03
Oct 17

Rempah Indonesia dan Swasembada

“Kring..kring..kring..”

Telepon butut saya masih bernada dering jadul itu berbunyi. Saya melirik jam dinding, masih jam 9 pagi. Kok tumben ada yang sudah telepon. Saya angkat telepon dari Finlandia ini dan melihat nama tertulis di layar hitam putihnya. “Kangmas Kokok”

Jenggirat, saya langsung duduk sampurna. Berdehem sejenak. Baru saya pencet tanda telepon yang berwarna hijau sehingga saya bisa berbicara dengan yang di seberang sana.

“Kangmas Besar, saya baru di Jogja ini. Baru mau ngisi acara ngobrol-ngobrol tentang cengkeh di UGM. Nanti sore selo mboten ? Saya kangen pengen ngobrol je.” Suara di ujung sana saya kenal betul.

“Boleh..boleh. Nanti ketemu mawon di Bakmi Pak No ya. Lak ya masih kelingan toh tempatnya?”

“Siap. Nek Pak No ya jelas masih ingat. Kulon PKU kan nggih. Siap mas. Nanti saya kabari lagi jika sudah siap meluncur.”

Kangmas Kokok… Nama ini mengingatkanku pada sesosok pemuda gagah perkasa yang sangat trengginas membahas tentang pangan Indonesia. Idealismenya sering dituliskan dimana-mana. Ya di media massa, di majalah, koran, bahkan sosial media seperti notesnya di facebook yang kekinian. Fans tulisannya banyak tersebar dimana-mana.

———————————————————————

Sore itu kemudian saya mentitahkan Mister Wasis untuk mengantarkan saya ke bilangan Jalan Nyai Ahmad Dahlan. Menuju tempat perjanjian dengan KangMas Kokok. Wabil khusus, di Bakmi Jawa Pak No.

Mas Kokok sudah duduk manis sambil menyeruput teh anget saat saya tiba. Saya sedikit tak enak hati karena malah datang belakangan.

“Selamat sore Kangmas. Maaf saya datang duluan. Keburu ngelih. Maklum tadi habis ngamen.” Mas Kokok langsung duduk menyambut saya dan Mister Wasis dan mempersilakan kami duduk.

Pak No melihat, sang maestro bakmi Jawa, melihat saya dan Mister Wasis datang, menyambut pula dengan senyum. Dengan kode jarinya membentuk angka 2, dan kata-kata “seperti biasa ?” langsung diucapkan. Saya dan Mister Wasis hanya mengangguk tersenyum. “Beres!!” begitu kata Pak No. Memang luar biasa maestro Bakmi Jawa ini. Hampir semua pelanggannya bisa diingat dengan luar kepala dengan seluruh pesanan kesukaannya masing-masing.

“Gimana..gimana.. wah kok tampak makin seger saja niki.” Saya menyambut mas Kokok dengan sumringah.

“Ah biasa mawon loh Kangmas. Saya cuma mampir ke Jogja. Ya pengen silaturahmi dan ngobrol-ngobrol. Kebetulan kok ya pas tadi mbahas tentang cerita Cengkeh di Indonesia. Saya kan kulakan ceritanya dari njenengan. Jadi ya pengen berbagi berkahnya pula lah. Jadi kali ini saya yang traktir.”

“Ealah… ndak usah loh ya. Wong yang waktu itu ya cuma ngudoroso.”

“Hahahaha.. mbok sekali-kali saya diperbolehkan mbayari seorang kangmas kesayangan saya gitu loh. Mosok ya adiknya ndak pernah nraktir kangmasnya.”

“Ya wis.. ya wis.. nek gitu saya sisan nambah brutu biar makin tonjo. Mumpung dibayari.”

“Boleh.. boleh..!!” Mas Kokok langsung mengkode permintaan tambahan saya ke Pak No yang dekat sigap langsung mengacungkan jempolnya.

“Gimana..gimana.. ada cerita baru apa ini ?”

“Saya sedang gumun dengan pemerintah. Eh ndak sedang dink. Sudah gumun dari dulu. Tapi baru terpikir dengan lengkap sekarang.”

“Gumun bab apa je?”

“Nggih bab pangan saja kok Kangmas.” Sambil menyeruput teh hangat, Mas Kokok mulai bercerita dengan gusto. Tangannya mulai naik-naik tudang-tuding bagai seorang Signor.

“Saya gumun sekali dengan cara pemerintah untuk memilih komoditi yang akan diswasembadakan. Padahal ndak terlalu memberikan keuntungan dari hitung-hitungan ekonomi.”

“Beberapa rempah-rempah memiliki harga tinggi. Termahal adalah Saffron. Saffron lak dipanen dari bunga Crocus. Dan per gram Saffron dihasilkan dari 150 bunga Crocus. Per bunga hanya menghasilkan 3 helai. Nah, Iran adalah negara penghasil Saffron terbanyak di dunia. Lebih dari 90% produksi Saffron dunia berasal dari Iran. Penanaman, pemanenan dan pengolahan hingga siap konsumsi hanya bisa dilakukan manual. Harga Saffron kualitas terbaik, per gramnya bisa tak jauh beda dengan emas. Per tahun produksi Saffron hanya 250-300 ton saja loh Kangmas.” Mata Mas Kokok makin berbinar saat berbicara tentang saffron.

“Njuk berturut-turut rempah yang harganya juga terhitung mahal, walau tak semahal Saffron, adalah Vanilla, Cengkeh, Kapulaga dan Lada Hitam.”

“Vanili diproduksi tidak begitu banyak di dunia. Bisa jadi cuma ada 8-10 ribu ton panenan biji Vanili per tahun. Sama dengan Saffron, penanaman, pemanenan Vanili membutuhkan banyak tenaga manusia. Terutama saat penyerbukan. Polinasi alias penyerbukannya dilakukan manual satu per satu.”

“Tahukah njenengan negara penghasil Vanili terbanyak di dunia Kangmas? Ha Indonesia kita ini. Posisinya susul menyusul dengan Madagaskar. Indonesia dan Madagaskar menguasai 80% bahkan lebih, produksi Vanili dunia.” Saya nyengir karena saya juga menyadari tentang fakta ini.

“Lalu bunga Cengkeh yang belum mekar adalah komoditas yang dipanen. Cengkeh di dunia, digunakan untuk bumbu dan parfum. Anti oksidan dalam cengkeh juga lumayan tinggi. Di Indonesia, 90% produksi Cengkeh dikonsumsi hanya oleh satu industri: kretek.”

“Lak ya rasanya tidak sulit menebak negara penghasil Cengkeh terbanyak di dunia. Ha ya, Indonesia. Dapat dikatakan 80-90% produksi Cengkeh dunia dihasilkan Indonesia. Sisanya Zanzibar, Tanzania, India, Pakistan dan Madagaskar dalam produksi yang sangat sangat kecil dibandingkan Indonesia. Bener toh Kangmas ?”

“Berdasar cerita kulakan dari Kangmas, lahan Cengkeh nasional pernah mencapai puncaknya dengan luas 700 ribu hektar lebih. Sampai kemudian Pangeran Cendana yang diamini pengambil kebijakan membentuk BPPC. Petani kecewa dan menebangi pohon Cengkeh yang menjadi sandaran hidup mereka. Lahan Cengkeh terjun bebas ke 200 ribu rupiah saja hektar. Petani stress. Piye? Penak zamanku, to? Opo-opo iso diatur sak karep-karepe. Berani melawan? Bedil ndasmu.”

“Nek saya ndak tidak salah ingat, Gus Dur membubarkan BPPC. Harga Cengkeh mulai rebound, Cengkeh mulai ditanam lagi. Saat ini pun, luas lahan Cengkeh nasional belum menyamai lahan sebelum ada BPPC namun produktivitas per hektarnya jauh lebih tinggi. Bener ndak Kangmas?” Saya hanya manggut-manggut.. dan mulai agak terdistraksi karena mie nyemek saya sudah tiba. Dan bau lada putih plus bawang putihnya berpuar-puar di hidung saya.

