segala le ngomong.”

“Hahahaha.. yo rodo nggaya sithik ya rapopo toh ?” Pak Ngadiyo tergelak. Tangannya yang membolak-balik panggangan tetap efektif bekerja. Supaya tidak gosong.

“Tempo hari ada bule juga yang kesini Kang. Dia ngobrol ngalor-ngidul tentang kegiatannya di Indonesia. Lalu pas di akhir cerita dia ngomong, profesi seperti bakul angkringan ini juga ada di luar negeri. Namanya Bartender. Karena tugas utama bartender itu mendengarkan cerita dari kastemer. Minuman dan nopo itu ? Koktael ? Katanya itu cuma pengantar agar orang lebih rileks dan cerita.”

“Wuiiihhh.. nggaya tenan kowe Kang.. Padakne karo Bartender.” Mister Wasis yang gantian tergelak. Saya tersenyum. Namun juga membenarkan.

“Ha tenan loh Kang. Sebagai orang Jawa dan juga orang ketimuran, kita sering tidak bisa berkata sejujur-jujurnya di keseharian. Kolo-kolo ya kudu mendem jero. Kolo-kolo ya kudu alim supaya trapsila tetep berjalan baik. Walaupun hati nggondok, tapi senyum tetep harus tersungging. Dan kadang, karena saking keselnya dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa butuh mengeluarkan uneg-uneg. Dan itulah tugas Bakul Angkringan. Kami hanya bisa mendengarkan. Ngoboni dan mengamini. Kami lak tidak bisa memberikan solusi, kami hanya bisa memberikan telinga saja.”

“Itu pula yang menyebabkan angkringan itu pakainya cuma senthir kecil Kang. Supaya temaram. Kondisi temaram membuat orang tidak melihat banyak orang. Membuat dia lebih mudah bercerita. Ho piye.. wangun toh jadi Bakul Angkringan kie.”

Mister Wasis terdiam. Saya yakin dia juga berpikir keras sama seperti saya. Berusaha mencerna kebijakan baru yang didengarnya barusan. Ternyata dalam setiap masyarakat, tentu akan ada budaya unik yang seringkali tidak nampak dipermukaan. Ya seperti dalamnya tugas Bakul Angkringan ini. Merekalah yang meredam gejolak masyakarat yang terkadang lelah juga hidupnya.

“Hidup Bakul Angkringan!” Mister Wasis tiba-tiba mengepalkan tangan, mengacungkan ke atas dan berteriak. Dan tiba-tiba pula diikuti dengan jatuhnya kayu penyangga atap angkringan. Dan keriuhan pun dimulai lagi.

Tags: , , , ,

2 comments

  1. Waaaah… *panik mikir tulisan balesan

Silakan meninggalkan jejak