“Njuk Kapulaga nih Kangmas. Rempah ini digunakan untuk berbagai bumbu kari dan briyani. Juga digunakan untuk memperkaya rasa kopi, teh dan kue-kue. Di Indonesia bersama dengan Cengkeh, Kapulaga digunakan juga untuk bahan campuran dalam rokok kretek.”

“Produksi Kapulaga nasional terus meningkat. Saat ini Indonesia ada di peringkat ketiga sebagai produsen Kapulaga terbanyak di dunia. Di bawah Guatemala dan India. Kalau melihat tren produksi Kapulaga, sepertinya Indonesia bisa menduduki ranking 2 di masa-masa yang akan datang.”

“Saya juga dapat kulakan tentang Kayu Manis. Banyak cerita saya dapatkan dari Kayu Manis. Salah satunya adalah bumbu masak tertua yang pernah digunakan manusia. Kayu Manis digunakan di Mesir Kuno sekitar 5000 tahun lalu.”

“Kayu Manis juga dipercaya menjadi suplemen yang membantu meringankan berbagai macam sakit. Tentunya dipergunakan dengan campuran produk lainnya. Kayu Manis dengan madu misalnya, bisa mengurangi sakit radang sendi dan perut kembung. Tapi saya belum lihat atau baca ada uji lab yang serius untuk bab ini.”

“Ndilalahnya, lagi-lagi di salah satu rempah termahal ini, Indonesia menduduki ranking pertama. 43% Kayu Manis dunia berasal dari Indonesia. Disusul kemudian oleh China dengan produksi 33% dari total produksi global.”

“Produksi Kayu Manis Indonesia paling banyak dihasilkan dari sekitar Gunung Kerinci. Ada yang bilang 70% – 90% Kayu Manis Indonesia berasal dari sekitar Gunung Kerinci. Produksi nasional sekitar 90-100 ribu ton/tahun.”

“Lalu kita punya Lada Hitam pula. Indonesia menduduki peringkat kedua dunia dalam produksi Lada Hitam global. Ranking 1 adalah negara tetangga, Vietnam.”

“Indonesia memproduksi dua jenis lada, hitam dan putih. Lada Hitam terkenal adalah produksi Lampung, Lada Putih dari Bangka Belitung yang dikenal dunia dengan nama Muntok White Pepper. Saat ke Belitung, saya baru tahu jika Lada Hitam dan Lada Putih berasal dari Lada yang sama namun beda proses pengolahan. Yang putih lebih ribet. Walau menduduki ranking 2 dunia, produktivitas Lada Indonesia per hektar baru 0,8 ton. Jauh di bawah Vietnam dan Brasil yang sudah 2,1 ton dan China yang sudah 1,2 ton. Dengan luas lahan 165 ribu hektar lebih, jika produktivitas per hektar digenjot, maka bukan tidak mungkin Indonesia menduduki peringkat pertama produsen Lada dunia.”

“Nah niki yang unik Kangmas, meskipun Vietnam adalah produsen Lada terbanyak di dunia, negara tersebut mengimpor Lada dari Indonesia. Vietnam adalah importer Lada Indonesia terbesar dengan nilai impor per 2015 mencapai $180 juta.”

“Kira-kira nek Lada Indonesia sampai Vietnam, apa netizen Vietnam mencaci pemerintahnya dengan kalimat, Apa apa kok impor? Kapan negara ini swasembada? Negara gagal!! Gitu?” Kangmas Kokok masih dengan gustonya bercerita. Sambil gedeg-gedeg. Mirip seperti boneka yang ada pegas di lehernya ketika dijawil.

——————————————————–

“Selain rempah, Indonesia juga cukup berpengaruh di komoditas kopi, Kakao, Teh, Karet, Kelapa, Sagu, dan Kelapa Sawit. Belum termasuk tanaman bio farmaka seperti jahe, kunyit, laos, temulawak, dan lainnya.”

“Demikian besar berkah alam dalam bentuk komoditas di Indonesia. Rempah, hasil kebun, bio farmaka, juga beberapa buah tropis yang eksotik. Jika dikembangkan dengan strategi industri tengah dan final, nilai tambahnya akan kian besar. Tenaga kerja yang direkrut juga akan kian banyak. Mayoritas penghasil rempah juga masyarakat biasa, bukan konglomerasi. Lak kudune begitu toh Kangmas?”

“Namun perhatian pemerintah rasanya sungguh minim. Informasi-informasi produk dalam negeri mendunia pun jarang. Justru negara sibuk komunikasi swasembada padi dan jagung yang entah swasembada beneran atau cuma angka di atas kertas. Tengok saja yang bilang swasembada beras dengan produksi Gabah Kering Giling (GKG) 80jt ton. Itu setara beras 48-50jt ton. Konsumsi 3,5jt ton/bulan atau 42jt ton. Harusnya di atas kertas berlebih 6-8jt ton beras. Harusnya harga turun dan bahkan ekspor dalam jumlah besar. Nyatanya? Jagung katanya swasembada. Tanyalah peternak ayam petelur dan pedagjng kelas kecil dan menengah yang anda kenal. Apakah harga jagung hari ini membahagiakan mereka? Yang pasti dana untuk swasembada-swasembadaan padi-jagung ini triliunan.”

“Swasembada omong kosong berikutnya adalah Bawang Putih yang 96-97% konsumsi dalam negeri dipenuhi impor. Juga kedelai yang 70% impor. Biaya untuk ‘mengejar swasembada’ ini triliunan dan entah hasilnya apa. Kalau gagal sekalipun tidak akan dianggap kerugian negara.” Tiba-tiba Mas Kokok menghembuskan napas panjang. Seperti berduka dalam.

“Yang tidak mungkin swasembada diuber-uber agar swasembada. Dibungkus casing nasionalisme dan atas nama rakyat. Kadang saya juga melihat hestek di media sosial bertaburan seolah sukses ini itu di pertanian. Duh, sungguh aku merasa embuh.”

“Yang jelas-jelas sudah mampu menorehkan produksi besar level global tak diurus sungguh cara ekspor agar lebih mudah. Tidak ada ajakan menarik investasi pengolah rempah dengan branding yang membuat nama Indonesia mendunia dan mengintegrasikannya dengan petani lokal.”

“Kadang kita sibuk mengejar apa yang tidak kita miliki. Sampai lupa dengan sedemikian banyak yang sudah ada dalam genggaman.” Kangmas Kokok menyelesaikan orasinya yang mengebu-gebu karena mie pesanannya juga sudah datang.

Saya memandang mas Kokok dengan takjub. Lalu memandang piring saya yang sudah kosong tandas. Terbayang campuran bumbu mie Jawa yang sangat lengkap rempahnya. Mendadak saya jadi lapar lagi.

“Pak No, tanduk ya!” Saya langsung mengkode Pak No yang disambut dengan jempol.

Mas Kokok terbahak hingga sebagian bakminya muncrat.

———————————————————————–

Tulisan ini dibuat atas tulisan Mas Kokok Herdjianto Dirgantoro di Facebook. Dan sudah atas persetujuan beliaunya.

 


12
Sep 15

Manusia Gamelan Jathilan

“Ndoro.. Saya mau nggresulo pareng mboten ?” Siang itu saya sedang menikmati tayangan televisi yang membahas tentang perekonomian Indonesia yang sedang kontraksi. La kok tiba-tiba Mister Wasis sudah ndeprok di bawah

“Weh.. nggresulo apa je ? ” Sebagaimana biasa, saya langsung pasang telinga. Karena nggresulonya Mister Wasis ini terkadang membawa informasi yang paten dan cespleng. Langsung dari akar rumput. Mungkin saya bisa mendapat informasi yang lebih valid tentang perekonomian Indonesia ala Mister Wasis.

“Jadi begini nDoro.. Tempo hari pas saya ngangkring, saya denger banyak temen-temen yang ngomong e kok seperti ndak dipikir. Waton clebung saja gitu loh.”

“Sek..sek.. Ini mbahas bab apa je ? Kok bisa kamu bisa bilang nek teman-temanmu waton ceblung ? Jangan asal tuduh loh.”

“Ha ya karena itu saya sebut saya mau nggresulo. Karena menurut saya teman-teman saya itu sedang waton clebung. Ya jane bahasan e biasa sih Ndoro. Ya bab kebijakan pemerintah. Ya bab sulitnya ekonomi. Ya bab bahasannya rakyat kecil lah. Mung sek diomongi itu kok ya ndak pake dinalar dan dipikir. Apa-apa yang diissuekan kie langsung disembur dan diamini bareng-bareng. Koyo gamelan jathilan.” Mister Wasis langsung nyerocos tanpa henti.

“Loh.. kok gamelan jathilan dibawa-bawa loh kowe kie.”

“Ha gimana je Ndoro. Gamelan jathilan itu lak begitu ditabuh langsung bunyi. Pung del pung del pung. Padahal manusia itu lak punya nalar. Nek ada issue apa-apa kie ya dipikir dulu. Dinalar dulu. Dicari datanya dulu. Biar yang keluar dari mulutnya itu yang benar dan baik. Nek setiap issue yang didengar langsung diomongkan, lak ndak ada bedanya sama gamelan jathilan. Sek seneng kan yang lempar issue. Sek nggamel jadi banyak.”

“Terus nek menurutmu gimana ?”

“Ha ya..” Mister Wasis baru mau ngomong ketika tiba-tiba terdengar.

“Pakcik Wasiiisss!!” Suara kecil yang melengking tinggi terdengar dari balik pagar.

Mister Wasis yang sedang leyeh-leyeh di jobin, langsung njenggirat. Berlari tergopoh-gopoh ke depan.

“Ada apa je Mas Oliq kok sudah main ke sini jam segini ? Lak belum saatnya siram-siram tanaman.”

Namanya Oliq. Anaknya Mas Puput dan Mbak Olen tetangga sebelah. Pasangan ini barusan pulang dari Malaysia. Kebetulan Mas Puput ini adalah tenaga ahli perminyakan jebolan ITB dan mendapat pekerjaan yang mengharuskannya menghabiskan waktu di Malaysia. Dan saat Mas Puput ini bekerja di Malaysia, Mas Oliq lahir.

“Mau minta ditemani menonton Jathilan di lapangan. Pung del pung del pung..”

“Sudah bilang sama Ibuk ?”

“Sudah. Ibu yang minta Oliq supaya ditemeni Pakcik Wasis. Soalnya Ibu lagi sibuk mandikan adik.”

“Oh baik. Sebentar ya. Tak bilang ke Pak Besar dulu. Mas Oliq mau pamit sama Pak Besar dulu ?”

“Mau!” Oliq mengangguk dan ngibrit masuk ke dalam. Sendal jepitnya melayang di teras.

“Pakcik Besar.. Oliq mau nonton jathilan di lapangan. Pung del pung del pung. Boleh minta ditemenin Pakcik Wasis ? Soalnya Ibuk baru sibuk mandikan adik.”

“Oh boleh..boleh.. Wah.. Mas Oliq sudah lancar berbahasa Indonesia ya ?”

“Iya.. kata Ibuk dan Cikgu, Oliq harus lancar berbahasa Indonesia. Karena Oliq kan anak Indonesia.”

“Wah Mas Oliq pintaarrr… Ya sudah.. Selamat menonton ya. Nanti sebelum maghrib pulang dulu loh ya. Biar ndak dicari-cari Ibuk. OK ?”

“OK Pakcik Besar.”

“Sebentar nggih Ndoro. Saya menemeni mas Oliq nonton Jathilan. Nggresulonya berlanjut nanti sore. Ayok berangkat mas Oliq.”

“Ayoookkk.. Pung del pung del pung..” Sembari jejogetan, keduanya keluar rumah.

Dan saya kembali asyik dengan bahasan ekonom-ekonom Indonesia yang membahas kontraksi ekonomi. Seru sekali nampaknya. Saling ngotot saling tuding. Saling menyalahkan. Kalau ditimbangi bunyi gamelan jathilan tentu makin seru. Pung del pung del pung.


06
Jun 15

Angkringan – Bartendernya orang Jogja

Sudah lama saya tidak menikmati riuh rendahnya suasana angkringan. Jahe anget yang meneduhkan hati. Sate brutu bakar yang memenuhi rongga mulut. Menari bersama limpahan sambel teri di atas cuilan telur dadar di pincuk nasi kucing.

Maka sore itu saya sudah mewanti-wanti Mister Wasis untuk siap-siap ke angkringan Pak Ngadiyo setelah Maghrib.

Dan berangkatlah kami berdua ke Angkringan nan sederhana ini. Pak Ngadiyo sedang memanggang beberapa brutu pesanan ketika kami datang.

“Teh jahe satu dan jahe panasnya satu ya Kang.. Eh bener toh Ndoro ? Pengennya jahe panas toh ?” Mister Wasis langsung memesan menu dan segera mengaduk-aduk uborampe yang tersedia di meja Javanese buffe style ini. Dan segera saja menyurungkan tempe dan tahu bacem untuk dibakarkan.

Saya mengangguk dan mengamini statement Mister Wasis. Saya juga mulai mengambil sate brutu, tempe mendoan, nasi kucing sambel teri, nasi soun, tahu bacem dan mengangsurkannya ke Pak Ngadiyo untuk dibakarkan.

Ternyata yang memesan brutu sebelum kami, hanya untuk dibawa pulang. Jadi angkringan Pak Ngadiyo agak sepi sore itu.

“Wah.. jadi rada sepi nih Kang.”

“Ya ndak papa Kang. Memang kadang rame kadang sepi kok. Tur beberapa pengunjung malah seneng nek sepi. Soal e bisa ngobrol banyak. Nek pas rame kan susah mau ngobrolnya.”

“Wah.. jan-jane berarti njenengan ini punya banyak kulakan cerita dari kastemer sampeyan noh Kang.”

“Banyak sih ya lumayan Kang. Tapi saya ndak bisa loh berbagi cerita kastemer saya ke orang lain. Ini seperti etika bisnis. Bakul angkringan itu penjaga amanah. Dilarang membuka cerita kepada orang lain.”

“Wuihh.. kok nggaya je kowe Kang. Pakai buka etika bisnis segala le ngomong.”

“Hahahaha.. yo rodo nggaya sithik ya rapopo toh ?” Pak Ngadiyo tergelak. Tangannya yang membolak-balik panggangan tetap efektif bekerja. Supaya tidak gosong.

“Tempo hari ada bule juga yang kesini Kang. Dia ngobrol ngalor-ngidul tentang kegiatannya di Indonesia. Lalu pas di akhir cerita dia ngomong, profesi seperti bakul angkringan ini juga ada di luar negeri. Namanya Bartender. Karena tugas utama bartender itu mendengarkan cerita dari kastemer. Minuman dan nopo itu ? Koktael ? Katanya itu cuma pengantar agar orang lebih rileks dan cerita.”

“Wuiiihhh.. nggaya tenan kowe Kang.. Padakne karo Bartender.” Mister Wasis yang gantian tergelak. Saya tersenyum. Namun juga membenarkan.

“Ha tenan loh Kang. Sebagai orang Jawa dan juga orang ketimuran, kita sering tidak bisa berkata sejujur-jujurnya di keseharian. Kolo-kolo ya kudu mendem jero. Kolo-kolo ya kudu alim supaya trapsila tetep berjalan baik. Walaupun hati nggondok, tapi senyum tetep harus tersungging. Dan kadang, karena saking keselnya dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa butuh mengeluarkan uneg-uneg. Dan itulah tugas Bakul Angkringan. Kami hanya bisa mendengarkan. Ngoboni dan mengamini. Kami lak tidak bisa memberikan solusi, kami hanya bisa memberikan telinga saja.”

“Itu pula yang menyebabkan angkringan itu pakainya cuma senthir kecil Kang. Supaya temaram. Kondisi temaram membuat orang tidak melihat banyak orang. Membuat dia lebih mudah bercerita. Ho piye.. wangun toh jadi Bakul Angkringan kie.”

Mister Wasis terdiam. Saya yakin dia juga berpikir keras sama seperti saya. Berusaha mencerna kebijakan baru yang didengarnya barusan. Ternyata dalam setiap masyarakat, tentu akan ada budaya unik yang seringkali tidak nampak dipermukaan. Ya seperti dalamnya tugas Bakul Angkringan ini. Merekalah yang meredam gejolak masyakarat yang terkadang lelah juga hidupnya.

“Hidup Bakul Angkringan!” Mister Wasis tiba-tiba mengepalkan tangan, mengacungkan ke atas dan berteriak. Dan tiba-tiba pula diikuti dengan jatuhnya kayu penyangga atap angkringan. Dan keriuhan pun dimulai lagi.


04
Jun 15

Kraton dan Nyi Roro Kidul

“Ndoro.. ndoro..” Seperti biasa, jika Mister Wasis ada mau, pasti saja nadanya merajuk. Ya persis seperti sore ini.

“Piye ?” Saya melihat Mister Wasis yang ndlosor di bawah kursi malas saya dari balik koran pagi yang baru bercerita tentang perekonomian dunia yang sedang memuram.

“Begini Ndoro.. saya punya analisa wangun ini Ndoro. Mohon dikritisi ya Ndoro..” Lah.. tumben ini Mister Wasis, nadanya merajuk, tapi jebul mau minta dikritisi.

“Weits.. kok kowe lagaknya sudah seperti mahasiswa saya yang mau mengajukan thesis wae ? Njaluk dikritisi barang. Opo wis siap po nek dibantai alur logika dan datamu ?”

“Ah.. nek cuma dibantai Ndoro saja sih wis kerep Ndoro.. Wis kasep. ” Mister Wasis nyengir. Deretan giginya mengkilap terkena sinar matahari sore.

“Hahahah.. iya ya.. Ya wis.. piye analisamu ?”

“Gini nDoro.. ” Mister Wasis berganti posisi jadi bersila yang serius. Sepertinya memang analisanya kali ini juga serius. Seserius kerutan di dahinya. Berlapis sepuluh

“Pada perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke kerajaan Kediri dan Pajang, ada pergeseran dari kebudayaan Budha dan Hindu ke kebudayaan Islam. Ya toh ?”

“Ho oh.. betul.. terus ?” Saya sudah curiga jika pembukaannya seberat ini. Analisa macam apa lagi ini yang akan diajukan oleh Mister Wasis. Kadang-kadang saya terkaget-kaget juga dengan analisa yang ngakunya hanya tamatan SD ini. Tapi kok analisanya bisa indepth dan mrantasi.

“Nah.. pada jaman kerajaan Pajang dan Kediri, maka simbol yang dipergunakan dalam kehidupan sosial masyarakatnya adalah Wali Songo. Lak ngaten Ndoro ?”

“Woh.. wangun kamu.. Bolehnya menganalisa sampai sedalam ini. Lanjutkan.” Saya mulai ikutan serius ketika analisa Mister Wasis mulai sedalam ini. Tenanan sajaknya.

“Nah.. begitu kerajaan Pajang dan Kediri bergeser menjadi kerajaan Mataram yang notabene adalah kerajaan Islam, kok simbol yang dipergunakan justru Nyi Roro Kidul ya Ndoro ? Kok tidak simbol-simbol Islam yang lebih Islami gitu loh ?”

“Ha njuk analisamu piye ?” Saya kembalikan pertanyaannya ke Mister Wasis. Biasane ini sih cuma pancingan. Wong dia sebenarnya sudah punya analisa sendiri.

“Menurut saya, sekalipun Mataram itu kerajaan Islam, tapi simbol yang digunakan bersifat kejawen yang berkeinginan agar masyarakat Mataram Jawa niku tetap ingat pada asal usulnya. Begitu Ndoro. Bener ndak ?”

“Boleh juga analisamu kuwi.” La rak tenan.. Mister Wasis cuma perlu dikasih ruang untuk menunjukkan hasil analisanya.

“Ibarat tanaman, sekalipun jenis tanamannya sama, tapi jika tempat tumbuhnya berbeda, tentu akan menghasilkan buah yang berbeda sedikit pula. Minimal ada ciri khasnya ngoten loh Ndoro… ”

“Hmmm.. betul..betul.. Analogimu betul..”

“Nah.. karena Mataram Jogja ini tetap mengacu pada simbol Nyi Roro Kidul sebagai pasangan dari Hamengkubuwono, sepertinya bakalan ada gegeran dalam waktu dekat ya Ndoro ?”

“Gegeran gimana ?”

“Lha itu.. lak calon penerusnya Hamengkubawono ke X lak putri toh Ndoro. Brati nanti Nyi Roro Kidul bersanding dengan Putri ? Teneh gegeran toh Ndoro ?”

“Blaik!!…” Saya lalu terdiam.. Saya bingung.. Ntah harus berkomentar apa.

 

Notes : Cerita ini terinspirasi dari status FB Baba @Rasarab pagi ini yang memang luar biasa jeniusnya.


31
Jan 15

Rekening Montok

Setelah divonis oleh Dik Dokter Palgunadi bahwa saya agak asam urat. Cuma berstatus agak loh ya. Saya memutuskan untuk mengurangi bolehnya jajan yang mlekoh dan berpurin tinggi. La kok ndilalahnya Dik Dokter Palgunadi juga menyarankan untuk mulai menambah porsi olahraga karena ada dugaan sedikit gajih menumpuk di lipatan pinggang dan sekitar perut. Jadilah saya mulai sering bangun lebih pagi untuk sekedar jalan cepat di seputaran komplek rumah.

Dan pagi itu saya baru saja selesai beranjang sana-sini berhaha-hihi sambil berjalan cepat diantara rumah-rumah tonggo teparo, dan ketika tiba di rumah sudah disambut roti bakar lapis selai stroberi-nanas dan secangkir kopi Java Raung.

“Wah.. kalau caranya begini ya rencana menurunkan lingkar perut bisa terhambat.” Batin saya

“Wassiiiisss.. Kesiniii..”

Mister Wasis yang baru bersih-bersih di halaman belakang langsung tergopoh-gopoh masuk. “Ada apa Ndoro ? Apakah rotinya kurang matang ? Atau kopinya kurang wangi ?” Mister Wasis sudah sigap tanggap sasmito bahkan sebelum saya mengemukakan keberatan saya.

“Oh bukan perkara itu. Nek perkoro rotinya masih Top-Notch matangnya. Kopinya juga tetap jempolan. Tapi masalahnya porsinya kakehan. Lak kowe dengar juga ngendikonya Pak Dokter Palgunadi bahwa saya kudu menurunkan kadar kelemuan.”

Mister Wasis mendengarkan sambil manggut-manggut. “La njuk pripun Ndoro ?”

“Demi kemaslahatan badan, saya meminta untuk mulai besok disiapkan saja roti bakar separuh.” Saya memberikan mandat

Mister Wasis mendelik. Seolah tak percaya. “Ah.. tenane Ndoro ? Nopo cukup ? Nopo ndak muntir-muntir nanti ususnya Ndoro ? Ngelih tenan loh Ndoro ?” Mister Wasis tampak khawatir.

“Lah.. kok kamu menyepelekan saya tenan. Saya ini bermental baja. Dulu wis kulino prihatin. Nek cuma ngelih sih masih bisa tahan lah.”

“Hayah Ndoro.. dulu itu berapa puluh tahun kepungkur. Mosok ya masih kuat toh Ndoro ? Mbok jangan aeng-aeng toh. Nek nanti semaput lak ya repot.”

Kok kowe ngeyelan wae toh Sis ?” Saya mendelik.

“Nggih mpun..besok saya siapkan rotinya separuh. Tapi saya siapkan juga nasi merah nggih ? Buat ganjel-ganjel mbok menowo masih kurang.”

“Nah.. itu solusi bagus. Cen pinter tenan kowe.” Saya puas dengan alternatif yang ditawarkan Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini.

“Heheheh… saya kan paham Ndoro..”

“Wis..wis.. sekarang koran pagi ini mana ? Saya pengen baca berita je. Kasus rekening gendutnya itu perlu diwaspadai dan diikuti dengan seksama.”

“Niki korannya Ndoro. Jenderalnya sepertinya tidak berkenan dipanggil dalam kasus rekening gendut. Kok bisa ya Ndoro ? Priyayi hukum kok ndak taat hukum?”

“Ini bukan semata-mata perkara hukum loh Sis. Ini sudah perkara harga diri.” Saya membaca koran pagi ini sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.

“Loh kok perkara harga diri jadi dimasukkan dalam perkara hukum toh Ndoro ? Nopo karena seorang jenderal njuk ndak mau dipanggil ?” Mister Wasis penasaran.

“Ha ya gimana lagi. Panggilan karena rekening gendut itu lak nggateli. Menohok hati. Coba nek panggilannya diganti jadi karena kasus rekening montok. Pasti lain hasilnya.”

“Halaaaahhhh.. Ndoroooooo.. Tak kira perkoro opo.” Mister Wasis keki berat

Saya terkekeh-kekeh..


27
Nov 14

Sih Pinilih Dalam Bakmi Jawa

Jogja sudah memasuki musim hujan sepertinya. Setiap sore menjelang surup, biasanya mendung sudah menggantung. Kadang malah sudah deres. Bau petrichore yang menyenangkan membuat saya jadi sering kelaparan di luar jam-jam makan yang wajar.

“Sis.. ketok e nek mbakmi Jowo, enak yo pas udan-udanan ngene.”

“Siap Ndoro. Mau kemana ? Pak Hadigeno ? Mbah Mo ? Nopo Bakmi Ndoro ?” Mister Wasis mengajukan daftar Mie Jawa terwahid di Jogja.

“Kita mampir ke Bakmi 31 saja di pojokan alun-alun Kidul ya ? Sek ndak patiyo adoh, tur porsine cukupan.”

“Siap! Saya tak manasi Komando sebentar Ndoro. Ndoro silakan siram dulu.” Mister Wasis langsung mak plencing mengambil kunci dan menuju ke garasi. Tak lama kemudian terdengar si Komando distarter.

Saya masuk untuk mandi sore. Dan berganti baju yang lebih pas untuk dolan. Dan ketika saya keluar kamar, Mister Wasis juga sudah ganti busana yang lebih pas.

“Kemon.. Mari mancal..” Saya memberi kode kepada Wasis untuk berangkat.

Setibanya di Bakmi 31, beruntunglah kami. Karena situasi dan kondisi masih mendukung. Masih belum ramai. Jadi kami masih bebas memilih tempat duduk yang paling nyaman. Tentu saja yang paling dekat dengan chefnya. Madamme Warno herself. Dan Mister Wasis langsung memesan 2 bakmi nyemek dan teh anget gula batu. Yang disambut dengan anggukan dan senyuman pelan Madamme Warno.

“Ndoro.. Kok Mie Jowo niku kok selalu dimasaknya satu-satu nggih ?” Mister Wasis mengajukan pertanyaan ajaib seperti biasanya.

“Ha memangnya piye je ?” Saya bingung harus menjawab apa pada Mister Wasis.

“Lak nek mengacu pada standar efektitas waktu toh Ndoro, masak satu-satu niku lak ndak masuk blas. Kesuwen. Gitu toh Ndoro ?” Mister Wasis melanjutkan pertanyaan sambil menyeruput teh hangat yang baru saja di antarkan Pak Warto, sang empunya Bakmi 31 sekaligus the husband of the Madamme Warno.

“Njenengan pengen tahu aja nopo pengen tahu banget Kangmas ?” Pak Warto ikutan nimbrung.

“Wah.. mbok sisan dibagi informasinya Pak kalau memang ada. Sini silakan sambil duduk mawon Pak.” Mister Wasis yang penasaran njuk malah sekalian nanggapi

“Hehehehe.. Ya niki jan-jane cuma gothak-gathuk mawon loh Kangmas. Saya cuma dapat informasinya juga dari sek ngajari saya bikin bakmi.” Pak Warno mengambil posisi di ujung tempat duduk panjang.

“Silakan loh Pak Warto. Nek memang ada kearifan lokal. Monggo dibagi-bagi. Saya ya pengen reti je.” Saya ikut menimpali

“Nah itu dia Kangmas. Saya pikir jan-jane ini ya seperti kearifan lokal juga. Jadi begini ceritanya. Eh tapi nek nanti bakminya sudah datang, monggo sambil dhaharan ya ? Jangan sampai cerita saya mengganggu.”

“Beress..” Kami berdua kompak mengamini

“Jadi menurut guru perbakmian saya, bakmi Jawa dibuat satu persatu itu demi asas keadilan dan kekhususan. Orang Jawa menjunjung tinggi nilai keadilan di atas kecepatan. Nopo malih sudah ada pranoto kalau orang Jawa itu Alon-Alon Maton Kelakon. Pelan itu tak mengapa, asal tepat waktu. Lak begitu nggih ?”

Kami manggut-manggut masih mengiyakan statement dari Pak Warto.

“Keadilannya orang Jawa itu terwujud ketika memasak bakmi Jawa yang satu-persatu. Sehingga konon wajannya bakmi Jawa itu dibuat hanya untuk satu porsi.”

“Nah.. demi langkah tersebut, sebelum memasak, tentu seyogyanya seluruh ubo rampe Bakmi Jawa sudah disiapkan dahulu. Ya bakminya, ayamnya, sayurannya, kaldunya, bumbunya dan sebagainya sudah disiapkan dulu toh ? Disiapkan khusus untuk satu porsi saja. Jadi jika ada yang pesan dengan ubo rampe spesial, bisa disiapkan sesuai pesanan. Mau tambah jerohan ya bisa. Mau tambah endognya kalih ya bisa. Mau tambah balungan ya bisa. Ini adalah pemenuhan asas kekhususan niku.”

“Ha nek asas keadilannya pripun Pak Warto ?” Mister Wasis menyeruput teh hangatnya yang sudah mulai mengecil gula batunya.

“Menurut asas keadilan, maka setiap satu porsi Bakmi Jawa niku ya satu porsi. Pesan satu dapat satu. Adil dan merata. Nek dalam membuat bakmi Jawa dibuat per dua porsi atau lebih, maka pas pembagian bakmi ke dalam piring lak sok ora adil. Ada yang bakminya lebih banyak dari piring sebelahnya. Ada yang ayamnya kurang dibandingkan piring sebelahnya. Dan sebagainya. Pokok e jadi kurang adil karena pembagian pas kondisi panas itu lebih menyulitkan sek masak.”

“Eh iya juga ya Ndoro ? Bener tenan itu. Wuih.. la kok iya ya ? Gothak-gathuk tapi ya pas loh niku Pak Warto.” Mister Wasis terkejut mendapatkan informasi setitis ini.

“Nah itu maksud saya Kangmas. Saya ndak tahu kebenarannya. Ya mung mengikuti cerita guru perbakmian saya saja. Eh ya, niki bakmi Jowo pesenan njenengan sudah jadi. Silakan loh di dhahar. Saya tak kebelakang ya. Bantu asah-asah dulu. Silakan..”

“Maturnuwun loh ceritanya Pak Warto. Nanti tak buat kulakan di cakrug nggih ?”

“Hahaha.. njenengan kok aneh-aneh saja Kangmas. Pakai minta ijin segala. Ya silakan saja Kangmas. Wong cerita itu haknya setiap orang.” Mister Warto kemudian kembali ke belakang.

Dan kami pun mulai menikmati bakmi Jowo nyemek dengan senyum lebar dan bahagia. Karena bakmi Jowo yang sih pinilih karena kesungguhan para garda depan penjaganya. Para bakul bakmi Jawa. Uber Alles Bakmi Jowo.

 


17
Nov 14

Guru, Yen Wagu Ojo Ditiru

Berita pagi tadi membuat lemas hati saya. Kolega saya semasa kuliah, Prof. Musakkir, ditangkap polisi untuk kasus yang tidak main-main. Karena narkotika. Duh…

Mister Wasis, sepertinya tahu betul kondisi mood saya, sehingga tidak banyak bertanya kenapa pagi ini saya tidak menghabiskan sarapan dan kopi saya. Mister Wasis memang sudah cukup paham bagaimana ngopeni saya.

Dengan langkah lunglai, saya masuk ke kamar untuk bersiap-siap sebelum ke kampus. Rasanya berat sekali mau ke kampus dengan kondisi hati yang seperti sumsum yang dilolosi dari tulang seperti ini.

—————————————————————————————-

Sore ini agak mendung, agaknya menyesuaikan dengan kondisi batiniah saya yang juga belum cerah.

Yu Winah sedang mampir dan sudah menggelar jajan pasar seperti biasa. Tapi saya kadung tidak mood. Jadi rasanya aras-arasen sekalipun jajan pasar ini biasanya membuat saya khilaf.

Yu Winah yang melihat saya kurang bergairah, njuk bertanya “Tumben Pak Besar kurang gusto melihat jajan pasar. Njothaki saya nopo Pak?”

“Wah.. bukan Yu.. Saya cuma sedang bersedih hati. Kolega saya ada yang ditangkap polisi. Ndilalahnya ditangkap karena sesuatu yang tidak terbayangkan akan beliau lakukan.”

“Koleganya Pak Besar niku sek profesor saking Unhas niku nopo ?” Yu Winah ikut terenyuh.

“Ha njih Yu. Ha niku konco dolan pas dulu di kampus. Ubyang-ubyung bareng. Njuk dia kembali ke kampungnya. Lama ndak kedengeran beritanya. La kok ujug-ujug beritanya malah muncul di koran dan tipi. Sedih saya Yu.”

“Nggih yang namanya jalan hidup niku lak kita ndak ada yang tahu ya Pak Besar.”

“Ya iya sih Yu. Tapi beliau niku lak guru nggih. Guru niku lak ya digugu dan ditiru. Nek sampai murid-muridnya ngikuti gurunya nopo ndak cotho negoro ini ?”

“Ya yang namanya guru niku lak tetep manusia toh Pak Besar ? Ya nek pas sek apik ya silakan digugu dan ditiru. Tapi kan ya guru niku ada kepanjangan yang lainnya.”

“Kepanjangan yang lain pripun Yu ?”

“Guru niku sebagai manusia lak ya tetep bisa salah. Jadi kepanjangan guru yang lain itu ya Nek Wagu Ojo Ditiru. Wong kita manusia kan dibekali nurani untuk bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Ya nek sek elek ya ampun ditiru. Lak begitu toh Pak Besar ?”

“Wah.. Nek Wagu Ojo Ditiru ya ? Bener juga kowe Yu. Tapi hati saya kadung sedih je Yu.”

“Nggih ya wajar toh Pak Besar. Wong namanya juga ketiwasan. Kolega sisan yang ketiwasan. Tapi lak tugas besar njenengan tetep ada. Biar bisa digugu dan ditiru.” Yu Winah membesarkan hati saya.

“Memang menjadi guru niku berat kok Pak Besar. Nopo malih yang sekaliber njenengan. La tuntutannya lak luar biasa besar. Tapi balesan e alias amplopan e ndak seimbang.”

“Loh kok njuk jadi mbahas amplop toh Yu ?”

“Hehehehe.. Saya cuma nggumun saja kok Pak Besar. La njenengen sebagai gurune guru. Dibayar e ndak sepiro toh ?” Saya mau berkomentar, tapi urung. La wong memang demikian adanya je.

“Padahal njenengan diharapkan bisa memperbaiki kualitas manusia Indonesia. La niku artis sek ngga nggenah itu. Sek mung golek sensasi terus. Bayaran e akeh temen. Omah e magrong-magrong. Mobil e pirang-pirang. Padahal kelakuan mereka malah ngelek-elek kualitas manusia Indonesia. Lak kuwalik toh Pak Besar ?”

“Nek dihitung dari amplop, nggih manusia seperti saya ini bakalan muntir dari dulu Yu. Tapi lak yang namanya rejeki dan barokah itu ndak cuma di amplop toh ?”

“Nah itulah Pak Besar. Maksud saya ya begitu. Ampun gelo. Tugas besar masih menanti toh ? Berkahnya Gusti Pangeran masih menanti untuk dipetik.”

Saya manggut-manggut mengamini. Hujan pun turun rintik-rintik. Seperti berkah Gusti Pangeran yang senantiasa turun. Hujan pun diturunkan di bumi setelah beberapa waktu panas menghajar bumi.

Gusti..nyuwun pinaringan berkah nggih..


01
Nov 14

Satetika

Secara estetika, sate yang merupakan makanan khas dari Jawa, mungkin diilhami oleh kebab dari Timur Tengah. Namun kok ya tidak seperti di Arab-arab sana yang dagingnya sak hohah yang kemudian diiris-iris, sehingga setiap orang mendapatkan beberapa iris daging, sate ala Jawa tak cuma sekedar daging. Tapi sak sunduknya sekalian. Jadi ada kedemokrasian dalam sate ala Jawa. Bahwa semua orang akan mendapatkan sebentuk yang sama. Tak cuma dagingnya, tapi juga sunduknya. Termasuk juga yang mbakar sate, jika berkenan. Sama rata.. sama rasa..

Dan membicarakan satetika ini rasanya kok kurang mantep kalau hanya cuma nglempus tok tanpa menikmati hidangannya di depan mata. Maka sore ini saya sudah meniati untuk ke angkringan Pak Ngadiyo. Bukan karena Pak Ngadiyo sekarang jualan sate sekaligus angkringan. Namun konon kabarnya, Pak Ngadiyo sudah menyiapkan sate khusus yang sudah saya pesan tempo hari.

“Loh Ndoro.. Mau kemana kok sudah mau tindakan ?” Mister Wasis tiba-tiba nyegat pas saya mau berangkat ke Angkringan Pak Ngadiyo. Tangan kanannya masih belepotan tanah bekas membersihkan pot tanaman di halaman.

“Mau ke angkringan Pak Ngadiyo dulu. Pengen minum es tehnya. Katanya bikin kemepyar. Pas ini.. pas lagi panas-panasnya Jogja. Sepertinya enak nek minum es teh.” Saya sudah siap-siap kabur saja. Nek Mister Wasis ikutan ke angkringan Pak Ngadiyo, bisa berkurang jatah sate saya.

“Wah saya nunut Ndoro.. Saya ya pengen Es Teh…” Mister Wasis malah lari-lari mencuci tangan kemudian mengambil sendal jepitnya dan kemudian membukakan pintu. Cilaka ini.. saya ndak bisa ngeles lagi kalau begini ceritanya…

“Ha wis.. ayo mangkat..” Saya rada lesu membayangkan jumlah sate yang bakal menjadi jatah saya berkurang..

Sampai di angkringan Pak Ngadiyo, sang empunya sudah cemepak dengan segala ubo rampe ngangkringnya. Dingklik kayu sudah tertata rapi, beberapa lembar tikar juga sudah tergelar di bawah. Gerobak angkringannya sudah full set dengan segala macam jenis gorengan, sate-satean, nasi kucing, tiga ceret yang terjerang di atas anglo dan segala macam kelengkapan angkringan lainnya.

“Halo Pak Besar. Niki satenya sudah saya bawakan loh. Pripun ? Mau dibakarkan sekalian pakai areng pohon nangkanya njenengan kemarin nopo ? Langkung wangi mesti..” Pak Ngadiyo menyambut kami berdua.

“Ha boleh wis Kang.. langsung saja dibakarkan.. La terus nanti uborampenya nopo ?”

“Satenya bisa dinikmati tanpa nopo-nopo Pak Besar. Begitulah konon kabarnya jika ingin menikmati kualitas sate kelas wahid. Jika ngersani kelengkapannya ya nanti sisanya bisa dibawa pulang. Didahar pakai nasi anget.” Pak Ngadiyo langsung mengeluarkan sebentuk kotak plastik yang ternyata di dalamnya terdapat sate spesialnya.

“Heloh Ndoro.. katanya mau minum es teh.. kok malah dapat sate ?” Mister Wasis terkaget-kaget.

“Wis.. rasah crigis.. Nek pengen sate ya melu wae. Nek kakehan crigis, ora tak bagehi loh. Sate spesial ini. Limited Edition.”

“Wah.. ampun ndoro.. saya mingkem saja.. Demi sate limitet edisyen.”

“Hahahah.. Ini ndak limited edition kok Kang Wasis. Cuma sate pesenan Pak Besar saja. Ndilalah kemarin saya cerita tentang sate. Dan Pak Besar ngaturi pesan sate buatan saya. Memang rada ndak biasa. Niki sate ala buntel. Tapi sunduknya pakai ruji sepeda. Ya kombinasi sate ala klatak dan sate buntel lah.” Pak Ngadiyo mengipas-ngipas anglo besi yang sudah penuh arang yang diduga ya dari pohon nangka tempo hari itu.

“Loh kenapa ndadak disunduki ruji sepeda toh Kang” Mister Wasis celingak-celinguk melihat proses pembakaran sate Pak Ngadiyo dengan seksama.

“Secara Satestika, banyak yang bilang bahwa mbakar pakai sunduk dari ruji sepeda itu cuma apus-apus. Cuma sekedar ben wangun. Tapi setahu saya ya Kang, ruji sepeda yang dari besi ini lak penghantar panas toh ? Nek saya mbikin sate yang gede-gede ala sate buntel seperti ini, nek pakai sunduk dari bambu sering ndak bisa matengnya yang dibagian dalamnya. Nek nunggu bagian dalamnya mateng, bagian luarnya sudah keburu gosong. Nek pakai ruji sepeda ini, panasnya ruji bisa ikut mematangkan sate bagian dalam. Itu katanya anak saya yang kuliah di Teknik UGM loh ya ? Saya sih ya mung manut saja. La wong saya cuma lulusan SMP.” Pak Ngadiyo tetap sibuk mengipasi anglo untuk menjaga apinya tidak membesar. Karena untuk mematangkan sate justru membutuhkan panas dari bara arangnya saja. Bukan api. Teneh gosong.

“Wuih.. mbois tenan noh sampeyan Kang. Lulusan SMP tapi anaknya bisa kuliah di UGM. Seperti bu Mentri Susi.”

“Ha ya memang mirip Kang. Saya sama bu Susi juga sama. Cuma beda nasib saja.”

“Sama-sama lulusan SMP ya Kang ?”

“Bukan.. Sama-sama ndak jilbaban.” Pak Ngadiyo nggleges bahagia. Bahagia bisa nggarapi Mister Wasis.

Dan tak lama kemudian sate buntel ala Pak Ngadiyo sudah terhidang di atas piring kaleng. Aroma daging kualitas wahidnya menguar menantang. Es teh sebagai sandingan sudah tersedia juga. Dari aroma satenya, saya menduga dagingnya sudah dibumbui dengan sedikit cengkeh dan kayumanis.

“Ditambahi bumbu cengkeh dan kayumanis nopo Pak ?” Saya menebak-nebak.

“Leres Pak Besar. Tapi juga saya tambahi sedikit cengkeh, kayumanis, cabe andaliman sithik, sama kembang lawang. Nek coro Cino katanya sih bumbu Ngoyong.”

“Wuihhhh… Ngo Hiong ? Bumbu lima rempah ? Wah.. njenengan jebule paham tenan tentang sate toh Kang ? Ampuh tenan.. Ndak nyangka saya. Luar biasa. Kudunya njenengan jadi chef saja Kang.”

“Wah.. chef niku nopo je Pak Besar ? Wong saya cuma lulusan SMP loh ya. Pripun satenya Pak Besar ? Sae mboten ?” Pak Ngadiyo kukur-kukur kepala. Tapi tak bisa menutupi rasa bangganya. Lubang hidungnya kembang kempis…

“Henaakkkk..” Saya menyahut sambil kepongah-pongah kepanasan.

Pak Ngadiyo tertawa bahagia..

Dan sore ini jadi sore yang sangat nikmat. Angkringan dengan sate buntel ala Pak Ngadiyo. Dan ditemani es teh. C’est La Vie..


24
Oct 14

Angkringan Dan Autokritik

Pohon nangka di pojokan halaman rumah sudah beberapa tahun ini mutung tidak mau berbuah lagi. Mungkin karena pernah kagol kesuntakan air cucian si Komando yang pas itu penuh bledug awu Merapi. Njuk mutung. Sempat rontok hampir sebagian besar daunnya selama sebulan. Setelah itu ya tumbuh lagi daunnya. Tapi njuk tidak pernah berbuah lagi. Padahal dulu, ini salah satu pohon nangka yang paling nggemesi karena saking rajinnya berbuah. Tak cuma rajin berbuah, tapi juga manis gurih. Wuih.. pokok e nggemesi tenan.

Setelah mengadakan rapat kitchen cabinet, akhirnya saya putuskan untuk diremajakan saja. Mau diganti pohon mangga. Mister Wasis menyanggupi untuk mencarikan blandongnya. Katanya Kang Ngadiyo yang pemilik angkringan di pojokan kantor notaris pinggir jalan itu juga seorang blandong sejati. Semua perijinan pun sudah disaguhi dan terurus dalam rangka peremajaan pohon perindang ini.

Maka pagi inipun Mister Wasis sudah siap-siap dengan kampak dan gergaji untuk menebang pohon nangka. Kaos singlet swan dan kathok kolor hitam sudah menjadi kostumnya. Kang Ngadiyo yang diminta menjadi juru blandong pun sudah siap dengan segala ubo rampenya.

“Pak Besar, niki nanti kayu nangkanya buat saya saja ya ? Upah mblandongnya kayu saja. Pareng nggih ?” Kang Ngadiyo meminta ijin untuk meminta kayu nangka sebagai bayaran jasanya hari ini.

“Walah maturnuwun tenan Kang. Ya keno wis Kang. Memang buat apa je ?” Saya mengiyakan. Toh malah memudahkan buat saya daripada masih harus menggotong kayu pohon nangka ini nantinya.

“Buat bikin areng Pak Besar. Arengnya buat angkringan saya. Kayu nangka niki kalau dibuat kopi jos langsung sae soalnya.” Kang Ngadiyo mulai mengasah gergajinya dengan kikir.

“Woalah Kang.. Kopi josmu bukannya pakai areng wit semangka ? Ben manis jarene ?” Mister Wasis tiba-tiba menyahut.

“Heyeehh. Jarene sopo kuwi ?” Kang Ngadiyo terkaget-kaget.

“Ha jarene Hamid kemarin. Ketemu di cakruk lagi ngguyu kemekelen. Sampe bergetar semua sak cakruk-cakruknya. Tak kiro gempa bumi. Jebul Hamid baru kemekelen. Katanya dia ngekek gara-gara Kang Ngadiyo nglempusi bocah-bocah perlente. Bilang nek kopi josmu dibuat pakai arang wit semangka. Biar arengnya manis seperti semangka. Tur ya bocah-bocah kuwi do percoyo.”

“Hahahahah.. Jarene Hamid toh. La itu perkorone saya gemes. Bocah-bocah sekarang banyak sek lali nglemah. Lupa dimana mereka tumbuh. Kelangan larasing urip. Lak ya begitu toh Pak Besar ?”

“Loh kok saya jadi dibawa-bawa ? Ah.. ndak semua kok Kang Ngad. Masih banyak yang nglembah manah juga kok. Ning ya memang kasuistis nek sek lali jiwo itu. La memang gimana je ?” Saya kukur-kukur kepala saya yang ndak gatel.

“Hahahah.. Cuma bocah-bocah itu saja yang pating kakehan polah saja Pak Besar. Saya cuma sekedar menegur saja. Biar pada sadar sama lingkungan sekitar. Ndak usah kadohan panjangkah dulu nek belum mudeng hal sederhana yang ada disekitarnya. Ya sekedar autokritik lah Pak Besar. Mengingatkan diri sendiri.”

“Selengkapnya biar nanti Hamid saja yang cerita. Saya kok jadi malu sendiri. Oh iya, tak rantasi dulu ya niki wit nangkanya ya Pak Besar. Selak siang niki. Selak panas.”

“Oh ya..ya.. Nyuwun tulung ya Kang. Itu minum sama nyamikannya ada di teras. Silakan disambi nek nanti ngelak.”

“Injihh..”

Dan ritual menebang pohon pun dimulai dengan doa memohon kepada Sang Pemilik Hidup agar dimudahkan segala urusan dan ikhtiarnya oleh Kang Ngadiyo sang bakul angkringan sekaligus blandong. Semoga nanti pohon mangga penggantinya bisa nggemesi juga seperti pendahulunya. Dan ndak mutungan.

PS : dibuat karena terinspirasi tulisan koh @vindrasu di njagongan.org yang tersohor tersebut.


26
Sep 14

GPS dan Local Wisdom

Kangmas Kunto, dosen antropolog nan tersohor itu mengirimkan undangan kepada saya. Undangan bahwa beliau mau mandito ke desa. Mau menep rasa. Supaya lebih bahagia, begitu katanya kepada saya.

“Sumpek je kalau di kota setiap saat adimas. Ada kalanya kita perlu berdiam. Sejenak beristirahat dari keriuhan manusia. Mendengarkan alam yang lebih tentrem. Tur lak saya sudah senior begini. Kurang pas rasanya kalau selalu reriungan dengan hingar bingar lampu kota.”  begitu beliau sampaikan saat menelepon saya beberapa hari yang lalu.

Jadi ceritanya, Kangmas Kunto ini sedang pindahan rumah. Dan sebagaimana layaknya penghuni rumah baru, beliau mengundang beberapa adimasnya untuk berkunjung. Ndilalahnya, rumah barunya ini ada di pucukan gunung sana. Di Manisrenggo kilometer kur-kuran.

Maka, pada Sabtu pagi ini saya putuskan untuk mengunjungi padepokan baru Kangmas Kunto dan Mbakyu Kunti. Dan karena jempol kaki yang belum seberapa pulih dari asam urat, saya mengajak Mister Wasis untuk menyopiri si Komando. Beberapa buah tangan gula dan teh sudah disiapkan Nyai Wasis untuk dicangking. Maka berangkatlah kami menuju perbatasan Yogyakarta bagian timur.

Jam sudah menunjukkan jam 10, dan kami sudah tiba di wilayah Manisrenggo. Tapi ternyata mencari padepokan kangmas Kunto ini tidak mudah juga. Padahal tadi sudah diberikan ancer-ancer via telepon.

“Ndoro.. Ngapunten ya Ndoro.. Pripun kalau kita bertanya saja pada Bapak-bapak Tani yang lenggahan di situ ?” Mister Wasis sudah nampak tidak sabar.

Kosik..kosik.. Saya kie sudah diajari Bu Alit buat pakai GPS ini loh Sis. Waktu saya di Jakarta itu saya pakai GPS terus ben ndak kesasar. La sekarang kita pakai dulu teknologi GPS ini biar ketemu padepokannya Kangmas Kunto.” Saya masih sibuk mengutek-utek peta GPS di henpon saya.

“Ealah Ndoro…” Mister Wasis mulai kemrungsung.

“Ha itu Sis, ada perempatan di depan, mbelok ngetan sekitar 500 meter. Di situ nanti rumah barunya Kangmas Kunto.” Saya dengan PDnya memberikan instruksi kepada Mister Wasis.

Tenan ini Ndoro ? Ini sudah yang ke 5 kalinya loh kita keblasuk.” dari nadanya, Mister Wasis sudah nampak putus asa.

Ha tenan, ini berdasarkan GPS je. Wis sana.. disopiri kesana dulu.”

Setelah 30 menit, ternyata tidak ketemu juga. Mister Wasis sudah makin mencucu.

“Ya wis..ya wis.. kita tanya ke Bapak Tani itu tadi.” Saya pasrah akhirnya.

Mister Wasis pun turun dan bertanya kepada Pak Tani yang sedang leren di sawah. Begitu kembali ke mobil, wajah Mister Wasis tampak sumringah.

“Gimana ? Pak Taninya ngerti po omah e Kangmas Kunto?”

“Ha jelas toh Ndoro. Wong di desa kie mesti ngerti tanggane. Sekalipun itu orang baru. Ha itu rumahnya, katanya dari pertigaan itu ngetan sedikit.”

“Ealaah.. Lah kok pertigaan itu ndak ada di GPS.”

“Ndoro..ndoro..” Mister Wasis nggleges dengan jumawanya.

15 menit kemudian kami tibalah di padepokan Kangmas Kunto. Dan langsung disambut oleh pasangan yang sangat kompak ini.

“Gimana adimas ? Susah po ketemunya ? Kata yang di rumahmu tadi sudah berangkat sejak 2 jam yang lalu. La kok ndak sampai-sampai. Mbakyumu sampai cemas loh. Dikiro nek keblasuk.” Kangmas Kunto menyambut di depan pintunya.

“Ho oh Kangmas. Keblasuk tenan je saya. Padahal sudah pakai GPS loh.”

“Lah kok pakai GPS. Mbok kamu tanya saja sama penduduk sini malah cepet ketemu.” Kowe kie kok aeng-aeng wae toh adimas ?” Kini giliran Kangmas Kunto yang nggeleges.

“Ha ya memang akhirnya Mister Wasis sek tanya ke Pak Tani di sawah sana.”

“Hahahaha.. kowe kie cen antik kok adimas. Terlalu banyak ngutho. Sudah lupa sama kebijakan lokal po ? Lokal Wisdom. Di desa itu, GPS ga berguna. Lebih pas kalau GPS itu jadinya Golek Penduduk Sekitar. Malah beres toh ?” Kangmas Kunto terkekeh-kekeh. Saya juga terkekeh-kekeh menyadari kesalahan saya. Mister Wasis juga ngekek.

“Nah itulah yang terjadi jika manusia terlalu kekota-kotaan. Suka lupa bahwa desa juga punya kebijaksanaan sendiri toh Adimas ? Ah.. mari..mari.. silakan masuk dulu. Kita ngobrolnya di amben saja. Kebetulan Mbakyumu sudah masak besar. Dan kowe pasti sudah lapar setelah kesasar toh ? Mari… Mari Mister Wasis.” Kangmas Kunto menggeret tangan saya masuk ke padepokannya yang baru.

Ealah.. saya luput kali ini.. GPS jebulnya Golek Penduduk Sekitar. Trapsilo dan kebijakan lokal itu memang sangat lokal. Dan kini gantian saya yang interlokal. Ealaahh..